Coba jawab dua pertanyaan ini dalam hati, sebelum melanjutkan membaca. Pertama: mengapa Anda hidup? Kedua: untuk apa Anda rela mengorbankan hidup Anda — hal apa yang membuat Anda rela mati demi itu, dengan sukarela dan tanpa penyesalan? Jika Anda punya jawaban, selamat, Anda sedang berada di jalur yang sehat. Tapi jika kedua pertanyaan itu membuat Anda terdiam dan berpikir, "Aduh, saya belum pernah memikirkan ini," maka Anda tidak sendirian — dan menurut Arthur C. Brooks, itulah gejala dari krisis terbesar yang dihadapi peradaban kita hari ini.
Brooks, profesor di Harvard University dan Vanderbilt University yang selama tujuh tahun terakhir mengajarkan ilmu kebahagiaan, menyampaikan gagasan ini dalam pidatonya di konferensi ARC (Alliance for Responsible Citizenship) 2026. Ia mengatakan bahwa krisis budaya, krisis politik, dan krisis nilai yang sering dibicarakan orang semuanya nyata — tapi semuanya berakar pada satu krisis yang lebih dalam: **krisis makna**. Dan uniknya, ia punya penjelasan yang sangat konkret tentang siapa "pelakunya" — benda kecil yang selalu ada di saku kita.
Ketika Mahasiswa Tidak Lagi Bisa Menjawab Pertanyaan Paling Mendasar
Selama tujuh tahun, di hari pertama kelasnya, Brooks selalu memberi kuis singkat kepada para mahasiswanya — dua pertanyaan yang sama seperti yang saya ajukan di awal tulisan ini. Bertahun-tahun lamanya, para mahasiswa punya jawaban. Tapi beberapa tahun belakangan, sesuatu berubah. Mereka mulai gagal dalam kuis sederhana ini. Bukan karena pertanyaannya sulit secara logika, melainkan karena mereka benar-benar tidak pernah memikirkannya — atau bahkan meyakini bahwa pertanyaan semacam itu tidak punya jawaban sama sekali.
Brooks kemudian menunjukkan data yang menguatkan pengamatannya: grafik persentase anak muda yang mengaku "hidup saya terasa tidak bermakna" tetap stabil sepanjang tahun 2000-an, lalu melonjak tajam sekitar 2008 dan 2009. Ia menyebut fenomena ini sebagai psychogenic epidemic — sebuah wabah penderitaan yang tidak berakar dari sebab biologis yang jelas, tapi menyebar layaknya epidemi sungguhan. Fenomena ini bahkan ia saksikan sendiri di rumahnya. Anak keduanya, Carlos, menunjukkan kombinasi kebosanan dan depresi — menghabiskan waktu dengan Instagram Reels dan YouTube Shorts, menunggu sesuatu terjadi tanpa arah yang jelas.
Banyak orang akan langsung menuding generasi muda yang marah dan gelisah ini sebagai korban perang budaya — hasil indoktrinasi generasi sebelumnya atau politisi yang korup. Brooks menolak diagnosis yang terlalu mudah ini. Ia justru menawarkan penjelasan yang jauh lebih mendasar dan bersifat biologis.
Otak yang Terbelah Dua dan Ponsel yang Mengubah Segalanya
Penjelasan Brooks berpijak pada karya neurosaintis Oxford, Iain McGilchrist, tentang lateralisasi hemisfer otak — istilah rumit untuk sesuatu yang sebenarnya sederhana: otak kita terbagi dua sisi, dan keduanya menangani jenis masalah yang berbeda. Hemisfer kiri menangani masalah yang rumit namun bisa dipecahkan — urusan teknis, informasi, cara kerja sesuatu. Hemisfer kanan menangani masalah yang kompleks — mudah dipahami tapi mustahil benar-benar "selesai" — seperti cinta, makna, misteri, dan iman.
Brooks memberi contoh dari hidupnya sendiri. Mobilnya adalah masalah hemisfer kiri: ia sama sekali tidak tahu cara kerja mesinnya, tapi jika mau, ia bisa mempelajarinya lewat video atau buku. Sebaliknya, pernikahannya yang telah berjalan 35 tahun adalah masalah hemisfer kanan — sesuatu yang tidak pernah benar-benar "dipecahkan" secara tuntas, dan justru karena itulah pernikahan itu ia cintai, berbeda dari cara ia memandang mobilnya.
Nah, di sinilah letak persoalannya. Tahun 2008 dan 2009 — persis ketika grafik ketidakbermaknaan itu mulai melonjak — adalah tahun-tahun ketika ponsel pintar mulai merasuki kehidupan sehari-hari kita. Rata-rata orang mengecek ponselnya sekitar 205 kali dalam sehari, dan setiap kali itu terjadi, otak kita didorong menjauh dari misteri dan makna, menuju informasi dan hal-hal teknis. Kita hidup dalam eksistensi hemisfer kiri, padahal yang kita dambakan sesungguhnya adalah makna hemisfer kanan. Ketimpangan inilah, menurut Brooks, yang perlahan menghancurkan kehidupan kita.
Hidup di Dalam Simulasi
Brooks meminjam metafora dari film The Matrix untuk menggambarkan kondisi ini — sebuah kecerdasan buatan yang menjebak manusia dalam simulasi yang menyenangkan agar mereka tetap pasif dan diam. Menurutnya, itulah yang sedang terjadi pada kita hari ini: kita — dan anak-anak kita — hidup dalam simulasi hemisfer kiri dari kehidupan hemisfer kanan yang sesungguhnya kita rindukan.
Cobalah tanyakan pada diri sendiri bagaimana hari-hari Anda berjalan belakangan ini. Bangun dengan alarm ponsel, membuka media sosial saat sarapan, bekerja lewat panggilan video, berkenalan lewat aplikasi kencan, bertemu teman lewat unggahan media sosial, menonton video pendek sebelum tidur. Brooks menegaskan, itu bukan kehidupan yang sesungguhnya. Dari pola hidup semacam inilah lahir apa yang ia sebut formula hidup palsu: cintai barang, gunakan orang, sembah diri sendiri. Sebuah formula yang sepenuhnya hampa makna, namun begitu mudah diakses lewat layar kita.
Ketika makna dicabut dari kehidupan seseorang, mereka tidak akan diam saja — mereka akan mencari sumber makna ke mana pun, sehat atau tidak. Brooks menyinggung fenomena aktivisme kampus yang begitu ramai belakangan ini sebagai salah satu bentuk pencarian makna yang keliru arah, bukan sekadar kemarahan generasi muda yang pantas disalahkan begitu saja.
Tiga Langkah untuk Kembali ke Hemisfer Kanan
Brooks menawarkan tiga langkah konkret berdasarkan sains yang ia yakini bisa membalikkan situasi ini. Langkah pertama bersifat personal: bangun kembali kebiasaan sehat dengan menghindari ponsel pada jam pertama setelah bangun tidur, saat waktu makan bersama, dan jam terakhir sebelum tidur. Ia menegaskan hampir setiap orang kecanduan gawainya masing-masing — solusinya bukan membuang ponsel ke laut, melainkan membangun kembali hubungan yang sehat dengannya.
Langkah kedua menyentuh ranah kebijakan: Brooks mengajukan proposal yang cukup kontroversial namun disambut tepuk tangan meriah dari audiensnya — larangan penggunaan gawai di seluruh jenjang pendidikan, dari taman kanak-kanak hingga program doktoral.
Langkah ketiga, dan menurutnya yang paling mendasar, adalah kembali berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang hidup — persis seperti dua pertanyaan yang ia berikan pada mahasiswanya. Brooks bahkan menegaskan bahwa yang membedakan manusia bukanlah kemampuan menjawab pertanyaan, melainkan kemampuan bertanya. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh mesin pencari adalah pengalaman hemisfer kanan yang sesungguhnya — dan justru di situlah proses menemukan makna dimulai.
Kisah Carlos: Dari Ladang Gandum ke Korps Marinir
Untuk membuktikan gagasannya bukan sekadar teori di atas kertas, Brooks menceritakan perjalanan anaknya sendiri, Carlos. Saat Carlos berusia 18 tahun, Brooks mengirimnya pergi dengan pesan sederhana: jangan buang waktu — dan uang orang tuanya — di bangku kuliah sebelum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup. Tanpa ponsel, Carlos bekerja di ladang gandum di Grangeville, Idaho, enam belas jam sehari dengan upah sebelas dolar per jam. Setelah itu, ia bergabung dengan Korps Marinir Amerika Serikat dan menjadi bagian dari unit elite scout sniper — pekerjaan yang menurut Brooks jauh lebih menakutkan bagi dirinya sebagai ayah dibanding bagi Carlos sendiri.
Di usia 23 tahun, Carlos sudah menikah dan memiliki anak. Kini di usia 26, ia telah memiliki dua anak bersama istrinya. Yang lebih penting bagi Brooks, anaknya kini punya jawaban jelas atas dua pertanyaan yang dulu ia ajukan: mengapa ia hidup, dan untuk apa ia rela mengorbankan hidupnya. Jawaban Carlos sederhana namun tegas — ia hidup untuk melayani sesama sesuai keyakinannya, dan ia rela memberikan hidupnya demi keluarga, sahabat, keyakinan agamanya, sesama Marinir, serta negara dan sekutu-sekutunya. Bagi Brooks, cara hidup Carlos setelahnya — menikah muda, membangun keluarga, punya arah yang jelas — adalah bukti nyata bahwa seseorang telah menemukan makna: Anda akan mengenali mereka lewat buahnya.
Kesimpulan
Sebagai penutup, Brooks membalikkan formula hidup palsu yang ia paparkan sebelumnya. Jika formula yang keliru adalah mencintai barang, memanfaatkan orang, dan menyembah diri sendiri, maka formula yang benar adalah kebalikannya: berikan hati Anda kepada orang-orang di sekitar Anda, gunakan barang dan sumber daya dengan rasa syukur tanpa perlu mencintainya, dan sediakan penyembahan hanya untuk yang benar-benar layak disembah.
Pesan Brooks pada akhirnya bukan ajakan untuk membuang ponsel sepenuhnya, melainkan ajakan untuk menata ulang prioritas — mengembalikan cinta kepada manusia, bukan kepada barang, dan mengembalikan waktu untuk bertanya dan merenung, bukan sekadar menggulir layar tanpa henti. Barangkali sudah saatnya kita masing-masing kembali duduk sejenak, meletakkan ponsel, dan mengajukan dua pertanyaan sederhana itu pada diri sendiri: mengapa saya hidup, dan untuk apa saya rela memberikan hidup saya. Sebab di situlah, menurut Brooks, makna hidup yang sesungguhnya mulai ditemukan kembali.

0 Komentar