Kisah Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha dan Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu adalah kisah yang tidak pernah habis mengajarkan. Setiap kali kita menelaahnya, ada lapisan baru yang terbuka — tentang kesabaran, tentang keserasian, tentang bagaimana dua jiwa yang saling memahami bisa melewati ujian-ujian yang bagi orang lain terasa mustahil untuk ditanggung bersama.
Kita kembali ke hadits Bab Sabar dalam Riyadhus Shalihin karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala. Dan hari ini, kita menyaksikan babak lanjutan dari perjalanan luar biasa pasangan ini — bukan di saat anak mereka wafat, melainkan di saat kehidupan baru tengah hadir, dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah ï·º.
Bukan Tentang Mahar, Tapi Tentang Prioritas Hidup
Untuk memahami kedalaman kisah ini, kita perlu menengok ke awal. Ketika Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu — saat itu masih kafir — datang melamar Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha, perempuan ini menjawab dengan kalimat yang mencuri perhatian sejarah: "Orang sepertimu tidak pantas ditolak. Tapi engkau kafir, dan aku tidak halal bagimu. Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku. Aku tidak akan meminta apapun selain itu."
Tidak ada tuntutan emas, tidak ada tuntutan harta. Yang diminta adalah keselamatan jiwa sang calon suami — Islam. Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu pun masuk Islam, dan mereka menikah dengan mahar yang paling bernilai yang pernah ada dalam sejarah pernikahan: tauhid.
Inilah yang kemudian membentuk seluruh cara mereka menjalani rumah tangga. Ketika fondasi awalnya adalah lillah, maka seluruh bangunan di atasnya pun menjadi kokoh dan berkah.
Safar Bersama Nabi ï·º dan Ujian yang Datang Tiba-tiba
Dalam riwayat yang dibawakan Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala, dikisahkan bahwa Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha sedang hamil tua ketika bersama-sama Rasulullah ï·º dalam sebuah perjalanan. Rasulullah ï·º memiliki kebiasaan yang indah: jika perjalanan pulang ke Madinah berakhir di waktu malam, beliau tidak langsung masuk ke kota. Beliau memilih tempat bermalam di dekat Madinah, dan baru memasuki kota di pagi hari.
Di saat mereka hampir tiba, Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha merasakan kontraksi yang kuat. Sakit melahirkan mulai menyerangnya. Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu pun tertinggal dari rombongan, fokus mendampingi sang istri.
Di momen inilah, Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu berdoa dengan doa yang sangat menyentuh:
"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui bahwa aku sangat senang untuk pergi bersama Rasulullah ï·º ketika beliau pergi, dan kembali bersama beliau ketika beliau kembali. Dan kini aku tertahan oleh kondisi sebagaimana Engkau lihat."
Tidak ada keluhan. Tidak ada amarah. Yang ada hanyalah doa — mengadukan keadaan kepada Allah, menyerahkan urusan kepada Dzat yang membolak-balikkan hati dan mengubah keadaan.
Seni Komunikasi Seorang Istri
Yang tidak kalah menakjubkan adalah sikap Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha sendiri di saat yang sangat berat itu. Setelah Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu berdoa, Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha berkata: "Aku tidak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya. Ayo kita kejar rombongan Nabi ï·º."
Bayangkan: perempuan yang baru saja merasakan kontraksi dahsyat, yang seharusnya bermanja-manja dan meminta perhatian — justru memotivasi suaminya untuk melanjutkan perjalanan. Ia tidak menjadikan dirinya beban. Ia memilih menjadi penyemangat.
Kisah ini juga menyimpan pelajaran tentang seni komunikasi yang diajarkan Islam: memperhatikan kondisi lawan bicara sebelum menyampaikan sesuatu. Dalam sesi sebelumnya kita sudah belajar bagaimana Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan kabar wafatnya anak kepada Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu. Ia tidak bicara di saat suaminya kelelahan. Ia tidak memilih momen yang salah. Karena inti dari komunikasi bukan sekadar menyampaikan — melainkan memastikan pesan itu diterima dengan baik, di kondisi yang tepat.
Ini adalah pelajaran yang sangat praktis, khususnya dalam kehidupan rumah tangga. Seorang istri yang cerdas bukan sekadar yang pintar berbicara, melainkan yang pandai membaca kondisi — kapan suami siap mendengar, kapan ia butuh ruang, kapan saat yang paling tepat untuk sebuah percakapan penting.
Jangan Jadi Beban bagi Suami
Pelajaran yang paling berharga dari episode ini adalah tentang sikap seorang istri dalam mendukung visi dan cita-cita suaminya. Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu sangat ingin selalu bersama Rasulullah ï·º — keluar bersama beliau, masuk bersama beliau, tidak pernah tertinggal. Itu adalah cita-cita yang mulia dan luhur.
Di saat cita-cita itu terancam terhambat karena kondisi istrinya, Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha tidak memilih untuk menjadi penghalang. Ia tidak meminta perhatian lebih dari yang dibutuhkan. Ia memilih menguatkan suaminya, mendorongnya untuk tetap mengejar tujuannya.
Inilah keseimbangan yang indah dalam rumah tangga: suami yang tidak abai terhadap kondisi istri — ia menghentikan langkah, ia mendampingi, ia berdoa kepada Allah — dan istri yang tidak menjadi beban, yang justru menjadi penopang di saat suaminya hampir goyah. Ketika keduanya bergerak dalam arah yang sama, keserasian itu hadir secara alami.
Sebaliknya, ketika seorang istri selalu menuntut untuk dimengerti tanpa berusaha mengerti, atau ketika seorang suami abai terhadap kondisi istri sambil mengejar ambisinya sendiri — maka yang terjadi adalah gesekan yang tak berujung, atas perkara-perkara kecil yang seharusnya mudah diselesaikan.
Mengutamakan Nabi ï·º di Atas Segalanya
Ada detail kecil yang sangat bermakna di penghujung kisah ini. Setelah Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha melahirkan seorang bayi laki-laki di kota Madinah, ia berpesan kepada Anas radhiyallahu 'anhu — putranya dari pernikahan sebelumnya — agar tidak ada yang menyusui sang bayi sebelum dibawa terlebih dahulu kepada Rasulullah ï·º untuk di-tahnik.
Di saat seorang ibu baru saja melahirkan, di saat naluri pertama adalah menyusui sang bayi, Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha memilih untuk mendahulukan keberkahan dari Rasulullah ï·º. Ini adalah kecintaan yang melampaui kecintaan fisik, yang melampaui insting keibuan yang sangat kuat sekalipun.
Inilah gambaran keluarga yang dibangun di atas fondasi yang benar. Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu setelah wafatnya Rasulullah ï·º dikenal selalu menjaga puasa sunnah selama empat puluh tahun. Puasa adalah simbol kesabaran — menahan diri di atas ketaatan, menahan diri dari kemaksiatan, menahan diri dari rasa lapar dan haus. Inilah latihan kesabaran yang paling nyata dan konsisten.
Sabar Itu Menahan, Bukan Melepaskan
Dari kisah ini dan dari keseluruhan kajian Bab Sabar ini, ada satu prinsip yang perlu terus kita tegaskan: sabar itu menahan, bukan melepaskan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"...dan bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah..."
(QS. An-Nahl: 127)
"Wasbbir wa ma shabruka illa billah" — sabar bukan berarti melampiaskan emosi agar lega sesaat. Sabar adalah menahan, dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Karena manusia diciptakan dalam kondisi lemah — sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 28 — maka mengandalkan kekuatan diri sendiri dalam bersabar adalah titik awal yang keliru.
Yang perlu kita andalkan adalah kekuatan dari Allah. Dan kunci untuk mendapatkan pertolongan Allah itu adalah dengan memperbanyak ibadah, menjaga shalat, memperbanyak doa, dan senantiasa bertawakal kepada-Nya — bukan bersandar kepada makhluk yang sama lemahnya dengan kita.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita rumah tangga yang serasi seperti Abu Thalhah dan Ummu Sulaim radhiyallahu 'anhuma — pasangan yang saling menopang, saling menguatkan, dan bersama-sama memilih jalan yang lillah dalam setiap keadaan. Dan semoga Allah menjadikan kesabaran kita bukan sekadar menahan sendirian, melainkan menahan dengan penuh keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu lebih dekat dari yang kita sangka.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 103: Jangan Jadi Beban bagi Suami — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar