Wanita dengan Wajah Kehitaman karena Kelelahan
Bab ke-78 berbicara tentang seorang wanita yang suaminya telah pergi meninggalkan dunia, namun ia memilih untuk tidak menikah lagi — demi bisa fokus mengurus anak-anaknya yang kini menjadi yatim. Nabi ﷺ menggambarkan wanita ini dengan detail yang sangat manusiawi: wajahnya kehitam-hitaman karena kelelahan, karena begitu sibuknya ia mengurus anak-anak hingga tidak sempat memperhatikan dirinya sendiri.
Tentang wanita seperti inilah Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku dan dia seperti ini di surga" — sambil menggandengkan dua jari beliau ﷺ.
Secara sanad, hadis ini dinilai dha'if karena ada perawi bernama Nahas bin Qaham yang bermasalah. Namun hadis ini memiliki beberapa syawahid — penguat — baik dari riwayat Abu Hurairah dalam Musnad Abu Ya'la Al-Mausili, maupun dari riwayat mursal melalui Qatadah dalam Mushannaf Abdurrazzaq. Karena itu, dilihat dari seluruh jalurnya, hadis ini bisa naik derajatnya menjadi hasan. Lebih dari itu, maknanya dikuatkan oleh hadis sahih yang sudah kita pelajari sebelumnya: "Aku dan pengayom anak yatim di surga seperti ini." Wanita yang mengurus anak-anak yatimnya sendiri jelas masuk dalam keumuman hadis tersebut — bahkan dengan kelebihan yang lebih, karena ia rela meninggalkan kesenangannya demi anak-anaknya.
Tentu saja, tidak menikah lagi setelah ditinggal suami adalah pilihan yang boleh — bukan kewajiban. Ada para Salaf yang memilih menikah lagi setelah suaminya wafat, dan ada pula yang tidak. Yang menjadi perhatian hadis ini adalah niat dan pengorbanannya: bila seorang wanita memilih untuk tidak menikah demi bisa fokus mengurus anak-anaknya yang yatim, maka Allah subhanahu wa ta'ala tidak menyia-nyiakan pengorbanan itu.
Bagi yang ditinggal suami dan kini harus mengurus anak-anak seorang diri, inilah kabar gembiranya: status anak-anakmu berubah. Ketika suamimu masih ada dan kamu mengurus mereka, pahalamu besar. Ketika suamimu wafat dan anak-anakmu menjadi yatim, pahalamu bertambah besar lagi — karena kamu kini mengurus anak yatim sekaligus kerabatmu sendiri. Dua pahala yang mengalir sekaligus, sebagaimana ditegaskan oleh hadis sahih tentang Zainab istri Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhuma.
Kisah Zainab ini layak diperhatikan. Ia adalah wanita yang lebih berada daripada suaminya — Abdullah bin Mas'ud yang terkenal dalam kemiskinannya. Zainab tidak hanya menafkahi suaminya, tetapi juga mengurus anak-anak yatim dari saudara-saudaranya. Ketika ia mendengar Nabi ﷺ bersabda agar para wanita bersedekah meski dengan perhiasan mereka, ia bertanya kepada suaminya: "Tanyakan kepada Rasulullah — apakah aku mendapat pahala sedekah jika aku memberi nafkah kepadamu dan kepada anak-anak yatim yang aku urus?"
Ibnu Mas'ud tidak enak hati untuk bertanya sendiri, maka Zainab pergi langsung ke rumah Nabi ﷺ. Di depan pintu, ia bertemu dengan seorang wanita Ansar bernama Zainab juga — istri Abu Mas'ud Al-Anshari — yang membawa pertanyaan yang sama persis. Keduanya meminta Bilal untuk menyampaikan pertanyaan mereka kepada Nabi ﷺ tanpa menyebut nama mereka.
Nabi ﷺ bertanya: "Siapa mereka?" Bilal pun menyebutkan nama salah satunya. Nabi ﷺ lalu bersabda: "Ya, bagi Zainab dua pahala — pahala sedekah dan pahala silaturahmi." Inilah yang dimaksud: berbuat baik kepada suami itu pahala kekerabatan melalui pernikahan, dan berbuat baik kepada ponakan-ponakan yatim itu pahala silaturahmi nasab. Dua pahala yang mengalir dari satu perbuatan.
Mendidik Anak Yatim: Sayang Bukan Berarti Membiarkan
Bab ke-79 membahas adab dalam mendidik anak yatim. Imam Bukhari meriwayatkan dari Sumaisa Al-'Ataqiyah bahwa pernah disebutkan di hadapan Aisyah radhiyallahu 'anha tentang bagaimana mendidik anak yatim. Aisyah berkata: "Sungguh aku memukul anak yatim sampai ia yabsut" — hingga ia tunduk, atau hingga ia berubah menjadi baik.
Pernyataan ini pernah dijadikan bahan ejekan oleh kalangan Syiah, yang mengartikan yabsut sebagai "terkapar di tanah" — seolah Aisyah adalah wanita kejam yang memukul anak-anak hingga roboh. Ini adalah pemahaman yang sengaja dibelokkan. Dalam bahasa Arab, kata al-inbisat memiliki setidaknya tiga makna: pertama, tunduk dan patuh (al-in'idad wal i'tidal); kedua, condong dan merasa nyaman (al-mail); dan ketiga, berbaring/terkapar di tanah. Kalangan tersebut sengaja mengambil makna ketiga dan meninggalkan makna yang lebih tepat secara konteks.
Makna yang paling sesuai jelas yang pertama atau kedua: Aisyah memukul anak yatim yang berada dalam asuhannya — kemungkinan besar keponakan-keponakannya sendiri — hingga mereka tunduk dan berubah menjadi baik. Bahkan kata inbisat dalam bahasa Arab modern pun digunakan untuk makna "merasa nyaman dan senang." Lebih dari itu, bagaimana mungkin anak-anak seperti Abdullah bin Zubair dan Urwah bin Zubair bisa begitu dekat dengan bibi mereka Aisyah jika beliau dikenal sebagai orang yang suka memukul anak-anak hingga terkapar? Tentu mereka tidak akan mau dekat dengan beliau.
Intinya, bab ini menegaskan: mengayomi anak yatim bukan berarti memanjakan tanpa batas. Sayang kepada anak yatim justru mengharuskan kita mendidik mereka dengan sungguh-sungguh — menegur ketika salah, dan memukul bila perlu, sebagaimana kita mendidik anak kandung kita sendiri. Anak yatim memiliki potensi nakal yang lebih besar — bukan karena watak mereka buruk, tetapi karena mereka tidak punya figur yang mereka takuti dan tempat mereka bertumpu. Ketika ada seseorang yang hadir dengan kasih sayang sekaligus ketegasan, itulah yang mereka butuhkan.
Ketika Anak Mendahului Pergi
Bab ke-80 adalah bab yang paling berat — dan paling menyentuh. Imam Bukhari rahimahullahu ta'ala memberi judul: "Keutamaan orang yang anaknya meninggal dunia."
Di antara seluruh ujian yang bisa menimpa seorang manusia, kehilangan anak adalah salah satu yang paling berat. Lebih berat dari kehilangan harta, lebih berat dari kehilangan jabatan, dan bagi banyak orang, lebih berat dari kehilangan kesehatan. Anak adalah buah hati — sesuatu yang lahir dari diri sendiri, dibesarkan dengan segenap kasih sayang, dan tiba-tiba diambil sebelum kita sempat melihat mereka tumbuh sepenuhnya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: "Tidak akan ada seorang Muslim yang tiga anaknya meninggal dunia, kemudian ia disentuh oleh api neraka — kecuali hanya sekadar melewati sirat."
Tiga anak meninggal, dan balasannya adalah perlindungan dari neraka. Bukan karena ujian itu sendiri yang mendatangkan pahala secara otomatis, melainkan karena sikap bersabar dan ihtisab — menghadapi musibah dengan berharap pahala dari Allah — itulah yang membuka pintu ganjaran yang agung ini. Musibah yang sama, bila direspons dengan meratap, memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan jahiliah, justru mendatangkan dosa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa yang demikian itu bukan dari golongan umatnya.
Orang yang paling berat ujiannya dalam kehilangan anak adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Tujuh orang putra-putri beliau — Qasim, Abdullah, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ibrahim — semuanya wafat di masa kehidupan beliau. Hanya Fatimah yang meninggal setelah Nabi ﷺ. Yang terakhir, Ibrahim, wafat dalam pangkuan Nabi ﷺ — bayi yang sangat dicintai itu menghembuskan nafas terakhirnya digenggaman tangan ayahnya. Dalam kesedihan itu, Nabi ﷺ berkata dengan mata yang berlinang: "Sungguh hati ini sangat bersedih, dan mata ini mengalirkan air mata. Namun kami tidak berkata kepada Allah kecuali yang mendatangkan keridhaan-Nya. Dan sungguh kami dengan kepergianmu, wahai Ibrahim, sangat bersedih."
Inilah teladan kesabaran yang paling agung. Menangis itu manusiawi. Yang terlarang adalah meratap dan berkata-kata yang tidak diridhai Allah.
Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ berkata: "Ya Rasulullah, doakan anakku ini. Aku sudah menguburkan tiga anakku sebelumnya. Ini yang keempat." Mendengar itu, Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh engkau telah berlindung dalam suatu perlindungan yang sangat kuat dari api neraka." Tiga anak yang mendahului menjadi benteng yang kokoh antara dirinya dan neraka.
Di antara kisah yang paling menakjubkan tentang tema ini adalah kisah Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Putranya dari pernikahannya dengan Abu Thalhah jatuh sakit dan akhirnya wafat. Ummu Sulaim tidak langsung memberitahu suaminya yang sedang pergi. Ia urus sendiri jenazah anaknya, kemudian menyambut suaminya dengan menyiapkan makan malam, memakai wewangian, dan melayaninya dengan baik. Setelah semua kebutuhan suaminya terpenuhi — kenyang, nyaman, dan tenang — barulah ia bertanya dengan bijak: "Wahai Abu Thalhah, bagaimana menurutmu jika seseorang meminjamkan sesuatu kepadamu, lalu ia memintanya kembali? Apakah kau akan merontar-ronta?" Abu Thalhah menjawab: "Tentu tidak." Barulah Ummu Sulaim berkata: "Sesungguhnya Allah dulu pernah meminjamkan anakmu kepadamu. Sekarang Allah mengambilnya kembali. Carilah pahala dan bersabarlah."
Kisah ini dilaporkan kepada Nabi ﷺ keesokan harinya. Beliau ﷺ mendoakan keberkahan bagi keduanya — dan dari malam itu lahirlah seorang anak yang Allah jadikan amat saleh, bahkan konon dari anak itu lahir pula keturunan-keturunan yang hafal Al-Qur'an.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menyampaikan penghiburan kepada seorang sahabat yang kehilangan putranya dengan hadis Nabi ﷺ: "Anak-anak kalian adalah hewan-hewan kecil di surga" — yakni ungkapan bahwa mereka akan bergerak riang di surga. Dan dalam riwayat Sahih Muslim terdapat kelanjutannya: di hari kiamat, anak yang meninggal itu akan bertemu orang tuanya dan menarik mereka dengan bajunya, mengajak masuk surga. Anak yang pergi mendahului menjadi pemberi syafaat bagi kedua orang tuanya.
Penutup
Tiga bab ini merangkai satu pesan yang sangat menguatkan: Allah tidak membiarkan satu pun pengorbanan seorang ibu, satu pun air mata seorang ayah, berlalu tanpa makna. Wanita yang kelelahan mengurus anak-anaknya yang yatim mendapat tempat di sisi Nabi ﷺ di surga. Pendidik anak yatim yang sungguh-sungguh menuai keberkahan di dunia dan akhirat. Dan orang tua yang kehilangan anak, lalu bersabar dan berharap pahala dari Allah, mendapat perlindungan dari api neraka.
Ketika musibah datang, ingatlah doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Allāhumma ajirni fī mushibatī wa akhlif lī khayran minhā." Dan bila terasa berat untuk tegar, panjatkanlah permohonan yang pernah dipanjatkan oleh seorang ayah yang saleh: "Allāhumma uqbudli qalbi" — ya Allah, ikatlah hatiku agar aku kuat.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan ketegaran kepada siapa pun di antara kita yang sedang menanggung beban kehilangan, dan menjadikan setiap kesabaran kita sebagai jalan menuju surga-Nya yang penuh kemuliaan. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar