AM 59. Memuliakan Orang Tua, Pembawa Al-Qur'an, dan Penguasa yang Adil

Sesi 59 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Pernahkah kita menyadari bahwa cara kita memperlakukan orang tua, penghafal Al-Qur'an, dan pemimpin yang adil sesungguhnya adalah cerminan dari sejauh mana kita mengagungkan Allah subhanahu wa ta'ala? Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad memasuki bab ijlalil kabir—bab tentang memuliakan orang tua, dilanjutkan dengan adab mendahulukan yang lebih tua dalam berbicara, teka-teki Rasulullah ï·º tentang pohon kurma, hingga wasiat penting tentang menjadikan yang tertua sebagai pemimpin keluarga.

Memuliakan Orang Tua adalah Bentuk Mengagungkan Allah

Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan atsar dari Abu Kinanah Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu:

"Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan orang tua yang muslim, memuliakan pembawa Al-Qur'an yang tidak berlebihan dan tidak kekurangan dalam mengamalkannya, serta memuliakan penguasa yang adil."

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu termasuk dari ketakwaan hati." Memuliakan orang tua muslim termasuk salah satu syiar tersebut, karena orang yang telah berusia lanjut telah lebih dahulu merasakan pahit manisnya kehidupan, dan jika ia tetap istiqamah di atas Islam hingga masa tuanya, itu menunjukkan kesalehan yang patut dihormati. Beliau memberikan contoh praktis: mempersilakan orang tua duduk lebih dahulu, mendahulukan mereka dalam antrean, dan memberi kelonggaran dalam berbagai kesempatan sebagai bentuk nyata penghormatan ini—sekaligus mengajarkannya kepada anak-anak sejak dini.

Pembawa Al-Qur'an Sejati: Mengamalkan, Bukan Sekadar Menghafal

Ustadz Firanda menguraikan secara mendalam makna hamilil Qur'an (pembawa Al-Qur'an) yang dimuliakan dalam hadis ini. Beliau mengutip penjelasan Ibnu Abdil Barr rahimahullah bahwa yang dimaksud bukan sekadar penghafal, melainkan orang yang memahami dan mengamalkan kandungannya. Fudhail bin Iyad rahimahullah pernah berkata, "Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan, namun manusia menjadikan amalannya hanya sekadar membaca."

Kisah yang sangat menggugah dibawakan tentang Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang tabi'in, yang ketika mendengar seorang ahli Qur'an membanggakan diri karena telah membaca seluruh Al-Qur'an tanpa menjatuhkan satu huruf pun dalam tajwidnya, beliau menjawab tegas, "Demi Allah, ia justru telah menggugurkan seluruh huruf Al-Qur'an itu, karena tidak nampak bekasnya dalam akhlak maupun amalannya." Ustadz Firanda menegaskan bahwa Rasulullah ï·º menyebutkan tiga golongan pembawa Al-Qur'an: yang berlebihan, yang kurang, dan yang pertengahan (wasath)—dan hanya golongan pertengahan inilah yang dipuji, yaitu yang tidak melampaui batas dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat maupun berlebihan dalam tajwid hingga menyulitkan orang lain, namun juga tidak lalai dalam membaca dan memurajaah.

Beliau memberikan catatan penting bagi lembaga-lembaga tahfiz: capaian hafalan bukanlah tolok ukur utama. Yang lebih esensial adalah bagaimana kandungan Al-Qur'an tersebut membekas dalam akhlak dan perilaku sehari-hari, sehingga seorang penghafal Al-Qur'an tidak justru tumbuh menjadi sombong karena merasa lebih unggul dari yang lain. Kurikulum tahfiz idealnya disertai pemahaman makna dan praktik nyata dari ayat-ayat yang dihafal, bukan sekadar mengejar target jumlah juz.

Penguasa yang Adil Layak Dimuliakan

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa sultan al-muqsith (penguasa yang adil) juga termasuk golongan yang wajib dimuliakan, karena menegakkan keadilan bukanlah perkara mudah—ia harus melawan godaan nepotisme dan kepentingan pribadi demi kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya. Ketika seorang penguasa berhasil menjaga keadilan tersebut, maka penghormatan kepadanya adalah bagian dari pengagungan terhadap Allah subhanahu wa ta'ala.

Biarkan yang Tua Berbicara Terlebih Dahulu

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan kisah panjang tentang kasus pembunuhan Abdullah bin Sahl radhiyallahu 'anhu di Khaibar, yang dikenal dalam fiqih sebagai hukum qasamah. Ketika tiga orang—Abdurrahman bin Sahl (adik korban), Huwaisyah, dan Muhayyishah bin Mas'ud—datang menghadap Rasulullah ï·º untuk melaporkan kasus tersebut, Abdurrahman yang paling muda di antara mereka mulai berbicara lebih dahulu. Rasulullah ï·º langsung menegurnya, "Kabbiril kubr"—dahulukan yang lebih tua untuk berbicara.

Ustadz Firanda menegaskan bahwa teguran ini menunjukkan betapa Islam sangat menjunjung tinggi kesopanan terhadap yang lebih tua, bahkan dalam situasi mendesak sekalipun—termasuk ketika yang muda memiliki kepentingan langsung dalam perkara tersebut. Adab ini berlaku dalam berbagai forum: ketika berkumpul bersama orang yang lebih tua, hendaknya yang muda menahan diri dan memberi kesempatan kepada yang lebih senior untuk berbicara terlebih dahulu.

Teka-teki Pohon Kurma: Pelajaran tentang Adab dan Kebermanfaatan

Al-Imam Bukhari membawakan kisah indah dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma tentang teka-teki yang diajukan Rasulullah ï·º kepada para sahabat: "Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang muslim—memberikan buahnya setiap saat dengan izin Allah, dan daunnya tidak pernah gugur."

Ibnu Umar mengetahui jawabannya—pohon kurma—namun ia enggan menjawab karena melihat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma yang lebih tua tidak kunjung menjawab. Ketika akhirnya Rasulullah ï·º sendiri yang menjawab, Umar bin Khattab kemudian menegur putranya, "Seandainya tadi kau jawab, itu lebih aku sukai daripada ini dan itu." Ibnu Umar menjelaskan alasannya, "Aku segan berbicara karena melihat engkau dan Abu Bakar tidak menjawab."

Ustadz Firanda menguraikan makna mendalam dari perumpamaan pohon kurma ini: seluruh bagiannya bermanfaat tanpa ada yang terbuang—batangnya, daunnya, pelepahnya, bahkan bijinya. Daunnya pun tidak pernah gugur meski dihantam angin kencang maupun terik matahari, sebuah gambaran ketegaran seorang mukmin dalam menghadapi ujian hidup. Beliau mengaitkan hal ini dengan sabda Rasulullah ï·º kepada Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu saat membaiatnya untuk "menjadi nasihat bagi setiap muslim"—yaitu senantiasa berusaha memberi manfaat kepada siapa pun yang ditemui, di mana pun berada. Ustadz Firanda mengingatkan bahwa orang-orang terdekat kita—istri dan anak-anak—seharusnya menjadi pihak pertama yang merasakan keberkahan kehadiran kita; jika mereka justru enggan berkomunikasi atau merasa terbebani oleh kita, itu menjadi sinyal untuk introspeksi diri.

Menjadikan yang Tertua sebagai Pemimpin Keluarga

Kajian ditutup dengan wasiat penuh hikmah dari Qais bin Ashim radhiyallahu 'anhu kepada anak-anaknya menjelang wafatnya. Di antara pesannya:

"Bertakwalah kepada Allah, dan jadikanlah yang paling tua di antara kalian sebagai pemimpin. Karena jika suatu kaum menjadikan yang tertua sebagai pemimpin, mereka akan memperlakukannya seperti ayah mereka sendiri. Namun jika yang termuda yang dijadikan pemimpin, mereka akan menjadi bahan cercaan dan permusuhan di antara sesama."

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa menyerahkan kepemimpinan keluarga kepada anak tertua—selama ia mampu dan amanah—akan menumbuhkan rasa hormat yang wajar dari adik-adiknya, berbeda jika kepemimpinan justru diserahkan kepada yang lebih muda meski lebih cakap sekalipun, karena hal itu berpotensi menimbulkan ketidakharmonisan dan pandangan buruk dari orang luar.

Qais bin Ashim juga berwasiat agar anak-anaknya bersungguh-sungguh mencari harta dengan cara yang benar agar tidak bergantung dan menjadi bahan hinaan orang lain, serta melarang mereka meratapi kematiannya secara berlebihan (niyahah)—karena bahkan Rasulullah ï·º sendiri tidak diratapi ketika wafat. Ustadz Firanda mengaitkan hal ini dengan sabda Nabi ï·º bahwa mayat bisa bertambah siksaannya akibat tangisan berlebihan keluarganya, sehingga penting bagi setiap muslim untuk mewasiatkan kepada keluarga agar tidak melakukan ratapan yang menyerupai protes kepada takdir Allah.

Penutup

Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang tua, penghafal Al-Qur'an yang mengamalkan ilmunya, dan pemimpin yang adil bukanlah sekadar tata krama sosial, melainkan bagian dari pengagungan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Kisah Ibnu Umar yang menahan diri untuk tidak mendahului Abu Bakar dan Umar dalam menjawab teka-teki, serta wasiat Qais bin Ashim tentang pentingnya menghormati yang tertua sebagai pemimpin keluarga, mengajarkan bahwa kesantunan sejati justru lahir dari kesadaran akan kedudukan dan pengalaman orang-orang yang lebih senior di sekitar kita.

Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk memuliakan orang tua kita, menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman yang benar-benar diamalkan bukan sekadar dihafal, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama sebagaimana keberkahan pohon kurma yang tak pernah sia-sia. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar