Jangan Sampai Kematian Mendahului Persiapan Kita

Ada sesuatu yang sangat mengusik jika kita benar-benar mau merenungkannya. Di dalam kubur mereka yang telah mendahului kita, tersimpan sebuah kerinduan yang amat dalam. Bukan rindu akan makanan kesukaan mereka, bukan rindu akan senyum orang-orang yang mereka cintai, bukan pula rindu akan kenyamanan dunia yang pernah mereka nikmati. Yang mereka rindukan hanyalah satu hal: kesempatan untuk kembali ke dunia dan beramal saleh.

Mereka ingin shalat yang dulu mereka tunda. Mereka ingin sedekah yang dulu mereka tahan. Mereka ingin taubat yang dulu mereka anggap masih ada waktu. Mereka ingin berbakti kepada orang tua yang kini sudah tiada. Namun Allah ï·» telah menutup pintu itu rapat-rapat. Allah ï·» berfirman:

"Ya Rabb kami, keluarkanlah kami (dari neraka), kembalikanlah kami (ke dunia) agar kami dapat mengerjakan amal shalih yang berbeda dengan apa yang telah kami kerjakan." (QS. Fathir: 37)

Dan jawaban Allah ï·» atas permohonan itu sudah pasti: kalla — sekali-kali tidak. Kesempatan itu telah berlalu. Dunia yang mereka sia-siakan tidak akan pernah kembali.

Lalu pertanyaannya untuk kita yang masih hidup hari ini: apakah kita sedang mengulangi kesalahan yang sama?

Mengapa Kematian Terasa Jauh?

Kita semua tahu bahwa kematian itu nyata. Kita tahu bahwa ia tidak memandang usia, tidak menunggu kita sehat, tidak menunggu kita siap. Namun anehnya, pengetahuan ini nyaris tidak mengubah cara kita menjalani hari-hari. Kematian terasa seperti sesuatu yang ada di ujung jalan yang sangat jauh — padahal Allah ï·» sendiri menegaskan sebaliknya:

"Telah dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedangkan mereka dalam keadaan lalai dan berpaling." (QS. Al-Anbiya: 1)

Perhatikan kata yang Allah pilih: iqtarabatelah dekat. Bukan "akan datang suatu saat nanti." Bukan "masih lama." Tapi sudah dekat. Sementara kita, dengan segala keyakinan yang kita miliki tentang kematian, tetap saja berpaling dan terus tenggelam dalam kelalaian.

Mengapa ini bisa terjadi? Ada beberapa penyakit yang mendasarinya.

Penyakit pertama adalah tidak mengenal Allah ï·». Orang yang benar-benar mengenal Allah — mengenal nama-nama-Nya, memahami sifat-sifat-Nya — akan mewarisi dalam hatinya rasa takut, rasa cinta, rasa pengagungan, dan rasa berharap kepada-Nya. Rasa-rasa itulah yang membuat seseorang tidak pernah bisa santai dalam kelalaian. Sebaliknya, ketika Allah ï·» hanya menjadi nama yang kita sebut di waktu-waktu tertentu tanpa sungguh-sungguh kita kenal, maka peringatan-peringatan-Nya pun meluncur begitu saja tanpa meninggalkan bekas di hati.

Penyakit kedua adalah cinta dunia yang berlebihan disertai panjang angan-angan. Rasulullah ï·º bersabda:

"Anak Adam akan menjadi tua, namun dua perkara dalam dirinya tetap muda: semangat terhadap harta dan panjang angan-angan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah gambaran yang sangat jujur tentang diri kita. Rambut boleh memutih, lutut boleh ngilu, mata boleh mulai kabur — tetapi nafsu untuk mengejar dunia tidak pernah benar-benar berkurang. Ia justru semakin menggebu. Dan angan-angan itu terus memanjang, membuai kita dengan ilusi bahwa masih ada banyak waktu.

Dunia yang Kita Kejar: Apa Sebenarnya Nilainya?

Sebelum kita bisa berubah, kita perlu melihat dunia ini dengan kejujuran yang sesungguhnya — bukan melalui lensa ambisi dan keinginan, tetapi melalui lensa Al-Qur'an.

Allah ï·» berfirman:

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali Imran: 185)

Renungkan pengalaman kita sendiri. Sebelum mencapai sebuah target — jabatan tertentu, penghasilan tertentu, rumah tertentu — kita berkata dalam hati: "Kalau sudah sampai di situ, aku akan merasa cukup." Namun ketika target itu tercapai, rasa cukup itu tidak datang. Yang datang justru target baru yang lebih tinggi, keinginan baru yang lebih besar, dan kekhawatiran baru bahwa apa yang sudah kita miliki bisa hilang.

Itulah hakikat dunia. Semakin dikejar, semakin haus. Rasulullah ï·º menggambarkannya dengan sangat tepat:

"Andai anak Adam memiliki satu lembah berisi emas, ia akan menginginkan dua lembah. Dan tidak ada yang akan mengisi mulutnya kecuali tanah (kematian)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah ï·» juga mengibaratkan dunia seperti air hujan yang menumbuhkan tanaman dengan subur, membuat bumi tampak indah dan menawan — namun kemudian datang azab Allah dan seketika tanaman itu menjadi seperti jerami yang sudah disabit, seakan tidak pernah ada (QS. Yunus: 24). Persis seperti seseorang yang bertahun-tahun berjuang keras membangun karier, mengorbankan waktu dan hubungan, lalu di hari pelantikannya ia justru terkapar sakit atau bahkan dipanggil oleh Allah ï·» sebelum sempat menikmati hasilnya.

Rasulullah ï·º sendiri memberikan gambaran yang paling telanjang tentang hubungan beliau dengan dunia. Ketika seorang sahabat mendapati beliau tidur di atas tikar anyaman hingga membekas di tubuhnya, beliau bersabda:

"Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya."

Seorang musafir tidak mendekorasi pohon tempatnya berteduh. Ia tidak membangun rumah di sana. Ia beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanannya menuju tujuan yang sesungguhnya.

Jebakan Perbandingan dan Tipu Daya Media Sosial

Di era hari ini, ada satu penyakit tambahan yang semakin memperparah kelalaian kita: mengukur kebahagiaan dari pencapaian orang lain. Kita hidup di zaman ketika "pintu rumah" orang lain terbuka lebar di depan mata kita — bahkan pintu kamarnya, saldo rekeningnya, liburannya, makanannya, pakaiannya, semua dipertontonkan.

Dan kita pun jadi merasa miskin. Kita merasa Allah tidak adil kepada kita. Kita merasa ibadah kita tidak dibalas.

Padahal masalahnya bukan pada apa yang ada di tangan kita. Masalahnya ada pada apa yang ada di dalam hati kita. Rasulullah ï·º bersabda:

"Kekayaan yang sesungguhnya bukanlah dengan banyaknya harta, melainkan kekayaan itu ada di dalam hati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seberapa dalam rasa qana'ah (merasa cukup dengan pemberian Allah) bersemayam dalam hati kita, sejauh itulah kita akan merasakan kekayaan yang hakiki. Sebaliknya, selama mata hati kita terus tertuju pada pencapaian orang lain, kita tidak akan pernah benar-benar merasa kaya — meskipun dunia sudah di tangan.

Bahaya Teman yang Melalaikan

Faktor lain yang tidak boleh diremehkan adalah lingkungan dan teman pergaulan. Rasulullah ï·º bersabda:

"Seseorang itu berada di atas agama sahabat dekatnya, maka perhatikanlah siapa yang kalian jadikan sahabat." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Teman adalah kekuatan penarik yang luar biasa. Jika lingkungan kita dipenuhi orang-orang yang hanya membicarakan dunia — bisnis, jabatan, tren, hiburan — maka lambat laun kita pun akan tertarik ke arah yang sama. Sebaliknya, berteman dengan orang-orang saleh yang sering mengingatkan kita akan kematian dan akhirat akan mengangkat kita ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah menangis menyaksikan harta rampasan perang yang berlimpah terbentang di hadapannya. Para sahabat heran — bukankah ini seharusnya menjadi momen suka cita? Umar radhiyallahu 'anhu menjawab:

"Tidaklah kekayaan seperti ini dibukakan kepada suatu kaum, melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka."

Dan beliau berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya kami tidak mampu kecuali merasa senang dengan apa yang Kau jadikan indah bagi kami. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar dapat membelanjakannya di jalan yang benar." Inilah hati seorang mukmin yang waspada — menerima nikmat dengan rasa syukur sekaligus rasa takut.

Obatnya: Perbanyak Mengingat Kematian

Jika lalai adalah penyakitnya, maka mengingat kematian adalah obatnya. Rasulullah ï·º bersabda:

"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah)

Mengingat kematian bukan untuk membuat kita murung dan pesimis. Justru sebaliknya — ia memiliki dampak yang sangat nyata dalam kehidupan seorang mukmin.

Pertama, ia melembutkan hati dan mengurangi cinta dunia. Ketika kita sadar bahwa semua yang kita kumpulkan tidak akan kita bawa ke alam kubur — rumah ditinggal, mobil ditinggal, jabatan ditinggal, tabungan ditinggal, tetapi pertanggungjawabannya dibawa — maka secara alami hati kita akan melepaskan cengkeraman dunia yang terlalu kuat.

Kedua, ia memotivasi kita untuk bertaubat dan beramal saleh. Kesadaran bahwa kita bisa dipanggil kapan saja mendorong kita untuk tidak menunda-nunda kebaikan. Taubat bukan lagi sesuatu yang "nanti kalau sudah tua." Amal saleh bukan lagi sesuatu yang "nanti kalau sudah longgar."

Ketiga, ia meringankan beban hidup. Al-Imam Sufyan bin Said Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata kepada saudaranya yang sedang menanggung beban hidup: "Ingatlah kematian. Dengan mengingat kematian, maka akan meringankan beratnya cobaan hidupmu di dunia ini." Dan Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah menambahkan: "Tidak seseorang pun yang banyak mengingat kematian, kecuali dunia menjadi kecil di matanya."

Hidup Sebagaimana Kita Akan Mati

Ada satu prinsip yang sangat mendasar namun sering kita abaikan: seseorang akan mati sesuai dengan kebiasaannya semasa hidup. Rasulullah ï·º bersabda:

"Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal." (HR. Muslim)

Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ad-Da' wad-Dawa' mencatat kisah-kisah yang menggetarkan hati: ada orang yang di detik-detik terakhir hidupnya — ketika lisan seharusnya bergerak mengucapkan lailahaillallah — justru melantunkan syair dan nyanyian, karena itulah yang selama ini menjadi kebiasaannya. Ada yang mencaci maki, karena itulah yang selalu ia lakukan. Ada yang berbuat kemungkaran, karena itulah jalan yang selalu ia pilih.

Allah tidak menzalimi mereka. Mereka hidup dengan cara tertentu, dan mereka mati dengan cara yang sama.

Maka pertanyaannya untuk kita: Bagaimana kita hidup hari ini? Karena itulah yang kemungkinan besar akan mewarnai akhir perjalanan kita.

Kunci untuk meraih husnul khatimah (akhir yang baik) adalah istiqamah — konsisten menjalankan perintah Allah ï·», menjauhi larangan-Nya, dan beribadah sesuai tuntunan Nabi ï·º. Allah ï·» berjanji dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu'." (QS. Fushshilat: 30)

Malaikat yang datang di saat-saat terakhir itulah yang akan memudahkan lisan kita mengucapkan kalimat lailahaillallah. Dan malaikat itu hanya datang kepada orang yang hidupnya dihiasi dengan istiqamah.

Mengejar Dunia Tidak Salah — Asal Tidak Melupakan Akhirat

Perlu diluruskan satu hal: Islam tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia dan hidup dalam kepasifan. Enam dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga adalah para pedagang yang sukses secara materi. Allah ï·» sendiri memberikan kepada Nabi Sulaiman 'alaihissalam kerajaan yang tidak pernah dimiliki siapa pun sebelum dan sesudahnya — dan itu tidak membuat beliau sombong, melainkan semakin takut kepada Allah ï·».

Yang tercela bukanlah dunianya, melainkan ketika dunia melalaikan kita dari mengingat Allah, membuat kita meninggalkan kewajiban, dan membuat kita tidak peduli lagi antara yang halal dan yang haram. Sebaliknya, ketika dunia kita jadikan sebagai jembatan untuk meraih akhirat — harta yang kita nafkahkan di jalan Allah, jabatan yang kita gunakan untuk kemaslahatan umat, waktu yang kita isi dengan amal — maka itulah sebaik-baik penggunaan dunia.

Ukurannya sederhana yang dirumuskan oleh para ulama: jika duniamu semakin bertambah dan kedekatanmu kepada Allah pun semakin bertambah, itu adalah tanda bahwa Allah meridhaimu. Namun jika duniamu bertambah tetapi shalatmu semakin bolong, kajianmu semakin jarang, dan hatimu semakin jauh dari Allah — di situlah saatnya berhenti dan kembali.

Gunakan Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Rasulullah ï·º menitipkan sebuah wasiat yang ringkas namun sangat berharga:

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa cukupmu sebelum masa kurangmu, waktu luangmu sebelum datang kesibukan, dan hidupmu sebelum kematianmu." (HR. Al-Hakim, dihasankan)

Jika kita bayangkan hidup ini sebagai satu hari, maka ada di antara kita yang masih di waktu Dhuha, ada yang sudah Zuhur, ada yang sudah Ashar, dan ada yang sudah mendekati Maghrib. Tidak ada yang tahu di mana posisi kita sesungguhnya. Yang kita tahu hanyalah bahwa hari itu pasti akan berakhir — dan kita harus memastikan bahwa sebelum matahari terbenam, kita telah mengisi hari itu sebaik mungkin.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menutup dengan nasihat yang seharusnya terukir di hati setiap Muslim:

"Dunia telah pergi membelakangi dan akhirat telah datang menghadap. Masing-masing memiliki anak-anaknya. Maka jadilah anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia. Karena hari ini adalah hari beramal tanpa hisab, sedangkan esok adalah hari hisab tanpa amal."

Hari ini — detik ini — kita masih bisa beramal tanpa diminta pertanggungjawabannya terlebih dahulu. Pintu masih terbuka. Pena masih bergerak. Namun kita tidak tahu sampai kapan. Maka jangan tunda kebaikan yang bisa kita lakukan hari ini, karena kita tidak tahu apakah kita masih akan memiliki kesempatan untuk melakukannya esok hari.

Semoga Allah ï·» menjaga hati kita tetap terjaga, menganugerahkan kepada kita husnul khatimah, dan mengumpulkan kita bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh di akhirat kelak.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Kajian "Mengapa Kita Sering Lupa Bahwa Kita Akan Mati" — Ustadz Haris Abu Naufal, Serial Kelas Temanmu Hijrah: Persiapan Pulang

Posting Komentar

0 Komentar