AM 48. Sakhaun Nafs: Kekayaan Sejati Ada di dalam Jiwa

Sesi 48 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Berapa banyak orang yang memiliki harta melimpah namun hatinya tak pernah merasa cukup? Dan berapa banyak pula orang yang hidup sederhana, bahkan berjalan kaki tanpa kendaraan, namun wajahnya senantiasa berseri dengan senyuman? Fenomena ini menjadi pintu masuk pembahasan kitab Al-Adab Al-Mufrad pada sesi kali ini, yaitu bab sakhawatin nafsi—kedermawanan jiwa. Sebuah bab yang mengajarkan bahwa kedermawanan sejati tidak melulu soal harta, melainkan tentang kelapangan hati yang tercermin dalam kesediaan memaafkan, berbagi waktu, dan menahan ego demi kebaikan orang lain.

Kekayaan Sejati adalah Kayanya Jiwa

Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kedermawanan sesungguhnya memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar mengeluarkan harta. Seseorang bisa dikatakan dermawan ketika ia mudah memaafkan kesalahan orang lain padahal ia berhak marah—itu adalah bentuk kedermawanan terhadap egonya sendiri. Seseorang juga bisa dermawan dengan waktunya, mengorbankan kesibukannya demi membantu saudaranya, atau dermawan dengan ilmunya, tidak pelit membagikan apa yang ia ketahui kepada orang lain.

Hadis ini senada dengan sabda Rasulullah ﷺ yang lain, bahwa bukanlah orang yang kuat itu yang jago bergulat, melainkan yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. Ustadz Firanda mengingatkan bahwa banyak orang kaya secara materi namun sesungguhnya miskin secara jiwa—mereka terus merasa kurang, terus mengejar kekayaan yang lebih besar, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ bahwa seandainya anak Adam diberi dua lembah emas, ia akan mencari lembah ketiga, dan keinginannya tidak akan pernah terhenti kecuali mulutnya telah dipenuhi tanah kubur. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takatsur: 1-2)

Fenomena ini, menurut Ustadz Firanda, banyak terjadi di kalangan orang-orang yang justru sudah berkecukupan—termasuk para koruptor yang notabene bukan orang miskin, tetapi tetap saja tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki. Sebaliknya, hadis riwayat Ibnu Hibban dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, apakah banyaknya harta itu kekayaan dan sedikitnya harta itu kemiskinan? Ketika Abu Dzar menjawab benar, Rasulullah ﷺ meluruskan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah kayanya hati, dan kemiskinan yang sesungguhnya adalah miskinnya hati.

Bahaya Memandang ke Atas dalam Urusan Dunia

Ustadz Firanda menekankan bahwa qanaah—rida dengan apa yang Allah berikan—adalah kunci dari kekayaan jiwa ini. Allah subhanahu wa ta'ala bahkan menegur Rasulullah ﷺ agar tidak memandang lama kepada kemewahan dunia yang dinikmati oleh orang lain:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka (orang-orang kafir), sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Taha: 131)

Jika Nabi ﷺ saja ditegur untuk tidak memandang kemewahan dunia, maka jauh lebih besar godaan yang dihadapi manusia biasa di era media sosial saat ini, di mana konten pamer kekayaan begitu mudah dijumpai—bahkan tidak jarang datang dari kalangan yang berafiliasi dengan agama. Ustadz Firanda mengingatkan bahwa sikap yang dianjurkan adalah la tandzuru man fauqokum, jangan melihat ke atas dalam urusan dunia, melainkan melihat ke bawah agar hati senantiasa bersyukur. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya melihat kontras antara seseorang yang hidup sederhana namun senantiasa tersenyum bahagia menuju masjid, dengan seseorang yang memiliki mobil mewah namun terus mengeluh dan disibukkan dengan urusan duniawinya.

Ustadz Firanda juga mengingatkan bahwa banyaknya harta bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah. Ukuran sesungguhnya adalah sejauh mana seseorang pandai bersyukur dan beribadah. Jika harta yang banyak justru membuat seseorang lalai dari shalat, jarang membaca Al-Qur'an, dan mulai meninggalkan majelis ilmu, maka itu adalah istidraj—penangguhan yang berujung pada kelalaian, bukan tanda kemuliaan.

Sepuluh Tahun Melayani Nabi ﷺ Tanpa Sekali Pun Dibentak

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang menjadi salah satu bukti paling nyata dari kedermawanan jiwa Rasulullah ﷺ:

"Aku menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekali pun berkata 'ah' kepadaku, dan tidak pernah berkata kepadaku terhadap sesuatu yang tidak aku kerjakan, 'Mengapa engkau tidak mengerjakannya?' Dan tidak pernah pula berkata terhadap sesuatu yang aku kerjakan, 'Mengapa engkau mengerjakannya?'" (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ini adalah bukti luar biasa dari sakhaun nafs—kayanya jiwa Rasulullah ﷺ. Anas bin Malik, yang saat itu masih anak-anak berusia sekitar sepuluh tahun, tentu tidak luput dari kesalahan sebagaimana layaknya anak kecil. Diceritakan dalam sebuah riwayat, ketika Rasulullah ﷺ menyuruhnya untuk suatu keperluan, Anas justru tertarik menonton anak-anak lain bermain dan tidak segera melaksanakan tugasnya. Rasulullah ﷺ pun mendatanginya, memegang lehernya dengan lembut, dan hanya bertanya, "Wahai Unais, apakah engkau sudah mengerjakan tugasmu?" Tidak ada bentakan, tidak ada amarah—hanya teguran lembut yang penuh pengertian terhadap kondisi seorang anak kecil.

Ustadz Firanda menegaskan bahwa sikap ini menunjukkan Rasulullah ﷺ "mendermakan" egonya sendiri—beliau berhak untuk marah, namun memilih untuk menyedekahkan kemarahan tersebut demi mendidik dengan cara yang lebih baik.

Kasih Sayang sebagai Sumber Kedermawanan

Riwayat berikutnya dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah sosok yang penuh kasih sayang (rahiman). Jika ada seseorang yang meminta sesuatu kepada beliau, maka Rasulullah ﷺ akan memberikannya jika beliau memilikinya, atau menjanjikannya jika belum tersedia—dan beliau tidak pernah menyelisihi janjinya.

Ustadz Firanda menekankan bahwa sifat kasih sayang inilah yang menjadi akar dari kedermawanan jiwa. Seseorang yang memiliki rasa kasih sayang akan mudah memberi uzur kepada orang lain, sebagaimana ia memberi uzur kepada anak kecil yang belum paham, atau kepada orang yang sedang kesulitan. Allah subhanahu wa ta'ala menggambarkan sifat Rasulullah ﷺ ini dalam firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 128)

Salah satu kisah yang menggambarkan sifat ini adalah ketika seorang Arab badui menarik jubah Rasulullah ﷺ tepat saat beliau hendak memulai shalat berjamaah, meminta agar keperluannya diselesaikan terlebih dahulu karena khawatir lupa. Rasulullah ﷺ pun menunda shalatnya dan menyelesaikan keperluan orang tersebut terlebih dahulu, sebelum kembali untuk mengimami shalat. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa orang Arab badui memang cenderung kurang peka terhadap situasi dibandingkan Arab kota, namun Rasulullah ﷺ tetap memberi uzur dan bersikap penuh pengertian terhadap keterbatasan mereka—sebagaimana pula ketika seorang Arab badui buang air kecil di dalam Masjid Nabawi, Rasulullah ﷺ tidak memarahinya, melainkan menyuruh sahabat menyiramnya dengan air, baru kemudian menasihatinya dengan lembut.

Terkait dengan menolak permintaan orang lain, Allah subhanahu wa ta'ala mengajarkan adab yang lembut dalam firman-Nya:

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِّن رَّبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُل لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُورًا

"Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas." (QS. Al-Isra: 28)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa jika seseorang tidak mampu memberi ketika diminta, maka menolaknya dengan kata-kata yang baik jauh lebih utama daripada memberi namun disertai dengan kata-kata yang menyakitkan. Inilah sunnah Rasulullah ﷺ: jika mampu, beliau memberi; jika belum mampu, beliau menjanjikan; dan beliau tidak pernah menolak dengan kata "tidak" secara langsung tanpa penjelasan yang menenangkan hati peminta.

Dua Wanita Dermawan Putri Abu Bakar

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan riwayat dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma yang menceritakan kedermawanan luar biasa dari dua wanita: Aisyah dan Asma, putri-putri Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Keduanya sama-sama dermawan, namun dengan cara berbeda. Aisyah radhiyallahu 'anha cenderung mengumpulkan hartanya terlebih dahulu, baru kemudian membagikannya sekaligus dalam jumlah besar. Sementara Asma radhiyallahu 'anha tidak pernah menunda pemberian—berapa pun yang ia miliki, langsung ia bagikan pada hari itu juga.

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa cara Asma lebih mendekati sunnah Rasulullah ﷺ, karena beliau tidak pernah menunda-nunda pemberian ketika memiliki sesuatu untuk diberikan. Kedermawanan kedua putri ini tidak lepas dari didikan ayah mereka, Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang dikenal menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah sebanyak dua kali—saat hijrah dan saat Perang Tabuk. Yang membuat Ustadz Firanda kagum bukan hanya kedermawanan Abu Bakar semata, melainkan bagaimana seluruh keluarganya—istri dan anak-anaknya—turut mendukung tanpa protes, sebuah bukti nyata bahwa pendidikan keteladanan orang tua akan menurun kepada anak-anaknya. Ustadz Firanda mengingatkan bahwa sikap dermawan atau pelit seorang anak seringkali merupakan cerminan dari sikap orang tuanya.

Iman dan Sifat Pelit Tidak Akan Pernah Bersatu

Kajian ditutup dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tidak akan berkumpul debu jihad fi sabilillah dengan api neraka Jahannam, dan tidak akan pernah berkumpul sifat pelit dengan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa iman dan sifat kikir adalah dua hal yang kontradiktif—orang yang benar-benar beriman kepada janji Allah tidak akan takut miskin karena bersedekah, sebagaimana Allah berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedangkan Allah menjadikan untukmu ampunan dan karunia dari-Nya." (QS. Al-Baqarah: 268)

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya memuliakan tamunya dan tetangganya—sebuah sikap yang mustahil terwujud pada diri seseorang yang pelit. Sedekah, dalam hal ini, menjadi bukti nyata dari keimanan seseorang, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "washshadaqatu burhan"—sedekah adalah bukti keimanan.

Penutup

Kajian bab sakhawatin nafsi ini mengajarkan kepada kita bahwa kekayaan yang hakiki bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa lapang hati kita dalam memaafkan, berbagi, dan menahan ego demi kebaikan orang lain. Rasulullah ﷺ, meski sebagai pemimpin umat yang begitu sibuk, tetap mampu menunjukkan kesabaran luar biasa selama sepuluh tahun kepada pelayannya, kelembutan kepada orang-orang yang kurang paham situasi, serta kesediaan memberi tanpa pernah menolak dengan kasar. Semua ini bersumber dari satu hal: kekayaan jiwa yang lahir dari kasih sayang yang tulus.

Semoga kita dimudahkan untuk menjadikan akhirat sebagai orientasi utama dalam mencari harta, senantiasa memandang ke bawah agar hati selalu bersyukur, dan meneladani kedermawanan jiwa Rasulullah ﷺ dalam setiap interaksi kita dengan sesama. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar