Jika menghormati orang tua adalah ibadah, maka menyayangi anak kecil pun demikian. Mencium, memeluk, menggendong, bahkan bercanda dengan anak-anak ternyata bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan amalan yang bernilai pahala di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas rangkaian bab tentang kasih sayang kepada anak-anak: mendahulukan yang terkecil dalam pembagian, memeluk, mencium, mengusap kepala, hingga membiarkan mereka bermain dengan riang.
Anak Terkecil Didahulukan dalam Pembagian
Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º ketika dihadirkan kurma yang baru matang, beliau berdoa:
"Ya Allah, berkahilah kota kami Madinah, berkahilah mud dan sha' kami, dengan berkah di atas berkah."
Setelah itu, Rasulullah ï·º memberikan buah tersebut kepada anak yang paling kecil di antara anak-anak yang hadir. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ini menjadi dalil dianjurkannya mendahulukan yang termuda ketika membagikan sesuatu kepada sekumpulan anak-anak, sebagai bentuk perhatian khusus yang menanamkan rasa kasih sayang sekaligus mengajarkan anak-anak yang lebih besar untuk memahami pentingnya memperhatikan yang lebih kecil.
Menyayangi Anak Kecil adalah Kewajiban
Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab rahmatis saghir (menyayangi anak kecil) dengan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:
"Bukan dari golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil di antara kami dan tidak mengenal hak orang tua di antara kami." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ungkapan "laisa minna" (bukan dari golongan kami) dalam metode kenabian menunjukkan bahwa perbuatan tersebut hukumnya wajib—meninggalkannya berarti berdosa. Beliau membawakan kisah sekelompok Arab badui yang datang menemui Rasulullah ï·º dan mengaku tidak pernah mencium anak-anak mereka, menganggapnya sebagai tanda kejantanan. Rasulullah ï·º menjawab dengan tegas:
"Siapa yang bisa mencegah jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu?" (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ustadz Firanda mengaitkan hal ini dengan kisah menyentuh ketika putra Rasulullah ï·º, Ibrahim, wafat dalam pangkuan beliau. Rasulullah ï·º menangis dan bersabda, "Sesungguhnya hati ini bersedih, mata ini mengeluarkan air mata, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Rabb kami." Beliau membandingkan hal ini dengan kisah Fudhail bin Iyad rahimahullah yang justru tertawa ketika putranya yang saleh wafat—sebuah pertanyaan yang pernah diajukan kepada Ibnu Taimiyah rahimahullah: apakah Fudhail lebih afdal dari Nabi ï·º? Ibnu Taimiyah menjawab bahwa keduanya sama-sama beribadah, namun dengan penekanan berbeda—Fudhail didominasi ibadah ridha terhadap takdir, sementara Nabi ï·º menggabungkan ridha sekaligus menunjukkan bahwa kasih sayang dan tangisan atas kepergian anak juga merupakan ibadah tersendiri, sehingga kedudukan Nabi ï·º tetap lebih utama.
Memeluk dan Mencium Anak: Teladan dari Kasih Sayang Rasulullah ï·º kepada Cucunya
Al-Imam Bukhari membawakan bab mu'anaqatish shabi (memeluk anak kecil) dengan kisah indah dari Ya'la bin Murrah radhiyallahu 'anhu. Suatu hari, ketika Rasulullah ï·º bersama para sahabat hendak menghadiri sebuah jamuan, mereka mendapati Husain radhiyallahu 'anhu sedang bermain di jalan. Rasulullah ï·º segera mempercepat langkah, mendahului rombongan, lalu membentangkan kedua tangannya sambil mengejar cucunya yang berlarian ke sana kemari sambil tertawa, hingga akhirnya berhasil memeluk dan menciumnya. Rasulullah ï·º pun bersabda:
"Husain dariku dan aku darinya. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucu-cucuku." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ustadz Firanda menegaskan bahwa mencintai Hasan dan Husain adalah bagian dari akidah Ahlus Sunnah, namun harus tetap dalam batas yang wajar tanpa berlebihan—berbeda dengan sebagian kelompok yang menyeru nama Husain untuk meminta pertolongan, padahal Husain sendiri tidak mampu menolong dirinya ketika terbunuh di Karbala.
Dibawakan pula hadis dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ï·º pernah mendudukkan dirinya di satu paha dan Hasan di paha yang lain, memeluk keduanya sambil berdoa, "Ya Allah, rahmatilah mereka berdua, sesungguhnya aku menyayangi mereka berdua." Demikian pula riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang Rasulullah ï·º yang berjalan sambil menggendong Hasan dan Husain di kedua pundaknya secara bergantian, menciumi mereka satu per satu, hingga bersabda, "Siapa yang mencintai keduanya, berarti mencintaiku. Siapa yang membenci keduanya, berarti membenciku."
Mencium Anak Perempuan yang Masih Kecil
Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab tentang mencium anak perempuan yang masih kecil, dengan riwayat Abdullah bin Ja'far radhiyallahu 'anhu—putra dari Ja'far bin Abi Thalib, sahabat mulia yang gugur syahid dalam Perang Mu'tah dengan kedua tangan terputus namun tetap memegang bendera hingga akhir hayatnya, sehingga dijuluki Dzul Janahain (pemilik dua sayap). Diceritakan bahwa Abdullah bin Ja'far pernah mencium Zainab, putri kecil Umar bin Abu Salamah yang saat itu berusia sekitar dua tahun. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ini menjadi dalil bahwa mencium anak perempuan yang masih kecil dan belum menimbulkan syahwat tidaklah mengapa, sebagai wujud kasih sayang yang tulus.
Beliau juga membawakan atsar dari Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menganjurkan agar seseorang berusaha menahan pandangan bahkan dari rambut kerabat perempuannya sendiri jika memungkinkan, kecuali istri dan anak kecil yang dikecualikan dari anjuran ini karena tidak menimbulkan fitnah.
Mengusap Kepala Anak-anak, Terutama Anak Yatim
Al-Imam Bukhari membawakan bab mashi ra'sish shabi (mengusap kepala anak kecil) dengan kisah Yusuf bin Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu, yang diberi nama langsung oleh Rasulullah ï·º, didudukkan di pangkuan beliau, dan diusap kepalanya. Ustadz Firanda mengaitkan hal ini dengan hadis lain tentang keutamaan mengusap kepala anak yatim secara khusus, sebagaimana Rasulullah ï·º bersabda kepada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati:
"Jika engkau ingin hatimu lembut, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Membiarkan Anak Bermain: Kisah Aisyah dan Boneka-bonekanya
Kajian ditutup dengan kisah menarik dari Aisyah radhiyallahu 'anha, yang menceritakan bahwa dirinya sering bermain boneka-bonekaan bersama teman-temannya bahkan setelah menikah dengan Rasulullah ï·º di usia yang masih sangat muda. Alih-alih melarang, Rasulullah ï·º justru memanggil teman-teman sebaya Aisyah untuk datang bermain bersamanya. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil bolehnya anak-anak bermain boneka, meski terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai bentuk boneka yang diperbolehkan—sebagian membatasi hanya pada bentuk yang tidak menyerupai manusia secara utuh, sementara sebagian lain membolehkannya sebagai rukhshah (keringanan) selama tidak dijadikan hiasan yang dimuliakan.
Ustadz Firanda mengingatkan pentingnya kewaspadaan orang tua zaman sekarang terhadap mainan anak-anak, khususnya boneka-boneka modern yang mempertontonkan pakaian minim dan gaya hidup yang jauh dari nilai kesopanan, karena hal ini secara tidak langsung dapat mengikis rasa malu pada anak sejak usia dini.
Beliau menutup kajian dengan kisah menyentuh tentang Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah, ulama besar penulis kitab tafsir Taisir Al-Karim Ar-Rahman dan guru dari Syekh Utsaimin, yang meski dikenal sangat sibuk hingga pernah berkata, "Jika kalian bisa menjual waktu kalian, aku ingin membelinya," tetap menyempatkan diri "bertamu" ke rumah-rumahan mainan putrinya, mengetuk pintu mainan dan berpura-pura minum kopi yang sebenarnya tidak ada, demi menyenangkan hati sang anak. Kisah ini terus dikenang oleh putrinya hingga dewasa sebagai bukti nyata perhatian seorang ayah, meski di tengah kesibukannya yang luar biasa.
Penutup
Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa kasih sayang kepada anak-anak bukanlah sekadar naluri kemanusiaan biasa, melainkan ibadah yang diperintahkan Rasulullah ï·º dan bernilai pahala di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Dari mendahulukan yang terkecil dalam pembagian, memeluk dan mencium mereka, mengusap kepala anak yatim, hingga membiarkan mereka bermain dengan riang—semua ini adalah wujud nyata dari rahmat yang Allah tanamkan dalam hati seorang mukmin. Teladan Rasulullah ï·º bersama cucu-cucunya, serta kisah para ulama besar yang tetap menyisihkan waktu untuk anak-anak di tengah kesibukan mereka, menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan anak tidak membutuhkan waktu lama—cukup ketulusan hati untuk hadir sejenak dan membuat mereka merasakan kasih sayang yang tulus.
Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk menghadirkan kasih sayang kepada anak-anak kita dengan cara yang dicontohkan Rasulullah ï·º, menjadikan setiap pelukan, ciuman, dan waktu bermain bersama mereka sebagai ladang pahala yang tidak kita sia-siakan. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar