Apakah dibukanya pintu kekayaan dunia benar-benar mengurangi pahala akhirat, ataukah justru bisa menjadi sarana meraih derajat yang lebih tinggi? Pertanyaan inilah yang bergulir di kalangan para sahabat sendiri, sebagaimana tergambar dalam kisah Khabbab bin Al-Arat yang merenungkan nasibnya setelah dunia terbuka lebar baginya. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas bab man bana (orang yang membangun rumah), dilanjutkan dengan bab rumah yang luas, bangunan bertingkat, dan bahaya ukiran berlebihan pada bangunan.
Kisah Khabbab: Dunia yang Dibuka dan Kekhawatiran akan Berkurangnya Pahala
Al-Imam Bukhari membawakan kisah Qais bin Abi Hazim rahimahullah yang menjenguk Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu 'anhu yang sedang diobati dengan kai (kauterisasi) sebanyak tujuh titik. Khabbab berkata:
"Sesungguhnya sahabat-sahabat kami yang telah berlalu, dunia tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Adapun kami, kami mendapati harta sampai tidak tahu hendak diletakkan di mana kecuali untuk membangun rumah. Seandainya Nabi ï·º tidak melarang kami memohon kematian, tentu kami akan memohonnya."
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa pandangan ini—bahwa dibukanya dunia mengurangi jatah pahala di akhirat—juga dianut oleh sahabat lain seperti Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhum, sebagaimana kisah Abdurrahman bin Auf yang menangis mengingat Mus'ab bin Umair yang wafat tanpa kain kafan yang layak, sementara dirinya sendiri hidup berkecukupan. Beliau menjelaskan bahwa secara logika, banyaknya harta memang berpotensi menyibukkan pikiran dari mengingat akhirat—semakin banyak rumah, kendaraan, dan usaha, semakin banyak pula yang harus dipikirkan, sehingga fokus ibadah bisa berkurang.
Namun Ustadz Firanda mengingatkan bahwa yang terpenting adalah bagaimana seseorang memanfaatkan kelapangan dunia tersebut—sebagaimana nasihat orang-orang saleh kepada Qarun untuk menggunakan hartanya mencari akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia. Beliau mengutip hadis tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat, dimulai dari imamun 'adil (pemimpin yang adil)—menunjukkan bahwa kedudukan dan harta bisa menjadi sarana pahala jika digunakan dengan benar. Beliau juga mengingatkan bahwa penilaian kekayaan atau kemiskinan di dunia bisa sepenuhnya berbalik di alam barzakh—sebagaimana hadis tentang dua orang yang dibandingkan Rasulullah ï·º, di mana yang tampak miskin dan diremehkan di dunia justru dinyatakan lebih baik dari seribu juta orang yang tampak terpandang.
Membangun untuk Keperluan Berpahala, Berlebihan Tidak
Al-Imam Bukhari membawakan riwayat lanjutan dari Khabbab: "Sesungguhnya seorang muslim diberi pahala pada seluruh yang ia infakkan, kecuali yang ia keluarkan untuk membangun bangunan (yang berlebihan)." Ustadz Firanda menegaskan kembali bahwa pembangunan untuk kebutuhan primer—rumah bagi keluarga, tempat tinggal bagi anak yatim, atau asrama bagi para janda—tetap berpahala karena bermanfaat. Yang tidak berpahala adalah pembangunan berlebihan tanpa manfaat jelas.
Beliau membawakan pula hadis tentang Rasulullah ï·º yang menegur Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma saat sedang memperbaiki gubuknya, "Perkara (kematian) lebih cepat daripada ini." Ustadz Firanda menjelaskan bahwa teguran ini bukan larangan membangun rumah, melainkan peringatan agar tidak menghabiskan waktu berlebihan mengurusi kesempurnaan tempat tinggal, karena ajal bisa datang kapan saja. Beliau mengaitkan hal ini dengan nasihat Rasulullah ï·º kepada Ibnu Umar, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir yang lewat," serta kisah Rasulullah ï·º yang menolak tawaran Ibnu Mas'ud untuk membuatkan kasur empuk, dengan menjawab, "Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaanku dengannya seperti musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon lalu melanjutkan perjalanan."
Rumah yang Luas: Sebab Kebahagiaan, Bukan Kewajiban Kemewahan
Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab al-maskanul wasi' (rumah yang luas) dengan hadis dari Nafi' bin Abdul Harits radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:
"Di antara kebahagiaan seseorang adalah rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman." (Dalam riwayat lain ditambahkan: dan istri yang salehah.)
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa rumah luas memiliki manfaat nyata—memisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan, menyediakan ruang untuk beribadah, dan berbagai kebutuhan keluarga lainnya—sehingga tidak dilarang selama memang diperlukan. Beliau membagikan pengalaman pribadinya tentang pentingnya tetangga (atau teman sekamar) yang baik, dengan kisah jenaka tentang perbedaan kebiasaan antara teman-teman dari berbagai negara dalam hal suhu ruangan.
Mengenai kendaraan yang nyaman, beliau kembali menekankan kaidah dari hadis tentang pemuda yang keluar mencari nafkah: jika untuk kebutuhan yang sah (menafkahi keluarga, menjaga kehormatan diri) maka itu fi sabilillah, namun jika untuk pamer dan kesombongan (riya' dan tafakhur), maka itu fi sabilisy syaithan (di jalan setan). Adapun istri yang salehah disebut sebagai sebab kebahagiaan paling utama, karena ia membantu suami dalam urusan akhirat—mengingatkan shalat, menahan pandangan, dan tidak menuntut hal-hal berlebihan di luar kemampuan.
Bangunan Bertingkat dan Kunci-kunci Kebaikan
Al-Imam Bukhari membawakan riwayat (meski lemah sanadnya) tentang Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang memiliki rumah bertingkat (gurfah), menunjukkan bahwa membangun ke atas diperbolehkan selama ada keperluan—misalnya keterbatasan lahan yang mahal. Ustadz Firanda menyoroti pujian Anas terhadap muridnya, Tsabit Al-Bunani, sebagai salah satu "kunci pembuka pintu kebaikan", mengutip hadis Rasulullah ï·º tentang manusia yang menjadi kunci kebaikan dan penutup keburukan, atau sebaliknya.
Beliau juga membawakan riwayat (yang juga lemah) tentang Rasulullah ï·º berjalan dengan langkah-langkah pendek menuju masjid agar pahala langkah kaki lebih banyak. Meski hadisnya lemah, Ustadz Firanda menegaskan bahwa hukum asalnya tetap berjalan wajar, namun beliau mengingatkan keutamaan besar shalat berjamaah di masjid—setiap langkah mengangkat derajat dan menghapus dosa, ditambah pahala shalat yang dilipatgandakan 27 kali dibanding shalat sendirian di rumah.
Bahaya Ukiran dan Hiasan Berlebihan pada Bangunan
Kajian ditutup dengan bab naqsyil bunyan (mengukir bangunan). Al-Imam Bukhari membawakan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:
"Tidak akan tegak hari kiamat sampai orang-orang membangun rumah-rumah dan menghiasinya seperti hiasan-hiasan (bergaris atau berukir)." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa fenomena ini kini menjadi kenyataan—rumah dan bahkan masjid dibuat dengan profil dan ukiran rumit yang menghabiskan biaya besar tanpa manfaat fungsional, tergolong israf dan pemborosan harta. Beliau membawakan pula riwayat Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu yang menuliskan nasihat Nabi ï·º kepada Muawiyah radhiyallahu 'anhu, di antaranya larangan menyia-nyiakan harta (idha'atul mal)—yang oleh Al-Imam Bukhari dikaitkan langsung dengan bahaya mengukir dan menghias bangunan secara berlebihan.
Penutup
Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa membangun rumah, memiliki tempat tinggal yang luas, dan kendaraan yang nyaman bukanlah hal yang tercela—selama didasari kebutuhan nyata, bukan kesombongan atau pemborosan. Kekhawatiran para sahabat tentang berkurangnya pahala akibat kelapangan dunia mengajarkan kita untuk senantiasa waspada agar harta tidak melalaikan dari akhirat, namun justru dijadikan sarana meraih derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, hiasan dan ukiran berlebihan pada bangunan hanyalah pemborosan yang seharusnya dialihkan untuk membantu kerabat, fakir miskin, anak yatim, dan kepentingan dakwah yang jauh lebih bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk membangun rumah tangga dengan proporsional, menjadikan kelapangan rezeki sebagai sarana meraih akhirat, serta menghindari pemborosan yang tidak membawa manfaat nyata. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar