"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian." (QS. Ali 'Imran: 185)
Namun anehnya, meskipun kita meyakini kematian dengan seyakin-yakinnya, sedikit sekali dari kita yang benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kita habiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan pendidikan, karier, pernikahan, dan masa pensiun — semua untuk kehidupan dunia yang hanya sebentar. Namun untuk kehidupan setelah kematian yang abadi, betapa sedikit persiapan yang kita lakukan.
Padahal kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan yang jauh lebih panjang. Setelah kematian ada alam kubur (barzakh), lalu hari kebangkitan, padang mahsyar, hisab, mizan, sirath, dan akhirnya surga atau neraka yang kekal selama-lamanya. Maka mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah kematian adalah kecerdasan sejati. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.
Artikel ini akan membahas bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian — sebuah perjalanan yang pasti kita tempuh, cepat atau lambat.
Kematian Datang Tanpa Permisi
Salah satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa kematian datang tanpa pemberitahuan. Ia tidak menunggu kita tua, tidak menunggu kita sakit, dan tidak menunggu kita siap. Betapa banyak orang muda yang meninggal dalam keadaan sehat walafiat, sementara orang tua yang sakit-sakitan justru masih diberi umur panjang.
Allah berfirman:
وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ
"Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diperolehnya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati." (QS. Luqman: 34)
Kita tidak tahu kapan, di mana, dan dalam kondisi apa kita akan mati. Seorang penyair pernah berkata dengan indah: "Berbekallah dengan takwa, sebab engkau tidak tahu — apabila malam telah tiba, apakah engkau masih hidup hingga pagi. Betapa banyak orang sehat mati tanpa didahului sakit, dan betapa banyak pemuda yang tadi pagi masih tertawa, sore harinya telah dibungkus kain kafan."
Ketika ajal telah tiba, tidak ada yang bisa memajukan atau memundurkannya walau sesaat pun. Allah berfirman bahwa apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya (QS. Al-A'raf: 34). Karena itulah, persiapan harus dilakukan sekarang — bukan nanti, bukan besok, bukan ketika kita sudah tua.
Beratnya Sakaratul Maut
Perjalanan menuju kehidupan setelah kematian dimulai dengan sakaratul maut — momen yang amat berat. Rasulullah ﷺ sendiri merasakan beratnya. Ketika beliau menjelang wafat, beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana berisi air lalu mengusapkannya ke wajah seraya berkata: "La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakaratul maut (yang amat berat)."
Allah menggambarkan datangnya sakaratul maut:
وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّۗ ذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ
"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari." (QS. Qaf: 19)
Pada saat yang berat inilah, setan akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk menggelincirkan seseorang di kesempatan terakhirnya. Ia ingin agar manusia mati dalam kondisi tidak beriman. Maka orang yang selama hidupnya bertakwa dan berbaik sangka kepada Allah, insya Allah akan Allah teguhkan di saat yang genting ini, sebagaimana firman-Nya bahwa Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat (QS. Ibrahim: 27).
Kehidupan di Alam Barzakh
Setelah roh dicabut, seseorang memasuki alam barzakh — alam penantian antara kematian dan hari kiamat. Di alam kubur, setiap orang akan didudukkan dan ditanya oleh dua malaikat, Munkar dan Nakir, dengan tiga pertanyaan: "Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?"
Orang beriman akan dimudahkan menjawab: "Tuhanku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad ﷺ." Adapun orang yang lalai dan munafik akan kebingungan, hanya bisa menjawab: "Hah... hah... aku tidak tahu."
Perlu dipahami bahwa jawaban ini bukanlah sekadar hafalan yang bisa dipersiapkan seperti menghafal jawaban ujian. Jawaban itu adalah cerminan dari kehidupan seseorang di dunia. Orang yang di dunia benar-benar menjadikan Allah sebagai Tuhannya — menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya — akan Allah mudahkan menjawabnya. Sebaliknya, orang yang di dunia hanya mengaku beriman namun hidupnya jauh dari ketaatan, akan kesulitan menjawab meskipun ia hafal jawabannya.
Setelah itu, alam kubur menjadi salah satu dari dua kemungkinan: taman dari taman-taman surga, atau lubang dari lubang-lubang neraka. Bagi orang beriman, kuburnya diluaskan dan dibukakan pintu surga sehingga ia merasakan kenikmatannya. Adapun bagi orang yang durhaka, kuburnya disempitkan hingga tulang-tulangnya berhimpitan, dan dibukakan pintu neraka baginya.
Perjalanan Panjang Menuju Surga atau Neraka
Ketika hari kiamat tiba, seluruh manusia dibangkitkan dari kubur mereka dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan. Mereka dikumpulkan di padang mahsyar, menunggu hisab dalam kondisi yang amat sulit — matahari didekatkan, dan manusia tenggelam dalam keringat sesuai kadar amalnya.
Pada hari itu, tidak ada yang bermanfaat kecuali amal shalih. Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ
"Pada hari itu harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89)
Di padang mahsyar, setiap orang akan dihisab. Yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba adalah shalatnya; jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Kemudian amal-amal ditimbang di mizan (timbangan). Barangsiapa berat timbangan kebaikannya, ia beruntung; barangsiapa ringan timbangannya, ia merugi.
Setelah itu, manusia harus melewati sirath — jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam, lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang. Manusia melewatinya sesuai kadar amal mereka: ada yang secepat kilat, secepat angin, secepat kuda, dan ada pula yang merangkak. Sebagian selamat sampai ke surga, dan sebagian tersambar lalu jatuh ke dalam neraka — na'udzu billah.
Bekal-Bekal untuk Menghadapi Kehidupan Setelah Kematian
Setelah memahami betapa panjang dan beratnya perjalanan setelah kematian, pertanyaannya adalah: bekal apa yang harus kita persiapkan? Berikut beberapa bekal utama.
Pertama, tauhid dan iman yang benar. Modal utama keselamatan adalah tauhid — mengesakan Allah dalam ibadah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Sebesar apa pun amal seseorang, jika ia mati dalam keadaan syirik, amalnya akan sia-sia. Sebaliknya, orang yang bertauhid, meskipun berdosa, pada akhirnya akan Allah masukkan ke dalam surga. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, ia akan masuk surga.
Kedua, ketakwaan kepada Allah. Sebaik-baik bekal adalah takwa. Allah berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
"Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)
Takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika dilihat orang maupun ketika sendirian. Orang yang terbiasa bertakwa semasa hidupnya akan Allah mudahkan di saat sakaratul maut, di alam kubur, dan di seluruh fase kehidupan setelah kematian.
Ketiga, amal shalih yang ikhlas dan sesuai sunnah. Amal tidak akan diterima kecuali memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allah, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Perbanyaklah amal shalih selagi masih hidup — shalat wajib dan sunnah, membaca Al-Qur'an, sedekah, puasa, dan berbagai ketaatan lainnya. Jangan menunda-nunda, sebab ketika kematian datang, tidak ada lagi kesempatan untuk beramal, bahkan hanya untuk sekadar mengucapkan "Ya Allah, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal shalih" — permintaan yang pasti ditolak.
Keempat, amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika seseorang meninggal, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya. Maka persiapkanlah ketiganya selagi hidup: berwakaf atau membangun sesuatu yang bermanfaat bagi umat, menyebarkan dan mengajarkan ilmu, serta mendidik anak-anak menjadi shalih agar kelak mendoakan kita.
Kelima, bertaubat dan tidak menunda-nundanya. Kita semua berbuat dosa setiap hari. Maka jangan biarkan dosa menumpuk tanpa tobat. Bersegeralah bertaubat, sebab kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Allah berfirman agar kita bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang semurni-murninya (QS. At-Tahrim: 8). Dan Allah Maha Menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
Keenam, menjaga hak-hak sesama manusia. Banyak orang mengira bekal akhirat hanya berupa ibadah ritual. Padahal hak-hak sesama manusia sangat menentukan. Orang yang bangkrut (muflis) di akhirat adalah orang yang datang dengan pahala shalat, puasa, dan zakat yang banyak, namun ia dahulu mencaci si ini, memukul si itu, dan memakan harta orang lain — sehingga pahalanya diambil untuk membayar kezalimannya, dan ketika pahalanya habis, dosa-dosa mereka ditimpakan kepadanya lalu ia dilemparkan ke neraka. Maka tunaikanlah hak orang lain dan mintalah maaf atas kesalahan kita selagi masih ada waktu.
Mengingat Kematian sebagai Kunci Persiapan
Kunci dari semua persiapan ini adalah senantiasa mengingat kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ الَّلذَّاتِ اَلْمَوْتِ
"Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu kematian)."
Orang yang sering mengingat kematian akan senantiasa bersiap menghadapinya. Ia tidak akan menunda tobat, tidak akan rakus terhadap dunia, dan tidak akan malas beribadah. Sebaliknya, orang yang lupa akan kematian akan tenggelam dalam dunia dan lalai dari akhirat.
Karena itu, Nabi ﷺ menganjurkan ziarah kubur, karena ia mengingatkan kita pada akhirat. Ketika kita berdiri di pekuburan, kita menyaksikan orang-orang yang dahulu berlomba mengumpulkan harta dan meraih kedudukan, kini terbaring sendirian di dalam tanah, tak membawa apa pun kecuali amal mereka. Kita pun kelak akan seperti mereka.
Kesimpulan
Kehidupan setelah kematian adalah kepastian yang menanti setiap kita. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai dari sakaratul maut, berlanjut ke alam barzakh, hari kebangkitan, padang mahsyar, hisab, mizan, sirath, dan berakhir di surga atau neraka yang kekal.
Kita tidak bisa menghindari perjalanan ini, namun kita bisa mempersiapkan bekalnya: tauhid yang murni, ketakwaan kepada Allah, amal shalih yang ikhlas dan sesuai sunnah, amal jariyah yang terus mengalir, taubat yang tidak ditunda-tunda, dan penunaian hak-hak sesama manusia. Semua itu harus disiapkan sekarang, selagi kita masih hidup, sebab kematian datang tanpa permisi.
Marilah kita jadikan kematian sebagai penasihat yang senantiasa mengingatkan kita. Sebab orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak hartanya, melainkan yang paling siap menghadapi kehidupan setelah kematian. Semoga Allah memudahkan kita di saat sakaratul maut, meneguhkan kita di alam kubur, meringankan hisab kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya tanpa azab dan tanpa hisab.
رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201)
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: "Persiapan Menghadapi Kehidupan Setelah Kematian" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=yxm-mx9iDVI
0 Komentar