Pendahuluan
Kita memasuki Bab Ma Jaa fi Sifati Akli Rasulillah ﷺ — bab tentang cara dan adab makan Nabi ﷺ. Dua bab terpisah sebenarnya bergabung dalam episode ini: cara makan dan sifat roti yang beliau konsumsi. Keduanya merangkai gambaran yang sangat utuh tentang kehidupan makan Nabi ﷺ — mulai dari cara mengambil makanan, cara duduk, hingga jenis bahan makanan yang beliau konsumsi sepanjang hidupnya.
Menjilat Jari Setelah Makan: Sunnah yang Kaya Makna
Imam At-Tirmidzi rahimahullah membawakan hadits dari Ka'b bin Malik radhiyallahu 'anhu yang menyebut Nabi ﷺ menjilat jarinya. Namun ada kesalahan dalam satu jalur periwayatan: Muhammad bin Basyar meriwayatkan bahwa Nabi menjilat tiga kali (tsalatsa marraat), padahal perawi-perawi yang lain menyebutkan Nabi menjilat tiga jarinya (tsalatsa asabi'). Imam Tirmidzi menegaskan bahwa riwayat Muhammad bin Basyar ini syad — menyendiri dan bertentangan dengan perawi yang lebih dapat dipercaya.
Yang benar, dikuatkan oleh hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dalam riwayat yang shahih: Nabi ﷺ setelah makan menjilat tiga jarinya — yaitu ibu jari (jempol), telunjuk, dan jari tengah. Ketiga jari inilah yang beliau gunakan untuk makan, dan setelah selesai makan, ketiganya dijilat bersih.
Kapan dilakukan? Setelah selesai makan — bukan di tengah-tengah makan. Kalau dilakukan saat masih makan, tangan yang sudah dijilat masuk lagi ke piring, lalu dijilat lagi — ini bisa mengganggu orang yang makan bersama. Yang sunnah adalah menyelesaikan makan terlebih dahulu, baru menjilat jari.
Apa hikmah di balik sunnah ini?
Pertama, mencari keberkahan yang tidak diketahui letaknya. Nabi ﷺ menyabdakan bahwa keberkahan bisa turun di bagian mana saja dari makanan yang kita makan — kita tidak tahu apakah berkahnya ada di suapan pertama, di tengah, atau di bagian terakhir yang tersisa di jari kita. Untuk memastikan keberkahan itu didapatkan, kita harus menghabiskan semua — termasuk yang masih menempel di jari.
Kedua, ketawadhu'an. Ini adalah cara makan orang yang tidak punya banyak — orang miskin yang tidak mau menyia-nyiakan sedikitpun nikmat yang ada. Dengan menjilat jari, seseorang mengekspresikan penghargaan kepada rezeki Allah meskipun jumlahnya sedikit.
Ketiga, menghargai nikmat Allah. Membuang-buang makanan adalah bentuk kurang bersyukur. Sebaliknya, menghabiskan sampai bersih — bahkan yang menempel di jari — adalah bentuk syukur yang nyata.
Keempat, agar setan tidak memakan sisanya. Dalam hadits disebutkan bahwa makanan yang tersisa dan tidak dimakan bisa dimakan oleh setan. Dengan menjilat jari hingga bersih, kita tidak memberi setan "jatah" dari makanan kita.
Kelima, mempererat hubungan keluarga. Dalam hadits disebutkan Nabi ﷺ bahkan menganjurkan agar bila tidak mau menjilat sendiri, bisa disuruh orang lain — termasuk istri atau anak. Suami yang menjilatkan jari istrinya, atau istri yang membantu menjilatkan jari suami, bukan sesuatu yang menjijikkan — justru itu adalah kedekatan yang alami dalam keluarga yang penuh kasih sayang.
Menjilat Piring: Keberkahan Ada di Akhir Makanan
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu: Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mengangkat bejana makan sebelum kalian menjilatnya — atau menyuruh orang lain menjilatnya — karena keberkahan ada di akhir makanan."
Dalam riwayat lain: "Karena dia tidak tahu di mana keberkahan dalam makanannya."
Ini memberi kita satu kaidah sederhana: jangan meremehkan makanan sedikit pun yang tersisa. Bukan soal hemat — tapi soal kemungkinan bahwa justru di sanalah berkah dari Allah turun. Para ulama menyebutkan bahwa banyak orang saleh yang panjang umur dan penuh berkah dalam hidupnya, dan salah satu sunnah yang mereka terapkan adalah ini — menghabiskan makanan hingga bersih.
Makan dengan Tiga Jari: Makan Secukupnya
Sunnah makan Nabi ﷺ dengan tiga jari — ibu jari, telunjuk, dan jari tengah — juga mengandung hikmah yang sangat praktis: membatasi jumlah makanan yang masuk. Dengan tiga jari, suapan menjadi lebih kecil, lebih pelan, dan lebih terkontrol. Makanan masuk ke lambung secara bertahap, dan seseorang akan merasa kenyang sebelum berlebihan.
Ini berbeda dengan makan dengan lima jari atau sendok besar yang memungkinkan suapan lebih besar dan makan lebih cepat — yang berujung pada kekenyangan berlebihan.
Namun jika makanannya berupa nasi lepas yang tidak bisa dipegang dengan tiga jari tanpa berhamburan, para ulama mengatakan tidak perlu memaksakan diri (takaluf). Dalam kondisi seperti itu, gunakan lima jari atau sendok — yang penting tidak berlebihan dalam makan.
Cara Duduk Nabi ﷺ Saat Makan: Posisi IQA'
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: "Aku melihat Nabi ﷺ makan kurma dalam posisi IQA' karena laparnya."
Dalam riwayat lain: "Nabi membagi-bagikan kurma lalu memakannya dengan cepat — seolah-olah seperti orang yang akan segera berdiri pergi."
Posisi IQA' adalah duduk dengan betis ditinggikan — seperti orang yang berjongkok siap berdiri, atau duduk dengan lutut tegak di depan tubuh. Ada dua tafsiran: duduk di atas dua tumit dengan lutut di depan, atau duduk dengan bokong di lantai sambil mendirikan kedua lutut.
Hikmah posisi IQA' saat makan:
Pertama, menghalangi dari makan terlalu banyak. Dalam posisi ini, lambung tidak dalam posisi optimal untuk menerima makanan banyak — perut terkompres, tidak terbuka lebar. Akibatnya, seseorang akan lebih cepat merasa kenyang dengan jumlah yang lebih sedikit.
Kedua, menunjukkan bahwa makanan bukan prioritas. Nabi ﷺ makan cepat seperti orang yang akan segera berdiri dan pergi — bukan makan santai berlama-lama. Ini mencerminkan bahwa beliau tidak menjadikan makan sebagai kesenangan utama, melainkan sekadar kebutuhan.
Ketiga, meniru cara duduk orang miskin — yang tidak punya alas yang nyaman, terpaksa duduk demikian. Ini adalah ekspresi tawadu' Nabi ﷺ.
Bab Roti Nabi ﷺ: Tidak Pernah Kenyang Dua Hari Berturut-turut
Bab Ma Jaa fi Sifati Khubzi Rasulillah ﷺ — bab tentang jenis roti Nabi ﷺ — membawa gambaran yang lebih detail tentang makanan keseharian beliau.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha dalam hadits yang shahih: "Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dari roti barley (khubz syair) selama dua hari berturut-turut — hingga Rasulullah ﷺ wafat."
Syair (barley/jelai) adalah gandum kualitas lebih rendah dibanding qamh (gandum biasa). Roti barley adalah roti kasar, tidak lembut, kurang diminati dibanding roti gandum. Namun bahkan roti sesederhana itu pun — Nabi ﷺ dan keluarganya tidak pernah kenyang mengonsumsinya dua hari berturut-turut. Satu hari mungkin ada roti, hari berikutnya tidak ada — berganti kurma.
Dan ini bukan berlangsung sehari, seminggu, atau sebulan. Ini adalah kondisi yang berlanjut dari awal kenabian hingga wafatnya Nabi ﷺ — belasan tahun.
Roti Bersih yang Tak Pernah Dilihat Nabi ﷺ
Dari Sahal bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, ada percakapan yang sangat menggambarkan kondisi zaman itu:
"Apakah Nabi ﷺ pernah makan tepung yang sudah diayak bersih?"
Jawab Sahal: "Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat tepung bersih seperti itu sampai beliau wafat — jangankan memakannya."
"Apakah kalian punya alat ayak (manakil) untuk membersihkan gandum?"
Jawab Sahal: "Kami sama sekali tidak punya."
"Lalu bagaimana cara kalian mengolah gandum?"
"Kami tiup. Yang ringan (kulit dan kotoran) beterbangan. Sisanya yang tidak terbang kami campur dengan air, kami buat adonan, kami masak."
Jadi roti yang Nabi ﷺ makan bukan roti yang halus dan bersih seperti yang kita bayangkan. Masih ada sisa kulit dan kotoran dari biji barley karena tidak ada alat untuk membersihkannya. Mereka hanya meniup apa yang bisa beterbangan, sisanya tetap ikut dalam adonan.
Ini adalah gambaran yang sangat nyata: bahkan teknologi pengolahan makanan yang paling dasar pun tidak tersedia di rumah Nabi ﷺ.
Tidak Ada Meja, Tidak Ada Piring Kecil, Tidak Ada Roti Lembut
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bersaksi: "Nabi ﷺ tidak pernah makan di atas khiwan (meja makan)." Tidak pula menggunakan sukarraja (piring-piring kecil individual). Tidak pula memakan roti muraqqaq (roti tipis dan lembut yang sudah dihaluskan).
Ketika ditanya, "Lalu di atas apa mereka makan?" — dijawab: di atas sufra — hamparan dari kulit atau kain yang digelar di tanah, di atas mana makanan diletakkan dan dimakan langsung dari sana.
Tidak ada kursi. Tidak ada meja. Tidak ada piring individual. Mereka duduk bersama di sekitar alas yang dihamparkan, makan bersama dari makanan yang ada.
Aisyah yang Menangis Setiap Kali Kenyang
Ada sebuah kisah yang memilukan — ketika seorang perempuan berkunjung menemui Aisyah radhiyallahu 'anha, Aisyah meminta dihidangkan makanan. Setelah makan kenyang, Aisyah berkata:
"Tidaklah aku kenyang dari satu makanan pun, kecuali aku ingin menangis — dan aku pun menangis."
"Mengapa?" tanya tamunya.
"Aku teringat kondisi Nabi ﷺ ketika beliau wafat. Demi Allah, Nabi ﷺ tidak pernah kenyang dari roti dan daging dua kali dalam satu hari."
Kenyang yang kita rasakan hari ini mengingatkan Aisyah pada kelaparan yang Nabi ﷺ jalani sepanjang hidupnya. Dan tangisan itu bukan tangisan iri atau menyesal — melainkan tangisan rindu dan kasih yang mendalam kepada suaminya yang telah memilih hidup sederhana dengan penuh kemuliaan.
Kisah Istri-Istri yang Memilih Zuhud
Kesabaran para istri Nabi ﷺ bukan tanpa ujian. Suatu masa, mereka melihat para sahabat mendapatkan rampasan perang dan memberikan lebih banyak nafkah kepada istri masing-masing. Para istri Nabi pun tergerak meminta tambahan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat-ayat takhyir di Surah Al-Ahzab: "Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: jika kalian menginginkan dunia dan perhiasannya, kemarilah — aku akan beri kesenangan dan aku ceraikan kalian dengan baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan kampung akhirat — maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang agung bagi yang berbuat baik di antara kalian."
Satu per satu Nabi ﷺ mendatangi istri-istrinya. Ketika tiba giliran Aisyah, beliau berkata: "Aku sampaikan sesuatu kepadamu, jangan terburu-buru menjawab. Konsultasikan dulu dengan orang tuamu."
Aisyah menjawab langsung: "Untuk hal ini perlu konsultasi dengan orang tua? Saya memilih Allah, Rasul-Nya, dan kampung akhirat."
Semua sembilan istri Nabi ﷺ memilih yang sama. Mereka memilih tetap bersama Nabi ﷺ dalam kesederhanaan. Dan Allah memberi mereka ganjaran yang indah: Nabi ﷺ dilarang menikah lagi atau mengganti mereka.
Kelak, setelah Nabi ﷺ wafat dan kekayaan Islam semakin luas, para istri Nabi ﷺ terkenal dengan kedermawanan yang luar biasa. Aisyah, Zainab binti Jahsyin, dan yang lainnya — setiap harta yang datang langsung dibagi-bagikan. Mereka telah ditempa oleh Nabi ﷺ untuk tidak menjadikan harta sebagai tujuan. Dan ditempa itu meninggalkan bekas seumur hidup.
Kesimpulan
Bab adab makan Nabi ﷺ adalah bab yang sangat praktis sekaligus sangat menyentuh. Dari cara menjilat jari — dengan penuh hikmah tentang keberkahan, ketawadhu'an, dan syukur — hingga gambaran tentang roti kasar yang bahkan belum pernah dilihat dalam bentuk halus oleh Nabi ﷺ seumur hidupnya.
Nabi ﷺ yang bisa meminta gunung dijadikan emas baginya. Nabi ﷺ yang bisa membuat makanan sedikit menjadi berlimpah. Namun beliau memilih makan dari roti yang belum diayak, dari alas yang dihamparkan di tanah, dengan tiga jari yang dijilat bersih setelahnya.
Dan istri-istri beliau memilih untuk tetap bersamanya dalam pilihan itu.
Wallahu ta'ala a'lam.
Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.
Sumber video: Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiah #21: Adab Makan Nabi ﷺ
0 Komentar