"Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya."
Inilah yang menjadikan kesudahan hidup begitu menentukan. Seluruh kebaikan maupun keburukan yang kita lakukan selama ini akan disimpulkan oleh amalan terakhir kita. Karena itu, memikirkan husnul khatimah adalah kesibukan orang-orang shalih. Mereka gelisah dengan kesudahan mereka, sebab tak seorang pun tahu apa yang tercatat di Lauhul Mahfudz tentang akhir hidupnya.
Lihatlah bagaimana para salaf begitu khawatir tentang hal ini. Ibnu Abi Mulaikah, seorang tabiin, berkata bahwa ia pernah bertemu dengan tiga puluh sahabat Nabi ﷺ yang semuanya khawatir ada kemunafikan dalam diri mereka — tak seorang pun dari mereka merasa aman dari kemunafikan. Bahkan para sahabat yang telah dijamin surga pun tidak merasa aman.
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu telah dikabari oleh Nabi ﷺ bahwa beliau di surga, bahkan Nabi ﷺ pernah melihat istananya di surga dan mengabarkan bahwa setan pun takut melewati jalan yang dilalui Umar. Namun dengan semua kabar gembira itu, Umar tetap dipenuhi rasa takut kepada Allah. Beliau bahkan pernah bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu 'anhu — sahabat yang dipercaya memegang rahasia nama-nama orang munafik — apakah dirinya termasuk yang disebut Nabi ﷺ sebagai orang munafik. Ketika seseorang memuji Umar, beliau justru berkata bahwa ia hanya berharap "impas" — tidak mendapat pahala dan tidak pula menanggung dosa; yang terpenting baginya adalah selamat saat berjumpa dengan Allah.
Demikian pula Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah. Beliau sangat gelisah memikirkan masa lalunya dan bagaimana kesudahannya, sampai menangis dan berkata bahwa ia khawatir tercatat di Lauhul Mahfudz sebagai orang yang celaka, dan khawatir imannya dicabut ketika ia meninggal.
Jika para sahabat dan ulama sebesar itu saja gelisah, tentu kita lebih layak untuk gelisah — mengingat betapa sedikitnya amal shalih kita dan betapa banyaknya pelanggaran yang kita lakukan di zaman yang penuh media sosial dan fitnah ini. Maka janganlah kita terpedaya dengan amal kita: jangan terpedaya dengan ilmu, sedekah, shalat malam, hafalan Qur'an, pujian manusia, atau banyaknya pengikut. Sebab semua itu tidak menjamin kita meninggal dalam husnul khatimah — kita tidak tahu apakah amal kita ikhlas dan diterima atau tidak.
Apa Itu Husnul Khatimah?
Secara sederhana, husnul khatimah adalah kesudahan yang indah — yaitu seseorang meninggal dalam kondisi bertakwa kepada Allah, imannya baik, dan Islamnya baik. Bukan dalam kondisi bermaksiat atau sedang melanggar perintah Allah.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah akan "mempekerjakannya" — yaitu memberi taufik dan hidayah kepadanya untuk beramal shalih sebelum ia meninggal dunia. Inilah husnul khatimah: meninggal dalam kondisi sedang beramal shalih.
Orang yang meninggal dalam husnul khatimah akan merasakan kebahagiaan menjelang rohnya dicabut. Allah berfirman:
يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27)
Sebagian ulama menafsirkan bahwa keteguhan ini terjadi ketika sakaratul maut (sehingga ia mudah mengucapkan kalimat keimanan), di alam barzakh (ketika ditanya Malaikat Munkar dan Nakir), dan di akhirat. Allah juga berfirman bahwa bagi orang-orang yang beriman dan istiqamah, para malaikat akan turun menjelang kematian mereka seraya berkata: "Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS. Fussilat: 30)
Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa barangsiapa mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah pun mencintai perjumpaan dengannya. Ketika Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya — bukankah kita semua tidak menyukai kematian? — Nabi ﷺ menjelaskan bahwa maksudnya bukan takut mati, melainkan bahwa seorang mukmin ketika diberi kabar gembira dengan rahmat dan keridhaan Allah menjelang wafatnya, ia pun rindu untuk segera berjumpa dengan-Nya.
Kabar baiknya, meskipun kita tidak tahu bagaimana kesudahan kita, Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan sebab-sebab yang dapat kita usahakan untuk meraih husnul khatimah. Secara umum, amal shalih adalah sebabnya. Namun ada beberapa sebab khusus yang perlu kita perhatikan.
1. Bertakwa kepada Allah
Sebab pertama dan paling utama adalah ketakwaan kepada Allah. Perhatikan bagaimana Al-Qur'an menggandengkan takwa dengan husnul khatimah:
"Yā ayyuhalladzīna āmanut taqullāha haqqa tuqātihi wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn." "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam." (QS. Ali 'Imran: 102)
Kita tahu bahwa sakaratul maut adalah momen yang amat berat — Nabi ﷺ sendiri merasakan beratnya. Pada saat itulah setan akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk menggelincirkan seseorang di kesempatan terakhirnya. Ada kisah nyata seorang yang semasa hidupnya jauh dari agama; menjelang wafat ia meminta anaknya mengambil mushaf. Sang anak begitu bahagia mengira ayahnya akan bertobat — namun ternyata sang ayah justru meludahi mushaf itu dan berkata bahwa ia kafir kepada kitab tersebut, lalu meninggal. Inilah bukti bahwa tidak semua orang mampu tegar di penghujung hayatnya.
Namun jika seseorang bertakwa kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar dan kemudahan, sebagaimana firman-Nya: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya" (QS. At-Talaq: 2) dan "...niscaya Dia akan menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya" (QS. At-Talaq: 4). Jika seseorang melatih diri untuk bertakwa saat masih hidup — baik di hadapan banyak orang maupun ketika sendirian — maka niscaya Allah akan memudahkannya di penghujung hidup.
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah penting ketika menafsirkan ayat ini: barangsiapa hidup di atas suatu kebiasaan, ia akan meninggal di atas kebiasaan itu; dan barangsiapa meninggal di atas suatu kondisi, ia akan dibangkitkan dalam kondisi tersebut. Karena itulah banyak kisah orang yang meninggal dalam kondisi sedang bermaksiat — meninggal saat memegang kartu judi, saat berzina, saat minum khamr, atau saat bernyanyi dan berjoget — sehingga sebagian dari mereka tidak mampu mengucapkan kalimat La ilaha illallah di akhir hayatnya.
Takwa yang dimaksud haruslah menyeluruh. Allah menyebutnya libasut taqwa (pakaian takwa) (QS. Al-A'raf: 26) — seakan-akan seluruh tubuh kita dibaluti ketakwaan. Seseorang bertakwa dalam perbuatannya, pandangannya, pendengarannya, dan hatinya. Barangsiapa senantiasa melazimi ketakwaan, niscaya ia akan wafat dalam kondisi bertakwa.
2. Memperbanyak Mengingat Kematian
Sebab kedua adalah senantiasa mengingat kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِى الْمَوْتَ
"Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu kematian)." (HR. Tirmidzi)
Ketika seseorang sering mengingat kematian, ia akan senantiasa bersiap menghadapinya. Karena itulah, ketika Nabi ﷺ ditanya siapa mukmin yang paling cerdas, beliau menjawab bahwa mereka adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk menghadapinya.
Sebaliknya, siapa yang lupa dengan kematian akan diuji dengan tiga perkara. Pertama, taswif at-taubah — menunda-nunda tobat, selalu berkata "nanti saja". Kedua, tarkul kafaf — tidak pernah merasa cukup, sehingga terus-menerus rakus mengejar dunia tanpa pernah puas. Ketiga, malas beribadah — merasa seolah tak akan pernah mati sehingga menunda-nunda ibadah.
Karena itu, Nabi ﷺ menganjurkan ziarah kubur untuk mengingatkan kita pada akhirat. Ketika kita berdiri di pekuburan, kita menyaksikan orang-orang yang dahulu berlomba mengumpulkan harta dan meraih jabatan, kini terbaring di dalam tanah. Kita pun kelak akan seperti mereka. Al-Qurthubi bahkan menyebutkan bahwa menghadiri orang yang sedang sakaratul maut termasuk hal yang dapat menyembuhkan hati yang penuh kotoran, sebab kita menyaksikan langsung bagaimana kelak keadaan kita.
3. Bersegera Bertaubat
Sebab ketiga adalah bersegera bertaubat dan tidak menunda-nundanya. Allah berfirman:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ
"Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu." (QS. Ali 'Imran: 133)
Para ulama menegaskan bahwa bertaubat adalah kewajiban yang harus disegerakan (fauri) dan tidak boleh ditunda. Jika seseorang menunda tobatnya, penundaan itu sendiri adalah dosa tersendiri.
Kita semua tidak luput dari kemaksiatan setiap hari — entah dari apa yang kita dengar, kita ucapkan, atau kita lihat, terlebih di zaman media sosial ini. Maka jangan pernah menunda tobat. Setan akan membisikkan "nanti saja, nanti saja", padahal kita tidak tahu kapan dipanggil oleh Allah. Setiap kali kita bermaksiat, segeralah beristighfar: astaghfirullah wa atubu ilaih — baik ketika sedang berjalan, berkendara, maupun dalam kondisi apa pun.
4. Memperbanyak Amal Rahasia
Sebab keempat adalah memperbanyak amal shalih yang tersembunyi, yang tidak diketahui orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa di antara kalian mampu memiliki amal shalih yang tersembunyi, maka lakukanlah."
Mengapa ini penting? Karena di antara sebab seseorang terjerumus dalam su'ul khatimah (akhir yang buruk) adalah amalan buruk yang ia sembunyikan. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ada orang yang beramal dengan amalan penghuni surga — sebagaimana tampak di mata manusia — hingga jaraknya dengan surga tinggal sehasta, namun takdir mendahuluinya sehingga ia melakukan amalan penghuni neraka dan masuk neraka. Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa yang tampak di mata manusia adalah amal shalihnya, tetapi di balik itu tersimpan amalan buruk atau penyakit hati seperti kesombongan, riya', dan merendahkan orang lain — yang dampaknya muncul di penghujung hayat.
Ada perumpamaan yang indah tentang cara membersihkan dosa. Ketika ada air kencing (najis) di dalam sebuah ember, ada dua cara membersihkannya: membuang najis itu, atau menuangkan air bersih sebanyak-banyaknya hingga najis tersebut tidak lagi berpengaruh. Demikian pula dosa: sebagian orang mampu langsung meninggalkan maksiatnya (ibarat membuang najis), sementara sebagian lain yang masih tertawan syahwatnya dapat melawannya dengan memperbanyak amal shalih yang tersembunyi (ibarat menuangkan air bersih) hingga dosa itu tidak lagi berpengaruh.
Ada kisah seorang petugas ambulans di Arab yang baru pertama kali bertugas. Ketika tiba di lokasi kecelakaan, ada seorang pemuda dengan luka parah. Ketika diajak bicara, pemuda itu hanya tersenyum, lalu membaca ayat dari surah Al-Hujurat — tentang Allah yang menjadikan hamba-Nya cinta kepada iman dan membenci kekufuran — dan meninggal dengan ayat itu sebagai ucapan terakhirnya. Ternyata, menurut ayahnya, pemuda itu orang biasa saja, namun setiap kali menerima gaji ia selalu menyisihkan sebagian untuk membeli sembako dan membagikannya kepada orang-orang susah, secara rutin, tanpa banyak yang tahu. Amal rahasia inilah yang barangkali menjadi sebab Allah menakdirkannya husnul khatimah.
Maka renungkanlah: adakah amal kita yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah? Jika semua amal kita sudah diketahui orang, buatlah amal-amal baru yang tersembunyi. Berhati-hatilah, sebab di zaman media sosial, seseorang begitu mudah menyebarkan amal shalihnya — yang jika tidak berhati-hati akan terjerumus dalam riya', atau minimal mengurangi pahalanya.
5. Berdoa Memohon Husnul Khatimah
Sebab kelima adalah berdoa. Allah mengabadikan doa Nabi Yusuf 'alaihissalam yang, setelah melewati berbagai ujian dan akhirnya dimuliakan, tetap berdoa:
تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ
"Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih." (QS. Yusuf: 101)
Demikian pula Ulul Albab dalam surah Ali 'Imran berdoa: "...dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti." (QS. Ali 'Imran: 193). Begitu juga para penyihir Fir'aun yang, ketika diancam disalib setelah beriman, berdoa: "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam." (QS. Al-A'raf: 126)
Di antara doa yang sangat dianjurkan adalah doa menjelang tidur, sebab kita tidak tahu apakah akan bangun kembali. Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar sebelum tidur kita berwudhu seperti wudhu untuk shalat, berbaring pada sisi kanan, lalu membaca doa yang diakhiri dengan: "Allahumma amantu bikitabikalladzi anzalta wa binabiyyikalladzi arsalta" — dan Nabi ﷺ berpesan menjadikannya sebagai ucapan terakhir; sehingga jika meninggal, ia meninggal di atas fitrah (Islam).
Doa lain yang dapat dibaca adalah doa Nabi ﷺ: "Allahumma inni as'aluka fi'lal khairat wa tarkal munkarat wa hubbal masakin... wa idza aradta bi 'ibadika fitnatan faqbidhni ilaika ghaira maftun" — memohon kepada Allah agar dicabut nyawanya dalam kondisi selamat dari fitnah. Kita juga dapat memohon dengan doa ringkas: "Allahumma zuqni husnal khatimah" — Ya Allah, anugerahkanlah aku husnul khatimah.
6. Berbaik Sangka kepada Allah
Sebab keenam adalah berbaik sangka (husnuzhan) kepada Allah, terutama menjelang wafat. Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, tiga hari sebelum wafat Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah."
Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman: "Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku dengan apa yang ia sukai." Jika kita berprasangka baik, maka kebaikanlah bagi kita; jika berprasangka buruk, maka keburukanlah bagi kita.
Dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ menemui seorang pemuda yang sedang sakaratul maut dan bertanya bagaimana keadaannya. Pemuda itu menjawab bahwa ia berharap kepada Allah sekaligus takut akan dosa-dosanya. Maka Nabi ﷺ bersabda bahwa tidaklah berkumpul dua perkara ini — harap dan takut — dalam hati seorang hamba di saat seperti itu, kecuali Allah akan mengabulkan harapannya dan mengamankannya dari apa yang ia takutkan.
Husnuzhan seperti ini sulit dihadirkan kecuali oleh orang yang terbiasa berbaik sangka kepada Allah semasa hidupnya. Karena itu, hendaknya kita banyak belajar tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya, agar mudah bagi kita untuk husnuzhan kepada-Nya.
7. Jangan Menzalimi Orang Lain
Sebab ketujuh adalah berusaha meninggal dalam kondisi tidak menzalimi siapa pun. Bisa jadi seseorang meninggal dalam su'ul khatimah karena doa orang yang pernah ia zalimi. Rasulullah ﷺ memperingatkan agar kita takut kepada doa orang yang terzalimi, sebab tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah — ia langsung dikabulkan.
Berhati-hatilah. Orang yang kita hinakan, kita maki, atau kita rendahkan, bisa jadi di tengah malam menengadahkan tangannya berdoa keburukan atas kita — dan doa itu bisa dikabulkan menjelang kita wafat.
Ketika seseorang meminta Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menuliskan kesimpulan ilmu, beliau menjawab bahwa ilmu itu sangat banyak, namun kesimpulannya adalah: jika engkau mampu bertemu Allah dengan punggung yang ringan (tidak menanggung darah dan penganiayaan orang lain), perut yang kosong (tidak makan harta haram), dan lisan yang terjaga (tidak menjatuhkan kehormatan orang lain), serta tetap bersama jamaah kaum muslimin — maka lakukanlah.
Maka berhati-hatilah menzalimi orang, terutama orang-orang terdekat yang haknya justru sering terabaikan. Seorang suami bisa menzalimi istrinya dengan menghina dan tidak menunaikan haknya; seorang istri bisa menzalimi suaminya dengan membangkang dan tidak menunaikan kewajibannya. Demikian pula terhadap anak, orang tua, saudara, tetangga, dan sesama muslim. Jika kita pernah berbuat salah kepada seseorang, segeralah meminta maaf. Termasuk hikmah doa dzikir pagi-petang adalah memohon perlindungan agar tidak mendatangkan keburukan kepada diri sendiri maupun orang lain.
8. Berbuat Baik kepada Orang Lain
Sebab kedelapan adalah berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuknya — dengan harta, tenaga, pikiran, maupun syafaat (perantaraan kebaikan). Rasulullah ﷺ bersabda:صَنائعُ المعروفِ تقي مصارعَ السُّوءِ
"Perbuatan-perbuatan baik akan menjaga (pelakunya) dari kesudahan-kesudahan yang buruk."
Bahkan jika kita tidak mampu membantu dengan harta, kita bisa membantu dengan syafaat — seperti menghubungkan orang yang membutuhkan dengan orang yang mampu menolongnya — dan itu tetap berpahala. Berbuat baik kepada orang lain memiliki pengaruh luar biasa dalam mengantarkan seseorang meraih husnul khatimah.
Tanda-Tanda Husnul Khatimah
Di samping sebab-sebab di atas, para ulama menyebutkan beberapa tanda yang menunjukkan seseorang meninggal dalam husnul khatimah:
Pertama, mengucapkan syahadat di akhir hayatnya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa yang ucapan terakhirnya La ilaha illallah, ia akan masuk surga. Ada kisah seorang kerabat yang bukan ahli ibadah namun sangat baik kepada kerabatnya; menjelang wafat, sekitar dua-tiga tahun sebelumnya, ia tiba-tiba ingin belajar agama, dan akhirnya meninggal seraya mengucapkan dua kalimat syahadat — boleh jadi karena kebiasaannya membantu orang lain.
Kedua, meninggal dengan keringat di dahi. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa seorang mukmin meninggal dengan keringat yang bercucuran di dahinya.
Ketiga, meninggal di malam Jumat atau siang hari Jumat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang muslim yang meninggal pada hari atau malam Jumat akan Allah jaga dari fitnah (pertanyaan) kubur.
Keempat, meninggal di medan jihad atau dalam perjalanan menuju/pulang darinya di jalan Allah.
Kelima, meninggal karena wabah/penyakit menular. Sebagian ulama mengiaskan wabah-wabah lain dengannya. Termasuk pula berbagai sebab yang dihukumi mati syahid: meninggal karena penyakit perut, tenggelam, tertimpa bangunan, terbakar, serta wanita yang meninggal saat melahirkan — dengan catatan orang tersebut adalah orang yang bertakwa.
Keenam, meninggal dalam kondisi dipuji oleh orang-orang beriman. Dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ketika para sahabat memuji sebuah jenazah, Nabi ﷺ bersabda "wajabat" (pasti). Ketika mereka menjelekkan jenazah lain, beliau juga bersabda "wajabat". Umar bertanya apa maksudnya, dan Nabi ﷺ menjelaskan bahwa yang mereka puji kebaikannya wajib baginya surga, yang mereka cela wajib baginya neraka, seraya bersabda: "Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi."
Kesimpulan
Husnul khatimah adalah impian yang tidak datang secara kebetulan. Ia adalah buah dari perjalanan hidup yang dijalani dalam ketakwaan, kesadaran akan kematian, dan kesungguhan dalam beramal. Kita memang tidak mengetahui apa yang tercatat tentang kesudahan kita, namun Allah dan Rasul-Nya telah menunjukkan jalan-jalan yang bisa kita tempuh: bertakwa kepada Allah, banyak mengingat kematian, bersegera bertaubat, memperbanyak amal rahasia, berdoa, berbaik sangka kepada Allah, tidak menzalimi orang lain, dan berbuat baik kepada sesama.
Sebagaimana kaidah Ibnu Katsir: kita akan meninggal di atas kebiasaan yang kita jalani semasa hidup. Maka marilah kita membiasakan diri di atas ketakwaan, agar Allah meneguhkan kita di penghujung hayat — dan menutup kehidupan kita dengan kesudahan yang indah.
Janganlah kita terpedaya oleh amal yang telah lalu, dan janganlah pula berputus asa dari rahmat Allah. Yang terpenting adalah terus berusaha, terus berdoa, dan senantiasa berbaik sangka kepada Allah hingga saat perjumpaan itu tiba.
"Allahumma tawaffanā muslimīn wa alhiqnā bish shālihīn." "Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan muslim dan gabungkanlah kami dengan orang-orang yang shalih."
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: "Sebab-Sebab Husnul Khatimah" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
0 Komentar