Mengapa Rasulullah ï·º secara khusus berlindung dari "ditertawakan oleh musuh"? Ternyata perpecahan dan saling mencaci di antara sesama muslim bukan hanya dosa personal, tetapi juga aib yang bisa dijadikan bahan ejekan oleh musuh-musuh Islam, bahkan menjauhkan orang lain dari hidayah. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas bab syamatatil a'da (gembiranya musuh atas keburukan kita), dilanjutkan dengan bab al-israf fil mal (berlebih-lebihan dalam harta).
Berlindung dari Ditertawakan Musuh
Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º senantiasa berlindung dari su'ul qadha' (takdir yang buruk) dan syamatatil a'da (ditertawakan oleh musuh). Ustadz Firanda menjelaskan bahwa bab ini sengaja diletakkan setelah pembahasan larangan saling mencaci maki, karena pertikaian sesama muslim akan menjadi tontonan yang dinanti-nanti musuh-musuh Islam—mereka yatarabbashun, menanti-nanti kapan kaum muslimin saling menjatuhkan, lalu memanfaatkannya untuk menjauhkan orang dari Islam.
Beliau menguraikan doa lengkap yang sering didengar: "A'udzu billahi min jahdil bala', wa darkisy syaqa', wa su'il qadha', wa syamatatil a'da'." Ustadz Firanda menjelaskan makna masing-masing: jahdil bala' adalah ujian yang melampaui kemampuan seseorang untuk memikulnya; darkisy syaqa' adalah terjerumus dalam kehinaan; su'ul qadha' adalah hasil takdir yang buruk. Beliau menegaskan pembedaan penting dalam akidah: Allah menciptakan sesuatu yang ada baik dan buruk (seperti iblis, Fir'aun), namun perbuatan mencipta Allah itu sendiri selalu baik karena mengandung hikmah—sebagaimana Allah sengaja menjadikan musuh bagi setiap nabi agar lahir perjuangan, dakwah, dan pengorbanan.
Ustadz Firanda mengaitkan hal ini dengan kisah Nabi Musa 'alaihissalam yang menarik jenggot saudaranya, Harun, karena marah kaumnya menyembah anak sapi. Harun pun menegur, "Janganlah engkau membuat musuh-musuh bergembira melihatku (diperlakukan demikian)." Beliau juga mengaitkan dengan sikap Rasulullah ï·º yang melarang sahabat membunuh cikal bakal Khawarij meski mereka menghina beliau, dengan alasan, "Jangan sampai orang mengatakan Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri"—sebuah teladan menjaga citra Islam di mata musuh.
Israf: Berlebihan pada Perkara yang Halal
Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab al-israf fil mal. Ustadz Firanda menjelaskan perbedaan antara israf dan tabdzir: tabdzir adalah membelanjakan harta pada perkara yang haram, sementara israf adalah berlebihan pada perkara yang asalnya halal. Beliau mengutip firman Allah tentang ciri hamba Ar-Rahman yang tidak berlebihan dan tidak pula pelit dalam berinfak, serta hadis Rasulullah ï·º, "Makan, minum, dan bersedekahlah, tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan."
Ustadz Firanda menjelaskan definisi praktis israf menurut Ibnu Hajar rahimahullah: mengeluarkan biaya besar untuk fungsi yang kecil. Jika suatu barang mahal namun benar-benar fungsional—seperti kendaraan tangguh untuk medan sulit atau jam tahan banting untuk pekerjaan berisiko—maka tidak mengapa. Namun jika mahal tanpa fungsi yang sepadan—seperti tas seharga ratusan juta yang hanya menyimpan lipstik dan cermin—itulah israf yang berpotensi melahirkan kesombongan (khuyala) dan sikap merendahkan orang lain (tafakhur).
Beliau mengaitkan bahaya ini dengan kisah Qarun yang dibenamkan bersama hartanya karena tampil dengan kemegahan di hadapan kaumnya, serta hadis tentang seorang lelaki berpakaian mewah yang ditelan bumi karena kesombongannya. Ustadz Firanda memberikan nasihat praktis: belanja untuk kebutuhan keluarga (nafkah, sekolah anak, listrik) tergolong wajib dan justru lebih dicintai Allah daripada sedekah sunnah, sehingga tidak perlu merasa berat hati—yang penting proporsional, tidak berlebihan namun juga tidak pelit.
Tiga Hal yang Diridhai dan Tiga Hal yang Dimurkai Allah
Al-Imam Bukhari membawakan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:
"Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian atas tiga perkara: kalian menyembah-Nya semata tanpa syirik, kalian berpegang teguh dengan tali Allah seluruhnya tanpa bercerai-berai, dan kalian menasihati orang yang diserahi urusan kalian. Dan Allah membenci bagi kalian tiga perkara: qila wa qal (katanya dan katanya), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan menyia-nyiakan harta." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ustadz Firanda menguraikan tiga hal yang diridhai Allah: pertama, memurnikan tauhid bukan sekadar secara lahir (tidak ke dukun, tidak pakai jimat) tetapi juga secara batin—benar-benar bertawakal kepada Allah, bukan kepada sebab (dokter, atasan) semata. Kedua, bersatu di atas Al-Qur'an dan Sunnah, menjauhi bid'ah yang menjadi sumber perpecahan, dan tunduk pada dalil bukan fanatisme mazhab. Ketiga, menasihati penguasa dengan cara yang baik demi kemaslahatan bersama, bukan menjatuhkannya hingga menimbulkan kekacauan.
Adapun tiga hal yang dimurkai Allah: qila wa qal (menyebarkan berita tanpa verifikasi, seperti hoax di zaman sekarang), banyak bertanya hal yang tidak bermanfaat (seperti pertanyaan-pertanyaan hipotetis yang tidak relevan atau kepo berlebihan terhadap urusan pribadi orang lain), dan menyia-nyiakan harta—yang menjadi inti pembahasan bab ini.
Menetapkan Sifat Allah Tanpa Menyerupakan dengan Makhluk
Ustadz Firanda menyisipkan pembahasan akidah penting terkait kata "dibenci" (makruh) dalam hadis di atas—menjelaskan bahwa istilah ini dalam banyak konteks syar'i bermakna haram, bukan sekadar makruh dalam pengertian fikih kontemporer. Beliau kemudian memperluas pembahasan tentang metode Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menetapkan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta'ala—seperti ridha, cinta, benci, murka, turun ke langit dunia—sebagaimana datang dalam nash, tanpa mempertanyakan bagaimana hakikatnya (takyif) dan tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk (tamtsil). Beliau mengkritik metode kelompok ahlul kalam yang menakwilkan seluruh sifat Allah dengan filsafat sehingga kehilangan makna aslinya—misalnya menafsirkan "melihat" sebagai sekadar "ilmu tentang yang terlihat", padahal ini berbeda secara hakiki dan justru mereduksi makna yang dimaksudkan Al-Qur'an dan hadis.
Penutup
Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa menjaga persatuan dan citra baik Islam di hadapan musuh adalah tanggung jawab bersama setiap muslim—karena setiap perpecahan dan pertikaian internal akan menjadi bahan tertawaan yang justru menghambat dakwah. Sementara itu, kebijaksanaan dalam mengelola harta—tidak berlebihan namun juga tidak pelit—menjadi cerminan dari keseimbangan yang diajarkan Islam, di mana keridhaan Allah diraih melalui kemurnian tauhid, persatuan di atas kebenaran, dan ketaatan yang membangun, bukan melalui kemewahan yang menumbuhkan kesombongan.
Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk menjaga lisan dan perbuatan kita agar tidak menjadi bahan tertawaan musuh-musuh Islam, serta bijak dalam mengelola harta sehingga senantiasa berada dalam keridhaan Allah subhanahu wa ta'ala. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar