Kita semua sadar betapa sering diri ini terjatuh dalam kesalahan, kekurangan, dan kemalasan. Begitulah memang sifat jiwa. Allah berfirman:
اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا
"Sesungguhnya jiwa itu benar-benar selalu menyuruh kepada keburukan." (QS. Yusuf: 53)
Kondisi seperti ini, jika tidak pernah kita evaluasi, sangatlah berbahaya. Sebab kita hidup hanya sebentar, sementara setiap detik yang kita lalui menentukan nasib kita yang abadi. Agar hidup kita mengalami progres dalam iman dan takwa — bukan sekadar berlalu begitu saja hingga umur habis tanpa terasa — maka kita membutuhkan muhasabah. Kita perlu mengaudit dan mengevaluasi diri sebelum kelak diaudit oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bahaya Meninggalkan Muhasabah
Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan peringatan yang sangat keras tentang bahaya meninggalkan muhasabah. Beliau menyebutkan bahwa yang paling berbahaya bagi seorang mukallaf (orang yang dibebani perintah dan larangan Allah) adalah sikap cuek (al-ihmal), meninggalkan muhasabah, dan membiarkan diri berjalan tanpa kendali — menggampangkan serta meremehkan berbagai urusan.
Sikap seperti ini, menurut beliau, ujung-ujungnya mengantarkan seseorang kepada kebinasaan. Inilah kondisi orang-orang yang terpedaya: mereka menutup mata dari memikirkan akibat yang akan mereka rasakan di kemudian hari, hanya bersandar pada anggapan bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga lalai dari mengevaluasi diri. Ibnu Qayyim menegaskan, jika seseorang bermodel seperti ini, akan mudah baginya terjerumus dalam dosa, terbiasa dengan maksiat, dan akhirnya sulit meninggalkannya.
Ibarat sebuah perusahaan yang tidak pernah dievaluasi, ia bisa hancur tanpa disadari oleh pemiliknya. Padahal hidup kita jauh lebih penting daripada perusahaan mana pun — sebab ketika kita meninggal, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya.
Apa Itu Muhasabah?
Para ulama menjelaskan hakikat muhasabah dengan gambaran yang sederhana namun mendalam. Al-Mawardi rahimahullah dalam kitabnya Adabud Dunya wad Din menjelaskan bahwa muhasabah adalah ketika seseorang di malam hari membuka kembali lembaran amal perbuatannya yang telah ia lakukan sepanjang siang. Ia merenungkan: "Apa saja yang telah aku lakukan hari ini, sejak selepas subuh hingga terbenamnya matahari?"
Jika yang ia lakukan ternyata baik, maka ia meneruskannya dan menyertainya dengan amalan-amalan serupa. Namun jika yang ia lakukan ternyata buruk, maka ia memperbaikinya jika memungkinkan dan berhenti dari perbuatan itu di kemudian hari.
Ibnu Qayyim rahimahullah menambahkan bahwa muhasabah adalah "membedakan mana yang menjadi hak dia dan mana yang menjadi kewajibannya." Ini persis seperti hisab di hari kiamat: Allah membangkitkan kita, lalu menghisab untuk mengklasifikasikan mana amal yang menjadi pahala dan mana yang menjadi dosa, barulah setelah itu ditimbang di mizan. Maka muhasabah di dunia berfungsi sama — membedakan apa yang baik untuk diteruskan dan apa kewajiban yang harus segera ditunaikan. Sebab kita semua akan bermusafir dalam perjalanan yang tidak akan pernah kembali, yaitu menuju kematian.
Dalil-Dalil tentang Muhasabah
Muhasabah bukan sekadar konsep, melainkan ibadah agung yang memiliki landasan kuat dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
Pertama, firman Allah dalam surah Al-Hasyr:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini dengan berkata: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Tengoklah kembali bekal apa yang telah kalian siapkan untuk hari kiamat." Zainal Abidin pun pernah mengungkapkan hakikat ini: "Perjalananku sangat jauh, sementara bekalku tidak cukup, kekuatanku semakin melemah, dan kematian selalu mengintaiku."
Kedua, firman Allah dalam surah Al-Qiyamah:
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
"Dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)." (QS. Al-Qiyamah: 2)
Perlu dipahami, jiwa memiliki tiga sifat. Ada nafsul ammarah — jiwa yang selalu mengajak kepada kemaksiatan (tercela). Ada nafsul muthma'innah — jiwa yang tenang dengan keimanan. Dan ada nafsul lawwamah — jiwa yang suka mencela. Mujahid bin Jabar, murid Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa nafsul lawwamah adalah jiwa yang menyesali dan mencela apa yang telah lewat. Ia mencela dirinya atas keburukan yang dilakukan: "Mengapa kau lakukan keburukan itu?" Dan mencela dirinya atas kebaikan yang kurang: "Mengapa kau tidak memperbanyak kebaikan itu?"
Inilah jiwa yang mengajak kepada muhasabah — jiwa yang masih sensitif. Ia berbisik: "Mengapa tadi sedekahku hanya sedikit padahal aku mampu lebih? Mengapa tadi shalat malamku hanya sebentar padahal aku sudah bangun sejak dua jam yang lalu?" Sensitivitas jiwa seperti inilah yang perlu kita jaga.
Ketiga, firman Allah tentang orang bertakwa yang digoda setan:
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat dari setan, mereka pun segera ingat (kepada Allah), maka seketika itu juga mereka melihat (kesalahannya)." (QS. Al-A'raf: 201)
Ketika setan sudah berputar-putar membisikkan godaan, orang bertakwa segera bermuhasabah — mengingat hari kiamat, mengingat keagungan Allah — sehingga mereka pun sadar.
Orang Cerdas Menurut Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
الكَيِّس مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِما بَعْدَ الْموْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَه هَواهَا، وتمَنَّى عَلَى اللَّهِ
"Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah (bodoh) adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan (surga) kepada Allah."
Imam At-Tirmidzi yang meriwayatkan hadits ini menjelaskan bahwa makna "menundukkan jiwa" (dāna nafsahu) adalah "menghisab jiwanya di dunia sebelum ia dihisab pada hari kiamat." Inilah dalil bahwa orang yang suka menghisab dirinya adalah orang yang cerdas.
Perumpamaannya seperti sebuah perusahaan. Jika kita ingin perusahaan maju, kita harus mengevaluasinya secara berkala — mengecek modal, keuntungan, dan kerugian. Dalam hidup, kita sedang berdagang bersama Allah (tijarah ma'allah), sebagaimana firman-Nya bahwa Allah membeli dari orang-orang beriman jiwa dan harta mereka dengan surga (QS. At-Taubah: 111). Maka kita perlu tahu apakah "perusahaan" kita maju atau mundur. Modal dasar kita adalah fara'id (perkara-perkara wajib), keuntungan kita adalah amalan-amalan sunnah, dan kerugian kita adalah kemaksiatan.
Sebaliknya, orang yang bodoh membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsu, lalu hanya berangan-angan masuk surga sambil terus bermaksiat. Ia berkata, "Insya Allah masuk surga, Allah Maha Pengampun, yang lebih jahat dari saya masih banyak." Anggapan bahwa seseorang bisa hidup foya-foya lalu masuk surga adalah — dalam istilah syariat — ciri orang yang pandir.
Nasihat Para Salaf tentang Muhasabah
Para salaf sangat menekankan pentingnya muhasabah. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ia ditimbang."
Beliau menambahkan bahwa hisab di hari kiamat akan menjadi ringan bagi orang yang menghisab dirinya sekarang, sebab orang yang sering mengevaluasi diri akan lebih berhati-hati.
Maimun bin Mihran berkata bahwa seseorang tidak akan termasuk golongan bertakwa hingga ia menghisab dirinya lebih ketat daripada seorang partner bisnis mengaudit rekannya. Ketika dua orang berkongsi dagang, mereka saling mengecek dengan detail demi mengambil jatah masing-masing. Maka jika ingin menjadi orang bertakwa, kita harus mengaudit diri lebih kencang daripada itu — sebab ini menyangkut surga dan neraka kita.
Hasan Al-Bashri pun berkata bahwa seorang mukmin adalah yang senantiasa meluruskan dan menilai dirinya karena Allah, sehingga hisabnya menjadi ringan. Adapun orang yang menjalani hidupnya tanpa evaluasi, hisabnya kelak akan berat.
Empat Waktu yang Tidak Boleh Dilalaikan
Imam Ahmad meriwayatkan dari Wahab bin Munabbih tentang hikmah yang tercatat dalam keluarga Nabi Daud, bahwa orang berakal hendaknya tidak melalaikan empat waktu:
Pertama, waktu untuk bermunajat kepada Rabbnya — shalat, membaca Al-Qur'an, belajar ilmu agama, dan berzikir dalam kesendirian antara dirinya dengan Allah. Kedua, waktu untuk mengevaluasi dirinya (muhasabah). Ketiga, waktu untuk berkumpul dengan teman-teman yang jujur — bukan penjilat — yang mau menunjukkan kesalahan-kesalahannya. Sebab Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya." Terkadang kita memiliki blind spot — tak mampu melihat kesalahan sendiri — sehingga membutuhkan sahabat yang menegur dengan tulus. Keempat, waktu untuk bersenang-senang dengan dunia yang halal, yang tujuannya untuk merefresh jiwa agar lebih semangat memperhatikan tiga waktu sebelumnya.
Cara Menghisab Diri: Dua Model
Menghisab diri dapat dilakukan dengan dua model: menghisab setelah melakukan perbuatan, dan menghisab sebelum melakukan perbuatan.
Model Pertama: Muhasabah Setelah Beramal
Ini adalah evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan, sebagaimana perintah dalam surah Al-Hasyr untuk melihat kembali apa yang telah diperbuat. Evaluasi ini menyangkut tiga hal:
1. Perkara-perkara wajib (fara'id) — modal dasar kita. Sudahkah shalat lima waktu kita kerjakan dengan baik? Sudahkah zakat kita tunaikan dan kita hitung dengan benar? Bagaimana puasa kita? Jika telah mampu, sudahkah kita berhaji? Jangan sampai ada perkara wajib yang tidak kita tunaikan, sebab itu berarti modal kita hancur.
Termasuk dalam perkara wajib adalah hak-hak orang lain. Ini sangat penting, sebab Ibnu Qayyim mengingatkan agar kita jangan sampai meninggal dunia sementara hak orang lain belum ditunaikan. Ketika Ibnu Umar diminta menyimpulkan ilmu, beliau berkata bahwa intinya adalah: engkau bertemu Allah dengan punggung yang ringan (tidak memikul hak orang lain), perut yang bersih (tidak makan harta haram), lisan yang terjaga (tidak menjatuhkan orang lain), dan tetap bersama jamaah kaum muslimin.
Maka seorang suami perlu bertanya: sudahkah aku menunaikan hak istriku — baik nafkah lahir (sandang, pangan, papan, tempat tinggal yang layak dan privat) maupun nafkah batin? Sudahkah aku mempergaulinya dengan baik (mu'asyarah bil ma'ruf) dan bersabar menghadapinya? Sudahkah aku mendidiknya, sebagaimana perintah Allah: "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: 6)? Jangan sampai justru kita yang merusak orientasi keluarga menjadi duniawi.
Demikian pula, seorang istri perlu mengevaluasi kewajibannya terhadap suami — ketaatan dalam kebaikan, tidak membentak, dan memenuhi haknya. Kedua orang tua pun memiliki hak yang harus ditunaikan, begitu juga anak-anak dan tetangga. Betapa banyak anak yang akhirnya curhat kepada orang lain karena orang tuanya terlalu sibuk dan cuek. Padahal jika anak dekat dengan orang tua, ia akan menjadikan orang tuanya tempat berbagi suka dan duka. Ingatlah, pada hari kiamat kelak setiap orang akan lari dari saudara, ibu, bapak, dan pasangannya — sebagian salaf menjelaskan, karena mereka tidak mau dituntut atas kewajiban yang tidak ditunaikan di dunia.
2. Amalan-amalan sunnah — keuntungan kita. Bagaimana shalat malam kita, apakah semakin naik, tetap, atau justru semakin habis? Bagaimana puasa sunnah kita — Senin-Kamis, ayyamul bidh, puasa Daud? Sudahkah kita berpuasa Syawal, Arafah, dan Muharram? Bagaimana sedekah kita dibanding tahun lalu? Sebab hidup kita seharusnya mengalami progres, bukan kemunduran.
3. Kemaksiatan — kerugian kita. Ada seorang bernama Ibnu Simmah yang berusia enam puluh tahun. Ia menghitung: seandainya ia bermaksiat sekali sehari, maka dalam enam puluh tahun ia telah mengumpulkan lebih dari dua puluh ribu maksiat. Maka jangan meremehkan dosa. Kita perlu mengevaluasi: mengapa aku dulu bermaksiat? Dari mana godaan setan datang? Abu Darda' berkata bahwa di antara tanda kepahaman seorang hamba adalah ia mengetahui dari arah mana setan menggodanya, lalu ia menghindarinya. Jika ia tergoda saat sendirian dalam safar, maka janganlah bersafar sendirian. Jika ia tergoda saat berada di tempat tertentu, maka jauhilah tempat itu. Inilah evaluasi yang berdampak baik.
Model Kedua: Muhasabah Sebelum Beramal
Ini adalah menghisab diri terhadap amal yang hendak kita kerjakan. Diriwayatkan bahwa seorang salaf, ketika diajak melayat jenazah, berkata: "Tangguhkan dulu sampai aku menghadirkan niatku." Sebab orang melayat bisa berniat macam-macam — karena Allah, karena tidak enak, atau supaya dikatakan orang shalih.
Rasulullah ﷺ juga menganjurkan muhasabah sebelum berbicara: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." Ini menunjukkan agar kita berpikir dulu sebelum berbicara, bahkan memilih diksi yang terbaik, sebagaimana firman Allah agar hamba-Nya mengucapkan perkataan yang terbaik karena setan sering mengadu domba melalui diksi yang salah (QS. Al-Isra: 53).
Muhasabah sebelum beramal memiliki beberapa tahapan yang perlu direnungkan:
Tahap pertama: Apakah aku mampu melakukannya? Jika ingin membangun masjid namun uang hanya seratus ribu, atau ingin umrah namun dana tak mencukupi, maka jangan dipaksakan. Jika ingin berbicara tentang suatu bidang, tanyakan: apakah ini ranahku? Apakah aku memiliki perangkat ilmunya? Memaksakan diri pada hal yang di luar kemampuan hanya membuang-buang umur dan waktu.
Tahap kedua: Apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya? Tidak semua yang kita anggap baik ternyata baik. Misalnya, seseorang ingin umrah tahun ini padahal ada kakak atau adiknya yang sakit dan lebih membutuhkan bantuan. Maka perlu direnungkan mana yang lebih utama.
Tahap ketiga: Apa motivasiku melakukannya? Apakah karena Allah, ataukah agar dipuji manusia, mencari kedudukan, atau mengejar followers? Sebelum membuat konten, misalnya, tanyakan pada diri sendiri dengan jujur: apa tujuannya — duniawi atau akhirat? Sebab jika niatnya tidak karena Allah, dampak buruknya pasti datang cepat atau lambat, meskipun banyak orang mengagumi. Seorang salaf berkata bahwa siapa yang menuntut ilmu hadits bukan karena Allah, Allah akan membuat makar kepadanya — ia tampak jaya, tetapi hancur di baliknya.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah adalah teladan dalam hal ini. Beliau paling ketat menghisab dirinya dan paling sedikit berbicara. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab bahwa yang menghalanginya banyak berbicara adalah kekhawatiran akan bangga diri. Sebab orang yang menghisab dirinya sebelum berbicara akan menjadi sedikit bicara, sementara orang yang cuek akan berbicara — bahkan memaki dan menuduh — seenaknya, seolah tidak ada malaikat yang mencatat.
Perkara-Perkara yang Akan Dihisab oleh Allah
Agar muhasabah kita tajam, kita perlu menghadirkan dalam diri perkara-perkara yang akan Allah tanyakan kelak. Secara umum, seluruh amal perbuatan kita akan dihisab, sebagaimana firman Allah bahwa Dia pasti akan menanyai semua manusia atas apa yang mereka kerjakan (QS. Al-Hijr: 92-93). Namun ada beberapa perkara yang secara spesifik disebutkan dalam dalil, sehingga kita perlu lebih memperhatikannya.
Lihatlah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Ketika kekuasaan kaum muslimin telah meluas hingga Irak, beliau berkata bahwa seandainya ada seekor bagal yang tersungkur di Irak karena jalannya tidak rata, beliau yakin Allah akan bertanya kepadanya: "Mengapa kau tidak ratakan jalan itu, wahai Umar?" Betapa beliau merasa akan dihisab bahkan atas seekor hewan di bawah kepemimpinannya. Kesadaran semacam inilah yang menjadikannya pemimpin yang mulia.
Di antara perkara yang secara spesifik akan dihisab adalah:
Pertama, tauhid dan kesyirikan. Allah akan bertanya kepada kaum musyrikin: "Mana sekutu-sekutu yang kalian sembah?" Ini pertanyaan terberat bagi mereka.
Kedua, janji. Allah berfirman: "Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 34). Ini mencakup janji sesama manusia, apalagi janji dan nazar kepada Allah.
Ketiga, pendengaran, penglihatan, dan hati. Allah berfirman: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36). Apa saja yang telah kita lihat dan dengar akan ditanya. Hati pun akan ditanya tentang hasad, dengki, keikhlasan, tawakal, dan kesombongan.
Keempat, seluruh kenikmatan. Allah berfirman: "Kemudian kalian benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian nikmati)." (QS. At-Takatsur: 8). Kita akan ditanya: di mana kau gunakan nikmat itu untuk bersyukur? Maka jika memiliki kelebihan nikmat, bagi-bagikanlah, jangan ditimbun — sebab orang pelit ibarat penjaga setia brankas yang tak pernah menikmati apa yang dijaganya.
Kelima, empat perkara khusus. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, ke mana ia habiskan; tentang masa mudanya, ke mana ia gunakan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan.
Perhatikan tentang harta — ada dua pertanyaan: dari mana diperoleh, dan ke mana dibelanjakan. Pertanyaan "dari mana" telah membinasakan banyak orang. Maka jika ada yang haram atau syubhat, tinggalkanlah, sebab Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik — Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Jibril mewahyukan bahwa satu jiwa tidak akan mati hingga sempurna rezekinya. Adapun pertanyaan "ke mana dibelanjakan" menuntut kita menghindari pemborosan (israf) — yaitu membeli barang mahal yang fungsinya sedikit — sebab di saat banyak orang kelaparan, foya-foya yang tak perlu akan sulit dipertanggungjawabkan.
Wara' dan Zuhud sebagai Landasan Hidup
Agar hisab kita kelak selamat, hendaknya kita menjadikan wara' dan zuhud sebagai landasan hidup sehari-hari.
Wara' adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan berbahaya di akhirat — yakni meninggalkan perkara-perkara syubhat. Ketika ada tawaran muamalah atau usaha yang meragukan — mungkin melanggar aturan, merugikan negara, atau merugikan pedagang lain — dan hati kita tidak tenang, maka tinggalkanlah. Praktikkan wara' satu demi satu, sebab jika kita membiarkan diri berkata "yang penting belum jelas haram", perlahan-lahan kita bisa terjerumus ke dalam neraka.
Zuhud kedudukannya lebih tinggi daripada wara'. Ibnu Taimiyah rahimahullah mendefinisikannya sebagai "meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat." Inilah tolok ukur yang sangat praktis: sebelum melakukan atau membeli sesuatu, tanyakan — adakah manfaatnya di akhirat? Jika ada, lakukanlah tanpa ragu. Membeli mobil untuk memudahkan safar dakwah, menyenangkan orang tua, atau menjaga istri dari berkhalwat dengan laki-laki lain — semua boleh selama diniatkan untuk akhirat. Berolahraga agar kuat beribadah dan berhaji juga bernilai akhirat. Namun jika suatu perbuatan tidak memiliki manfaat akhirat dan tak sanggup kita pertanggungjawabkan kelak, maka meninggalkannya adalah pilihan yang lebih bijak agar hisab kita ringan.
Imam Bukhari rahimahullah adalah teladan dalam menghisab setiap perbuatannya. Sekretarisnya menceritakan bahwa suatu ketika ia melihat Imam Bukhari berbaring istirahat di tengah kesibukan menulis dan mentakhrij hadits. Ia bertanya, karena Imam Bukhari pernah berkata bahwa beliau tidak melakukan sesuatu kecuali dengan ilmu dan dalil — lalu apa ilmunya berbaring seperti itu? Imam Bukhari menjawab bahwa ia berbaring sejenak untuk memulihkan energi, sebab menulis hadits adalah perjuangan menjaga perbatasan ilmu; jika sewaktu-waktu ada "serangan", ia ingin memiliki tenaga untuk melawan. Setiap yang beliau lakukan diniatkan karena Allah.
Kesimpulan
Muhasabah adalah kunci kecerdasan sejati. Orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak hartanya atau paling tinggi kedudukannya, melainkan yang senantiasa menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Ia mengaudit modal dasarnya (perkara wajib dan hak-hak orang lain), menghitung keuntungannya (amalan sunnah), dan mewaspadai kerugiannya (kemaksiatan).
Ia menghisab dirinya bukan hanya setelah beramal — dengan merenungkan apa yang telah lewat untuk diperbaiki — tetapi juga sebelum beramal, dengan bertanya tentang kemampuan, kebaikan, dan yang terpenting: motivasi di baliknya. Ia menjadikan wara' dan zuhud sebagai kompas, sehingga tidak sembarangan melangkah dalam hidup yang singkat ini.
Sebagaimana pesan Umar bin Khattab: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab." Sebab siapa yang sering mengevaluasi diri di dunia, hisabnya akan ringan di akhirat. Dan siapa yang membiarkan dirinya berjalan tanpa evaluasi, ia akan menghadapi hisab yang berat — bahkan bisa binasa tanpa menyadarinya.
Semoga Allah meringankan hisab kita pada hari kiamat, bahkan memasukkan kita ke dalam surga tanpa azab dan tanpa hisab. Sebab sungguh, hisab itu sangatlah berat.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: "Orang yang Cerdas adalah Orang yang Menghisab Dirinya" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=XAHxx1n4C4c

0 Komentar