Imam Bukhari rahimahullah menyusun hadis-hadis dalam bab ini bukan secara acak. Ada benang merah yang menghubungkannya: semua bermuara pada kesadaran bahwa seorang Muslim yang benar-benar lembut hatinya akan bersikap bijak dalam segala hal — kepada hewan, kepada sesama, terhadap harta yang dititipkan kepadanya, bahkan dalam memahami hubungan antara dunia dan akhirat. Inilah peta lengkap ar-rifq dalam kehidupan nyata.
Lembut Itu Bukan Hanya untuk Manusia
Kajian ini dibuka dengan sebuah hadis yang sudah kita kenal dari sesi sebelumnya, namun tetap diulang karena kandungannya terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Suatu hari aku berada di atas seekor unta yang susah dikendalikan. Aku pun mulai memukulinya. Maka Rasulullah ï·º bersabda kepadaku, 'Alaiki bir-rifq! Hendaklah engkau berlaku lembut!'"
Kemudian Rasulullah ï·º menegaskan kaidah yang sudah menjadi prinsip fundamental:
"Fainnar-rifqa laa yakuunu fii syai'in illaa zaanahu, wa laa yunza'u min syai'in illaa syaanahu."
"Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya."
Perhatikan subjeknya: sesuatu — syai'in. Bukan sekadar "seseorang" atau "sesama Muslim." Kaidah ini berlaku untuk segalanya: manusia, hewan, bahkan benda mati. Ketika kita kasar terhadap kendaraan kita, terburu-buru dalam memperbaiki sesuatu yang rusak, atau tidak sabar menghadapi hal-hal yang "tidak nurut" — sesungguhnya kita sedang mencabut kelembutan dari sesuatu yang seharusnya menghiasinya.
Pelajaran yang diajarkan Nabi ï·º kepada Aisyah bukan soal unta saja. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana seorang mukmin menghadapi segala permasalahan — urusan keluarga, pekerjaan, tetangga, bahkan kepemimpinan dan kepengurusan: jangan terburu-buru, hadapi satu per satu dengan tenang, dan selalu ingat bahwa kasar dan tergesa-gesa hampir selalu menghasilkan kerusakan.
Dunia: Bukan Tercela, tapi Sering Disalahgunakan
Bagian kedua kajian ini membawa kita ke sebuah kisah yang sangat menarik. Seorang lelaki — disebut Jabir atau Juwaibir — mengaku pandai berbicara dan cerdas. Ia datang menemui Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, lalu mulai berceramah dengan fasih tentang betapa tidak berartinya dunia. Ia mengecilkan dunia, menghina dunia, menjadikan dunia seolah tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan akhirat. Bicaranya indah dan berapi-api.
Di sisi Umar, duduk seorang lelaki tua berambut putih dengan jubah putih. Ketika Jabir selesai, lelaki tua itu berkata dengan tenang: "Semua yang kau ucapkan itu muqarib — dekat dengan kebenaran, tapi belum tepat — kecuali bagian ketika kau menghina dunia itu. Apakah kamu tahu apa sebenarnya dunia itu?"
Lalu lelaki itu menjelaskan sesuatu yang jarang kita dengar:
"Innad dunya fiha balaghuna aaduna ilal akhirah, wa fiha a'maluna nujza biha fil akhirah."
"Sesungguhnya di dalam dunia ini terdapat bekal perjalanan kita menuju akhirat, dan di dunia inilah kita beramal yang akan dibalas di akhirat kelak."
Jabir terkejut. Ia pun bertanya kepada Umar: "Ya Amirul Mukminin, siapa lelaki ini?" Umar menjawab: "Ini adalah pemimpin kaum muslimin — Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu."
Imam Syafi'i rahimahullah pernah mengungkapkan pemikiran yang senada dengan kalimat yang sangat indah: "Nahibu naibaz zamani wal 'aibuu fiina, wa maa li zamani 'aibun siwaana." — "Kita mencela zaman, padahal yang tercela sebenarnya adalah kita. Tidak ada cela pada zaman ini kecuali dari diri kita sendiri."
Dunia — sebagai tempat berputarnya kehidupan, sebagai arena beramal — tidak tercela secara zatnya. Ia tercela karena kebanyakan manusia salah menggunakannya. Allah SWT memang berfirman bahwa dunia adalah kesenangan yang menipu (QS. Al-Hadid: 20), tetapi itu bukan larangan untuk memiliki atau mengelola dunia. Itu adalah peringatan agar kita tidak tertipu olehnya.
Buktinya, Allah SWT berulang kali memerintahkan infak, zakat, sedekah, membantu karib kerabat, membangun masjid, dan berjihad dengan harta. Semua itu hanya bisa dilakukan dengan apa? Dengan dunia — dengan harta. Maka dunia, jika dikelola dengan niat yang benar dan digunakan untuk ketaatan, menjadi bekal akhirat yang luar biasa. Bukan musuh yang harus dijauhi.
Rasulullah ï·º sendiri pernah mengingatkan Amr bin Ash radhiyallahu 'anhu: "Ni'mal maalus shalih lir rajulis shalih." — "Sebaik-baik harta yang baik adalah jika dimiliki oleh seorang yang baik." Karena orang yang baik akan menjadikan hartanya sebagai sarana kebaikan — bukan sebagai tujuan hidup.
Sombong: Akar Tersembunyi di Balik Kekasaran
Imam Bukhari rahimahullah kemudian membawakan sebuah hadis pendek yang sarat makna:
"Al-asyaratu syar." - "Kesombongan itu buruk."
Apa hubungannya dengan bab kelembutan? Hubungannya sangat erat. Imam Bukhari seakan ingin mengungkap akar dari sikap kasar dan tergesa-gesa yang sudah dibahas panjang lebar sebelumnya. Mengapa seseorang sulit berlaku lembut? Karena di baliknya ada penyakit hati yang bernama sombong — al-kibr dan al-'ujb.
Orang yang sombong tidak mau mendengar, tidak mau mengalah, tidak mau menimbang pendapat orang lain. Ia terburu-buru mengambil keputusan, merendahkan orang di bawahnya, dan merasa setiap penilaiannya sudah pasti benar. Sebaliknya, orang yang tawadhu — rendah hati — cenderung lembut, sabar, dan mau mendengarkan. Ia tidak tergesa-gesa karena ia tidak merasa dirinya lebih penting dari masalah yang sedang dihadapi.
Ada fenomena menarik yang sering kita saksikan dalam kehidupan sosial: seseorang yang keras, kasar, dan arogan terhadap orang-orang di bawahnya — tapi tiba-tiba bisa sangat lembut dan sopan di depan orang yang lebih berkuasa atau kaya. Ini adalah bukti bahwa di balik kekasarannya tersimpan kesombongan — bukan karakter asli. Karena karakter asli yang lembut tidak berubah-ubah tergantung siapa yang ada di hadapannya.
Sifat buruk melahirkan sifat buruk yang lain. Sombong melahirkan keras, keras melahirkan zalim, zalim melahirkan perpecahan. Sebaliknya, tawadhu melahirkan ar-rifq, dan ar-rifq melahirkan keberkahan dalam segala urusan.
Produktif Hingga Napas Terakhir: Jangan Sia-siakan Harta dan Waktu
Imam Bukhari kemudian membuka bab baru yang terhubung erat dengan tema sebelumnya: Bab Istinaul Mal — bab tentang memperhatikan dan mengembangkan harta. Di sinilah kajian ini mencapai salah satu puncaknya.
Dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, ada seorang yang kudanya baru saja melahirkan. Ia pun langsung menyembelih anak kuda itu, dengan alasan yang terdengar masuk akal: "Untuk apa saya menunggu kuda ini besar? Belum tentu saya masih hidup sampai bisa menungganginya. Lebih baik saya manfaatkan sekarang."
Umar radhiyallahu 'anhu mengirim pesan yang meluruskan pemikiran ini: "Perbaikilah dan urusilah rezeki yang Allah berikan kepada kalian, karena dalam kehidupan ini ada kelapangan." Maksudnya: jangan berpikir pendek. Seandainya pun kamu meninggal sebelum kuda itu besar, ia tetap bermanfaat — untuk ahli warismu, untuk orang-orang yang kamu tinggalkan. Tidak ada yang sia-sia dalam kebaikan yang kamu usahakan.
Pelajaran ini diperkuat oleh hadis yang sangat terkenal dan menggetarkan:
"In qaamat as-saa'ah wa fii yadi ahadikum fasilah, falyagris in istatha'a an laa taquuma hatta yagrisaha."
"Jika hari kiamat telah tiba dan di tangan salah seorang dari kalian terdapat bibit kurma kecil, maka tanamlah ia — jika ia masih sempat melakukannya sebelum kiamat benar-benar tegak." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Ahmad)
Bayangkan: Rasulullah ï·º menyuruh kita menanam kurma bahkan saat hari kiamat sudah di ambang pintu. Mengapa? Karena Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk berhenti berproduktif, berhenti beramal, atau berhenti berikhtiar — sebelum Allah sendiri yang menghentikannya.
Sahabat Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu mengajarkan prinsip yang sama dengan redaksi berbeda: "Jika kamu mendengar kabar bahwa Dajjal telah keluar, sementara kamu sedang dalam proses menanam bibit kurma kecil, janganlah terburu-buru meninggalkan pekerjaanmu. Selesaikan dulu. Karena kehidupan masih terus berjalan setelahnya."
Kisah yang paling menyentuh adalah ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu melihat ayah dari Ammarah bin Khuzaimah — seorang yang sudah tua — tidak mau menggarap tanahnya. Alasannya sederhana: "Saya sudah tua, mau apa lagi, sebentar lagi mati." Umar merespons bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan tindakan: ia turun langsung dan ikut menanam bersama orang tua itu.
Inilah pesan yang sangat kuat: selama masih ada napas, selama masih ada kemampuan, produktivitas adalah ibadah. Bukan karena kita tidak percaya kematian bisa datang kapan saja, melainkan justru karena kita percaya — sehingga kita ingin memanfaatkan setiap momen yang tersisa.
Namun ada satu catatan penting: produktivitas yang baik harus dibarengi niat yang lurus. Sibuk mencari harta bukan untuk bangga-banggaan, bukan untuk mengikuti tren, bukan untuk memuaskan hasrat memiliki lebih banyak — melainkan karena harta adalah amanah Allah yang akan ditanya: dari mana didapatkan, dan ke mana digunakan. Ketika niat bergeser dari akhirat menuju tafakhur (kebanggaan diri), maka seseorang telah jatuh ke dalam perangkap dunia yang sesungguhnya.
Waspadai Tiga Doa yang Tidak Terhalangi
Bagian terakhir kajian ini membawa kita ke bab Dakwatil Mazlum — doa orang yang dizalimi. Rasulullah ï·º bersabda:
"Tiga doa yang dikabulkan: doanya orang yang dizalimi, doanya orang yang bersafar, dan doa (keburukan) orang tua kepada anaknya." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Dan dalam riwayat lain:
"Sesungguhnya tidak ada hijab (penghalang) antara doa orang yang dizalimi dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Artinya, doa itu langsung naik, langsung menembus langit, langsung sampai kepada Allah — tanpa ada yang menghalangi. Dikabulkan cepat atau lambat, di dunia atau di akhirat.
Imam Bukhari menempatkan bab ini dalam konteks kajian adab yang lebih luas, dan pelajarannya sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Rasulullah ï·º pernah berpesan kepada Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ketika mengutusnya ke Yaman untuk berdakwah dan mengambil zakat. Di antara pesannya:
"Hati-hatilah ketika mengambil zakat dari mereka. Jangan pilih hewan terbaik milik mereka. Ambillah yang pertengahan. Dan waspadalah dari doa orang yang dizalimi — karena tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah."
Renungkan betapa dalamnya pesan ini. Muadz sedang menjalankan tugas resmi negara. Hewan yang diambil bukan untuk kantong pribadinya, melainkan untuk kas zakat kaum muslimin. Namun tetap saja, jika ia mengambil yang terbaik — yang seharusnya pertengahan — maka ia telah berbuat zalim. Dan orang yang dizalimi itu bisa berdoa, dan doa itu dikabulkan.
Lantas bagaimana dengan kita, yang mungkin mengambil hak orang lain untuk kepentingan pribadi? Yang mungkin memanfaatkan jabatan atau posisi untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak semestinya? Dosa kezaliman bisa mengenai pelakunya cepat atau lambat — bisa lima tahun kemudian, bisa dua puluh tahun kemudian, bisa di dunia bisa di akhirat — dan seringkali pelakunya tidak menyadari bahwa musibah yang menimpanya adalah buah dari kezaliman yang pernah ia lakukan di masa lampau.
Begitu pula dengan dua doa lain yang disebutkan Nabi ï·º. Doa orang yang bersafar — dalam kondisi jauh dari kenyamanan, penuh tawadhu, jauh dari kesombongan — mudah dikabulkan. Karena kerendahan hati adalah kunci terbukanya pintu langit. Dan doa orang tua atas keburukan anaknya — ini peringatan keras bagi siapapun yang menyakiti orang tuanya. Ketika seorang ibu atau ayah yang tersakiti hatinya mengangkat tangan dan berdoa — meski dalam amarah — doa itu sangat mudah mengenai.
Kesimpulan
Lima tema besar dalam kajian Al-Adab Al-Mufrad #75 ini sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh. Kelembutan kepada makhluk mengajarkan kita bahwa ar-rifq tidak mengenal batas — ia berlaku untuk semua. Hakikat dunia mengajarkan kita untuk tidak salah menempatkan dunia — bukan dicampakkan, melainkan dikelola sebagai bekal akhirat. Bahaya kesombongan mengingatkan kita bahwa kekasaran selalu berakar pada penyakit hati yang perlu diobati. Produktivitas hingga akhir hayat mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan satu pun momen yang Allah titipkan. Dan peringatan tentang doa orang terzalimi menyadarkan kita bahwa setiap kezaliman — sekecil apapun — memiliki konsekuensi yang tidak bisa dipandang remeh.
Semua ini bermuara pada satu prinsip yang Rasulullah ï·º ajarkan berkali-kali: hidup ini adalah amanah, dan cara kita menjalaninya — dengan lembut, bijak, dan penuh tanggung jawab — adalah bentuk ibadah yang paling nyata. Semoga Allah Ta'ala menjaga kita dari kesombongan, memudahkan kita dalam berlaku lembut, dan melindungi kita dari kezaliman — baik sebagai pelaku maupun sebagai korban.
Artikel ini disusun berdasarkan kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari, sesi ke-75, melanjutkan bab-bab tentang kelembutan (ar-rifq), hakikat dunia, menjaga harta (istinaul mal), dan doa orang terzalimi. Sumber: YouTube — Kajian Al-Adab Al-Mufrad #75
0 Komentar