Ada sebuah ayat dalam Al-Qur'an yang turun karena sebuah pertanyaan yang lahir dari kecintaan seorang wanita kepada firman Allah. Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ï·º, suatu hari berkata kepada beliau: "Ya Rasulullah, Allah ketika berfirman dalam Al-Qur'an sepertinya lebih banyak menyebut laki-laki dan tidak menyebut wanita secara langsung."
Pertanyaan itu bukan keluhan. Ia adalah cerminan betapa para sahabat wanita memperlakukan Al-Qur'an bukan sebagai kitab biasa, melainkan — sebagaimana yang diungkapkan Hasan Al-Bashri rahimahullah — sebagai surat dari Rabb mereka untuk mereka. Surat dari yang paling mereka cintai. Maka wajar jika mereka ingin disebutkan di dalamnya.
Allah pun menjawab dengan menurunkan sebuah ayat yang mencakup sepuluh pasang sifat — laki-laki dan perempuan disebutkan bersama — dan menutupnya dengan janji yang tidak tertandingi. Inilah QS. Al-Ahzab: 35, ayat kedua yang dibawakan Imam Nawawi rahimahullahu ta'ala dalam Bab Kejujuran.
Muslim dan Mukmin: Dua Tingkat yang Berbeda
Allah memulai ayat ini dengan: innal muslimina wal muslimaat wal mu'minina wal mu'minaat — laki-laki muslim dan wanita muslimah, laki-laki mukmin dan wanita mukminah.
Ketika Islam dan iman disebutkan secara bersamaan seperti ini, keduanya memiliki makna yang berbeda. Islam adalah penyerahan diri kepada Allah secara zahir — yang terlihat dan bisa disaksikan: syahadat, shalat, zakat, puasa, haji. Iman adalah penyerahan diri kepada Allah secara batin — yang tersimpan di dalam hati: iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan takdir.
Karena itulah ketika ada orang Arab Badui berkata "kami beriman", Allah meluruskan melalui lisan Nabi ï·º: "Katakanlah: kami telah Islam. Karena iman belum masuk ke dalam hati kalian." (QS. Al-Hujurat: 14)
Dari sini para ulama menyimpulkan: setiap mukmin pasti muslim, tapi tidak setiap muslim sudah menjadi mukmin. Karena hati yang baik pasti melahirkan amalan zahir yang baik — tapi zahir yang tampak baik belum tentu mencerminkan hati yang baik. Orang munafik adalah buktinya.
Sepuluh Sifat dalam Satu Ayat
Pertama dan kedua: Muslimin/Muslimat dan Mu'minin/Mu'minat. Menyerahkan diri kepada Allah secara zahir dan batin — keduanya harus berjalan bersama. Tidak cukup hanya tampak saleh di luar jika batin kosong, dan tidak cukup mengaku beriman jika amalan zahir tidak mencerminkannya.
Ketiga: Qanitin/Qanitat — orang-orang yang taat. Imam Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa qunut di sini bukan sekadar taat biasa, tetapi taat yang dawam (kontinu), disertai dzul (merendah dan menghambakan diri), dan sukun (ketenangan). Bukan taat yang musiman, bukan taat yang sambil cemberut, dan bukan taat yang penuh gegap gempita tanpa ketenangan jiwa.
Keempat: Shadiqin/Shadiqat — orang-orang yang jujur. Jujur dalam iman, dalam lisan, dan dalam amalan. Tidak ada perbedaan antara saat sendirian dan saat di depan orang. Tidak ada perbedaan antara yang diucapkan dan yang dilakukan. Inilah inti dari seluruh bab ini.
Kelima: Shabirin/Shabirat — orang-orang yang bersabar. Sabar menahan diri di atas ketaatan, sabar menahan diri dari kemaksiatan, dan sabar menghadapi takdir Allah. Dan ini bukan kebetulan disebutkan setelah kejujuran — karena orang yang jujur akan sabar. Ia tidak akan melepaskan kendali hanya karena tidak ada yang melihat.
Keenam: Khasyiin/Khasyiat — orang-orang yang khusyuk. Khusyuk adalah keterlibatan hati dalam ibadah yang sedang dikerjakan, disertai tawadhu' dan ketenangan. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah melihat seseorang yang salatnya penuh gerakan sia-sia dan berkata: "Kalau hati orang ini tenang, pasti anggota badannya akan tenang." Orang yang jujur mengucapkan Allahu Akbar — maka pada saat bertakbir, hatinya benar-benar menyadari bahwa Allah Maha Besar dan segalanya menjadi kecil. Bisnis, anak, masalah — semuanya kecil di hadapan pertemuan dengan Allah dalam shalat.
Ketujuh: Mutashaddiqin/Mutashaddiqat — orang-orang yang bersedekah. Orang yang jujur tidak pelit. Karena ia jujur kepada dirinya sendiri: harta ini bukan miliknya, tujuan hidupnya adalah akhirat, dan untuk ke surga perlu sedekah. Kalau seseorang mengaku ingin surga tapi pelit bersedekah, ada ketidakjujuran di sana.
Kedelapan: Shaimin/Shaimat — orang-orang yang berpuasa. Said bin Jubair rahimahullah menjelaskan: minimal adalah menjaga puasa Ramadhan ditambah tiga hari setiap bulan — di awal, tengah, atau akhir bulan. Yang paling utama adalah ayyamul bidh, tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah. Siapa yang bisa lebih dari itu — seperti puasa Senin-Kamis atau memperbanyak puasa di bulan-bulan haram — maka insyaallah ia termasuk dalam ayat ini.
Kesembilan: Hafidzina furujahum/Hafidzat — orang-orang yang menjaga kehormatan. Ini pun bagian dari kejujuran. Jujur kepada Allah berarti menjaga kehormatan dan kemaluan meskipun tidak ada yang melihat — meskipun jauh dari keluarga, meskipun dalam kondisi bebas. Karena Allah selalu melihat. Dan orang yang benar-benar jujur tahu itu.
Kesepuluh: Dzakirinallaha katsiran/Dzakirat — orang-orang yang banyak mengingat Allah. Ini adalah penutup yang sangat tepat. Para ulama menjelaskan: zikrullah disebutkan terakhir karena ia mencakup seluruh ibadah. Tidak ada satu pun ibadah yang bisa dikerjakan tanpa mengingat Allah. Orang yang bangun malam untuk tahajud — ia bangun karena ingat Allah. Orang yang bersedekah — ia bersedekah karena ingat Allah. Zikir bukan hanya tasbih dan tahmid di lisan, tetapi juga tafakur di hati dan pembuktian melalui amalan — ketiganya harus berjalan bersama.
Janji di Ujung Ayat
Setelah menyebutkan sepuluh sifat ini, Allah menutup dengan:
"Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar." (QS. Al-Ahzab: 35)
Dua hadiah sekaligus: ampunan untuk seluruh masa lalu yang kelam, dan pahala yang sangat besar — yang di antara tafsirannya adalah surga.
Ini adalah kabar gembira yang terbuka bagi siapapun. Tidak peduli seberapa hitam masa lalu kita, tidak peduli seberapa banyak dosa yang pernah kita lakukan — selama kita memulai hari ini dengan kejujuran kepada Allah, dengan bertobat dan mengisi sisa hidup dengan sifat-sifat dalam ayat ini, maka ampunan dan surga Allah itu ada.
Mulailah sekarang. Jadilah orang yang jujur — kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada diri sendiri, dan kepada manusia. Karena itulah jalan menuju ampunan dan pahala yang tidak terbatas dari Rabb semesta alam.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 119. JUJUR = AMPUNAN & PAHALA BERLIMPAH | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar