Pernahkah kita merasa begitu dekat dengan seseorang yang bahkan bukan kerabat kita, hingga kedekatan itu terasa lebih kuat daripada ikatan darah sekalipun? Ada teman yang lebih kita percaya daripada saudara kandung, ada sahabat yang lebih memahami kita daripada keluarga sendiri. Fenomena ini, dalam kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad kali ini, dijelaskan sebagai ulfah—kedekatan hati yang merupakan anugerah langsung dari Allah subhanahu wa ta'ala. Pada sesi ini, pembahasan bergerak dari bab tentang ulfah, kemudian berlanjut ke bab tentang bercanda (al-mizah), dan ditutup dengan bab bercanda bersama anak-anak.
Ulfah, Anugerah yang Tak Bisa Dibeli dengan Harta
Al-Imam Bukhari membuka bab al-ulfah dengan mengutip firman Allah subhanahu wa ta'ala:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan (Allah) yang telah mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Al-Anfal: 63)
Ayat ini menegaskan bahwa kedekatan hati antara dua orang bukanlah sesuatu yang bisa direkayasa dengan kekayaan sebanyak apa pun. Seandainya seluruh harta di muka bumi digunakan untuk menyatukan hati manusia, hal itu tetap mustahil tercapai tanpa campur tangan Allah. Ulfah, dengan demikian, adalah murni karunia—bukan hasil usaha manusia semata.
Al-Imam Bukhari kemudian membawakan hadis dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang dua ruh mukmin yang bisa saling bertemu meski jasad keduanya masih terpisah jarak sehari perjalanan—kira-kira delapan puluh kilometer—sebelum jasad mereka benar-benar bertemu. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ini berkaitan dengan hadis lain yang menyebutkan bahwa ruh-ruh diciptakan Allah dalam kelompok-kelompok sebelum ditiupkan ke jasad manusia. Ruh yang dahulu berada dalam satu kelompok di alam ruh akan cenderung merasa cocok ketika bertemu di alam dunia, meski hakikat perkara ini termasuk perkara gaib yang tidak bisa dipastikan mekanismenya secara pasti oleh manusia.
Dari sinilah muncul fenomena yang sering kita saksikan: seseorang bisa merasa jauh lebih dekat dengan sahabatnya dibandingkan dengan saudara kandungnya sendiri, meski di antara mereka tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali. Kedekatan hati ini, jika sudah terjalin, memiliki kekuatan yang luar biasa dan cenderung bertahan lama.
Nikmat yang Terlupakan, Silaturahmi yang Terputus
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma memberikan atsar yang menjadi renungan mendalam:
"Kenikmatan itu bisa diingkari, dan silaturahmi bisa terputus, namun kami tidak pernah melihat sesuatu yang menyerupai kekuatan kedekatan hati."
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa pernyataan ini mengandung tiga poin penting. Pertama, kebaikan seseorang seringkali dilupakan oleh penerimanya. Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa salah satu penyebab utama wanita banyak masuk neraka adalah karena kufur terhadap kebaikan suami—melupakan jasa-jasa suami yang telah rutin memberi nafkah hingga dianggap sebagai hal biasa. Kedua, silaturahmi bisa terputus karena persoalan sepele—pertikaian antar saudara, kemarahan orang tua kepada anak, atau bahkan rasa malu seorang anak terhadap penampilan orang tuanya. Ketiga, di tengah dua kenyataan pahit tersebut, kedekatan hati (ulfah) justru menunjukkan kekuatan yang jauh melampaui keduanya—sekali sudah terjalin, ia sulit terputus.
Diriwayatkan pula dari Umair bin Ishaq bahwa perkara pertama yang diangkat dari umat manusia adalah ulfah itu sendiri. Ketika kedekatan hati sudah mulai hilang dari tengah kaum muslimin, yang muncul adalah perpecahan, saling hasad, saling mencari kesalahan, dan kebahagiaan di atas penderitaan saudara sendiri. Fenomena ini erat kaitannya dengan peringatan Rasulullah ﷺ bahwa sikap saling membenci (al-baghdha) adalah al-haliqah—yang mencukur habis bukan rambut, melainkan agama itu sendiri.
Dalam konteks ini, Ustadz Firanda menyoroti persoalan yang kerap terjadi di kalangan umat: sebagian kaum muslimin lebih membenci saudaranya sesama muslim dibandingkan kebenciannya terhadap orang kafir. Padahal dalam Islam terdapat kaidah al-wala' wal bara'—loyalitas dan berlepas diri—yang mengatur bahwa selama seseorang masih mengucapkan syahadat dan berstatus muslim, tidak dibenarkan membencinya secara mutlak seratus persen, betapapun besar kesalahannya. Kecintaan dan kebencian kita kepadanya harus proporsional, sesuai kadar keimanan dan kadar kesalahannya—prinsip yang dikenal sebagai al-hubbu fillah wal bughdhu fillah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan agar umat ini tidak menjadi seperti kaum sebelumnya yang terpecah belah:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (QS. Ali 'Imran: 105)
Rasulullah ﷺ menggambarkan hubungan sesama mukmin bagai satu bangunan yang saling menguatkan bagian satu dengan yang lainnya. Karena itu, segala hal yang dapat menumbuhkan ulfah—senyum, salam, saling memaafkan, berbaik sangka—dianjurkan dalam syariat, sementara segala hal yang menimbulkan kerenggangan—ghibah, namimah, tajassus (mencari-cari kesalahan), suudzan—dilarang dengan tegas.
Bercanda yang Tidak Melampaui Batas Kebenaran
Setelah membahas ulfah, Al-Imam Bukhari membawakan bab al-mizah (bercanda), yang menurut Ustadz Firanda menunjukkan keterkaitan tema: salah satu sebab tumbuhnya ulfah di antara sesama muslim adalah candaan yang wajar dan tidak berlebihan.
Hadis pertama dalam bab ini menceritakan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang ibunya bernama Ummu Sulaim, tinggal berdekatan dengan Rasulullah ﷺ. Dalam suatu perjalanan, Rasulullah ﷺ menegur seorang penggembala bernama Anjasyah yang tengah bersenandung (hida') untuk menyemangati unta-unta yang ditunggangi oleh para istri Nabi ﷺ. Beliau bersabda, "Wahai Anjasyah, pelan-pelanlah engkau menggiring, (karena engkau membawa) botol-botol kaca." Rasulullah ﷺ menyamakan para wanita yang ditunggangkan di atas unta itu dengan qawarir—kaca atau botol yang mudah pecah.
Ustadz Firanda menjelaskan beberapa hikmah di balik perumpamaan ini. Wanita disebut seperti kaca karena secara fisik mereka lemah dan mudah terluka perasaannya (baper), sehingga jika hatinya tersakiti, sulit baginya untuk melupakan hal tersebut—sebagaimana kaca yang sekali retak, sulit kembali utuh. Ada pula penafsiran ulama bahwa Rasulullah ﷺ khawatir suara merdu Anjasyah dapat menimbulkan fitnah di hati para wanita yang mendengarnya, sebagaimana Allah juga mengingatkan istri-istri Nabi ﷺ dalam firman-Nya:
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا
"Maka janganlah kamu tunduk (melembutkan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS. Al-Ahzab: 32)
Prinsip ini, menurut Ustadz Firanda, berlaku dua arah—bukan hanya wanita yang bisa memfitnah lelaki dengan suaranya, tetapi lelaki pun bisa memfitnah wanita, misalnya seorang penceramah yang berbicara dengan gaya mendayu-dayu atau berpenampilan berlebihan hingga menimbulkan kekaguman yang tidak semestinya dari jamaah wanitanya. Beliau menegaskan bahwa jika seorang dai bersikap wajar namun tetap ada yang terfitnah, itu menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan; namun jika seorang dai sengaja mengada-ada gaya untuk menarik perhatian, dosanya akan kembali kepada dai tersebut.
Hadis-hadis berikutnya menegaskan karakter candaan Rasulullah ﷺ. Ketika para sahabat berkata, "Sesungguhnya engkau bercanda dengan kami," Rasulullah ﷺ menjawab bahwa benar beliau bercanda, namun tidak pernah mengucapkan kecuali yang haq—tidak ada kedustaan dalam candaannya. Bahkan Rasulullah ﷺ menjamin istana di surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun dalam bercanda. Diceritakan pula bahwa para sahabat pernah saling melempar kulit semangka sebagai bentuk bercanda ringan, namun ketika tiba waktunya bersungguh-sungguh—berjihad, berdakwah—mereka benar-benar menjadi sosok yang serius. Keseimbangan inilah yang membuat mereka mampu meraih kejayaan besar bagi Islam, berbeda dengan kondisi sebagian orang di masa kini yang menjadikan candaan sebagai rutinitas berjam-jam hingga melalaikan ibadah dan mengeraskan hati.
Contoh lain datang dari kisah Aisyah radhiyallahu 'anha yang pernah melakukan sebuah candaan warisan kebiasaan kabilahnya di hadapan Rasulullah ﷺ, hingga ibunya, Ummu Ruman, merasa perlu meminta maaf atas nama putrinya. Namun Rasulullah ﷺ tidak menyalahkannya, bahkan mengakui bahwa hal itu adalah candaan yang biasa dilakukan di kalangan mereka. Ada pula kisah seorang lelaki yang meminta tunggangan kepada Rasulullah ﷺ untuk berjihad, lalu beliau bercanda dengan mengatakan akan memberinya "anak unta"—yang secara harfiah membuat lelaki tersebut bingung, padahal maksud Rasulullah ﷺ adalah unta dewasa, karena bagaimanapun besarnya seekor unta, ia tetaplah anak dari induknya.
Kelembutan Nabi ﷺ terhadap Anak-Anak
Bab terakhir yang dibahas dalam sesi ini adalah tentang bercanda bersama anak-anak. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang pernah menjadi pelayan Rasulullah ﷺ sejak kecil, menceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ begitu akrab berbaur dengannya meski beliau adalah seorang rasul yang sangat sibuk dengan urusan dakwah dan umat.
Kisah paling menyentuh dalam bab ini adalah tentang Abu Umair, adik tiri Anas bin Malik dari pernikahan ibunya, Ummu Sulaim, dengan Abu Thalhah. Abu Umair memiliki seekor burung kecil peliharaan yang kemudian mati. Ketika Rasulullah ﷺ mendapati anak kecil itu bersedih, beliau tidak mengabaikannya atau langsung menasihatinya dengan kalimat serius tentang takdir, melainkan menghampirinya sambil bercanda ringan, "Wahai Abu Umair, apa yang terjadi dengan burung kecilmu?" Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ini menjadi dalil pentingnya menyikapi anak-anak sesuai dengan dunia mereka—anak-anak membutuhkan candaan dan kehangatan, bukan nasihat yang terlalu serius sebagaimana layaknya orang dewasa.
Hadis lain menceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ pernah memegang tangan cucunya, Hasan atau Husain radhiyallahu 'anhuma, dan membiarkan sang cucu memanjat tubuhnya sambil berkata, "Naiklah." Kesederhanaan interaksi ini menjadi teladan bahwa kesibukan seberat apa pun tidak menghalangi seorang pemimpin umat untuk tetap menyisihkan waktu membahagiakan anak-anak di sekitarnya.
Penutup
Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa kedekatan hati sesama mukmin (ulfah) adalah anugerah yang harus dijaga, bukan hanya melalui perbuatan-perbuatan besar, tetapi juga melalui hal-hal kecil seperti candaan yang jujur, kelembutan dalam bertutur, dan kepedulian terhadap perasaan orang lain—termasuk kepada anak-anak yang seringkali dianggap remeh dunia batinnya. Rasulullah ﷺ, meski manusia paling mulia dan paling sibuk, tetap menyempatkan diri untuk bercanda dengan istri-istrinya, para sahabatnya, bahkan seorang anak kecil yang kehilangan burung peliharaannya—semua tanpa sedikit pun mengandung kedustaan.
Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa menjaga kedekatan hati dengan sesama saudara seiman, menghindari segala sebab yang dapat merenggangkan ukhuwah, dan meneladani kelembutan Rasulullah ﷺ dalam setiap interaksi kita, baik dengan orang dewasa maupun anak-anak. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar