Dahsyatnya Berdzikir kepada Allah: Kunci Segala Kebaikan yang Sering Kita Abaikan

Ada sebuah pertanyaan yang seharusnya terus kita renungkan: sudahkah kalimat Lailahaillallah yang kita ikrarkan benar-benar bekerja untuk kita? Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barang siapa mengucapkan Lailahaillallah, maka ia pasti masuk surga. Namun para ulama Ahlussunnah mengingatkan — kalimat itu memiliki syarat, layaknya sebuah ATM yang tidak akan berfungsi tanpa nomor PIN yang benar.

Salah satu syarat Lailahaillallah adalah ilmu — pemahaman tentang akhirat yang cukup untuk menjadikan seseorang hidup sesuai dengan konsekuensi kalimat itu. Orang yang mengucapkan Lailahaillallah namun tidak pernah bersemangat mencari ilmu, tidak pernah membuka hatinya untuk mendengar pengajaran agama, ia bagaikan orang yang mendapat ATM tanpa mengetahui PINnya. Ada di tangan, namun tidak bisa digunakan.

Inilah yang menjadi landasan pentingnya kita memahami jalan-jalan menuju surga — bukan sekadar menghafal daftarnya, melainkan menghayatinya sebagai bagian dari hidup kita sebagai seorang mukmin. Dan di antara jalan-jalan itu, ada satu amalan yang tampaknya ringan, namun dampaknya meresap ke seluruh sendi kehidupan orang beriman: berdzikir kepada Allah.

Menjadi Shalih: Investasi yang Tidak Pernah Merugi

Di antara jalan menuju surga adalah berusaha menjadi orang yang shalih. Dan ternyata, keshalihan seseorang bukan hanya menguntungkan dirinya secara pribadi. Setiap kali kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengucapkan tasyahud dalam shalat mereka, ada kalimat yang mereka panjatkan: "Wassalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahis shalihin" — keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih.

Siapa pun yang telah dicatat oleh Allah sebagai hamba yang shalih, ia mendapatkan doa ini — berkali-kali, setiap hari, dari jutaan mulut kaum muslimin yang tersebar dari ujung timur hingga ujung barat bumi. Bayangkan besarnya pahala yang mengalir kepadanya tanpa ia sadari, semata-mata karena keshalihan yang ia jaga.

Keuntungannya pun berlipat ganda: secara pribadi, ia mendapatkan ganjaran dari setiap ketaatan yang ia kerjakan. Secara eksternal, ia mendapatkan cipratan pahala dari setiap doa yang dipanjatkan kaum muslimin untuknya. Menjadi shalih adalah investasi yang tidak pernah merugi, baik di dunia maupun di akhirat.

Ketika Allah Jatuh Cinta kepada Seorang Hamba

Namun keajaiban tidak berhenti di situ. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan betapa mulianya kedudukan hamba yang berhasil meraih kecintaan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، قَالَ: ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ
"Sesungguhnya Allah, apabila mencintai seorang hamba karena amal shalih yang dilakukannya, Allah memanggil Malaikat Jibril dan berfirman: 'Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia.' Maka Malaikat Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril mengumumkan kepada seluruh penduduk langit: 'Wahai penduduk langit, Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.' Maka seluruh penduduk langit pun mencintainya, dan diletakkanlah keridhaan bagi orang itu di bumi." (HR. Muslim)

Allah tidak merahasiakan siapa yang Ia cintai. Ia mengumumkannya kepada seluruh malaikat. Dan para malaikat — yang kecintaan mereka mengikuti kecintaan Allah, dan kebencian mereka mengikuti kemurkaan Allah — akan mencurahkan cinta mereka kepada hamba yang telah Allah pilih.

Lalu apa yang dilakukan para malaikat ketika mereka telah mencintai seseorang? Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an:

اِنَّ الَّذِيۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَلَا تَحۡزَنُوۡا وَاَبۡشِرُوۡا بِالۡجَـنَّةِ الَّتِىۡ كُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ 

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan 'Rabb kami adalah Allah', kemudian mereka istiqomah, maka para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: 'Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'" (QS. Fussilat: 30)

Yang luar biasa adalah kata tatanazzalu dalam ayat ini — bentuk kata yang menunjukkan pengulangan dan keberlangsungan. Para malaikat tidak turun sekali saja. Mereka turun berkali-kali, terus-menerus, untuk menguatkan hati orang yang beriman dan istiqomah. Itulah mengapa ada orang yang menghadapi ujian sangat berat dalam hidupnya, namun tetap tampak tenang dan kukuh. Mereka mendapat pertolongan yang tidak terlihat oleh mata manusia — pertolongan malaikat yang berbisik kepada hati mereka: jangan takut, jangan khawatir, bergembiralah dengan surga.

Kita bisa merasakan sendiri: motivator manusia saja sudah bisa mengubah paradigma seseorang, menaikkan semangat yang sudah lama padam. Orang rela membayar jutaan rupiah untuk mengikuti sesi pelatihan, dan setelah itu semangat mereka melejit. Lantas bagaimana dengan malaikat yang Allah turunkan langsung untuk menguatkan jiwa orang beriman? Sungguh, ujian orang beriman itu memang berat — tetapi pertolongan Allah jauh lebih besar dari ujian yang Allah berikan.

Rahasia Doa yang Tak Pernah Ditolak: Mendoakan Saudara Saat Ia Tidak Ada

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah amalan yang tampaknya sederhana, namun memiliki dampak luar biasa. Beliau bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

"Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir di hadapannya adalah mustajab. Di atas kepalanya ada malaikat yang ditugaskan; setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata: 'Amin, dan untukmu pun seperti apa yang kamu doakan.'" (HR. Muslim)

Ini adalah mekanisme yang luar biasa indah: ketika kita mendoakan saudara kita — saat ia tidak mengetahuinya — malaikat mengaminkan doa itu, lalu mendoakan hal yang sama untuk kita. Doa malaikat tidak pernah terhalang, karena malaikat tidak memiliki dosa. Salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa adalah dosa yang menumpuk — dan malaikat sepenuhnya terbebas dari itu. Maka ketika malaikat mendoakan kita, tidak ada hijab antara doa itu dengan Allah.

Para ulama salaf memahami ini dengan sangat baik. Mereka berkata: "Ketika kami ingin doa kami dikabulkan, kami mendoakan saudara kami ketika mereka tidak mengetahuinya." Itulah cara generasi terbaik umat ini mengoptimalkan setiap doa yang mereka panjatkan. Mendoakan orang lain secara diam-diam, dari kejauhan, hanya berbekal kebaikan dan ketulusan — itulah doa yang paling kuat mengundang aminnya para malaikat.

Ini juga mengajarkan kita untuk tidak egois dalam berdoa. Terlalu banyak di antara kita yang hanya berdoa untuk diri sendiri, orang tua, dan keluarga terdekat — tidak pernah menyertakan kaum muslimin di Palestina, di Suriah, di Rohingya, atau tetangga yang sedang dalam kesulitan. Para ulama menyebut ini sebagai sifat individualistis dan egosentris dalam berdoa — dan itu bukan cerminan doa orang yang sungguh-sungguh beriman.

Rasulullah ﷺ sendiri memiliki satu doa yang mustajab yang beliau tahan, tidak beliau gunakan selama di dunia — karena beliau ingin menggunakannya sebagai syafaat untuk umatnya di hari kiamat. Itulah gambaran hati seorang Nabi: yang paling dipikirkan adalah umat, bukan diri sendiri.

Maka perbanyaklah mendoakan saudara-saudara kita. Semakin banyak kita mendoakan orang lain masuk surga, semakin banyak pula malaikat yang mengaminkan doa itu dan mendoakan hal yang sama untuk kita. Para malaikat akan sibuk mengaminkan — dan setiap aminnya malaikat adalah doa yang tidak terhalang apa pun.

Dzikir Pagi yang Membebaskan dari Api Neraka

Di antara amalan yang menjadi jalan menuju surga adalah sebuah dzikir pagi yang ringkas namun memiliki bobot yang luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda: barang siapa di waktu pagi membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ
"Ya Allah, sesungguhnya aku memasuki waktu pagi dengan menyatakan persaksian kepada-Mu, kepada para malaikat pemikul Arsy-Mu, kepada seluruh malaikat-Mu, dan kepada seluruh makhluk-Mu: bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tidak ada yang berhak disembah selain Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu)"

...maka Allah akan menyelamatkannya dari seperempat api neraka. Jika dibaca dua kali, Allah menyelamatkan setengahnya. Tiga kali, tiga perempat. Dan jika dibaca empat kali — baik di pagi maupun di sore hari — Allah akan membebaskannya dari api neraka seluruhnya.

Tidak butuh waktu lebih dari lima menit. Namun dampaknya: bebas dari api neraka. Inilah mengapa dzikir bukan perkara yang boleh diremehkan. Dzikir adalah kunci — dan dengan kunci inilah semua pintu kebaikan dalam kehidupan kita terbuka.

Mengapa Orang yang Berdzikir Seperti Orang yang Hidup

Sebelum kita masuk ke keutamaan-keutamaan berdzikir secara lebih rinci, ada sebuah perumpamaan dari Rasulullah ﷺ yang perlu kita hayati. Beliau bersabda: "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR. Bukhari)

Orang yang hidup memiliki kekuatan. Ia bisa menangkis serangan yang datang, menghindar dari bahaya yang mengancam, berteduh ketika hujan, dan berlindung ketika panas menyengat. Sedangkan orang yang mati — tidak bisa membela dirinya dari apa pun. Ditempeleng diam, dicubit diam, dilempar diam. Tidak ada daya dan upaya.

Begitulah perbedaan antara orang yang berdzikir dan yang tidak berdzikir di hadapan setan dan segala keburukan dunia. Dzikir adalah perisai hidup yang tidak terlihat oleh mata manusia, namun sangat jelas di hadapan setan-setan yang tak henti mengintai. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah bahkan menyebutkan tidak kurang dari 53 keutamaan orang yang senantiasa berdzikir. Mari kita renungkan delapan di antaranya.

Perisai Tak Tertembus: Dzikir Mengusir Setan

Setan tidak pernah lengah mengamati gerak-gerik manusia. Ketika kita hendak minum, setan mengawasi — apakah kita membaca bismillah atau tidak. Jika tidak, ia ikut minum bersama kita. Ketika kita masuk rumah tanpa menyebut nama Allah, ketika kita tidak menutup pintu dengan bismillah, setan pun bermalam di dalamnya. Dan setan yang nyaman bermalam di rumah kita akan memberatkan penghuninya untuk beribadah di waktu malam hingga subuh.

Namun dzikir adalah perisai yang menjadikan setan tidak berkutik. Ada sebuah kisah nyata yang cukup mengejutkan: seseorang yang memendam dendam mendatangi satu dukun, lalu dukun lain, hingga berganti empat kali — namun tak satu pun dari mereka yang sanggup mencelakai orang yang ia tuju. Ketika ia bertanya mengapa, dukun terakhir menjawab dengan jujur: "Karena orang yang ingin kamu celakakan adalah orang yang senantiasa berdzikir. Apa yang kami lakukan tidak bisa menembus perlindungan Allah pada diri orang yang dijaga dengan dzikirnya."

Yang mengejutkan: orang yang menaruh dendam itu justru mendapat hidayah. Ia bertobat — bukan karena dakwah para dukun, melainkan karena pengakuan jujur sang dukun tentang kuatnya perlindungan dzikir.

Ini pula rahasia ruqyah syar'iyyah. Seorang peruqyah tidak mengandalkan kekuatan fisik untuk menghadapi jin. Ia mengandalkan kalimat-kalimat Allah. Mengalahkan setan tidak bisa dengan otot, tidak bisa dengan akal, tidak bisa dengan teknologi. Yang mengalahkan setan hanyalah dzikir — dari Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah ﷺ — karena setan tidak akan pernah berkutik di hadapan hamba yang senantiasa mengingat Allah.

Pertolongan yang Datang Tanpa Pernah Kita Duga

Dzikir juga mendatangkan pertolongan Allah di saat yang paling tidak terduga.

Ingatlah kisah Nabi Yunus 'alaihissalam. Ia berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan malam, kegelapan dasar samudra, dan kegelapan perut ikan paus. Kondisi yang tidak ada jalan keluarnya secara logika manusia. Namun Allah berfirman:

 فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْن.  لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ 

"Maka jikalau ia tidak termasuk orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kebangkitan." (QS. As-Shaffat: 143-144)

Dzikir yang Nabi Yunus panjatkan — "La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzhalimin" — menjadi kunci pembebasan beliau. Allah menyelamatkan beliau bukan semata karena ia seorang nabi, melainkan karena dzikir yang senantiasa ia panjatkan, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit.

Kisah serupa terjadi di kalangan orang-orang biasa yang istiqomah berdzikir. Ada sebuah keluarga yang tengah melakukan perjalanan darat di Sumatera. Pagi itu mereka habis berdzikir bersama di dalam mobil. Di tengah perjalanan, pengemudi mengantuk, kendaraan meluncur keluar jalur dan turun ke jurang yang cukup curam. Mereka semua merasa itulah detik-detik terakhir hidup mereka. Namun mobil berhenti setelah menabrak sebatang pohon — tidak meluncur lebih jauh ke bawah. Kerusakannya tidak terlalu parah, dan meski ada luka, tidak ada yang sampai patah tulang. Orang-orang yang menyaksikan dari atas jalan menyangka semua penumpangnya tewas. Sang ayah kemudian bertanya: "Apakah ini ada kaitannya dengan dzikir pagi yang kami baca bersama tadi pagi, Ustadz?" Jawabannya: khusnudzon-lah kepada Allah.

Ada pula kisah seorang ibu di Mesir yang anaknya sakit parah dan membutuhkan penanganan dokter spesialis di Kairo. Berkali-kali ia berupaya untuk bertemu sang dokter, namun selalu gagal karena antrean yang panjang. Ia pulang dengan tangan kosong, namun tidak putus asa — ia hanya memperbanyak istighfar di setiap waktunya. Suatu hari, sang dokter yang ia cari mengalami pesawatnya delay tanpa kepastian. Ia mencoba naik mobil — lalu mogok, tidak jauh dari rumah sang ibu. Dokter itu singgah ke rumah terdekat untuk memanfaatkan fasilitas — dan di situlah ia melihat sang anak yang sakit. Ternyata penyakit itu tepat pada spesialisasinya. Sang dokter sendiri yang terheran-heran dengan rangkaian kejadian yang seperti diatur bertanya: "Apa amalan ibu?" Sang ibu menjawab sederhana: "Saya tidak melakukan apa-apa selain membiasakan diri beristighfar setiap waktu."

Pertolongan Allah dekat bagi mereka yang senantiasa membasahi bibirnya dengan dzikir kepada-Nya.

Memalingkan dari Bahaya, Memudahkan Urusan, dan Melembutkan Hati

Seorang sahabat pernah datang kepada Rasulullah ﷺ mengadukan bahwa ia tersengat kalajengking. Nabi ﷺ bertanya: "Apakah tadi sore kamu mengucapkan: 'A'udzu bi kalimatillahit tammat min syarri ma khalaq' — Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Ia ciptakan?" Sang sahabat mengaku tidak. Nabi ﷺ mengatakan bahwa seandainya ia membacanya, kalajengking itu tidak akan menyengatnya. Itulah bukti nyata bahwa dzikir memalingkan kita dari keburukan yang mengintai.

Keutamaan berikutnya: dzikir memudahkan urusan. Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa orang yang senantiasa berdzikir akan menemukan kemudahan dalam setiap urusannya, karena Allah menyertai langkah-langkah yang diniatkan untuk-Nya.

Bagi mereka yang merasa hatinya keras dan sulit tersentuh, ada nasihat Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah: seseorang pernah datang kepadanya mengeluhkan hati yang membatu. Sang imam menjawab singkat: "Perbanyaklah berdzikir kepada Allah, maka Allah akan melembutkan hatimu." Dzikir adalah pelembut hati yang paling mujarab — lebih dari ceramah emosional mana pun, lebih dari kisah mengharukan mana pun.

Ketenangan Sejati di Tengah Badai Ketakutan

Nabi Ibrahim 'alaihissalam pernah akan dibakar hidup-hidup. Api sudah membubung tinggi, menunggu giliran membakar tubuh beliau. Namun yang keluar dari lisan beliau justru adalah dzikir: "Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal mawla wa ni'man nashir" — Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung. Dzikir itu menghadirkan ketenangan yang luar biasa di tengah ancaman yang nyata. Dan kita tahu kelanjutannya: api itu pun menjadi dingin dan selamat atas izin Allah.

Kita yang lebih lemah pun merasakannya di kehidupan sehari-hari. Siapa di antara kita yang pernah berada di dalam pesawat yang mengalami turbulens hebat? Pada saat itu, tidak ada lagu yang bisa menenangkan, tidak ada film yang bisa mengalihkan perhatian. Yang keluar secara spontan dari bibir adalah: subhanallah, lailahaillallah, astagfirullah. Karena fitrah manusia, di saat paling takut, selalu memanggil Allah. Dan ketika dzikir itu diucapkan, ketenangan itu perlahan datang.

Dzikir bukan hanya membuat kita tenang — dzikir adalah respons paling alami dari jiwa yang beriman. Ia adalah fitrah yang berbicara ketika semua pertahanan lain runtuh.

Diwafatkan dalam Kebaikan: Warisan Dzikir Sepanjang Hayat

Imam Ibnu Qayyim juga mengingatkan: seseorang akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaannya. Barang siapa hidup dalam sesuatu, ia pun akan wafat dalam sesuatu itu. "Man 'asya 'ala syay'in, mata 'alayh."

Ada seorang muadzin yang sudah mengumandangkan azan selama kurang lebih empat puluh tahun. Ketika ajal menjelang, dalam kondisi sakit yang berat, ia memberikan isyarat kepada anak-anaknya agar ia didudukkan. Setelah didudukkan, ia mengumandangkan azan dari Allahu Akbar hingga La ilaha illallah — lalu jatuh dan meninggal dunia. Kebiasaan dzikir sepanjang hidupnya menjadi warna terakhir dari kehidupannya.

Ada pula seorang ibu yang keluar dari ruang operasi. Ketika biusnya belum sepenuhnya hilang, setengah alam sadarnya belum pulih sepenuhnya, namun yang keluar dari bibirnya adalah dzikir — terus mengalir dari ruang operasi hingga ke kamarnya. Apa yang tertanam dalam kebiasaan hidup seseorang, itulah yang akan muncul ketika kesadaran melemah.

Di sinilah letak bahayanya kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Orang yang terbiasa latah dengan kata-kata yang tidak terpuji — khawatirkan bagaimana jika itu yang keluar ketika ia dalam kondisi tidak sadar di saat-saat terakhir hidupnya, ketika yang seharusnya terlafaz adalah Lailahaillallah. Orang yang senantiasa mengisi telinganya dengan musik, bukan tidak mungkin musik itu pula yang memenuhi benak dan lisannya di saat-saat paling kritis dalam hidupnya. Maka mulailah dari sekarang. Biasakan dzikir. Jadikan ia bagian dari napas kehidupan kita — agar ketika napas itu berhenti, ia berhenti dalam keadaan terbaik.

Mendapatkan Doa Para Malaikat

Keutamaan terakhir yang kita sebutkan adalah: orang yang rajin berdzikir mendapatkan doa dari para malaikat. Kita telah memahami sebelumnya bagaimana malaikat mencintai orang-orang yang dicintai Allah, dan bagaimana mereka turun untuk menguatkan orang-orang beriman. Ketika seseorang senantiasa berdzikir, ia menjadi hamba yang layak dicintai Allah — dan ketika Allah mencintainya, malaikat-malaikat pun mencintainya dan mendoakannya. Doa malaikat tidak pernah terhalang oleh dosa, karena malaikat suci dari segala dosa. Tidak ada hijab antara doa mereka dengan Allah.

Inilah pula mengapa mendoakan saudara kita — agar malaikat mengaminkan — dan berdzikir kepada Allah adalah dua perkara yang saling menopang: keduanya mengundang keterlibatan para malaikat dalam kehidupan kita.

Sungguh, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk meremehkan dzikir. Ia ringan di lisan, namun beratnya di timbangan Allah tidak terhingga. Ia mudah untuk dilakukan, namun keajaiban-keajaiban yang ia hadirkan dalam kehidupan seseorang tidak pernah habis untuk dikisahkan. Ia mengusir setan, mendatangkan pertolongan Allah, memalingkan bahaya, memudahkan urusan, melembutkan hati, menghadirkan ketenangan, mengantarkan kita pada kematian terbaik, dan mengundang doa para malaikat.

Maka jadikanlah dzikir sebagai teman setia dalam setiap momen kehidupan kita — saat bangun tidur, saat makan, saat bekerja, saat berkendara, dan saat hendak beristirahat. Jangan anggap dzikir sebagai amalan pinggiran yang bisa dikerjakan jika sempat. Ia adalah kunci. Dan dengan kunci inilah semua pintu kebaikan dalam kehidupan kita, serta pintu surga itu sendiri, perlahan-lahan terbuka.

Semoga Allah menjadikan lisan kita selalu basah dengan dzikir-Nya, menguatkan hati kita untuk senantiasa istiqomah dalam mengingat-Nya, dan mengumpulkan kita bersama hamba-hamba-Nya yang shalih di surga-Nya yang kekal. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

https://www.youtube.com/watch?v=mQ58NgLK-vg



Posting Komentar

0 Komentar