RS 118. Bergabunglah Bersama Orang-Orang yang Jujur

Ada sebuah pertanyaan yang perlu kita tujukan kepada diri sendiri setelah membaca satu ayat dari Al-Qur'an: sudahkah kita jujur? Bukan hanya kepada pelanggan, kepada pasangan, kepada atasan — tetapi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala membuka Bab Kejujuran dengan sebuah ayat yang singkat namun menanggung beban makna yang sangat besar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا اتَّÙ‚ُوا اللَّÙ‡َ ÙˆَÙƒُونُوا Ù…َعَ الصَّادِÙ‚ِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bergabunglah bersama orang-orang yang jujur." (QS. At-Taubah: 119)

Sebelum masuk ke dalam ayat ini, ada satu kisah yang perlu kita renungi tentang kekuatan kejujuran yang sesungguhnya.

Ketika Jujur Menyelamatkan di Hadapan Penguasa Zalim

Di masa pemerintahan Hajjaj bin Yusuf — seorang penguasa yang dikenal sangat zalim — hiduplah seorang laki-laki bernama Rabi' bin Khurasy rahimahullah, yang di tengah masyarakatnya dikenal tidak pernah berbohong seumur hidupnya.

Dua anaknya melakukan pelanggaran terhadap aturan Hajjaj bin Yusuf, lalu bersembunyi. Hajjaj memanggil sang ayah dan bertanya langsung: "Di mana kedua anakmu bersembunyi sekarang?"

Bayangkan tekanan dalam situasi itu. Berhadapan dengan Hajjaj bin Yusuf berarti mempertaruhkan nyawa. Tapi sang ayah menjawab tanpa ragu: "Huma fil bait — mereka berdua ada di rumah. Wallahul musta'an — hanya kepada Allah saya meminta pertolongan."

Dan memang kedua anaknya ada di rumah. Tidak ada kebohongan. Tidak ada rekayasa. Hanya kejujuran telanjang di hadapan penguasa yang paling ditakuti zamannya.

Hajjaj terdiam. Lalu berkata: "Huma laka — mereka berdua kubebaskan untukmu." Ia kagum dengan kejujuran seorang ayah yang berani jujur bahkan kepada dirinya. Kedua anak itu bebas. Karena kejujuran.

Jujur adalah kekuatan. Bukan hanya teori — ini terbukti dalam sejarah.

Dua Perintah dalam Satu Ayat

QS. At-Taubah: 119 memuat dua perintah sekaligus dari Allah Subhanahu wa Ta'ala: bertakwalah kepada Allah, dan bergabunglah bersama orang-orang yang jujur (wa kuunu ma'ash shadiqin).

Perintah kedua ini — bergabung bersama orang-orang yang jujur — sering kita anggap ringan. Padahal ini adalah kewajiban yang harus diperjuangkan secara aktif. Bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Kita perlu mencari mereka, mendekati mereka, menjadikan mereka bagian dari kehidupan kita.

Dan tahukah kita bahwa kita sebenarnya sudah meminta ini — minimal tujuh belas kali setiap hari? Setiap kali kita membaca Al-Fatihah dalam shalat, kita memohon:

اهْدِÙ†َا الصِّرَاطَ الْÙ…ُسْتَÙ‚ِيمَ ۝ صِرَاطَ الَّذِينَ Ø£َÙ†ْعَÙ…ْتَ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِÙ…ْ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus — jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat."

Siapakah orang-orang yang Allah beri nikmat itu? Allah sendiri menjawab dalam QS. An-Nisa: 69:

"...yaitu para nabi, orang-orang yang selalu jujur (siddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka adalah sebaik-baik pendamping."

Siddiqin — orang-orang yang senantiasa jujur dan berada di atas kebenaran — disebutkan Allah dalam satu napas bersama para nabi dan syuhada. Inilah posisi kejujuran dalam Islam. Dan inilah yang kita minta tujuh belas kali sehari: ya Allah, tunjukkan kami jalan mereka, pertemukan kami dengan mereka, jadikan kami bagian dari mereka.

Lalu pertanyaannya: jujurkah kita ketika membaca doa itu?

Bergabung dengan Mereka yang Telah Wafat

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini bukan hanya memerintahkan kita bergabung dengan orang-orang jujur yang ada di sekitar kita hari ini. Ia juga memerintahkan kita bergabung dengan orang-orang jujur yang telah wafat jauh sebelum kita lahir.

Imam Nafi' menjelaskan: "Bergabunglah bersama orang-orang yang jujur, yaitu bersama Nabi ï·º dan para sahabat beliau." Imam Ibnu Juraij menafsirkan: bersama kaum Muhajirin yang benar-benar jujur. Imam Ad-Dahhak menjelaskan: bersama Abu Bakar, Umar, dan para sahabat mereka berdua.

Bagaimana caranya bergabung dengan mereka yang sudah wafat? Dengan mengikuti iman yang mereka yakini, ibadah yang mereka kerjakan, akhlak yang mereka contohkan, dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam setiap langkah kehidupan kita. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu ta'ala pernah menegaskan: "Janganlah kalian berbicara tentang sebuah masalah agama yang dalam masalah itu kalian tidak punya pendahulu dari sahabat Nabi ï·º."

Bergabung dengan orang-orang jujur yang terbaik berarti bergabung dengan Nabi ï·º dan para sahabatnya. Merekalah pemimpin kaum siddiqin. Bukan kebetulan gelar Abu Bakar radhiyallahu 'anhu adalah Ash-Shiddiq — yang selalu jujur dan selalu membenarkan apa yang datang dari Nabi ï·º.

Kejujuran yang Komprehensif

Di sinilah banyak orang salah kaprah. Kejujuran bukan hanya soal tidak menipu dalam jual beli. Nabi ï·º menunjukkan kejujuran yang komprehensif — menyeluruh dalam setiap dimensi kehidupan.

Bukti paling menakjubkan: orang-orang kafir Quraisy yang membenci, memboikot, dan ingin membunuh Nabi ï·º — di saat yang sama, mereka tetap menitipkan harta dan barang berharga mereka kepada beliau. Karena mereka tahu: tidak ada yang lebih amanah dari Muhammad ï·º. Bahkan ketika beliau hendak berhijrah dan mereka sudah merencanakan pembunuhannya, beliau masih memerintahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu untuk tinggal sebentar dan mengembalikan semua titipan orang-orang kafir itu.

Ini adalah kejujuran hablum minannas-nya. Tapi di sisi lain, Nabi ï·º pun jujur kepada Allah: beliau beribadah sampai kaki beliau bengkak, beliau berdoa dari Zuhur hingga Maghrib di Arafah, beliau hanya bersujud kepada Allah, hanya berharap kepada Allah. Ketika beliau mengatakan la ilaha illallah, seluruh hidupnya adalah pembuktian dari kalimat itu.

Itulah teladan yang dimaksud ketika ayat memerintahkan kita wa kuunu ma'ash shadiqin.

Empat Tingkat Kejujuran

Para ulama merinci bahwa kejujuran yang sesungguhnya terdiri dari empat tingkat — dan urutan ini bukan kebetulan:

Pertama, jujur kepada Allah. Yaitu menjadi hamba yang sungguh-sungguh. Setiap hari kita membaca alhamdulillahi rabbil alamin — segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Rabb berarti pencipta, pemilik, sekaligus pengatur. Jujurkah kita ketika mengucapkannya? Sudahkah kita benar-benar membiarkan Allah mengatur hidup kita — termasuk bagian-bagiannya yang tidak sesuai dengan keinginan kita?

Kedua, jujur kepada Rasulullah ï·º. Dengan meyakini apa yang beliau sampaikan dan menjalankan perintah serta menjauhi larangan beliau. Sungguh-sungguh, bukan hanya ketika sesuai dengan selera kita.

Ketiga, jujur kepada diri sendiri. Ini salah satu yang paling berat: mengakui aib-aib kita, kesalahan-kesalahan kita, dosa-dosa kita kepada diri sendiri — tanpa membela diri, tanpa mencari pembenaran, tanpa menipu nurani. Lalu berusaha memperbaikinya.

Keempat, jujur kepada manusia. Inilah yang paling sering kita artikan sebagai kejujuran — apa yang kita sampaikan sesuai dengan fakta, tidak membohongi orang lain.

Dan inilah kaidah pentingnya: setiap orang yang jujur kepada Allah pasti jujur kepada manusia. Tapi tidak setiap orang yang jujur kepada manusia pasti jujur kepada Allah. Maka mulailah dari yang pertama — jujur kepada Allah. Karena dari sana, kejujuran dalam dimensi-dimensi lain akan mengalir dengan sendirinya.

Dan untuk bisa bergabung dengan orang-orang yang jujur, kita harus terlebih dahulu menjadi orang yang jujur. Tidak ada jalan lain. Sebagaimana yang dikatakan para ulama: seseorang tidak akan bisa bergabung dengan kaum siddiqin kecuali ia sendiri berhias dengan sifat kejujuran mereka.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang jujur — kepada-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada diri kita sendiri, dan kepada sesama manusia — serta mempertemukan kita dengan kaum siddiqin di dunia dan di akhirat.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 118. BERGABUNG BERSAMA ORANG-ORANG JUJUR | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar