AM 50. Dua Pintu Neraka, Dua Pintu Surga: Kemaluan, Mulut, Takwa, dan Akhlak Mulia

Sesi 50 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Jika ada satu pertanyaan yang layak direnungkan oleh setiap muslim, mungkin inilah pertanyaannya: apa sebenarnya yang paling sering menyeret manusia ke dalam neraka, dan apa pula yang paling sering mengantarkan manusia menuju surga? Rasulullah ï·º sendiri pernah mengajukan pertanyaan ini kepada para sahabatnya, dan jawaban yang beliau berikan sungguh mengejutkan—bukan perkara-perkara besar yang jarang terjadi, melainkan dua bagian tubuh yang setiap hari kita gunakan: kemaluan dan mulut. Sebaliknya, pintu menuju surga pun ternyata bukan sesuatu yang rumit, melainkan takwa dan akhlak yang mulia. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad masih berada dalam bab husnul khuluq, membahas hadis tentang dua penyebab utama masuk neraka dan surga, kisah doa Abu Darda yang menyentuh, hingga dialog penuh hikmah antara Rasulullah ï·º dengan orang-orang Arab badui pada Haji Wada'.

Kemaluan dan Mulut: Dua Pintu Menuju Neraka

Al-Imam Bukhari membawakan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka Jahannam?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Maka Rasulullah ï·º bersabda, "Mulut dan kemaluan." Kemudian beliau bertanya lagi, "Tahukah kalian apa yang paling banyak memasukkan ke dalam surga?" Jawabannya adalah, "Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa metode ini serupa dengan gaya Al-Qur'an, yang seringkali menyandingkan ciri-ciri penghuni surga dengan ciri-ciri penghuni neraka agar manusia dapat membandingkan keduanya secara jelas.

Kemaluan disebutkan lebih dahulu karena begitu banyak maksiat yang dibangun di atas syahwat ini. Rasulullah ï·º bersabda bahwa Allah telah menetapkan setiap anak Adam pasti mendapat bagian dari zina—mata berzina dengan memandang, telinga berzina dengan mendengar, lisan berzina dengan perkataan, tangan berzina dengan meraba, hingga akhirnya kemaluanlah yang membenarkan atau membatalkan semua itu. Ustadz Firanda menegaskan bahwa para ulama sepakat memandang lawan jenis yang bukan mahram dengan syahwat hukumnya haram, sekalipun hanya sebatas pandangan di layar—termasuk kebiasaan menonton film atau tayangan yang menampilkan aurat secara tidak sengaja maupun sengaja.

Demikian pula telinga yang mendengarkan nyanyian-nyanyian yang membangkitkan syahwat, serta obrolan atau rayuan antara lelaki dan perempuan yang tidak halal baginya—baik melalui percakapan langsung maupun pesan singkat. Ustadz Firanda mengingatkan bahwa seorang wanita yang keluar rumah dengan memakai wewangian agar tercium oleh sekelompok lelaki telah disebut Rasulullah ï·º sebagai bentuk zina, karena tindakan tersebut membangkitkan hasrat orang lain untuk memperhatikannya.

Beliau juga mengutip syair yang masyhur: bahwa segala peristiwa besar bermula dari pandangan mata, sebagaimana api besar bermula dari percikan yang kecil. Kunci keselamatan dari fitnah syahwat kemaluan, menurut Ustadz Firanda, sesungguhnya sesederhana menundukkan pandangan sejak awal—karena begitu pandangan pertama sudah "terkunci", perjuangan berikutnya menjadi jauh lebih berat.

Adapun mulut, ia menjadi pintu neraka dari dua sisi: banyak bicara tanpa ilmu, dan makan dari sesuatu yang haram. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa lisan adalah anggota tubuh paling leluasa jangkauannya—tanpa batasan jarak maupun kekuatan fisik, seseorang bisa mencela, merendahkan, atau memfitnah siapa saja, termasuk melalui tulisan dan komentar di media sosial yang seringkali dilontarkan tanpa dasar ilmu maupun data yang jelas. Rasulullah ï·º mengingatkan agar seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau memilih diam. Selain itu, mencari nafkah dari jalan yang haram demi memenuhi syahwat perut juga termasuk sebab besar seseorang terjerumus ke neraka, sebagaimana sabda Nabi ï·º bahwa setiap daging yang tumbuh dari yang haram lebih layak dibakar api neraka.

Takwa dan Akhlak Mulia: Dua Pintu Menuju Surga

Berbeda dengan dua sebab masuk neraka yang bersifat syahwat, dua sebab utama masuk surga justru bersifat pengendalian diri: takwa dan akhlak mulia. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa secara bahasa, takwa bermakna penghalang atau pelindung—sebagaimana seorang wanita yang menutup wajahnya dengan tangan agar terhindar dari pandangan orang lain. Maka takwa kepada neraka berarti menjadikan diri berjarak dari sebab-sebab yang dapat menjerumuskan ke dalamnya, dengan tidak meremehkan dosa sekecil apa pun—dan jika terlanjur terjerumus, segera beristighfar dan bertobat, bukan justru terbiasa hingga lupa untuk beristighfar sama sekali.

Adapun akhlak mulia, Ustadz Firanda menegaskan bahwa ia adalah ibadah yang seringkali terlupakan—senyum kepada orang lain adalah ibadah, mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik adalah ibadah, berbincang hangat dengan istri adalah ibadah, menghargai perasaan pasangan adalah ibadah, memberi perhatian kepada anak-anak adalah ibadah. Semua ini terasa sederhana, namun justru menjadi ibadah yang berat untuk dijalankan secara konsisten. Beliau mengajak setiap orang untuk introspeksi diri: apakah anak-anak merasa dekat dan nyaman, apakah pasangan merasa nyaman, apakah saudara-saudara merasa dekat—karena kedekatan itulah pertanda akhlak yang baik, sebagaimana Rasulullah ï·º menyebutkan bahwa Allah mengharamkan neraka bagi orang-orang yang hayyin, layyin, sahl, dan qarib. Namun beliau mengingatkan bahwa seluruh perbuatan baik ini harus dilandasi niat karena Allah, bukan sekadar mencari pujian dari manusia.

Doa Abu Darda: Semalam Suntuk Hanya Meminta Akhlak yang Baik

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan riwayat dari Ummu Darda, istri Abu Darda radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu malam Abu Darda melaksanakan shalat malam sambil menangis dan berdoa berulang-ulang hingga pagi hari: "Allahumma ahsanta khalqi fahassin khuluqi"—Ya Allah, Engkau telah memperindah rupaku, maka perindahlah pula akhlakku. Ketika Ummu Darda bertanya mengapa doanya semalam suntuk hanya tentang akhlak, padahal masih banyak permintaan lain yang bisa dipanjatkan, Abu Darda menjawab bahwa seorang hamba muslim akan terus memperbaiki akhlaknya sampai akhlak yang baik itu memasukkannya ke surga, atau sebaliknya, memperburuk akhlaknya sampai membawanya ke neraka.

Riwayat ini juga menyebutkan bahwa seorang muslim yang sedang tidur pun bisa diampuni dosa-dosanya karena ada saudaranya yang mendoakannya dalam shalat malam. Ustadz Firanda mencatat bahwa dalam sanad riwayat ini terdapat perawi yang bermasalah, namun kandungan maknanya tetap benar dan sejalan dengan keutamaan akhlak mulia yang telah dibahas sebelumnya. Beliau menekankan satu poin menarik: seseorang biasanya didoakan oleh orang lain karena akhlaknya yang baik—sehingga hati orang lain tergerak untuk mengingatnya dalam doa. Ustadz Firanda pun menyarankan agar setiap orang membiasakan diri mendoakan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidupnya, bukan sekadar keluarga inti semata.

Dialog Rasulullah ï·º dengan Orang Badui di Haji Wada'

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan riwayat panjang dari Usamah bin Syarik radhiyallahu 'anhu yang menceritakan momen penuh hikmah ketika Rasulullah ï·º didatangi banyak orang Arab badui dalam pelaksanaan Haji Wada'—satu-satunya ibadah haji yang beliau lakukan setelah hijrah ke Madinah, dihadiri sekitar seratus ribu jamaah lebih. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa orang Arab badui, berbeda dengan para sahabat senior yang segan bertanya langsung kepada Nabi ï·º karena kewibawaan beliau, justru tidak sungkan mengajukan pertanyaan apa pun tanpa ragu.

Salah satu pertanyaan yang muncul adalah mengenai kekeliruan urutan pelaksanaan manasik pada hari Nahr (10 Dzulhijjah)—ada yang tawaf sebelum melempar jumrah, ada yang mencukur sebelum menyembelih, ada pula yang melempar jumrah hingga larut malam. Terhadap semua pelanggaran urutan ini, Rasulullah ï·º hanya menjawab, "If'al wa la haraj"—lakukan saja, tidak mengapa. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa jawaban ini menunjukkan kelapangan syariat dalam perkara-perkara yang memang secara praktis sulit untuk dijaga urutannya oleh ratusan ribu jamaah sekaligus.

Yang menarik, di tengah kelonggaran tersebut, Rasulullah ï·º menyisipkan satu peringatan penting: bahwa Allah telah mengangkat segala kesulitan dan dosa dari kekeliruan teknis manasik tersebut, kecuali dosa seseorang yang "memotong (kehormatan) saudaranya secara zalim"—yakni ghibah. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa istilah iqtaraadha dalam hadis ini digunakan dengan makna "memotong daging", merujuk pada firman Allah yang menyerupakan ghibah dengan memakan daging bangkai saudara sendiri. Pesan ini menegaskan bahwa ibadah haji yang mabrur bukan sekadar soal ketepatan manasik, melainkan juga soal menjaga akhlak selama pelaksanaannya—jangan sampai ibadah fisik tercoreng oleh dosa lisan.

Orang-orang badui itu juga bertanya mengenai berobat ketika sakit, dan Rasulullah ï·º mempersilakan mereka, karena setiap penyakit yang Allah turunkan pasti disertai obatnya, kecuali satu penyakit yang tidak memiliki obat: usia tua. Ustadz Firanda menceritakan bagaimana keluhan-keluhan fisik yang muncul di usia senja seringkali hanya dijawab dokter dengan satu jawaban, "faktor usia"—sesuatu yang tidak bisa disembuhkan, hanya bisa diterima dengan kesabaran.

Pertanyaan terakhir yang paling menyentuh dari orang badui tersebut adalah, "Apa pemberian terbaik yang dianugerahkan kepada seorang manusia?" Rasulullah ï·º menjawab dengan singkat namun mendalam: "Khuluqun hasan"—akhlak yang baik. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa tidak ada anugerah yang lebih luas dan lebih baik daripada kesabaran, yang merupakan salah satu ciri utama dari akhlak mulia. Ustadz Firanda menegaskan bahwa orang yang benar-benar berakhlak mulia—sabar, rendah hati, tidak merendahkan orang lain, tidak hasad—sesungguhnya jarang dijumpai, sehingga siapa pun yang telah dianugerahi sifat tersebut sesungguhnya telah menerima karunia yang sangat besar dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Kedermawanan Rasulullah ï·º yang Memuncak di Bulan Ramadan

Kajian ditutup dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ï·º adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya di bulan Ramadan ketika bertemu dengan malaikat Jibril 'alaihissalam setiap malam untuk muraja'ah Al-Qur'an. Pada saat-saat itu, kedermawanan Rasulullah ï·º digambarkan melebihi angin yang berhembus.

Ustadz Firanda mengutip penjelasan Ibnul Mulaqqin bahwa kedermawanan Rasulullah ï·º meningkat karena membaca Al-Qur'an dengan penuh tadabur membuat seseorang senantiasa teringat akan hakikat dunia yang fana dan akhirat yang kekal, sehingga harta dan waktu menjadi ringan untuk dikorbankan di jalan kebaikan. Adapun perumpamaan dengan angin, menurut Ibnu Abbas, karena angin memiliki dua sifat: cepat dan tersebar luas—menggambarkan bagaimana kebaikan Rasulullah ï·º tidak pernah tertunda dan menjangkau siapa saja tanpa pandang bulu. Bahkan ketika ditanya suatu perkara, Rasulullah ï·º kerap menjawab lebih dari yang ditanyakan, sebagaimana ketika para sahabat bertanya tentang hukum berwudhu dengan air laut, beliau menambahkan penjelasan bahwa bangkai ikan laut pun halal dikonsumsi—jawaban yang tidak diminta, namun beliau tahu hal itu akan mereka butuhkan kemudian.

Penutup

Kajian pada sesi ini mengajarkan bahwa jalan menuju neraka maupun surga sesungguhnya tidak jauh dari diri kita sendiri—terletak pada bagaimana kita menjaga pandangan dan lisan, serta bagaimana kita membangun ketakwaan dan akhlak yang mulia dalam keseharian. Doa Abu Darda yang diulang semalam suntuk mengingatkan betapa pentingnya memohon akhlak yang baik kepada Allah, sementara dialog Rasulullah ï·º dengan orang-orang badui di Haji Wada' menunjukkan bahwa ibadah sebesar apa pun—termasuk haji—tetap harus dijaga dengan menahan diri dari ghibah dan kezaliman lisan. Dan pada akhirnya, teladan kedermawanan Rasulullah ï·º yang memuncak justru ketika beliau semakin dekat dengan Al-Qur'an mengajarkan bahwa kedekatan dengan kalam Allah seharusnya melahirkan kelapangan hati, bukan sebaliknya.

Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk menjaga pandangan dan lisan kita, memperbaiki akhlak sebagaimana yang didoakan Abu Darda sepanjang malam, serta meneladani kedermawanan dan kelembutan Rasulullah ï·º dalam setiap interaksi kita dengan sesama. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar