Ada satu ukuran kejujuran yang jarang kita sadari: bagaimana kita bersikap ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Para ulama terdahulu memahami hal ini dengan sangat mendalam. Diriwayatkan bahwa Imam Malik rahimahullah memiliki kebiasaan khusus setiap kali ada tamu yang datang untuk mempelajari hadis Rasulullah ï·º kepadanya. Jika mereka datang membahas urusan duniawi, beliau akan segera keluar menemui mereka apa adanya. Namun jika mereka datang untuk mempelajari hadis, beliau akan lebih dulu mandi, mengenakan parfum, memilih pakaian terbaik, memakai imamah, lalu duduk dengan penuh wibawa sambil membakar gaharu hingga ruangan itu semerbak. Para ulama menyimpulkan kaidah dari sikap ini, man lam yukrimil 'ilma lam yukrimhul 'ilmu — barang siapa tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan memuliakannya.
Kebiasaan mulia semacam ini menjadi ujian kejujuran yang sesungguhnya, terutama bagi siapa saja yang mengikuti kajian secara pribadi di rumah, tanpa ada mata orang lain yang menyaksikan. Ketika seseorang tetap menjaga penampilan dan kesungguhan duduknya meski hanya sendirian di hadapan Allah, di situlah kejujurannya diuji. Sebab kejujuran bukan hanya soal ucapan yang sesuai kenyataan, melainkan konsistensi sikap antara yang tampak di hadapan orang lain dengan yang tersembunyi ketika sendirian. Dan tema besar inilah yang justru menjadi inti dari sebuah hadis panjang tentang seorang tokoh yang, meski belum beriman, terpaksa mengakui kejujuran dakwah Rasulullah ï·º di hadapan penguasa Romawi.
Ketika Musuh Diminta Bersaksi tentang Kejujuran Nabi ï·º
Kisah ini bermula dari penggalan hadis panjang riwayat Bukhari dan Muslim tentang pertemuan antara Abu Sufyan Sakhr bin Harb dengan Heraklius, Kaisar Romawi. Peristiwa itu terjadi ketika Abu Sufyan bersama rombongan dagang Quraisy berangkat dari Makkah menuju Syam. Mendengar kedatangan mereka, Heraklius yang dikenal cerdas dan memahami kitab-kitab suci terdahulu mengundang Abu Sufyan untuk berdialog. Yang perlu digarisbawahi, saat itu Abu Sufyan belum masuk Islam. Ia bahkan adalah panglima pasukan Quraisy dalam Perang Uhud dan salah satu tokoh utama yang memerangi dakwah Rasulullah ï·º di Perang Badar, dengan dendam pribadi atas kekalahannya.
Di tengah dialog tersebut, Heraklius bertanya, "Apa yang diperintahkan Muhammad kepada kalian?" Abu Sufyan menjawab bahwa Nabi ï·º memerintahkan mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun, meninggalkan apa yang biasa diwariskan nenek moyang mereka jika tidak berdasar, serta memerintahkan mereka mendirikan shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahim. Jawaban ini keluar dari mulut seorang musuh, seorang yang secara terang-terangan memerangi Nabi ï·º di medan perang, namun tetap menyampaikan fakta apa adanya tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan.
Sosok Abu Sufyan, dari Musuh Menjadi Mertua, hingga Muslim Sejati
Abu Sufyan bernama lengkap Sakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdi Manaf. Beliau lahir sekitar sepuluh tahun sebelum kelahiran Nabi ï·º dan wafat sekitar dua puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah ï·º, pada masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, dalam usia yang sudah sangat sepuh. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh Quraisy paling pemberani dan pedagang ulung, yang memimpin pasukan Quraisy dalam Perang Uhud maupun Perang Khandaq.
Menariknya, jauh sebelum masuk Islam, Abu Sufyan sesungguhnya telah memiliki ikatan kekerabatan dengan Nabi ï·º melalui jalur pernikahan. Beliau adalah ayah dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha, yang dinikahi oleh Rasulullah ï·º ketika Abu Sufyan sendiri belum memeluk Islam. Ketika kabar pernikahan itu sampai kepadanya, Abu Sufyan berkomentar bahwa Muhammad adalah seorang yang mulia, dan seorang yang mulia tidak mungkin ditolak lamarannya. Abu Sufyan akhirnya masuk Islam menjelang Fathu Makkah, ketika Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu 'anhu membawanya menghadap Rasulullah ï·º untuk meminta jaminan keamanan baginya. Rasulullah ï·º bahkan mengumumkan bahwa siapa pun yang memasuki rumah Abu Sufyan akan mendapat keamanan, sebuah kehormatan yang begitu meluluhkan hatinya. Setelah Perang Hunain, Nabi ï·º turut memberinya seratus ekor unta. Sejak itu Abu Sufyan tumbuh menjadi seorang muslim yang sejati dan sangat dihormati oleh Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.
Pengakuan yang Datang dari Pihak yang Memusuhi
Dari kisah ini kita memetik pelajaran besar: kemuliaan Rasulullah ï·º diakui oleh kawan maupun lawan. Abu Sufyan, dalam kondisi belum beriman dan bahkan pernah memimpin peperangan melawan Nabi ï·º, tetap menyampaikan dakwah Rasulullah ï·º secara jujur dan adil di hadapan Heraklius, tanpa satu pun tuduhan buruk. Ini berbeda dengan banyak orang di masa sekarang yang memusuhi Islam tanpa pernah benar-benar mengenal siapa Nabi Muhammad ï·º, sehingga tuduhan yang dilontarkan sering kali jauh dari fakta. Musuh Nabi ï·º pada masa silam mengenal beliau secara langsung dan tetap berlaku adil dalam kesaksian mereka, sebuah pelajaran yang layak menjadi cermin bagi siapa saja yang menghadapi penolakan dari keluarga atau lingkungan ketika mulai berusaha memperbaiki diri.
Inti Dakwah Setiap Nabi: Tauhid dan Menjauhi Kesyirikan
Poin pertama yang disampaikan Abu Sufyan adalah bahwa Nabi ï·º mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi kesyirikan. Ini bukan sekadar misi dakwah Nabi Muhammad ï·º semata, melainkan misi seluruh nabi dan rasul sepanjang zaman. Allah berfirman dalam (QS. An-Nahl: 36) bahwa Dia telah mengutus rasul kepada setiap umat dengan pesan yang sama, sembahlah Allah dan jauhilah thaghut. Di antara umat tersebut ada yang mendapat petunjuk dan ada pula yang tersesat. Apa pun tema pembahasan yang kita ambil, baik shalat, zakat, puasa, rumah tangga, muamalah, maupun akhlak, semuanya harus kembali bermuara pada pemurnian ibadah kepada Allah semata.
Poin berikutnya berkaitan dengan sikap terhadap warisan leluhur. Dakwah Nabi ï·º mengajarkan agar meninggalkan kebiasaan nenek moyang yang tidak memiliki dasar dalil, sebab segala sesuatu dalam agama harus berlandaskan ilmu yang sahih. Adapun warisan yang selaras dengan dalil, maka layak dipertahankan. Sikap ini sesungguhnya sejalan dengan cara berpikir ilmiah yang terbuka terhadap kebenaran, selama kebenaran itu bisa dipertanggungjawabkan.
Shalat sebagai Garis Pembeda
Nabi ï·º juga sangat menekankan perkara shalat. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau bersabda bahwa yang membedakan antara seorang muslim dengan kekufuran adalah shalat; barang siapa meninggalkannya, ia telah terjatuh ke dalam kekufuran. Bahkan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan adanya kesepakatan di kalangan ulama bahwa seseorang yang dengan sengaja meninggalkan shalat walau hanya satu kali tanpa uzur syar'i, dosanya lebih besar daripada dosa zina. Peringatan ini sepatutnya membuat setiap muslim benar-benar menjaga shalatnya dengan sungguh-sungguh.
Jujur kepada Allah, Fondasi dari Segala Kejujuran
Perintah berikutnya yang disebut Abu Sufyan adalah kejujuran, dan inilah inti pembahasan kita. Para ulama membagi kejujuran menjadi dua: jujur kepada Allah dan jujur kepada sesama makhluk, dengan kejujuran kepada Allah sebagai fondasi utamanya. Kejujuran jenis ini jauh lebih dalam daripada sekadar menyampaikan sesuatu sesuai fakta. Ambillah contoh ghibah. Menceritakan aib seseorang yang memang benar adanya mungkin terlihat "jujur" dalam pemahaman sederhana tentang hubungan antar-manusia, namun perbuatan itu tetap dibenci oleh Allah, dan karenanya tidak jujur di hadapan-Nya, meskipun faktanya benar.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mendefinisikan orang yang shiddiq sebagai seseorang yang seluruh pencariannya di dunia hanyalah keridhaan Allah, seluruh amalnya adalah menjalankan perintah-Nya, dan seluruh kejarannya adalah kecintaan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada dirinya. Jika seseorang mampu mengisi hari-harinya dengan tiga hal ini, mencari ridha Allah, menjalankan perintah-Nya, dan mengejar cinta-Nya, maka ia telah jujur kepada Allah, dan kejujuran itu dengan sendirinya akan melahirkan kejujuran kepada sesama manusia.
Menjaga Kehormatan dan Menyambung Silaturahim
Perintah selanjutnya adalah menjaga kehormatan, atau iffah, yang oleh sebagian ulama seperti Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah dibagi menjadi dua bentuk. Pertama, kehormatan yang berkaitan dengan syahwat, yaitu menjauhi zina dan segala jalan menuju zina, sebagaimana firman Allah dalam (QS. Al-Isra: 32) yang melarang bahkan mendekatinya. Kedua, kehormatan yang berkaitan dengan apa yang dimiliki orang lain, yaitu menahan diri dari meminta-minta kepada sesama, sebab segala permintaan dan pertolongan hakikatnya hanya layak ditujukan kepada Allah semata.
Perintah terakhir yang disebutkan dalam hadis ini adalah silaturahim. Rasulullah ï·º bersabda bahwa barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim. Semua perintah ini, tauhid, meninggalkan warisan tanpa dalil, shalat, kejujuran, menjaga kehormatan, dan silaturahim, disaksikan dan diakui kebenarannya bahkan oleh seorang musuh yang saat itu belum beriman. Itulah bukti bahwa kebenaran dakwah Nabi Muhammad ï·º tidak bisa disangkal, bahkan oleh mereka yang paling keras menentangnya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 123. Perintah Itu Bernama Kejujuran | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar