AM 66. Kebencian dan Permusuhan: Racun yang Menggerogoti Ukhuwah

Sesi 66 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Ada penyakit hati yang tidak menimbulkan gejala fisik apa pun, namun perlahan dapat menghancurkan seluruh bangunan ukhuwah yang telah dibina bertahun-tahun—penyakit itu bernama kebencian. Setelah pada sesi-sesi sebelumnya kita membahas batasan boikot antar sesama muslim, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad kali ini masuk lebih dalam ke akar persoalannya: bab al-baghdha wal 'adawah, kebencian dan permusuhan itu sendiri—apa yang menyebabkannya, bagaimana bahayanya, dan bagaimana Islam mengajarkan penawarnya.

Kebencian: Pisau Cukur yang Menggunduli Agama

Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan hadis dari Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:

"Telah menjalar kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian: hasad dan kebencian. Ia adalah al-haliqah—yang mencukur habis. Aku tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur habis agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa perumpamaan al-haliqah ini sangat tajam maknanya. Sebagaimana pisau cukur menggunduli rambut hingga tak tersisa sehelai pun, demikian pula kebencian yang dibiarkan bersarang di hati akan menggunduli seluruh kebaikan yang telah dibangun seorang muslim—amal-amal saleh yang telah susah payah dikumpulkan bisa habis tak bersisa hanya karena hati yang penuh dengki dan permusuhan terhadap saudara seiman. Beliau menegaskan bahwa iman yang sempurna mensyaratkan kecintaan sesama mukmin, dan salah satu sarana paling sederhana untuk menumbuhkannya adalah menyebarkan salam—sebuah amalan yang tampak remeh namun memiliki kekuatan besar untuk mencairkan kebekuan hati.

Dua Sebab Utama Munculnya Kebencian

Ustadz Firanda menguraikan bahwa kebencian antar sesama muslim umumnya bersumber dari dua hal: pertama, hasad—iri terhadap kenikmatan yang diperoleh orang lain, baik berupa harta, kedudukan, popularitas, maupun keluarga yang harmonis. Kedua, kesalahpahaman atau perselisihan kepentingan duniawi yang dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah ï·º menyandingkan hasad dengan kebencian dalam hadis di atas karena keduanya saling berkelindan—hasad yang dipendam lambat laun akan berubah menjadi kebencian terbuka, dan kebencian yang tidak segera diobati akan melahirkan berbagai dosa lisan lainnya: ghibah, namimah, hingga permusuhan yang nyata.

Beliau mengaitkan hal ini dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam surah Al-Falaq yang memerintahkan untuk berlindung dari kejahatan orang yang hasad ketika ia mendengki, menunjukkan bahwa hasad adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya sehingga Allah mengajarkan doa perlindungan khusus terhadapnya. Ustadz Firanda mengingatkan bahwa media sosial di era ini menjadi ladang subur bagi tumbuhnya hasad—setiap orang dengan mudah melihat pencapaian, kebahagiaan, dan kemewahan hidup orang lain yang dipamerkan, sehingga tanpa disadari benih dengki bisa tumbuh dalam hati siapa saja yang tidak pandai bersyukur dengan bagiannya sendiri.

Larangan Saling Membenci: Perintah yang Diulang-ulang

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang menegaskan kembali larangan tegas ini:

"Janganlah kalian saling membenci, saling hasad, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa pengulangan larangan ini di berbagai bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad menunjukkan betapa seriusnya perhatian syariat terhadap penyakit hati ini. Beliau menegaskan bahwa persaudaraan yang diperintahkan Allah bukanlah sekadar slogan, melainkan konsekuensi logis dari status sebagai "hamba-hamba Allah"—jika seseorang benar-benar merasa dirinya dan saudaranya sama-sama hamba dari Rabb yang satu, maka rasa superioritas dan kedengkian seharusnya luruh dengan sendirinya.

Beliau membawakan pula penjelasan bahwa kebencian yang dilarang di sini adalah kebencian yang bersumber dari kepentingan pribadi, ego, atau iri hati—berbeda dengan al-bara' (berlepas diri) dari kemaksiatan atau kesyirikan yang justru diperintahkan dalam agama. Seorang mukmin boleh, bahkan wajib, membenci suatu perbuatan dosa, namun ia tidak boleh membenci saudaranya secara mutlak selama masih berstatus muslim—inilah prinsip al-hubbu fillah wal bughdhu fillah yang telah dibahas dalam sesi-sesi sebelumnya.

