RS 121. Jujur Menuju Surga, Bohong Menuju Neraka

Ada dua jalan yang Nabi Muhammad ï·º gambarkan dengan sangat jelas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu — hadits yang oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim sama-sama diletakkan dalam koleksi hadits paling sahih mereka:

"Sesungguhnya kejujuran membimbing kepada kebaikan (al-birr), dan kebaikan membimbing kepada surga. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang siddiq. Dan sesungguhnya kebohongan membimbing kepada kefajiran (fujur), dan kefajiran membimbing kepada neraka. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa berbohong akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (kadzdzab)."

Dua arah. Dua tujuan. Dan pemilihnya ada di tangan kita masing-masing.

Kejujuran: Pintu Masuk Semua Kebaikan

Kata al-birr yang digunakan Nabi ï·º bukan kata sempit. Ia adalah kata universal yang mencakup seluruh kebaikan — kebaikan dalam rumah tangga, dalam pekerjaan, dalam ibadah, dalam hubungan sosial, bahkan kebaikan dalam kondisi-kondisi yang paling menekan. Maka ketika Nabi ï·º mengatakan "innash-shidqa yahdi ilal birr" — kejujuran membimbing kepada al-birr — artinya kejujuran adalah pintu masuk bagi semua kebaikan.

Ingin menjadi suami yang baik? Mulailah dari kejujuran. Ingin menjadi istri yang baik? Mulailah dari kejujuran. Ingin hari-hari kita dipenuhi kebaikan, suasana rumah yang hangat, hubungan yang tulus? Isinya dengan kejujuran.

Karena sebaliknya, ketika sebuah hubungan dimulai dari kebohongan — sekecil apapun — ia sudah dimulai dari keburukan. Suasana yang panas dalam sebuah keluarga, jarak yang terasa tanpa sebab antara dua orang yang seharusnya dekat, konflik yang terus berulang tanpa penyelesaian — boleh jadi semua itu bersumber dari ketidakjujuran yang sudah lama tertanam.

Yang Pertama: Jujur kepada Allah

Namun ada hal yang lebih mendasar dari semua itu, dan sering kita lewatkan: kejujuran yang paling penting adalah kejujuran kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bukan kepada pelanggan, bukan kepada pasangan, bukan kepada atasan — tetapi kepada Allah.

Ingatlah kisah Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu yang tidak ikut Perang Tabuk tanpa alasan yang benar. Ketika Nabi ï·º bertanya, Ka'ab sebenarnya mampu mengarang cerita yang meyakinkan. Kemampuan berbicara beliau sangat baik, dan beliau yakin Nabi ï·º tidak akan tahu kebenarannya. Tapi beliau memilih jujur. Mengapa? Karena beliau ingin jujur kepada Allah — beliau tahu Allah mendengar, Allah melihat, dan Allah mengetahui. Dan kalau beliau berbohong, Allah akan tahu, dan Allah akan memalingkan hati Nabi ï·º darinya.

Itulah kejujuran kepada Allah. Dan itu yang menjadi pondasi dari seluruh kejujuran lainnya. Orang yang jujur kepada Allah pasti jujur kepada manusia. Tapi tidak sebaliknya — orang yang jujur kepada manusia belum tentu jujur kepada Allah.

Kenapa Orang Bohong?

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala memberikan pengamatan yang sangat menohok: alasan utama seseorang berbohong adalah karena ia takut kehilangan kedudukan di dalam hati manusia.

Coba renungkan: mengapa suami berbohong kepada istri? Karena takut kedudukannya jatuh di mata istrinya. Mengapa anak berbohong kepada orang tua? Karena takut orang tuanya kecewa dan marah. Mengapa seseorang memoles cerita tentang dirinya? Karena takut kehilangan citra yang sudah ia bangun.

Inilah akar dari kebohongan: bergantung kepada pandangan manusia, bukan kepada ridha Allah. Dan ini pula yang menjelaskan mengapa orang-orang munafik di zaman Nabi ï·º memilih jalan kemunafikan — mereka takut kehilangan apa yang mereka miliki di kota Madinah, harta dan kedudukan mereka, sehingga mereka berbohong demi mempertahankan itu semua.

Berbeda dengan orang yang benar-benar jujur. Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala mendefinisikan orang yang jujur sebagai:

"Orang yang tidak peduli jika kedudukannya di dalam hati manusia hilang satu per satu, demi membersihkan hatinya."

Ia tidak tertarik dengan pujian manusia. Ia juga tidak terlalu memusingkan celaan manusia. Karena yang ia kejar hanya satu: ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan dengan orientasi seperti itu, ia menjadi bebas — bebas untuk jujur dalam kondisi apapun, karena tidak ada yang perlu ia pertahankan di hadapan manusia.

Gelar yang Masih Bisa Dikejar

Nabi ï·º menyampaikan kabar yang sangat memotivasi: seseorang yang senantiasa jujur — terus-menerus, konsisten, dalam setiap kondisi — akan dicatat di sisi Allah dengan gelar siddiq.

Dan siddiq bukan gelar biasa. Ketika kita kaitkan dengan QS. An-Nisa: 69 — "Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat: para nabi, siddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh" — kita mendapati bahwa siddiqin berada tepat di bawah para nabi dalam tingkatan tertinggi penghuni surga.

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mendapat gelar Ash-Shiddiq bukan tanpa sebab. Dan siapa sahabat beliau di surga? Rasulullah ï·º sendiri.

Mungkin ada yang merasa sudah terlambat. Hafalan Qur'an masih sedikit. Baru mendapat hidayah di usia yang tidak lagi muda. Tidak punya gelar akademik di bidang agama. Tapi gelar siddiq tidak membutuhkan semua itu. Gelar siddiq hanya membutuhkan satu hal: jujur kepada Allah, setiap hari, dalam setiap kondisi, sampai ajal menjemput.

Kejar gelar itu. Karena tidak ada cara lain yang lebih mewah untuk bersanding dengan para nabi di akhirat.

Kebohongan kepada Allah: Yang Paling Fatal

Dan sebaliknya — seseorang yang terus-menerus berbohong akan dicatat di sisi Allah sebagai kadzdzab, pendusta. Dan kebohongan yang paling fatal adalah kebohongan kepada Allah.

Kita mengucapkan la ilaha illallah — tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Jujurkah kita? Apakah seluruh hidup kita mencerminkan bahwa hanya Allah yang kita ibadahi, hanya kepada Allah kita bergantung, hanya kepada Allah kita meminta? Atau kita masih bergantung kepada selain-Nya, masih mencari ridha manusia lebih dari ridha Allah?

Kita membaca alhamdulillahi rabbil alamin — segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Jujurkah kita? Apakah kita benar-benar mengakui Allah sebagai pemilik dan pengatur, sehingga kita mau diatur-Nya dalam setiap aspek kehidupan?

Kita mengucapkan saya beriman kepada takdir Allah — lalu saat musibah datang, kita marah, protes, tidak terima. Jujurkah kita?

Inilah kejujuran kepada Allah yang sesungguhnya. Dan ketika seseorang berhasil membangunnya — ketika lisan dan hati dan perbuatannya selaras dalam penghambaan kepada Allah — maka Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala menyampaikan: "Allah akan kasih dia sesuatu di atas apa yang diberikan kepada selainnya."

Maka mulailah dari sekarang. Jujurlah kepada Allah. Karena kejujuran itu akan membimbing kita — satu langkah demi satu langkah — menuju kebaikan, dan dari kebaikan menuju surga-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 121. KEJUJURAN - SURGA, BOHONG - NERAKA | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar