Dalam kitabnya yang membahas kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menuliskan sebuah pasal yang sangat berharga tentang sebab-sebab kelapangan dada — bagaimana seseorang bisa meraih ketenangan dan kebahagiaan hati yang hakiki. Beliau merinci sepuluh kunci yang, jika ditelateni dan dihayati, akan mengantarkan seorang hamba pada kelapangan dada yang sesungguhnya.
Menariknya, pembahasan ini muncul setelah Ibnu Qayyim membahas tentang zakat dan sedekah. Sebab salah satu sebab lapangnya dada adalah berbuat baik kepada orang lain, dan di antara bentuk kebaikan itu adalah zakat dan sedekah. Dari sinilah beliau memperluas pembahasan hingga mencakup sepuluh sebab kebahagiaan. Mari kita telaah satu per satu.
1. Tauhid: Pondasi Utama Kebahagiaan
Sebab yang paling utama agar dada menjadi lapang adalah tauhid. Semakin sempurna dan kuat tauhid seseorang, semakin lapang pula dadanya. Ini adalah isyarat penting: jika kita mendambakan hati yang tenang, perdalamlah tauhid kita.
Dalam tauhid terdapat banyak cabang — tentang tawakal, tentang raja' (berharap kepada Allah), tentang khauf (takut kepada Allah), tentang berbaik sangka kepada-Nya, dan tentang hanya mengharap balasan dari Allah tanpa mengharap sanjungan manusia. Siapa yang semakin kuat tauhidnya dalam seluruh cabang ini, dadanya akan semakin lapang.
Allah berfirman:
اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖۗ
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) Islam, lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?" (QS. Az-Zumar: 22)
فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ
"Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit." (QS. Al-An'am: 125)
Sebaliknya, syirik dan kesesatan adalah sebab terbesar sempitnya hati. Orang yang tidak bergantung kepada Allah dan justru menggantungkan hatinya kepada makhluk, hatinya akan semakin sempit. Berbeda dengan orang yang bersandar penuh kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah pernah menyampaikan perkataan yang indah: pokok kebahagiaan seseorang ada dua, yaitu ikhlas (tauhid, hanya mencari keridhaan Allah) dan berbuat baik kepada orang lain (al-ihsan ilan-nas). Siapa yang menggabungkan keduanya, dialah orang yang paling lapang dadanya dan paling bahagia.
Maka jika kita merasa gelisah dan dada terasa sempit, boleh jadi ada yang bermasalah dengan tauhid kita. Mungkin tawakal kita kurang, atau kita masih terlalu peduli pada komentar orang lain, atau amal kita tercemari riya' dan ujub. Perbaikilah tauhid, maka hati akan kembali lapang.
2. Cahaya Iman yang Allah Tanamkan di Hati
Sebab kedua adalah cahaya iman yang Allah lemparkan ke dalam hati seorang hamba. Iman inilah yang melapangkan dada dan membuat hati bergembira. Jika iman ini hilang dari hati seseorang, maka hatinya menjadi sempit, sesak, dan seolah terpenjara dalam ruang yang paling sempit.
Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: ketika cahaya masuk ke dalam hati seseorang, maka hatinya menjadi luas dan lapang. Para sahabat bertanya, "Apa tandanya, ya Rasulullah?" Beliau menjawab bahwa tandanya adalah: selalu kembali berorientasi pada akhirat, menjauh dari dunia yang menipu, dan bersiap-siap menghadapi kematian sebelum kematian itu datang.
Seorang hamba akan memperoleh kelapangan dada sesuai dengan kadar cahaya yang masuk ke dalam hatinya. Ibarat ruangan yang terang membuat kita merasa lapang, sementara ruangan gelap membuat kita merasa sempit — begitulah cahaya maknawi yang Allah tanamkan di hati.
Karena itu, perkuatlah iman kita: iman kepada malaikat, kitab suci, hari akhir, dan takdir. Pelajari dan hayati, terutama iman kepada hari akhir. Sebab mengingat kematian memiliki efek yang menakjubkan — ia mengubah yang sempit menjadi lapang, dan mengubah yang lapang (dari kesenangan dunia yang melenakan) menjadi terkendali.
3. Ilmu yang Bermanfaat
Sebab ketiga adalah ilmu. Bahkan para ulama mengatakan bahwa kelezatan yang paling agung adalah kelezatan ilmu (lazzatul 'ilm). Namun kelezatan ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang serius dalam menuntut ilmu — yang mengulang-ulang pelajarannya, yang bertanya ketika tidak tahu, sehingga akhirnya ia merasakan manisnya ilmu.
Ilmu melapangkan dan meluaskan dada, hingga bahkan menjadi lebih luas daripada dunia ini. Sebaliknya, kebodohan mendatangkan kesempitan dan keterbatasan. Semakin luas ilmu seseorang, semakin lapang dadanya.
Namun yang dimaksud di sini bukan sembarang ilmu, melainkan ilmu yang bermanfaat — ilmu warisan para nabi yang menambah kedekatan seseorang kepada Allah. Para ahli ilmu adalah orang yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling baik akhlaknya, dan paling indah kehidupannya. Kita menyaksikan sendiri bagaimana para ulama, dengan berbagai problematika yang mereka hadapi, tetap mudah tersenyum dan lapang dada.
Bahkan ilmu dunia pun memiliki kelezatannya. Orang yang mendalami suatu bidang hingga menjadi pakar merasakan kenikmatan tersendiri — apalagi ilmu agama. Dikisahkan Syekh Al-Albani rahimahullah terkadang naik tangga, lalu membuka buku dan tenggelam membacanya berjam-jam, karena begitu besar kelezatan yang beliau rasakan ketika mendapat wawasan baru.
Maka bagi kita yang serius menuntut ilmu — bukan sekadar mendengar sambil lalu, tetapi mencatat, mengulang, dan bertanya — di sanalah letak kelezatan yang mendatangkan kebahagiaan.
4. Kembali kepada Allah dan Menikmati Ibadah
Sebab keempat adalah kembali kepada Allah (inabah), mencintai-Nya dengan sepenuh hati, memfokuskan diri kepada-Nya, dan berusaha menikmati ibadah kepada-Nya.
Memang, pada dasarnya ibadah adalah beban (taklif). Tadinya seseorang tidak shalat, lalu diperintahkan shalat. Tadinya tidak membaca Al-Qur'an, lalu diperintahkan membacanya. Ada beban di sana. Tetapi jika beban itu dijalani sedikit demi sedikit, ia akan berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa.
Umrah adalah beban — lelah dan mengeluarkan biaya — namun banyak orang bahagia dengannya. Shalat malam adalah beban — melawan kantuk dan bangun di tengah lelapnya tidur — namun jika ditekuni, ia menjadi kelezatan hingga seseorang merasa ada yang kurang bila meninggalkannya. Nabi ﷺ sendiri bersabda tentang shalat: "Dan dijadikan kesejukan mataku (kebahagiaanku) di dalam shalat." Beliau juga berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan (mengumandangkan azan untuk) shalat."
Tidak ada yang lebih melapangkan dada selain cinta kepada Allah dan fokus beribadah kepada-Nya. Sampai-sampai ada seorang hamba yang berkata, "Seandainya penghuni surga merasakan seperti apa yang aku rasakan (dari kelezatan ibadah), niscaya mereka berada dalam kehidupan yang menyenangkan."
Bagaimana cara meraih cinta kepada Allah? Salah satunya dengan sering berkorban — mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi Allah. Kita bisa mengorbankan harta, ego, bahkan dendam demi Allah. Semakin sering kita berkorban karena Allah, semakin Allah mudahkan hati kita untuk mencintai-Nya. Dan bila hati sudah dipenuhi cinta kepada Allah, dada akan sangat mudah dilapangkan.
Sebaliknya, berpaling dari Allah adalah sebab utama sempitnya dada. Allah berfirman bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya, maka baginya kehidupan yang sempit (QS. Thaha: 124). Demikian pula ketergantungan hati kepada makhluk selain Allah — semakin bergantung, semakin sempit. Sebagaimana kisah menakjubkan Imam Ahmad yang justru tersenyum ketika tak punya apa-apa, karena di saat itulah puncak tawakalnya hanya kepada Allah.
5. Cinta Karena Allah, Bukan Karena Selain-Nya
Masih berkaitan dengan cinta, Ibnu Qayyim membedakan dua jenis cinta yang memberi dampak berlawanan pada hati.
Cinta pertama adalah surga dunia — yaitu cinta kepada Allah. Inilah kebahagiaan jiwa, kelezatan hati, dan kehidupan ruh yang sesungguhnya. Ketika seseorang mengarahkan seluruh cinta, kehendak, dan kecondongan hatinya hanya kepada Allah, maka apa pun yang ia lakukan selalu dipertimbangkan: apakah Allah menyukainya, apakah Allah meridhainya? Segala sesuatu ia lakukan karena Allah — tidak berinteraksi kecuali karena Allah, tidak membantu kecuali karena Allah, tidak pergi ke mana pun kecuali karena Allah. Orang seperti ini akan merasakan kebahagiaan hati yang luar biasa.
Cinta kedua adalah siksa bagi ruh — yaitu cinta kepada selain Allah karena zat sesuatu itu sendiri. Siapa yang mencintai sesuatu selain Allah, ia akan tersiksa oleh apa yang ia cintai, dan hatinya terpenjara olehnya. Tidak ada orang yang lebih sengsara di dunia daripada dia.
Inilah sebuah kaidah penting: cintailah segala sesuatu karena Allah, bukan karena zatnya. Cintai istri karena Allah, cintai anak karena Allah, cintai apa pun yang kita miliki karena Allah. Sebab jika kita mencintai sesuatu karena zatnya semata — secara berlebihan — ia hanya akan menyiksa hati kita.
Contoh nyata adalah orang yang mencintai harta secara berlebihan. Ia menyangka harta adalah alatnya, padahal justru ia yang menjadi budak harta. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh celaka hamba dinar dan hamba dirham." Ia rela bertengkar dengan orang tuanya, bermusuhan dengan temannya, berkhianat, menipu, bahkan meninggalkan shalat demi harta. Ia mengira memperalat harta, padahal ia diperalat olehnya.
Allah bahkan berfirman tentang orang munafik agar kita tidak terkagum-kagum dengan harta dan anak-anak mereka, karena "Allah hendak menyiksa mereka dengan harta dan anak-anak itu di dunia." (QS. At-Taubah: 55) Betapa banyak orang yang tampak tertawa bahagia dengan hartanya, padahal ia tersiksa — gelisah 24 jam mengejar harta, tak bisa tidur, terutama jika hartanya haram. Orang yang korupsi, meski uangnya berlimpah, selalu gelisah menunggu berita penangkapan.
Maka jangan jadikan harta sebagai tujuan utama. Nabi ﷺ bersabda: "Sebaik-baik harta yang baik adalah jika dimiliki oleh orang yang baik." Harta yang dicintai karena Allah dan digunakan di jalan-Nya akan mendatangkan kebahagiaan, bukan siksaan.
6. Berkesinambungan dalam Mengingat Allah (Zikir)
Sebab keenam adalah terus-menerus berzikir mengingat Allah dalam segala kondisi dan di setiap tempat. Zikir memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada dan meraih kebahagiaan hati. Allah berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Zikir memiliki banyak bentuk. Ada zikir lisan seperti subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu Akbar — yang sebaiknya kita renungkan maknanya. Ada zikir pagi dan petang, doa-doa keluar dan masuk rumah, doa saat bepergian, masuk pasar, dan menaiki kendaraan. Membaca Al-Qur'an juga termasuk zikir. Bertafakur tentang keagungan ciptaan Allah pun termasuk zikir. Bahkan menuntut ilmu adalah zikir, sebab Allah menyebut para ahli ilmu sebagai "ahli zikir" dalam firman-Nya: "Maka bertanyalah kepada ahli zikir jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)
Sebaliknya, kelalaian (ghaflah) dari mengingat Allah memiliki efek yang menakjubkan dalam menyempitkan, memenjarakan, dan menyiksa hati. Maka jika kita mendambakan kebahagiaan, beristighfarlah. Jika hati gelisah, bacalah Al-Qur'an — bahkan hanya seperempat jam saja pasti mengubah hati kita menjadi lega dan lapang.
Inilah salah satu hikmah mengapa Allah memerintahkan shalat lima waktu. Allah ingin kita mengingat-Nya di sepanjang hari — di zuhur ketika sibuk dengan dunia, diingatkan lagi di asar, magrib, isya, dan subuh. Sehingga kelalaian kita senantiasa terobati. Sebab hati yang berhari-hari tak mengingat Allah akan mengeras, meski tanpa melakukan maksiat sekalipun.
7. Berbuat Baik kepada Sesama Makhluk
Sebab ketujuh — dan inilah yang mengawali seluruh pembahasan ini — adalah berbuat baik kepada orang lain (al-ihsan ilal-khalq). Zakat dan sedekah memiliki dampak menakjubkan dalam mendatangkan kebahagiaan. Sebab balasan itu sesuai dengan perbuatan: siapa yang membahagiakan orang lain, Allah akan membahagiakannya.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang kau masukkan ke dalam hati seorang muslim, atau kau hilangkan rasa laparnya, atau kau lunaskan utangnya, atau kau hilangkan penderitaannya. Beliau juga bersabda: "Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan seorang muslim di dunia, Allah akan menghilangkan satu kesusahannya pada hari kiamat."
Maka jadikanlah kebaikan kepada sesama sebagai pedoman hidup. Bertanyalah pada diri setiap hari: apa yang bisa kubuat baik untuk orang lain hari ini? Sudahkah kita berbuat baik kepada istri, atau justru mengomel sejak bangun tidur? Alangkah indahnya jika sejak pagi kita membangunkan keluarga dengan lembut untuk shalat subuh, mencium kening anak-anak, dan menyapa siapa saja dengan salam — kepada tetangga, satpam, bahkan petugas kebersihan. Sebuah salam kecil bisa membahagiakan orang yang tak menyangka disapa.
Kebaikan bisa dilakukan dengan berbagai cara: dengan harta, dengan kedudukan (memberi rekomendasi atau syafaat), atau dengan tenaga (membantu mengangkat barang, menunjukkan jalan). Dan jika berbuat baik, sempurnakanlah. Ada kisah tentang seseorang yang bila ditanya alamat, ia tidak sekadar menunjuk arah, tetapi mengantar penanya hingga sampai ke tujuan dengan motornya.
Orang yang dermawan dan gemar berbuat baik adalah orang yang paling lapang dadanya, paling nyaman hidupnya, dan paling bahagia hatinya. Sebaliknya, orang yang pelit adalah yang paling sempit dadanya. Cirinya adalah mudah marah, sebab kepelitan menjadikan segala sesuatu terasa mahal baginya. Ia menderita, dan membuat orang di sekitarnya ikut menderita — istri, anak, dan sahabatnya semua merasakan kesengsaraan hidup bersamanya. Bahkan ada yang begitu pelit terhadap dirinya sendiri hingga enggan berobat dengan layak dan akhirnya binasa.
Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan tentang orang yang pelit dan orang yang dermawan seperti dua orang yang mengenakan baju besi. Setiap kali orang dermawan hendak bersedekah, bajunya melapang hingga menutupi seluruh tubuhnya (melindunginya dari serangan). Namun setiap kali orang pelit hendak bersedekah, bajunya justru semakin menyempit dan mencekik dirinya. Sedekah ibarat baju perang yang menyelamatkan seseorang dari berbagai bencana dan menutupi aibnya. Maka Nabi ﷺ pun berpesan khusus kepada para wanita untuk memperbanyak sedekah sebagai jalan keselamatan dari neraka.
8. Keberanian, Bukan Sifat Pengecut
Sebab kedelapan adalah keberanian (syaja'ah). Orang pemberani memiliki dada yang lapang dan hati yang luas. Sebaliknya, orang pengecut memiliki dada yang sempit dan hati yang terpenjara — kebahagiaan ruh seakan menjadi terlarang baginya.
Orang penakut senantiasa gelisah dan ketakutan, sehingga hatinya tidak pernah tenang. Allah menggambarkan hal ini dalam surah Al-Ahzab. Ketika kaum muslimin yang hanya berjumlah sekitar tiga ribu diserang oleh sepuluh ribu pasukan musuh, orang-orang beriman yang pemberani justru berkata:
قَالُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَصَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۖ وَمَا زَادَهُمْ اِلَّآ اِيْمَانًا وَّتَسْلِيْمًاۗ
"Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah (keimanan) mereka kecuali iman dan kepasrahan (kepada Allah)." (QS. Al-Ahzab: 22)
Ketegangan yang dahsyat itu justru menambah iman dan ketenangan mereka. Adapun orang-orang munafik yang pengecut, bahkan setelah pasukan musuh pergi pun mereka masih dicekam ketakutan, menyangka musuh belum benar-benar pergi. Sebab hati yang penakut tidak pernah tenang, sementara orang pemberani menghadapi segala sesuatu dengan hati yang tenang dan bertawakal kepada Allah.
9. Membersihkan Hati dari Penyakit-Penyakitnya
Sebab kesembilan adalah menghilangkan penyakit-penyakit hati. Betapa pun seseorang berusaha melapangkan hatinya dengan sebab-sebab keimanan, semua itu akan sia-sia jika ia membiarkan penyakit hati bercokol di dalamnya.
Penyakit hati itu banyak: hasad (dengki), dendam, enggan memaafkan, buruk sangka (su'uzhan), sombong, dan ujub. Jika seseorang rajin mengaji namun terus memelihara hasad, memupuk kesombongan, atau membiarkan dendam mengakar, maka usahanya tidak akan mendatangkan kesembuhan bagi hatinya.
Di dalam hati, minimal ada dua kekuatan yang saling bertarung: sebab kebahagiaan dan sebab kesengsaraan. Siapa yang mendominasi, dialah yang menang. Maka jika kita mendambakan kebahagiaan yang sempurna, lawanlah penyakit-penyakit itu. Jangan biarkan hasad menyala, jangan biarkan sombong bersemayam, jangan biarkan ujub tumbuh, jangan biarkan dendam mengakar, dan jangan biarkan buruk sangka — apalagi buruk sangka kepada Allah — menguasai hati.
Membuang penyakit hati sambil melakukan sebab-sebab kebahagiaan adalah kombinasi yang akan menghadirkan kelapangan dada yang sejati.
10. Meninggalkan yang Berlebihan dan Tidak Perlu
Sebab kesepuluh adalah meninggalkan hal-hal berlebihan yang tidak perlu: melihat yang tidak perlu dilihat, berbicara yang tidak perlu dibicarakan, mendengar yang tidak perlu didengar, bergaul secara berlebihan, makan berlebihan, dan tidur berlebihan.
Ibnu Qayyim menulis nasihat ini pada abad ke-8 Hijriah, jauh sebelum era media sosial. Namun betapa relevannya untuk zaman kita. Hari ini, semua bentuk "berlebihan" itu terkumpul dalam genggaman — kita bisa melihat, mendengar, dan mengetahui apa saja tanpa batas. Akibatnya, manusia jarang membatasi diri hanya pada apa yang benar-benar diperlukan.
Semua sikap berlebihan ini, kata Ibnu Qayyim, membuat hati menjadi kering. Terlalu banyak melihat yang tak perlu, terlalu banyak mendengar yang tak perlu, terlalu banyak ingin tahu urusan orang lain (kepo) — semua itu mengeringkan hati. Ketika kita sibuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan, hati menjadi gelisah dan sengsara.
Bahkan sebagian besar siksaan di dunia dan akhirat berpangkal dari sikap berlebihan ini. Orang yang paling banyak melihat yang tak perlu, paling banyak berkomentar tentang segala hal, paling banyak mendengar dan mencampuri urusan orang lain — dialah yang paling sempit hatinya dan paling menderita hidupnya. Sebab, di manakah waktunya untuk mengingat Allah jika seluruh perhatiannya tersita oleh yang sia-sia?
Kesimpulan
Sepuluh kunci kelapangan dada ini bukanlah sekadar teori. Ia adalah peta jalan menuju kebahagiaan hakiki yang telah dirumuskan oleh salah satu ulama besar Islam. Bila kita telaah, semuanya bermuara pada dua pokok yang disebutkan Syekh As-Sa'di: ikhlas kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama.
Perlu diingat, patokan kebahagiaan sejati bukanlah kesenangan sesaat. Seorang pelaku maksiat mungkin merasakan kelapangan sekejap, namun itu hanyalah kelezatan dunia yang akan segera berganti menjadi kesempitan dan penderitaan. Sebaliknya, seorang mukmin mungkin sesekali merasa sempit ketika diuji, namun kesempitan itu segera sirna karena ia kembali kepada Allah. Yang menjadi ukuran adalah kondisi hati yang dominan dan berkesinambungan.
Dan sesungguhnya, teladan tertinggi dalam kelapangan dada adalah Rasulullah ﷺ — manusia yang paling sempurna dalam mewujudkan tauhid dan berbuat baik kepada sesama. Semakin seseorang mengikuti (mutaba'ah) beliau, semakin besar pula bagian kelapangan dada dan kebahagiaan yang ia peroleh.
Maka siapa yang mendapati dadanya lapang dan hatinya bahagia, hendaklah ia memuji Allah. Dan siapa yang mendapati dadanya sempit, janganlah ia mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri — sebab kunci-kunci kebahagiaan itu telah terhampar, tinggal kita yang memilih untuk meraihnya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: "10 Nasihat Ibnu Qayyim Agar Bisa Bahagia" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=wkNt6T-NMME

0 Komentar