"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian." (QS. Ali 'Imran: 185)
Ayat ini bersifat umum — mencakup orang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat jelata, yang sehat maupun yang sakit-sakitan. Semua berada dalam satu rel yang sama, tak seorang pun bisa keluar darinya, menuju titik pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Namun anehnya, meskipun kita meyakini kematian dengan seyakin-yakinnya, aplikasi keyakinan itu dalam hidup kita sering nyaris tak terlihat. Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengungkapkan keheranannya: beliau tidak pernah melihat suatu keyakinan yang begitu pasti — yaitu kematian — namun diperlakukan seolah-olah ia adalah perkara yang diragukan. Kita yakin pasti mati, tetapi kita hidup seakan-akan akan tinggal di dunia ini selama-lamanya; tenggelam dalam kesibukan yang tak bermanfaat, bahkan terkadang dalam kemaksiatan.
Karena itu, merenungi hakikat dunia menjadi sangat penting — sebagai pengingat bagi kita semua yang begitu mudah terlena. Mari kita telaah bersama.
Dunia Hanya Sebentar, tetapi Menentukan Segalanya
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa umur umatnya berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan hanya sedikit yang melampauinya. Cobalah renungkan perjalanan kita: dahulu kita berada di fase janin selama sembilan bulan, kini kita berada di fase kehidupan dunia yang hanya sekejap ini, lalu kita akan memasuki alam barzakh yang mungkin berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun, dan akhirnya alam akhirat yang abadi selama-lamanya.
Di sinilah letak persoalannya. Kehidupan dunia yang hanya enam puluh atau tujuh puluh tahun ini — meski sesaat — adalah penentu bagi nasib kita di seluruh fase kehidupan berikutnya yang jauh lebih panjang. Setiap detik yang kita lalui memiliki pengaruh terhadap strata kita di hari kemudian.
Di dunia, kita mudah mengukur strata: siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih tinggi kedudukannya, semua terlihat dari mobil, rumah, dan penampilan. Namun di alam barzakh dan akhirat kelak, ukuran itu bisa terbalik sepenuhnya. Pembantu kita belum tentu lebih rendah dari kita di sisi Allah. Sopir kita belum tentu lebih miskin dari kita di akhirat. Allah berfirman tentang hari kiamat:
خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ
"(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)." (QS. Al-Waqi'ah: 3)
Sebagian mufasir menjelaskan bahwa hari kiamat akan mengungkap hakikat yang sebenarnya — siapa yang benar-benar ditinggikan dan siapa yang direndahkan. Ada orang yang tampak tinggi di dunia karena jabatan atau kekayaannya, namun bisa jadi direndahkan di akhirat. Sebaliknya, ada yang rendah di mata kita sekarang, namun ternyata mulia di sisi Allah.
Ironisnya, kita justru sibuk mengatur strata ekonomi kita di dunia sambil melupakan strata kita di akhirat. Waktu kita habis untuk hal-hal yang tak bermanfaat — larut dalam layar gawai, terpaku pada tontonan yang sia-sia, mengejar barang-barang bermerek, atau sibuk mengurusi kehidupan orang lain. Padahal setiap detik yang terbuang itu tak akan pernah kembali, sementara ia menentukan nasib kita yang abadi.
Uban dan Sinyal-Sinyal Peringatan
Allah dengan kasih sayang-Nya telah mengirimkan berbagai peringatan agar kita tidak terlena. Allah berfirman:
اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ
"...dan bukankah Kami telah memberikan umur yang cukup untuk berpikir bagi siapa yang mau berpikir, dan telah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan?" (QS. Fatir: 37)
Sebagian salaf menafsirkan "pemberi peringatan" (an-nadzir) dalam ayat ini sebagai uban. Ketika seseorang bercermin dan melihat uban di rambut atau jenggotnya, itu adalah tanda bahwa ia akan segera sirna. Uban itu sesungguhnya adalah rahmat dari Allah untuk mengingatkan kita — sebab kita sering lupa bahwa diri ini sudah berusia.
Selain uban, ada pula sinyal-sinyal lain: kolesterol yang mulai naik, asam urat yang mulai terasa, dan berbagai "bunyi" di tubuh yang dahulu tak ada. Ibarat mobil tua yang setiap bagiannya berderit ketika dibuka, tubuh kita pun mulai memberi tanda bahwa waktunya telah semakin dekat. Ini adalah saatnya untuk menyadari dan mulai memfokuskan diri kepada akhirat.
Dahulu, penduduk kota Madinah apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, mereka mulai menyibukkan diri dengan urusan akhirat. Namun sering kali yang terjadi pada kita justru sebaliknya — di usia empat puluh, dunia semakin terbuka lebar, relasi semakin banyak, kesibukan semakin bertambah, dan kita justru semakin jauh dari akhirat.
Bagaimana Al-Qur'an Menggambarkan Hakikat Dunia
Al-Qur'an menggunakan berbagai cara yang indah untuk menegaskan betapa sementaranya dunia ini. Memahami gambaran-gambaran ini akan membantu kita meletakkan dunia pada tempatnya yang semestinya.
Pertama, melalui penamaan "dunia" itu sendiri. Kata dunya berasal dari bahasa Arab, bisa dari kata danā (dekat) atau daniyy (rendah). Penamaan ini sendiri sudah mengisyaratkan bahwa dunia adalah sesuatu yang dekat masa berakhirnya dan rendah nilainya.
Kedua, Allah menyebutnya sebagai mata' (kesenangan yang akan habis). Segala yang ada di dunia memiliki masa kedaluwarsa — rumah, mobil, bahkan pasangan hidup, semuanya akan berakhir. Allah menyebut dunia sebagai matā'un qalīl — kesenangan yang sedikit dan sementara.
Ketiga, Allah mengumpamakannya dengan zahrah (bunga). Allah menyebut dunia sebagai zahratal hayātid dunyā — bunga kehidupan dunia (QS. Thaha: 131). Bunga memang indah dan harum, warna-warni memesona, tetapi begitu dipetik ia cepat layu. Demikianlah dunia — kecantikan, kemudaan, dan segala keindahannya begitu cepat memudar tanpa terasa.
Keempat, Allah mengumpamakannya dengan air hujan dan tumbuhan. Allah berfirman bahwa dunia itu seperti air hujan yang turun, lalu menumbuhkan tanaman yang hijau segar, kemudian tiba-tiba mengering dan diterbangkan angin (QS. Al-Kahfi: 45). Yang menarik, Allah menggunakan huruf fa yang menunjukkan pergantian yang cepat tanpa jeda — dari hijau segar tiba-tiba menjadi kering. Begitu cepatnya perubahan dunia: anak-anak yang tadinya kecil, tiba-tiba sudah menikah dan punya anak; kita yang dahulu muda, tiba-tiba sudah menjadi kakek dan nenek.
Kelima, Allah merinci fase-fase kehidupan dunia. Dalam surah Al-Hadid, Allah berfirman:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan." (QS. Al-Hadid: 20)
Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai gambaran fase-fase usia manusia. Di masa kanak-kanak kita bermain (la'ib), lalu di masa remaja kita bersenda gurau (lahw), kemudian mulai memperhatikan penampilan (zinah), lalu di usia paruh baya saling membanggakan diri (tafākhur), dan di usia senja berlomba menumpuk harta dan keturunan (takātsur). Setelah itu, Allah mengingatkan bahwa di akhirat hanya ada dua kemungkinan: azab yang pedih, atau ampunan dan keridhaan dari Allah.
Allah menutup ayat itu dengan penegasan: "Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." Dan sungguh, kita semua tertipu — meski dengan tingkatan yang berbeda-beda. Tertipu dengan gawai hingga menghabiskan waktu berjam-jam untuk sesuatu yang tak berfaedah, padahal jika waktu itu digunakan untuk membaca Al-Qur'an, status kita di akhirat akan jauh lebih indah.
Kenikmatan Dunia Tidak Ada yang Sempurna
Hakikat berikutnya yang perlu kita renungkan adalah bahwa setiap kenikmatan dunia pasti disertai efek samping. Tidak ada kenikmatan duniawi yang sempurna tanpa cela.
Jibril 'alaihissalam pernah menasihati Rasulullah ﷺ dengan perkataan yang sangat mendalam: "Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau pasti akan mati. Cintailah siapa yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya." Inilah hakikat dunia — semakin dalam cinta kita, semakin pilu pula perpisahannya. Seseorang yang sangat mencintai ibunya akan merasakan kesakitan yang luar biasa ketika sang ibu wafat. Semakin kita menyayangi seseorang, semakin dalam luka yang kita rasakan ketika ia pergi atau menyakiti kita.
Allah sengaja menciptakan dunia dengan sifat semacam ini agar kita selalu ingat akhirat. Perhatikanlah: makanan yang lezat sering kali membawa kolesterol dan asam urat. Jabatan yang tinggi membawa beban dan kegelisahan yang membuat pemiliknya tak bisa tidur nyenyak, sementara si penjual bakso justru tidur lelap tanpa memikirkan pajak. Suami yang tampan mungkin mendatangkan kekhawatiran, usaha yang besar mendatangkan kerumitan. Setiap kenikmatan datang bersama risikonya.
Karena itulah, ketika Allah menggambarkan surga, Allah berfirman:
اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ اَنْتُمْ تَحْزَنُوْنَ
"Masuklah ke dalam surga, tidak ada rasa takut atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati." (QS. Al-A'raf: 49)
Kebahagiaan tanpa cela, tanpa bayangan kesedihan dan kekhawatiran — itu hanya ada di surga. Adapun di dunia, semewah dan seindah apa pun, ia pasti terkontaminasi dengan kesedihan dan kekhawatiran.
Perlu digarisbawahi, ini bukan berarti harta itu buruk. Harta memang salah satu sebab kebahagiaan, dan Rasulullah ﷺ menyebutkan empat di antara sebab kebahagiaan dunia: rumah yang luas, kendaraan yang nyaman, tetangga yang baik, dan pasangan yang shalih/shalihah. Namun kunci kebahagiaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan iman. Sebab, peningkatan kebahagiaan dari menumpuk dunia sesungguhnya tidak signifikan — sementara umur dan tenaga terkuras habis untuk mengejarnya.
Dunia adalah Ladang Ujian
Hakikat penting berikutnya: dunia ini adalah ujian. Allah berfirman:
ࣙالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ
"Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)
Allah menciptakan langit, bumi, dan segala isinya — bahkan menghiasi bumi dengan perhiasannya — semata-mata untuk menguji kita, siapa yang terbaik amalnya (QS. Al-Kahfi: 7). Karena itu dunia disebut Darul Ibtila' (negeri ujian), sedangkan akhirat adalah Darul Jaza' (negeri pembalasan).
Ujian ini datang dalam dua bentuk. Allah berfirman:
وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
"Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian. Dan kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan." (QS. Al-Anbiya: 35)
Allah menguji kita dengan keburukan — sakit, kesulitan ekonomi, musibah, anak yang nakal, atau pasangan yang mengecewakan. Allah juga menguji kita dengan kebaikan — ekonomi yang berlimpah, rumah mewah, keluarga yang harmonis, dan kesehatan yang prima. Keduanya adalah ujian, dan masing-masing memiliki pertanggungjawabannya sendiri. Maka setelah memahami ini, sudah semestinya kita mengevaluasi diri, sebagaimana perintah untuk melihat kembali apa yang telah kita persiapkan untuk hari esok:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18)
Cara Menghadapi Dunia agar Tidak Terpedaya
Setelah memahami hakikat dunia, pertanyaannya adalah: bagaimana kita menyikapinya agar tidak terpedaya? Ada beberapa kunci yang bisa kita pegang.
Pertama, jadikan dunia sebagai sarana meraih akhirat. Inilah nasihat orang-orang shalih dari kaum Nabi Musa kepada Qarun:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ
"Dan carilah negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu." (QS. Al-Qashash: 77)
Apa pun yang kita miliki, orientasikanlah untuk akhirat. Kita berolahraga agar kuat beribadah, umrah, dan berbakti kepada orang tua. Kita mencari nafkah agar bisa bersedekah dan menafkahi keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Amr bin Ash radhiyallahu 'anhu: "Sebaik-baik harta yang baik adalah yang dimiliki oleh orang yang shalih." Sebab harta di tangan orang shalih akan menjadi ladang amal.
Perlu diingat pula, orang kaya yang menggunakan hartanya untuk akhirat memang masuk surga lebih lambat karena hisabnya panjang — dalam sebuah hadits disebutkan orang miskin masuk surga lima ratus tahun lebih dahulu. Namun sebagaimana dijelaskan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar rahimahumallah, orang kaya yang memanfaatkan potensinya untuk akhirat bisa berada di level yang lebih tinggi setelah dihisab. Kuncinya ada pada niat dan pemanfaatannya.
Kedua, ambil dunia secukupnya dan bersikap zuhud. Rasulullah ﷺ menasihati Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu: "Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara yang sekadar lewat." Seorang perantau tidak sibuk menumpuk harta di negeri pengasingan; ia mengirimkan hasil jerih payahnya ke kampung halamannya. Demikianlah seharusnya sikap kita terhadap dunia — bangunlah "istana" di akhirat, sebab ke sanalah kita akan pulang.
Rasulullah ﷺ mempraktikkan ini secara sempurna. Ketika Ibnu Mas'ud melihat tikar yang beliau tiduri meninggalkan bekas di lambungnya lalu menawarkan kasur yang lebih nyaman, beliau menjawab: "Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah seperti pengembara yang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu meninggalkannya untuk melanjutkan perjalanan." Bahkan kepada putrinya Fatimah radhiyallahu 'anha yang meminta pembantu karena kelelahan menggiling gandum, beliau justru mengajarkan zikir alih-alih memberikan pelayan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah mendefinisikan zuhud sebagai "meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat." Ini adalah tolok ukur yang sangat praktis. Sebelum membeli atau melakukan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: adakah manfaatnya di akhirat? Jika ada, lakukanlah tanpa ragu — membeli mobil untuk memudahkan safar dakwah, membangun rumah luas untuk silaturahmi keluarga, semua boleh selama diniatkan untuk akhirat dan kita siap mempertanggungjawabkannya. Namun jika tidak ada manfaatnya dan kita tak sanggup menjawab ketika ditanya Allah kelak, maka lebih baik ditinggalkan.
Di sini menarik untuk mencatat bahwa para sahabat memiliki tiga pandangan tentang menikmati dunia. Mayoritas sahabat membolehkan pemanfaatan dunia selama berorientasi akhirat. Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhuma bersikap lebih ketat, khawatir kesenangan yang berlebihan akan mengurangi jatah kenikmatan di akhirat. Sedangkan Abu Dzar radhiyallahu 'anhu paling ketat, berpandangan bahwa kelebihan harta di atas kebutuhan primer sebaiknya dikembalikan untuk sedekah. Pendapat yang lebih kuat adalah pandangan jumhur sahabat — boleh menikmati dunia selama dijadikan sarana menuju akhirat — namun ketiga pandangan ini memberi kita pelajaran untuk tidak berlebih-lebihan.
Ketiga, manfaatkan umur dengan sebaik-baiknya. Umur kita ada batasnya, dan tak seorang pun tahu kapan ia berakhir. Karena itu, dalam menjalani hidup, seorang mukmin tidak keluar dari tiga kondisi: ketika diberi nikmat ia bersyukur dengan memperbanyak amal shalih selagi masih sehat dan mampu; ketika diuji dengan sesuatu yang tidak disukai ia bersabar; dan ketika terjatuh dalam dosa ia segera beristighfar tanpa menunda tobat.
Kesimpulan
Merenungi hakikat dunia bukanlah ajakan untuk membenci dunia atau meninggalkannya sama sekali. Ia adalah undangan untuk meletakkan dunia pada proporsinya yang benar — memahami bahwa ia hanya sebentar, kenikmatannya tidak sempurna, dan ia adalah ladang ujian yang menentukan nasib kita yang abadi.
Dunia ini ibarat bunga yang cepat layu, air hujan yang segera mengering, dan permainan yang tiba-tiba berakhir dengan game over. Setiap detiknya berharga karena tak akan pernah kembali, dan setiap detiknya menentukan strata kita di kehidupan yang kekal. Maka alangkah ruginya jika umur yang singkat ini kita habiskan hanya untuk menumpuk sesuatu yang tak akan kita bawa mati.
Jadikanlah setiap nikmat sebagai jembatan menuju akhirat, ambillah dunia secukupnya dengan hati yang zuhud, dan manfaatkanlah umur dengan syukur, sabar, dan istighfar. Sebab pada akhirnya, kita semua sedang berjalan menuju satu titik yang sama — pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
اَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ
"Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu pasti akan menemui-Nya." (QS. Al-Insyiqaq: 6)
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: "Merenungi Hakikat Hidup di Dunia" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA YouTube: https://www.youtube.com/live/hBZP1mK5-6o

0 Komentar