Kisah Dua Sahabat yang Berpisah karena Sebuah Perkataan

Al-Imam Bukhari membawakan sebuah kisah yang menyentuh dari kalangan tabi'in tentang dua orang bersahabat karib yang tiba-tiba berpisah hanya karena salah seorang di antara mereka melontarkan perkataan yang menyakitkan hati sahabatnya, dan tidak segera meminta maaf. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kisah semacam ini menjadi pelajaran betapa mudahnya sebuah hubungan yang telah terjalin lama runtuh hanya karena satu kalimat yang tidak dijaga, dan betapa pentingnya segera menyelesaikan kesalahpahaman sebelum ia mengeras menjadi kebencian yang membatu.

Beliau menegaskan bahwa salah satu ciri khas kebencian yang telah mengakar adalah munculnya sikap su'uzhan (buruk sangka) yang terus-menerus—setiap perkataan dan perbuatan orang yang dibenci akan selalu ditafsirkan secara negatif, bahkan hal-hal yang sebenarnya netral pun bisa dianggap sebagai serangan. Ustadz Firanda mengingatkan bahwa inilah sebabnya Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan untuk menjauhi banyak berprasangka dalam surah Al-Hujurat, karena prasangka buruk adalah bahan bakar utama yang membesarkan api permusuhan.

Permusuhan Menghalangi Diterimanya Amal

Ustadz Firanda menyampaikan sebuah hadis penting terkait dampak permusuhan terhadap penerimaan amal seorang hamba—bahwa amal-amal manusia diperlihatkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis, dan Allah mengampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan-Nya, kecuali seorang yang di antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Terhadap keduanya dikatakan, "Tangguhkan dua orang ini sampai mereka berdamai."

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa hadis ini menjadi peringatan keras: permusuhan bukan hanya merusak hubungan sosial di dunia, tetapi juga dapat menghambat pengampunan dan penerimaan amal seorang hamba di sisi Allah. Beliau mengajak setiap jamaah untuk introspeksi diri, memeriksa kembali hubungan-hubungan yang mungkin sedang renggang karena kesalahpahaman lama, dan segera mengambil langkah pertama untuk berdamai—karena penangguhan dalam hadis ini menunjukkan bahwa Allah sesungguhnya sangat menantikan hamba-hamba-Nya untuk saling memaafkan.

Obat bagi Hati yang Dengki: Mendoakan Kebaikan bagi yang Dibenci

Kajian ditutup dengan nasihat praktis dari kalangan salaf tentang cara mengobati kebencian dan hasad dalam hati. Ustadz Firanda menjelaskan metode yang diajarkan sebagian ulama: ketika seseorang merasakan benih dengki terhadap saudaranya, hendaknya ia justru memperbanyak mendoakan kebaikan bagi orang tersebut secara diam-diam, sebagaimana pernah dipraktikkan oleh sebagian salaf yang mendoakan kebaikan bagi orang yang dibencinya hingga rasa benci itu perlahan sirna dari hatinya, berganti dengan kelapangan dan bahkan kecintaan yang tulus.

Beliau menutup dengan mengingatkan bahwa hati manusia berada dalam genggaman Allah subhanahu wa ta'ala, dan Dialah yang membolak-balikkannya. Oleh karena itu, doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ï·º, "Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik"—wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu—juga relevan dimohonkan agar hati senantiasa dijaga dari kebencian dan permusuhan yang tidak berdasar, sehingga persaudaraan sesama muslim tetap terjaga hingga akhir hayat.

Penutup

Kajian bab al-baghdha wal 'adawah ini mengajarkan bahwa kebencian bukanlah perkara sepele yang bisa dibiarkan berlarut-larut dalam hati seorang muslim—ia adalah al-haliqah yang mampu menggunduli habis nilai keagamaan seseorang, menghalangi amal untuk diterima, dan meruntuhkan persaudaraan yang telah lama terjalin hanya karena satu kesalahpahaman yang tidak segera diselesaikan. Islam mengajarkan penawarnya dengan begitu sederhana: menyebarkan salam, menjauhi prasangka buruk, dan mendoakan kebaikan bagi siapa pun yang mungkin masih mengganjal di hati kita.

Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk membersihkan hati dari segala bentuk kebencian dan hasad, menjadi pribadi yang segera mengulurkan tangan perdamaian, serta menjaga ukhuwah sesama muslim sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar