Pendahuluan
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: berapa hari dalam sepekan kita tidak membuka Al-Qur'an sama sekali? Bagi sebagian dari kita, mungkin jawabannya mengejutkan. Al-Qur'an ada di rumah — bahkan mushaf paling indah yang dibeli di Madinah atau Makkah — tetapi ia hanya berdiri tegak di rak buku, tersandar rapi di lemari, atau terpajang di sudut musala sebagai simbol keislaman kita.
Padahal, kata Al-Qur'an sendiri berasal dari akar kata qara'a yaqra'u, yang berarti "membaca" atau "yang dibaca." Tujuan utama Allah menurunkannya adalah agar ia dibaca. Bukan dipajang. Bukan hanya dijadikan ornamen rumah. Dan yang lebih penting lagi — bukan untuk mengusir setan sekadar karena keberadaan fisiknya di sudut ruangan. Setan baru berlari ketika Al-Qur'an itu dibaca.
Dalam kajian seri 31 Tuntunan Hidup Berkah & Panjang Umur Ala Nabi yang ditulis oleh Amir bin Muhammad Al-Mudhari, Ustadz Khalid Basalamah membahas poin ke-24: perbanyaklah membaca Al-Qur'an. Ini bukan sekadar anjuran yang telah ribuan kali kita dengar lalu berlalu begitu saja. Di sini, kita diajak untuk benar-benar memahami apa yang kita lewatkan selama ini — dan apa yang bisa kita mulai hari ini juga.
Al-Qur'an Memiliki Empat Hak atas Kita
Sebelum membahas keutamaan-keutamaannya, penting untuk dipahami bahwa Al-Qur'an memiliki empat hak yang wajib kita tunaikan sebagai seorang Muslim. Empat hak ini tidak bisa ditolak jika kita benar-benar ingin lebih dikenal oleh Allah, lebih dekat dengan-Nya, dan lebih mendapatkan rahmat serta kemudahan dalam urusan hidup.
Hak Pertama: Membacanya dari Awal hingga Khatam
Hak yang pertama adalah membaca Al-Qur'an secara berurutan, dari surah nomor 1 (Al-Fatihah) hingga surah nomor 114 (An-Nas), kemudian mengulangnya kembali dari awal, dan begitu seterusnya. Ini disebut khatam, dan para ulama Salafush Shalih menjadikannya sebagai kebiasaan yang tak terganggu. Ada di antara mereka yang mengkhatam Al-Qur'an setiap tiga hari sekali, ada yang lima hari, ada yang tujuh hari. Bagi mereka, mengkhatam Al-Qur'an adalah sebuah kelaziman — bukan sekadar prestasi Ramadan.
Membaca tidak harus paham artinya terlebih dahulu. Sama seperti membaca sebuah buku dari halaman pertama hingga terakhir meski tidak menyerap setiap detail — ada yang tertinggal, ada yang membekas. Bayangkan jika buku itu dibaca sepuluh kali. Kita pasti akan semakin hafal isinya. Begitu pula Al-Qur'an: semakin sering dikhatam, semakin dalam pesan-pesan ilahi itu meresap ke dalam hati.
Nabi ï·º bersabda:
"Siapa yang membaca Al-Qur'an dan mahir membacanya — menguasai makharijul huruf dan tajwidnya — maka ia akan bersama para malaikat yang mulia. Dan siapa yang membacanya dengan terbata-bata karena masih belajar, maka ia mendapat dua pahala." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan ini luar biasa: bagi yang sudah mahir, derajatnya setara malaikat. Bagi yang masih belajar dan terbata-bata, justru pahalanya berlipat ganda. Tidak ada alasan untuk menunda.
Hak Kedua: Mentadabburinya — Merenungi Maknanya
Hak yang kedua adalah tadabbur — merenungi dan memikirkan makna ayat-ayat Al-Qur'an. Untuk tadabbur, kita tidak harus membacanya secara berurutan. Mulailah dari surah yang paling menarik minat kita. Penasaran mengapa Allah menamakan surah dengan nama hewan — Al-Baqarah (sapi), Al-Ankabut (laba-laba), An-Naml (semut), An-Nahl (lebah)? Mulailah dari sana. Ingin memahami lebih dalam tentang perempuan? Buka surah An-Nisa atau surah Maryam. Ingin membaca tentang kisah para nabi? Ada surah Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, Al-Anbiya.
Metode yang disarankan sangat sederhana: cukup 10 ayat per hari. Bisa dibagi merata — dua ayat sehabis setiap shalat fardhu. Subuh dua ayat, Zuhur dua ayat, Asar dua ayat, Maghrib dua ayat, Isya dua ayat. Dengan ritme ini, dalam satu bulan kita telah mentadabburi 300 ayat. Dalam setahun, 3.600 ayat. Dan dalam tidak lebih dari dua tahun, kita telah menyelesaikan tadabbur seluruh 30 juz Al-Qur'an — hanya dengan 10 ayat sehari.
Para sahabat Nabi ï·º mengatakan bahwa mereka tidak pernah melewatkan sehari pun tanpa mentadabburi setidaknya 10 ayat. Dan mereka tidak berhenti di sekadar membacanya: mereka memahami pesannya, menghafalnya, dan mengamalkannya. Sepuluh ayat — itulah standar mereka.
Hak Ketiga: Menghafalnya
Menghafal Al-Qur'an terdengar berat, tetapi Ustadz Khalid Basalamah menyederhanakan targetnya: minimal satu surah baru setiap bulan. Tidak perlu langsung menarget juz 1 atau Al-Baqarah. Mulailah dari juz 30. Lihat surah-surah yang belum kita hafal. Pilih satu. Hafalkan dalam sebulan.
Metode hitungannya sama: 10 ayat per hari, dibagi atas waktu-waktu shalat. Dengan cara ini, surah sepanjang Al-Baqarah yang mencapai 286 ayat pun tetap bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari sebulan — asal ada tekad dan konsistensi.
Ada yang khawatir: "Bagaimana jika lupa?" Semua orang lupa. Bahkan imam-imam Masjidil Haram pun bisa lupa satu-dua ayat. Kuncinya adalah menjaga hafalan itu tetap hidup — dibaca dalam shalat sunnah, diulang dalam perjalanan, dilantunkan di sela aktivitas. Hafalan yang terus dipakai tidak akan mudah sirna.
Yang lebih luar biasa lagi: Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa derajat di surga itu sejumlah ayat Al-Qur'an yang dihafal seseorang. Artinya, semakin banyak hafalan, semakin tinggi derajat di surga. Dan akan dikatakan kepada penghafal Al-Qur'an pada hari kiamat: "Bacalah dan naiklah — sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Karena kedudukanmu di surga adalah di akhir ayat yang engkau baca."
Hak Keempat: Mengamalkan Isinya
Hak terakhir dan paling berat adalah mengamalkan apa yang diperintahkan Al-Qur'an dan menjauhi apa yang dilarangnya. Al-Qur'an bukan sekadar teks yang indah untuk dibaca — ia adalah panduan hidup. Orang yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pemandunya, sebagai rujukan utama dalam setiap keputusan dan perilakunya, niscaya Al-Qur'an itu sendiri yang akan menggiring ia ke surga.
Setiap Huruf Bernilai Sepuluh Pahala
Tidak ada buku di dunia ini yang memberikan imbalan kepada pembacanya per huruf yang dibaca. Tetapi Al-Qur'an bukan karangan manusia — ia adalah Kalamullah, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, Pencipta alam semesta.
Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
"Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa 'alif lam mim' itu satu huruf — tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR. Tirmidzi)
Artinya, hanya dari tiga huruf pembuka surah Al-Baqarah — alif lam mim — seseorang sudah mendapatkan tiga puluh pahala. Bayangkan berapa pahala yang menanti dari satu halaman, satu juz, satu khataman penuh?
Dan lebih jauh dari itu, Nabi ï·º memberikan gambaran nilai satu ayat Al-Qur'an dengan perumpamaan yang sangat nyata bagi para sahabat. Dalam hadits dari Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ï·º bertanya kepada para sahabat yang tinggal di suffah — mereka yang miskin harta namun kaya ilmu: "Siapakah di antara kalian yang mau pergi ke lembah Buthan atau Aqiq, lalu pulang membawa dua ekor unta yang besar dan berpunuk, tanpa berdosa dan tanpa memutus silaturahim?"
Semua sahabat menjawab bahwa mereka tentu mau. Unta berpunuk besar adalah harta yang sangat berharga. Maka Nabi ï·º bersabda:
"Mengapa salah seorang dari kalian tidak pergi ke masjid lalu belajar atau membaca dua ayat dari Kitabullah? Karena itu lebih baik dari dua ekor unta. Tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta. Dan begitu seterusnya." (HR. Abu Daud dan Muslim)
Setiap ayat yang kita baca hari ini — di perjalanan, di sela istirahat, sebelum tidur — adalah investasi yang nilainya melampaui harta benda terbaik di dunia.
Empat Perumpamaan yang Menggetarkan Hati
Rasulullah ï·º adalah seorang pendidik yang ulung. Ia tidak sekadar menyampaikan perintah, tetapi melukiskan gambaran yang membekas di hati. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Nabi ï·º menggambarkan empat tipe manusia berdasarkan hubungannya dengan Al-Qur'an:
Pertama, orang mukmin yang gemar membaca Al-Qur'an diumpamakan seperti buah utrujah — buah yang aromanya harum semerbak dan rasanya pun manis. Ia wangi karena Al-Qur'annya, dan manis karena keimanannya. Orang seperti ini menarik — bukan karena parasnya atau hartanya, tetapi karena ada sesuatu yang memancar dari dalam dirinya; sesuatu yang membuat orang tertarik untuk berteman dengannya.
Kedua, orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an diumpamakan seperti buah kurma — tidak memiliki aroma, tetapi rasanya tetap manis. Islam dan imannya tetap ada, tetapi tidak ada wawu, tidak ada keistimewaan yang menonjol karena Al-Qur'an tidak hadir dalam kesehariannya.
Ketiga, orang munafik yang membaca Al-Qur'an diumpamakan seperti buah raihana — aromanya harum, tetapi rasanya pahit. Kemunafikannya menjadikannya pahit, namun karena ia membaca Al-Qur'an, tetap ada keharuman padanya. Ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur'an — bahkan menyentuh orang yang munafik pun.
Keempat, orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an diumpamakan seperti buah hanzalah — buah liar padang pasir yang bentuknya seperti semangka kecil, tetapi baunya busuk dan rasanya sangat pahit. Bahkan hewan-hewan pun enggan memakannya.
Perumpamaan ini bukan sekadar indah secara sastra. Ia adalah cermin — dan kita masing-masing perlu berdiri di hadapannya: kita termasuk yang mana?
Al-Qur'an Akan Menjadi Penolong di Hari Kiamat
Di antara keutamaan membaca Al-Qur'an yang paling agung adalah bahwa ia akan hadir sebagai syafi' — pemberi syafaat — di hari kiamat, hari yang tidak ada satu pun yang mampu menolong kecuali dengan izin Allah.
Nabi ï·º bersabda dalam hadits dari Jabir radhiyallahu 'anhu:
"Al-Qur'an adalah pemberi syafaat dan diterima syafaatnya. Barang siapa menjadikannya sebagai pemandunya di depan, niscaya Al-Qur'an akan menggiring ia ke surga. Dan barang siapa meninggalkannya di belakang, niscaya ia akan tergiring ke neraka." (HR. Ibnu Hibban)
Dalam hadits lain, Nabi ï·º melukiskan adegan yang luar biasa pada hari kiamat. Orang yang gemar membaca Al-Qur'an akan dihadirkan, lalu Al-Qur'an akan berbicara di hadapan Allah: "Ya Rabb, hiasilah ia." Maka orang itu pun dihiasi dengan mahkota kemuliaan. Al-Qur'an meminta lagi: "Ya Rabb, tambahkan untuknya." Ia pun dipakaikan pakaian kemuliaan. Kemudian Al-Qur'an memohon: "Ya Rabb, ridhailah ia." Maka Allah pun meridhainya. Lalu dikatakan kepadanya: "Bacalah, dan naiklah!" — ia naik derajat di surga, satu ayat satu derajat, hingga mencapai kedudukan tertinggi yang diizinkan Allah baginya. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Ada pula hadits yang menggabungkan dua ibadah yang saling bersinergi. Puasa dan Al-Qur'an, keduanya akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata: "Ya Rabb, aku telah mencegahnya makan dan minum di siang hari, maka izinkan aku memberinya syafaat." Dan Al-Qur'an akan berkata: "Ya Rabb, aku telah menghalanginya tidur di malam hari, maka izinkan aku memberinya syafaat." Dan keduanya pun dikabulkan. (HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma)
Keberkahan Majelis Al-Qur'an: Sebuah Kisah Nyata
Ustadz Khalid Basalamah berbagi sebuah pengalaman pribadi yang menjadi saksi nyata keberkahan Al-Qur'an. Kala itu beliau masih berstatus mahasiswa di Madinah, menjelang ujian penting. Seperti biasa, beliau dan teman-teman belajar di Masjid Nabawi dari waktu Zuhur hingga Isya. Namun di hari itu, materi ujian yang diulang-ulang tidak juga masuk ke kepala — ada hafalan yang terus menghilang setiap kali ingin dikuasai.
Menjelang Maghrib, beliau memutuskan sesuatu yang tidak biasa. Di depannya, sehabis shalat Maghrib, terlihat seorang guru sedang memimpin halaqah Al-Qur'an — siapa saja boleh ikut, duduk, membaca, dan dikoreksi bacaannya. Sementara teman-temannya bergegas kembali ke buku ujian, beliau memilih untuk duduk di halaqah itu, dari Maghrib hingga Isya, hanya mendengarkan dan mengikuti tilawah bersama orang-orang yang tidak ia kenal.
Setelah Isya, ia pulang ke kampus. Dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, seluruh materi ujian yang sebelumnya seperti menguap tiba-tiba menjadi jelas dan mudah diingat. Keesokan harinya, ia mendapat nilai penuh.
"Keberkahan majelis Al-Qur'an itu luar biasa," kenangnya. "Itu saya praktikkan sendiri."
Ini bukan kebetulan. Nabi ï·º bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan saling mengajarkannya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya." (HR. Abu Daud dan Muslim)
Orang Terbaik Dinilai dari Al-Qur'annya
Ada satu standar penilaian manusia yang seringkali kita lupakan dalam keseharian. Kita menilai calon pegawai dari ijazah dan pengalamannya. Kita memilih teman dari kesamaan hobi atau lingkar sosial. Kita melirik calon menantu dari latar belakang keluarga atau kondisi finansialnya.
Tetapi Nabi ï·º memberikan standar yang jauh lebih fundamental. Dari hadits Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, beliau ï·º bersabda:
"Sebaik-baik di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Khairukum — yang terbaik di antara kalian. Bukan yang paling kaya, bukan yang paling tampan, bukan yang paling berpengaruh. Melainkan orang yang hidupnya dekat dengan Al-Qur'an: belajar, memahami, mengamalkan, dan mengajarkannya kepada orang lain.
Mulai Hari Ini: Target Kecil, Dampak Besar
Ustadz Khalid Basalamah menutup kajian ini bukan dengan teori, melainkan dengan ajakan konkret. Sering kali kita pulang dari majelis ilmu membawa kesan bahwa materi hari ini bagus — tetapi tidak membawa perubahan apapun dalam perilaku. Itu yang harus diputus.
Beberapa langkah kecil yang bisa dimulai hari ini juga:
Pertama, jangan biarkan satu hari berlalu tanpa membaca Al-Qur'an. Di handphone kita sudah ada aplikasi Al-Qur'an. Kita yang tidak pernah lepas dari handphone hingga menjelang tidur pun bisa membuka Al-Qur'an di sela waktu itu. Tidak ada alasan teknis yang tersisa.
Kedua, targetkan 10 ayat per hari untuk tilawah, tadabbur, dan hafalan — masing-masing dua ayat di setiap waktu shalat. Dengan angka ini, dalam dua tahun seluruh Al-Qur'an dapat dikhatam dalam tiga jalur sekaligus: dibaca, direnungi, dan dihafal.
Ketiga, jangan lewatkan satu bulan tanpa menambah hafalan. Minimal satu surah. Lihat juz 30, temukan surah yang belum hafal, hafalkan dalam bulan ini.
Keempat, ingat selalu sabda Nabi ï·º:
"Barang siapa membaca 10 ayat dalam satu malam, ia tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai." (HR. Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Sepuluh ayat sebelum tidur — itu saja sudah cukup untuk menghapus catatan kelalaian kita dalam seharian.
Kesimpulan
Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab di muka bumi yang memberikan pahala kepada pembacanya per huruf — sepuluh kebaikan untuk satu huruf, dan setiap ayat setara dengan seekor unta terbaik. Ia adalah teman yang akan berbicara membela kita di hadapan Allah pada hari kiamat. Ia adalah penunjuk jalan ke surga bagi siapa yang menjadikannya pedoman hidup.
Namun semua keutamaan itu hanya akan menjadi milik kita jika kita mau membukanya — bukan sekadar memajangnya. Membacanya — bukan sekadar menyimpannya di rak. Merenunginya — bukan sekadar melantunkannya tanpa makna.
Kita sudah cukup lama mendengar tentang keutamaan Al-Qur'an. Hari ini, izinkan kajian ini menjadi titik balik. Bukan untuk dikenang sebagai ceramah yang bagus, tetapi untuk diamalkan — dimulai hari ini, setelah membaca kalimat terakhir ini, dengan membuka Al-Qur'an dan membaca satu ayat pertama.
Wallahu a'lam bishawab.
Sumber: Kajian Ustadz Khalid Basalamah — "31 Tuntunan Hidup Berkah & Panjang Umur Ala Nabi", Poin ke-24: Perbanyaklah Membaca Al-Qur'an. Buku asal karya Amir bin Muhammad Al-Mudhari.
0 Komentar