Kita semua menyimpan luka. Kita semua pernah berbuat salah. Ada dosa yang tersembunyi rapat di sudut hati, ada kebiasaan buruk yang terus mengikuti langkah kita, ada beban masa lalu yang rasanya terlalu berat untuk diangkat. Kita merasa tertahan — oleh kelemahan diri, oleh lingkungan, oleh kekeliruan yang berulang. Dan kadang, kita bertanya-tanya: apakah masih ada jalan untuk kembali?
Jawabannya ada pada bulan yang sedang kita masuki ini — bulan Muharram. Bulan yang bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah pengingat agung dari Allah ï·» bahwa harapan itu nyata, pertolongan-Nya itu pasti, dan pintu kembali kepada-Nya tidak pernah benar-benar tertutup.
Sejarah umat manusia dipenuhi oleh momen-momen yang mengubah segalanya. Orang mungkin akan menyebut revolusi industri, atau runtuhnya Tembok Berlin, atau berbagai peristiwa besar lainnya. Namun jika kita bertanya: apa momen yang benar-benar mengubah perjalanan manusia? — Al-Qur'an sendiri yang menjawab. Allah ï·» meminta kita untuk merenungkan hari-hari-Nya, ayyamullah, karena di sana tersimpan pelajaran, penghiburan, dan harapan yang tak lekang oleh waktu.
Hari Kesepuluh Muharram: Ketika Sejarah Berubah
Empat belas abad yang lalu, Rasulullah ï·º memandang para sahabatnya dan bersabda: "Berpuasalah kalian pada hari kesepuluh bulan Muharram." Mengapa? Karena hari itu adalah salah satu ayyamullah — hari-hari Allah — hari ketika jalannya sejarah berbelok tajam oleh kuasa-Nya yang Maha Besar.
Hari itu adalah hari ketika Allah ï·» menyelamatkan Nabi Musa 'alaihissalam dari cengkeraman Firaun yang zalim. Hari ketika seorang lelaki bersenjatakan sebatang tongkat mampu membelah lautan. Hari yang ditunggu-tunggu oleh ratusan ribu manusia yang telah hidup di bawah perbudakan selama berabad-abad lamanya — anak-anak mereka dibunuh, kehormatan mereka direnggut, martabat mereka diinjak-injak. Dan di hari itu, Allah ï·» berfirman kepada Musa 'alaihissalam:
"Ingatkanlah mereka akan hari-hari Allah." (QS. Ibrahim: 5)
Ini adalah pesan yang melampaui zaman. Ketika kita menyaksikan berbagai ujian di sekeliling kita — ketika kabar-kabar buruk datang silih berganti dan harapan terasa semakin tipis — kisah Musa 'alaihissalam hadir sebagai pengingat: setiap Firaun pasti jatuh. Setiap penindas pasti binasa. Dan orang-orang yang beriman pasti akan menemukan jalan keluarnya.
Di Antara Lautan dan Pasukan: Pelajaran dari Ujian Terbesar
Mari sejenak kita masuk ke dalam momen paling dramatik dalam kisah Musa 'alaihissalam. Di kegelapan malam, atas perintah Allah ï·», beliau membawa Bani Israil keluar secara diam-diam. Namun berita itu sampai ke telinga Firaun, dan pasukan besar pun bergerak mengejar.
Bayangkan situasinya. Di depan: lautan yang membentang tak bertepi. Di belakang: dentingan pedang, derap kuda, dan ribuan tentara yang siap membantai. Tidak ada jalan lain. Tidak ada pintu keluar yang terlihat. Dan di sinilah Bani Israil menyerah. Mereka berkata kepada Musa 'alaihissalam: "Kami sudah selesai. Bahkan kamu pun tidak bisa menyelamatkan kami dari situasi ini."
Setiap manusia memiliki titik didihnya masing-masing. Setiap material — logam, beton, granit — akan meleleh pada suhu tertentu. Dan manusia pun demikian: pada suatu titik, kita bisa patah.
Namun di sinilah perbedaan antara orang yang beriman dan yang tidak. Ketika semua orang menyerah, Musa 'alaihissalam memilih untuk tetap berdiri. Ia mengucapkan kalimat yang kini terukir abadi dalam sejarah:
"Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'ara: 62)
Di benak Musa 'alaihissalam, mungkin terbersit kenangan akan masa kecilnya — ketika ibunya meletakkannya di dalam peti dan menghanyutkannya ke Sungai Nil. Seorang ibu yang melepas bayinya ke arus sungai bukan karena putus asa, melainkan karena ia percaya kepada janji Allah ï·». Dan Allah menepati janji-Nya: sang bayi kembali ke pelukan ibunya.
Musa 'alaihissalam menoleh ke masa lalunya dan menemukan pola yang tidak berubah: Allah selalu ada. Di setiap tikungan hidup yang paling gelap, di setiap momen yang paling menyesakkan, Allah ï·» tidak pernah absen. Dan ketika Musa 'alaihissalam menunjukkan keyakinannya, Allah ï·» menunjukkan kuasa-Nya: lautan terbelah, menjadi dua dinding air setinggi gunung, dan Bani Israil berjalan melewatinya seperti berjalan di atas permadani merah yang dihamparkan oleh Allah ï·» sendiri.
Tidak ada yang menyangka hasil seperti ini. Tidak ada statistik yang mendukungnya. Tidak ada logika manusia yang bisa menjelaskannya. Tapi itulah 10 Muharram — perayaan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah ï·».
Dua Bekal untuk Melewati Badai Kehidupan
Allah ï·» menutup kisah ini dengan sebuah pelajaran yang sangat relevan bagi kita hari ini. Di penghujung ayat tentang Musa 'alaihissalam dan Bani Israil, Allah ï·» berfirman bahwa dalam peristiwa-peristiwa tersebut terdapat tanda-tanda bagi orang yang memiliki dua sifat: sabar dan syukur.
Dua sifat inilah yang menjadi bekal seorang mukmin untuk melewati apa pun yang Allah ï·» hadirkan dalam hidupnya.
Ketika ujian datang — pandemi, krisis ekonomi, kehilangan orang tersayang, tekanan hidup yang tak kunjung reda — pertanyaannya adalah: seberapa sabarkah kita? Dan ketika kelapangan datang — rezeki yang bertambah, kesehatan yang terjaga, kebahagiaan yang hadir — pertanyaannya adalah: seberapa bersyukurkah kita?
Di antara dua kutub inilah — sabar dan syukur — seorang mukmin mampu mengarungi ombak kehidupan. Karena ia tahu bahwa kesulitan adalah ujian kesabaran, dan kemudahan adalah ujian kesyukuran. Keduanya adalah bentuk perhatian Allah ï·» kepada hamba-Nya.
Muharram: Momentum Perubahan yang Sesungguhnya
Muharram juga menandai awal tahun baru Hijriyah. Dan seperti setiap pergantian tahun, ada godaan untuk membuat janji-janji perubahan yang terasa besar di malam pertama, namun perlahan menguap seiring berjalannya hari.
Kita semua tahu cerita tentang antrean panjang di pusat kebugaran setiap awal Januari. Jutaan orang mendaftar dengan penuh semangat, namun dalam tiga bulan, mayoritas tidak lagi hadir. Mengapa? Karena perubahan yang lahir dari impuls sesaat tidak memiliki akar yang cukup kuat untuk bertahan.
Allah ï·» sendiri yang memberitahu kita rahasia perubahan sejati:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Perubahan dimulai dari dalam. Dari hati. Bukan dari resolusi yang kita tulis di kertas, bukan dari semangat yang hanya bertahan di permukaan. Sebelum tangan bergerak, sebelum kebiasaan berubah, hati harus lebih dulu berubah. Dan hati yang ingin berubah dimulai dari taubat yang tulus — sebuah percakapan yang jujur antara diri kita dan Allah ï·».
Muharram mengajak kita untuk membuka lembaran baru, bukan dengan cara yang artifisial, melainkan dengan cara yang mengakar: dengan mengakui kesalahan kita, memohon ampunan-Nya, dan bertekad untuk melangkah lebih dekat kepada-Nya.
Kisah Seorang Pemuda: Tidak Ada yang Terlalu Jauh untuk Kembali
Di masa Rasulullah ï·º, ada seorang pemuda yang mendatangi beliau dengan wajah yang penuh penyesalan. Ia berkisah bahwa suatu hari di pasar, ia bertemu seorang perempuan. Terjadilah percakapan yang berlanjut pada perbuatan yang ia sesali seumur hidupnya — meskipun belum sampai pada zina (hubungan yang diharamkan).
Ia tak bisa menanggung beban itu sendirian. Ia pergi kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Jawaban Abu Bakar: tutuplah rahasiamu dan mintalah ampun kepada Allah. Ia pergi kepada Umar radhiyallahu 'anhu. Jawaban yang sama. Akhirnya ia datang kepada Rasulullah ï·º — dan beliau berpaling darinya.
Namun kemudian Allah ï·» menurunkan firman-Nya. Rasulullah ï·º memanggil pemuda itu kembali dan berkata: "Tahukah kamu, Allah baru saja menurunkan ayat Al-Qur'an — untukmu?"
Pemuda itu terkejut: "Untukku?"
"Untukmu, dan untuk seluruh umatku."
Apa yang Allah ï·» wahyukan? Sebuah janji yang agung:
"Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (QS. Hud: 114)
Rasulullah ï·º pun menyampaikan kabar gembira kepada pemuda itu: "Semua yang kamu lakukan bersama perempuan itu — jika kamu menjaga shalatmu, semuanya akan terhapus."
Pemuda itu bertanya lagi, tak percaya: "Khusus untukku?"
"Tidak. Untuk seluruh umatku."
Inilah Islam. Inilah Muharram. Kamu mungkin merasa sudah berjalan sejuta langkah menjauh dari Allah ï·». Tapi hanya butuh satu langkah, satu kata, untuk kembali kepada-Nya. Angkat tanganmu. Ucapkan "Allahu Akbar". Dan Allah Yang Maha Pengasih akan menyambutmu kembali.
Kesimpulan
Muharram adalah bulan harapan. Bukan harapan yang naif atau sentimental, melainkan harapan yang berpijak pada sejarah nyata — bahwa Allah ï·» pernah membelah lautan untuk seorang nabi yang beriman kepada-Nya. Bahwa Ia pernah menghapus dosa seorang pemuda yang menyesal dan kembali kepada-Nya. Bahwa Ia menjanjikan kemenangan bagi orang-orang beriman yang sabar dan bersyukur.
Saudara-saudariku, di manapun kamu berada dan seberapa jauh pun kamu merasa dari Allah ï·» — pintu itu masih terbuka. Lembaran baru itu masih tersedia. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mengambil satu langkah pertama: taubat yang tulus, shalat yang dijaga, dan hati yang kembali meletakkan harapannya hanya kepada Allah ï·».
Semoga di Muharram ini, kita menjadi bagian dari orang-orang yang mampu memulai babak baru dalam perjalanan menuju-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar