AM 74. Lembut Itu Menghiasi, Kasar Itu Merusak: Pelajaran dari Al-Adab Al-Mufrad tentang Kelembutan

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan: mengapa dua orang yang menghadapi masalah yang persis sama bisa menghasilkan dua keluaran yang sangat berbeda? Yang satu berhasil melewati dengan tenang, sementara yang lain justru memperkeruh suasana hingga masalah kecil berubah menjadi bencana besar. Jawabannya, lebih sering dari yang kita duga, terletak pada satu hal: ar-rifq — kelembutan.

Imam Bukhari rahimahullah dalam kitabnya yang monumental, Al-Adab Al-Mufrad, mengkhususkan beberapa bab untuk membahas sifat mulia ini. Bukan tanpa alasan. Kelembutan bukan sekadar urusan sopan santun atau tata krama. Ia adalah prinsip mendasar yang mengalir dalam ajaran seluruh para nabi, tanda keseimbangan jiwa, dan bukti kematangan seorang Muslim dalam menghadapi kehidupan.

Kajian kali ini membedah beberapa hadis sekaligus dari bab ar-rifq — tentang bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang berbuat baik ketika mereka tersandung kesalahan, tentang sifat malu sebagai benteng akhlak, tentang bahaya kikir dan tamak, hingga tentang bagaimana kelembutan itu seharusnya menjadi cara kita menjalani hidup sehari-hari.


Memaafkan Orang Shaleh: Menimbang Bukan Menghakimi

Rasulullah ï·º bersabda:

"Aqiluu dhawil hay'ati 'atha-rahum." "Maafkanlah orang-orang yang memiliki kedudukan (orang-orang baik) atas kesalahan-kesalahan mereka." (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh para ulama)

Dhawul hay'ah — orang-orang yang dimaksud Nabi ï·º dalam hadis ini — adalah mereka yang dikenal luas sebagai orang shaleh: yang rajin beribadah, aktif ke masjid, hadir di majelis ilmu dan zikir, serta dikenal banyak berjasa kepada masyarakat. Mereka bukan malaikat. Mereka adalah anak Adam, dan sebagaimana Nabi ï·º sabdakan dalam hadis yang lain:

"Kullu bani Adama khatta'." "Setiap anak Adam pasti berbuat salah."

Karena itu, ketika seorang yang dikenal baik terpeleset dalam satu kesalahan, respons yang tepat bukan memperbesarnya, melainkan memaafkannya. Rasulullah ï·º justru memerintahkan kita untuk tidak mencari-cari kesalahan mereka. Logikanya mudah dipahami: kalau kita memang mencarinya, pasti akan kita temukan. Karena manusia mana yang luput dari khilaf?

Tentu ada perbedaan mendasar antara orang yang sesekali terpeleset dan orang yang memang sudah terbiasa berbuat kerusakan. Bagi yang terakhir, kadang kala tegur yang keras — bahkan hukuman — memang diperlukan agar mereka berhenti. Namun bagi orang yang selama hidupnya dikenal berbuat baik, maka keadilan menuntut kita untuk menimbang keseluruhan rekam jejaknya, bukan hanya mengunci pandangan pada satu kesalahannya.

Pepatah Arab mengatakan: "Kafaa bil mar'i nublan an tu'adda ma'aayibuh." — Cukuplah seseorang dikatakan mulia jika kesalahannya masih bisa dihitung dengan jari. Artinya, kalau kebaikannya selama ini melimpah dan kesalahannya masih bisa dihitung, maka itulah tanda orang baik. Orang yang bijak akan memaafkan, bukan mengeksploitasi satu kekeliruan untuk meruntuhkan seluruh bangunan kebaikan yang sudah ditegakkan bertahun-tahun.


Hukum Had: Ketika Keadilan Tidak Mengenal Status

Namun ada satu garis yang tidak boleh kita lewati: pengecualian dalam hukum had. Apabila seseorang — siapapun dia, sebaik apapun reputasinya — terjatuh dalam pelanggaran yang mengharuskan ditegakkannya hukum Allah, maka tidak ada kompromi.

Rasulullah ï·º mengingatkan dengan tegas:

"Sesungguhnya yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kalian adalah: apabila yang mencuri adalah orang dari kalangan bawah, mereka menegakkan hukum. Namun apabila yang mencuri adalah orang mulia atau orang terpandang, mereka membiarkannya."

Sistem yang mendua dalam penegakan hukum — yang lemah dihukum, yang kuat dibebaskan — adalah sumber kebinasaan sebuah peradaban. Sejarah telah berkali-kali membuktikan hal ini. Kelembutan terhadap orang shaleh yang terpeleset pada urusan duniawi adalah satu hal. Namun pembiaran terhadap pelanggar hukum demi melindungi status dan kekuasaan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda, dan jauh lebih berbahaya.


Kelembutan: Prinsip Universal yang Menghiasi Segalanya

Salah satu hadis paling kuat dalam bab ini adalah sabda Rasulullah ï·º:

"Laa yakuunu al-khurqu fii syai'in illaa syaanahu, wa laa yakuunu ar-rifqu fii syai'in illaa zaanahu."

"Tidaklah sifat kasar dan tergesa-gesa menempel pada sesuatu melainkan akan merusaknya, dan tidaklah kelembutan menempel pada sesuatu melainkan akan menghiasinya."

"Wa innallaha Rafiqun yuhibbu ar-rifq."

"Dan sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan betapa umum dan universalnya prinsip ini. Nabi ï·º tidak membatasinya hanya pada urusan ibadah atau dakwah. Ini berlaku untuk segala sesuatu — dalam mendidik anak-anak, dalam berkomunikasi dengan pasangan, dalam berdakwah, bahkan dalam menghadapi benda mati sekalipun.

Dalam sebuah perjalanan, Aisyah radhiyallahu 'anha menaiki seekor unta yang jalannya terasa berat dan susah dikendalikan. Maka beliau pun bereaksi dengan sedikit keras. Rasulullah ï·º langsung mengingatkan: "Alaiki bir-rifq!" — "Hendaklah kamu berlaku lembut!" Lalu beliau mengulangi prinsip itu: tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.

Kisah yang serupa juga diriwayatkan dari Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Suatu hari beliau melihat seseorang yang kesulitan mengendalikan untanya dan mulai bersikap kasar. Sang syekh menasihatinya agar berlaku lembut. Orang itu berkilah bahwa ia sudah mencoba, namun untanya tetap tidak nurut. Syekh pun turun tangan langsung — dan ajaibnya, unta itu nurut. "Ini untamu kenal kau, Syekh," kata orang itu, berkelakar. Namun maknanya dalam: kelembutan bukan sekadar cara bersikap, ia adalah energi yang dirasakan oleh apapun yang kita hadapi.

Setan memang sering menghias kepada kita bahwa dengan bersikap cepat dan keras, urusan akan lebih segera selesai. Kenyataannya justru sebaliknya. Hasilnya buruk, dampaknya panjang. Anak yang dididik dengan kekasaran tidak akan tumbuh baik. Dakwah yang disampaikan dengan kasar akan mengusir orang. Rumah tangga yang dibangun di atas amarah akan rapuh dari dalam.


Rasa Malu: Fondasi Akhlak yang Kian Terlupakan

Salah satu riwayat yang dibawakan Imam Bukhari dalam bab ini adalah tentang sifat malu Rasulullah ï·º:

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu: "Rasulullah ï·º lebih pemalu daripada gadis pingitan yang hendak dinikahkan. Apabila beliau tidak menyukai sesuatu, kami bisa mengetahuinya dari raut wajahnya." (HR. Bukhari)

Perumpamaan gadis pingitan dipilih bukan sembarangan. Dalam tradisi Arab, gadis yang dipingit dalam kamarnya menjelang pernikahan adalah simbol puncak rasa malu — ia belum pernah bertemu dengan calon suaminya, sehingga ketika bertemu pertama kali, rasa malu itu begitu dalam hingga terlihat di seluruh gerak-geriknya. Nabi ï·º melebihi itu.

Dan ada pelajaran adab yang indah dari riwayat ini: tidak semua yang tidak kita sukai harus diucapkan. Para sahabat yang hidup bersama Nabi ï·º telah terlatih untuk membaca raut wajah beliau. Ketika ekspresi beliau berubah, mereka langsung paham — tanpa perlu Nabi berkata-kata kasar atau bereaksi keras. Inilah kelembutan dalam komunikasi: menyampaikan ketidaksetujuan tanpa harus menggunakan kata-kata yang menyakiti.

Dalam kehidupan rumah tangga, ini pelajaran yang sangat berharga. Pasangan yang saling memahami tanda-tanda satu sama lain, yang peka terhadap isyarat tanpa harus selalu diucapkan secara eksplisit — itulah rumah tangga yang dibangun di atas ar-rifq.

Rasa malu adalah benteng. Rasulullah ï·º bersabda: "Al-hayaa' laa ya'tii illaa bikhair." — "Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan." Orang yang berani korupsi, yang mudah berbohong, yang tidak segan mempertontonkan hal-hal yang memalukan di depan publik — semuanya bermuara pada satu akar: hilangnya rasa malu.

Dan salah satu faktor paling kuat yang meruntuhkan rasa malu di zaman ini adalah tontonan. Ketika seseorang terbiasa menyaksikan hal-hal yang mestinya memalukan — dipertontonkan setiap hari di layar — maka lambat laun hal itu menjadi biasa. Yang tadinya mengejutkan, menjadi lumrah. Yang tadinya memalukan, menjadi normal. Inilah mengapa menjaga apa yang kita — dan anak-anak kita — tonton adalah bagian dari menjaga akhlak.

Seluruh para nabi, sejak zaman dahulu, telah sepakat dalam mengajarkan rasa malu. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat: "Inna mimmaa adraka an-naasu min kalami an-nubuwwatil uulaa: idzaa lam tastahi fasna' maa syi'ta." — "Di antara yang diwarisi manusia dari ajaran para nabi sejak zaman dahulu adalah: jika engkau tidak punya rasa malu, lakukan apa yang kau mau." Maknanya: rasa malu adalah rem universal yang mencegah seseorang terjerumus ke dalam keburukan. Hilangnya rasa malu berarti hilangnya rem itu.


Tiga Warisan Kenabian dalam Diri Seorang Muslim

Nabi ï·º bersabda:

"Al-hadyus shalih, was-samtu, wal-iqtishad juz'un min sab'ina juz'an min an-nubuwwah." "Petunjuk yang baik (akhlak yang mulia), ketenangan (rasa malu), dan keseimbangan — adalah satu dari tujuh puluh bagian kenabian." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Tiga hal ini saling berkaitan erat dengan tema kelembutan:

Pertama, al-hadyus shalih — yaitu cara seseorang berjalan, bersikap, dan berakhlak dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang baik adalah penampakan luar dari jiwa yang lembut.

Kedua, as-samt — ketenangan dan rasa malu. Bukan diam karena lemah, melainkan tenang karena kuat. Mampu menahan diri dari kata-kata yang tidak perlu, dari reaksi yang berlebihan, dari tergesa-gesa.

Ketiga, al-iqtishad — keseimbangan dan moderasi dalam segala sesuatu. Tidak berlebih-lebihan, tidak pula meremehkan. Tidak terburu-buru, namun juga tidak menunda-nunda. Ini adalah inti dari ar-rifq: bergerak dengan terukur, bukan dengan panik.

Imam Bukhari membawakan hadis ini untuk menegaskan bahwa keseimbangan adalah cabang dari kenabian. Artinya, ketika seorang Muslim berhasil menjaga ketiganya — akhlak yang baik, ketenangan, dan moderasi — ia sesungguhnya sedang menghidupkan sebagian dari sifat-sifat para nabi dalam dirinya.


Waspadai Syuh: Kikir yang Menghancurkan Peradaban

Dalam bab kelembutan yang sama, Imam Bukhari memasukkan sebuah hadis yang mungkin terasa agak mengejutkan:

Rasulullah ï·º bersabda: "Iyyakum was-syuhh! Fa-innahu ahlaka man kaana qablakum — safahum dima'ahum, wa qatha'u arhahmahum." "Waspadalah kalian dari sifat syuh (kikir disertai tamak)! Karena sifat inilah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kalian — ia membuat mereka menumpahkan darah dan memutuskan silaturahmi." (HR. Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani)

Syuh bukan sekadar pelit biasa. Ia adalah kombinasi dari kikir yang ekstrem dan ketamakan yang terus-menerus ingin mendapat lebih. Dalam Al-Qur'an, Allah menutup pujian-Nya kepada kaum Anshar — yang rela memberikan makanan mereka kepada kaum Muhajirin meski diri mereka sendiri sedang membutuhkan — dengan firman:

"Wa man yuqa syuhha nafsih fa-ulaa'ika hum al-muflihun." "Dan siapa yang dijauhkan dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)

Mengapa Imam Bukhari memasukkan hadis tentang kikir dalam bab kelembutan? Karena orang yang benar-benar lembut tidak akan bersifat syuh. Kelembutan melahirkan kedermawanan, kelapangan dada, dan kemudahan dalam berbagi. Sebaliknya, kekikiran selalu berujung pada kezaliman — mendzalimi istri, mendzalimi anak-anak, memutus silaturahmi demi harta, bahkan menumpahkan darah karena tidak mau mengalah.

Sahabat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu — salah satu sahabat Nabi yang terkenal sebagai dermawan luar biasa — pernah terlihat terus-menerus berdoa di Ka'bah: "Allahumma qinii syuhha nafsii." — "Ya Allah, jauhkanlah aku dari penyakit kikir." Orang yang menyaksikannya mengira ia orang pelit yang berdoa agar bisa murah hati. Ternyata ia justru salah satu sahabat paling dermawan sepanjang sejarah Islam. Namun ia tetap merasa takut tertimpa penyakit itu.

Inilah pelajaran bagi kita: jangan merasa aman dari penyakit hati hanya karena kita sudah bersedekah. Para sahabat yang dermawannya melebihi kita pun masih berlindung dari ancaman kikir.


Lembut dalam Menjalani Hidup: Kisah Aisyah dan Baju yang Dijahit

Imam Bukhari membawakan sebuah kisah yang tampak sederhana namun sarat makna. Katsir bin Ubaid — yang memiliki hubungan saudara susuan dengan Aisyah radhiyallahu 'anha — datang mengunjungi Ummul Mukminin. Aisyah sedang menjahit pakaiannya.

"Tunggu sebentar sampai aku selesai menjahit," kata Aisyah.

Katsir menunggu. Lalu ia berseloroh: "Kalau saya beritahu orang-orang di luar bahwa Anda sibuk, mereka mungkin mengira Anda pelit."

Aisyah menjawab dengan tenang: "Urus saja dirimu. Sesungguhnya tidak ada baju baru bagi orang yang tidak pernah memakai baju lama."

Ada dua pelajaran besar di sini. Pertama, lembut bukan berarti selalu mengutamakan keinginan orang lain hingga kebutuhan sendiri terabaikan. Aisyah tidak berhenti menjahit bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena itu kegiatan yang wajar dan tidak berlebihan. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah di tangan sebelum beralih ke yang lain adalah bentuk ketenangan, bukan ketidakpedulian.

Kedua, jangan terlalu sibuk mengurus apa yang orang pikirkan tentang kita. Imam Syafi'i pernah berkata: "Ridhaa an-naasi ghaayatun laa tudrak." — "Keridaan semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai." Selama kita tidak melakukan sesuatu yang salah, biarkan orang berpendapat apa saja. Hidup dengan terus-menerus mengejar validasi orang lain adalah hidup yang tidak tenang — dan ketidaktenangan itu sendiri bertentangan dengan semangat ar-rifq.

Dan pesan terakhir dari Aisyah itu dalam maknanya: "Tidak ada baju baru bagi orang yang tidak pernah memakai baju lama." Artinya, menjalani hidup dengan kesederhanaan dan bersyukur dengan apa yang ada — itupun bagian dari kelembutan dalam menjalani kehidupan. Jangan mengejar yang baru terus-menerus hingga kita lupa mensyukuri apa yang sudah kita miliki.


Taskin: Tenangkan, Jangan Buat Orang Lari

Bab terakhir yang dibahas adalah bab taskin — menenangkan. Rasulullah ï·º bersabda kepada para sahabatnya ketika mengutus mereka berdakwah:

"Yassiru wa laa tu'assiru, wa sakkinu wa laa tunaffiru." "Mudahkanlah, jangan persulit. Tenangkanlah, jangan buat orang lari." (HR. Bukhari)

Prinsip ini universal. Tidak hanya untuk pendakwah, tetapi untuk siapapun yang ingin membawa kebaikan kepada orang lain. Apakah itu seorang pemimpin yang ingin mengajak timnya bergerak bersama, seorang orang tua yang mendidik anak-anaknya, atau seorang guru yang ingin ilmunya terserap oleh murid-muridnya.

Imam Bukhari menutup bab ini dengan sebuah perumpamaan yang mengena. Dikisahkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma tentang sebuah riwayat dari Bani Israil: ada tamu yang datang ke sebuah rumah. Di rumah itu ada anjing betina dengan anak-anaknya. Ketika tamu datang, si induk diam saja setelah diberi isyarat. Namun anak-anaknya yang belum mengerti terus-menerus menggonggong.

Seorang nabi di antara mereka menjelaskan: inilah perumpamaan suatu umat yang akan datang di mana orang-orang bodohnya mendominasi orang-orang pintarnya. Yang mengerti situasi memilih diam dan tenang. Yang belum mengerti justru membuat gaduh tanpa henti. Dan karena jumlah yang menggonggong lebih banyak, suara kebenaran pun tenggelam.

Di era media sosial ini, perumpamaan itu terasa sangat hidup. Betapa sering kebenaran tertutup oleh keriuhan komentar, betapa mudah opini digiring oleh yang paling kencang bersuara — bukan oleh yang paling dalam pemahamannya. Tugas seorang Muslim yang lembut adalah tidak ikut menambah kegaduhan, melainkan menjadi penyejuk di tengah kebisingan.


Kesimpulan

Kelembutan bukan tanda kelemahan. Ia adalah tanda kematangan, kedalaman jiwa, dan kedekatan dengan sifat-sifat Allah. Rasulullah ï·º mengajarkan bahwa Allah itu Ar-Rafiq — Mahalembut — dan Allah menyukai kelembutan. Sebagaimana Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, sebagaimana Allah Maha Pemaaf dan menyukai pemaaf, maka Allah Mahalembut dan menyukai mereka yang bersikap lembut.

Dari kajian bab ar-rifq dalam Al-Adab Al-Mufrad ini, kita belajar banyak hal sekaligus: memaafkan orang yang dikenal baik ketika mereka tersandung kesalahan, menjaga rasa malu sebagai benteng akhlak, berhati-hati dari kikir dan tamak yang merusak, menjalani hidup dengan tenang tanpa tergesa-gesa, dan menjadi penyejuk — bukan penambah gaduh — di lingkungan sekitar kita.

Tidaklah kelembutan menempel pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Semoga Allah Ta'ala menganugerahkan kepada kita sifat ar-rifq itu — dalam ucapan kita, dalam tindakan kita, dalam cara kita menghadapi keluarga, rekan kerja, dan siapapun yang Allah titipkan dalam lingkaran kehidupan kita.


Artikel ini disusun berdasarkan kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari, sesi ke-74, yang membahas bab-bab tentang kelembutan (ar-rifq). Sumber: YouTube — Kajian Al-Adab Al-Mufrad #74



Posting Komentar

0 Komentar