Ada sunah Nabi ﷺ yang sangat ringan namun sering kita anggap sepele: tersenyum. Dan ada pula yang kita kira hiburan semata namun ternyata bisa mematikan hati: terlalu banyak tertawa. Di antara dua hal itulah kajian Sesi 44 berada — mengajak kita memahami batas yang tepat dalam berekspresi, dan bagaimana adab berinteraksi dengan sesama mencerminkan kedalaman iman seseorang.
Senyum adalah Sedekah
Bab ke-125 dibuka dengan atsar yang sangat indah dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat dari Yaman yang datang kepada Nabi ﷺ sekitar tahun ke-10 Hijriah. Beliau berkata: "Tidaklah Rasulullah ﷺ melihatku sejak aku masuk Islam, kecuali beliau selalu tersenyum di hadapan wajahku."
Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu adalah pemimpin kabilah Bajilah — seorang yang oleh Rasulullah ﷺ dipuji dengan dua hal sekaligus: akhlaknya yang mulia (khayrun) dan ketampanannya ('alā wajhihi mashathu malak — pada wajahnya ada sentuhan malaikat, ungkapan orang Arab untuk menggambarkan keindahan wajah yang luar biasa). Ketika beliau masuk Islam, Rasulullah ﷺ mengambil baiatnya secara khusus untuk al-nushhu likulli muslim — berbuat yang terbaik bagi setiap Muslim. Dan setiap kali keduanya bertemu, senyum Rasulullah ﷺ selalu hadir.
Senyum dalam Islam bukan sekadar ekspresi wajah — ia adalah sedekah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah." Dan dalam hadis lain: "Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya tersenyum di hadapan saudaramu."
Namun senyum itu harus ikhlas. Senyum yang hanya muncul kepada orang kaya dan pejabat, sementara kepada orang yang lebih rendah kedudukannya kita bermuka masam — itu bukan senyum yang bernilai sedekah. Senyum yang bernilai adalah senyum karena Allah, kepada siapa pun yang kita temui, termasuk kepada orang-orang terdekat kita: istri, suami, anak-anak, kerabat. Justru mereka yang paling berhak mendapat senyum kita, bukan malah sebaliknya — ramah di luar, kaku di rumah.
Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah tertawa sampai terlihat langit-langit mulutnya atau amandelnya. Tertawa beliau ﷺ adalah senyum — tabassum. Namun dalam riwayat lain dari Ibnu Mas'ud disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ kadang tertawa sampai terlihat gigi gerahamnya — misalnya ketika menceritakan kisah orang terakhir yang keluar dari neraka, atau ketika seorang sahabat datang dengan wajah ketakutan mengaku telah menggauli istrinya di siang Ramadan lalu pulang membawa kurma. Jadi tertawa beliau ﷺ ada, namun tidak pernah sampai terbahak-bahak.
Jangan Terlalu Banyak Tertawa
Bab tentang al-dahk — tertawa — memuat peringatan yang perlu kita renungkan: Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian memperbanyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati."
Dalam bahasa Arab, tabassum (senyum tanpa suara) berbeda dari dahk (tertawa dengan suara), dan keduanya berbeda dari qahqahah (terbahak-bahak). Yang dianjurkan adalah yang pertama. Yang kedua boleh sesekali, sebagaimana Rasulullah ﷺ sendiri pernah tertawa dalam beberapa kesempatan. Yang ketiga adalah yang perlu diwaspadai.
Mengapa banyak tertawa bisa mematikan hati? Karena jantung — yang dalam Al-Qur'an disebut sebagai qalb — memiliki dua fungsi: kesehatan jasmani dan kesehatan rohani. Untuk kesehatan rohani, jantung butuh diisi dengan keimanan, ketakwaan, dzikir, dan tadabur. Ketika seseorang menghabiskan waktunya untuk tertawa terus-menerus, fungsi rohani jantungnya melemah. Ia menjadi sulit terenyuh saat membaca Al-Qur'an, malas bangun salat malam, tidak peka terhadap peringatan Allah.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman tentang penghuni neraka:
"Mereka memiliki hati namun tidak digunakan untuk memahami, memiliki mata namun tidak digunakan untuk melihat, memiliki telinga namun tidak digunakan untuk mendengar." (QS. Al-A'raf: 179)
Inilah hati yang mati. Dan salah satu sebab kematian hati adalah berlebihan dalam tertawa.
Ini bukan berarti Islam mengharamkan tawa sama sekali. Ketika Rasulullah ﷺ pernah mengatakan "Kalau kalian tahu apa yang aku tahu, kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis" — dan para sahabat pun menangis — Allah subhanahu wa ta'ala menegur beliau ﷺ: "Wahai Muhammad, kenapa engkau membuat hamba-hamba-Ku putus asa?" Maka Rasulullah ﷺ kembali dan berkata: "Bergembiralah! Berusahalah tepat, dan kalau tidak sempurna mendekati ketepatan."
Jalan tengahnya adalah: tertawa boleh, sesekali menyegarkan jiwa tidak dilarang. Yang dilarang adalah majelis yang isinya tawa terus-menerus selama berjam-jam, apalagi jika kandungan tawaannya mengandung keharaman seperti mengejek orang lain, meniru-niru dengan cara yang merendahkan, atau menggibah dengan bungkus humor.
Berhadapan dengan Penuh Perhatian
Bab berikutnya memuat sifat Rasulullah ﷺ yang sangat mengesankan dalam berinteraksi: ketika beliau ﷺ menghadap seseorang, beliau menghadap dengan seluruh tubuhnya secara penuh. Dan ketika berpaling, beliau berpaling dengan seluruh tubuhnya secara penuh.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menggambarkan fisik Nabi ﷺ dengan menyebut bulu matanya yang panjang dan warna putih di bagian pinggangnya — dan kemudian menambahkan bahwa ia tidak pernah melihat siapapun seperti beliau ﷺ, dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Di atas keindahan fisik itu, beliau ﷺ memiliki adab berinteraksi yang luar biasa: memberikan perhatian penuh kepada siapapun yang berbicara dengannya.
Allah berfirman: "Janganlah kau palingkan wajahmu dari manusia" — ini larangan bersikap angkuh dengan memalingkan wajah saat berbicara. Dan memang, memalingkan wajah ketika orang lain bicara kepada kita adalah bentuk ketidakhormatan yang nyata.
Di zaman kita, bentuk paling umum dari pelanggaran adab ini adalah bermain HP saat seseorang berbicara kepada kita. Tidak ada manusia yang bisa membagi perhatian hatinya sepenuhnya antara percakapan dan layar HP secara bersamaan. Mengatakan "saya bisa sambil WhatsApp sekaligus mendengarkan" adalah penghiburan diri yang tidak jujur. Kalau memang ada keperluan mendesak, minta izin terlebih dahulu — itu adab. Yang tidak beradab adalah melakukannya tanpa merasa perlu memberi tahu, seolah itu hal biasa.
Orang yang Dimintai Pendapat adalah Orang yang Dipercaya
Bab terakhir dalam kajian ini memuat hadis yang singkat namun penuh makna: "Al-mustasyāru mu'taman" — orang yang dimintai pendapat adalah orang yang dipercaya (diberi amanah).
Hadis ini muncul dalam konteks kisah Rasulullah ﷺ dengan Abul Haitsam Al-Anshari — seorang sahabat yang punya banyak kurma dan ternak namun tidak memiliki pembantu. Ketika ada tawanan perang, Rasulullah ﷺ menawarkan satu budak kepadanya. Abul Haitsam berkata: "Engkau saja yang memilihkan untukku, ya Rasulullah." Maka Nabi ﷺ pun memilihkan budak yang rajin salat, dan berpesan: "Berbuat baiklah kepadanya."
Sesampai di rumah, Abul Haitsam menceritakan wasiat Nabi ﷺ kepada istrinya. Dan istrinya berkata dengan penuh keimanan: "Kamu tidak bisa berbuat baik kepadanya dengan sempurna kecuali dengan memerdekakannya." Maka budak itu pun dimerdekakan — oleh seorang wanita yang justru sedang membutuhkan pembantu di rumahnya, namun lebih memilih akhirat daripada kenyamanan duniawi.
Pelajaran tentang mustasyar mu'taman sangat relevan dalam kehidupan kita. Ketika seseorang meminta pendapat kita — tentang pekerjaan, pilihan hidup, atau keputusan penting — itu artinya ia mempercayai kita. Amanah itu menuntut kita untuk berpikir sungguh-sungguh, menempatkan diri seolah kita berada di posisinya, dan memberikan pendapat yang benar-benar terbaik menurut pertimbangan kita, bukan sekadar menjawab asal jadi.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang bithanah — orang-orang ring satu yang punya pengaruh besar terhadap keputusan seseorang. Setiap pemimpin, setiap kepala keluarga, memiliki bithanah — bisa berupa istri, sahabat dekat, atau penasihat. Bithanah yang baik akan mendorong kebaikan dan mengingatkan dari kemungkaran. Bithanah yang buruk akan menjerumuskan. Maka pilihlah dengan bijak siapa yang kita jadikan tempat berunding.
Penutup
Dari senyum yang menjadi sedekah, tawa yang perlu dijaga batasnya, perhatian penuh saat berhadapan dengan sesama, hingga amanah seorang penasihat — semua ini adalah bagian dari Al-Adab Al-Mufrad yang Imam Bukhari kumpulkan bukan sekadar sebagai daftar aturan, melainkan sebagai jalan menuju hati yang hidup dan hubungan yang bermakna.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menghidupkan hati kita dengan keimanan, menjadikan senyum kita sedekah yang ikhlas, menjaga kita dari berlebihan dalam tawa yang mematikan hati, dan menganugerahi kita adab dalam setiap interaksi dengan sesama. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
https://www.youtube.com/watch?v=eFnpaJdjju8
0 Komentar