Pendahuluan
Jika ada satu hal yang selalu muncul setiap kali seorang sahabat mensifati fisik Nabi Muhammad ﷺ, maka ia adalah kalimat yang sama — diucapkan lagi dan lagi oleh orang-orang berbeda yang menyaksikan langsung: "Aku tidak pernah melihat ada yang lebih indah daripada beliau."
Bukan satu sahabat yang berkata demikian. Bukan dua. Hampir setiap sahabat yang meriwayatkan tentang penampilan fisik Nabi ﷺ akan berakhir pada kesimpulan yang sama. Seolah tidak ada kata lain yang cukup untuk menggambarkan sosok yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan dengan sempurna itu.
Pada episode kedua kajian Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah ini, kita akan menelusuri tiga hadits yang memperkaya gambaran kita tentang fisik Rasulullah ﷺ — masing-masing dari sahabat yang berbeda, dengan kedekatan yang berbeda pula, namun semuanya mengalir ke muara yang sama: kekaguman yang tak tertandingi terhadap sosok sang Nabi ﷺ.
Hadits Kedua: Gambaran yang Lebih Lengkap dari Anas bin Malik
Masih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — pembantu Nabi ﷺ selama sekitar sepuluh tahun — kita mendapat penggambaran yang lebih detail tentang fisik beliau. Hadits ini melengkapi hadits pertama yang telah kita bahas sebelumnya, dengan beberapa tambahan yang sangat penting.
Tubuh yang seimbang dan indah. Anas radhiyallahu 'anhu menyebut Nabi ﷺ dengan istilah hasanul jism — tubuh yang indah dan serasi. Para ulama menjelaskan maknanya: beliau tidak kurus dan tidak pula gemuk. Tubuh Nabi ﷺ benar-benar proporsional — apa yang dalam bahasa kita mungkin kita sebut "semampai". Tidak ada bagian yang terlihat berlebihan atau kekurangan. Semuanya seimbang dengan cara yang membuatnya indah dipandang.
Warna kulit yang bercahaya. Anas menyifati warna kulit Nabi ﷺ dengan kata asmar. Namun para ulama menjelaskan bahwa ini bukan berarti cokelat gelap — justru sebaliknya. Maksudnya adalah bahwa kulit beliau tidak putih berlebihan seperti orang yang terkena penyakit baros (albino). Dalam riwayat lain disebutkan lebih jelas: warna kulit Nabi ﷺ adalah putih yang bercampur dengan warna merah — musyrabun bil humrah. Putih yang bukan pucat, melainkan putih yang hangat dan bercahaya, sehingga terkadang warna merah tampak di pipi dan wajah beliau. Itulah putih yang paling indah.
Tiga Ciri Khas Cara Berjalan Nabi ﷺ
Salah satu hal yang paling menarik dalam hadits ini adalah penggambaran cara berjalan Nabi ﷺ. Para ulama merumuskannya menjadi tiga ciri yang saling melengkapi:
Pertama: Yataka'a — Kaki Diangkat, Bukan Diseret
Ketika berjalan, Nabi ﷺ mengangkat kakinya dengan sempurna. Beliau tidak menyeret langkah seperti orang yang malas atau lelah. Setiap kaki diangkat, kemudian diletakkan dengan pasti. Ini bukan cara berjalan yang berat dan berdebum, melainkan cara berjalan yang tegap dan penuh kesadaran.
Kedua: Ka'annama Yanhabbu min Sanadin — Seolah Turun dari Lereng
Ciri yang kedua menggambarkan postur tubuh Nabi ﷺ saat berjalan: seolah beliau sedang menuruni tempat yang agak miring. Artinya, tubuh beliau sedikit condong ke depan — postur seseorang yang berjalan dengan penuh semangat dan bertujuan. Ini adalah gaya berjalan orang yang energik, yang punya maksud dan arah, bukan berjalan santai tanpa tujuan.
Ketiga: Tataba'ul Khutuwat — Langkah yang Pendek namun Cepat
Ciri ketiga adalah langkah beliau yang pendek — bukan langkah panjang-panjang seperti orang yang ingin terlihat gagah. Namun jangan keliru: pendek bukan berarti lambat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para sahabat kadang harus benar-benar bersungguh-sungguh untuk bisa mengejar langkah Nabi ﷺ. Langkahnya pendek, tapi frekuensinya tinggi — sehingga pergerakannya tetap cepat.
Jika ketiga ciri ini digabungkan, terbentuk gambaran yang sangat jelas: Nabi ﷺ berjalan dengan kaki yang diangkat bersih, tubuh sedikit condong ke depan dengan penuh semangat, dan langkah yang pendek namun rapat. Bukan gaya berjalan orang sombong yang berlenggok. Bukan pula gaya malas yang menyeret-nyeret sandal. Ini adalah gaya berjalan orang yang serius, gagah, dan penuh tujuan.
Hadits Ketiga: Al-Bara' bin 'Azib — Rambut Lebat, Dada Lebar, dan Keindahan yang Tak Tertandingi
Hadits berikutnya datang dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu. Beliau menggambarkan Nabi ﷺ sebagai rajulun marbu' — seorang lelaki yang berbadan sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek.
Yang menarik dari hadits ini adalah penggambaran dua hal yang sangat khas:
Dada yang bidang. Al-Bara' menyebutkan bahwa jarak antara kedua pundak Nabi ﷺ itu luas — ba'idul ma bainal manakibayn. Ini menggambarkan dada yang lapang dan bidang, sosok yang tegap dan gagah. Nabi ﷺ bukanlah sosok yang kecil atau ringkih — beliau memiliki tubuh yang berisi dan bertenaga.
Rambut yang lebat hingga ke bahu. Al-Bara' menyebutkan bahwa rambut Nabi ﷺ sangat lebat — azimul jummah — dan terurai hingga mengenai kedua pundak beliau.
Kemudian Al-Bara' radhiyallahu 'anhu menyampaikan kesaksian yang sangat berkesan. Ia berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang memiliki rambut panjang, mengenakan pakaian merah, yang lebih indah daripada Rasulullah ﷺ." Dalam riwayat lain, kalimatnya bahkan lebih singkat dan lebih kuat: "Aku tidak pernah melihat ada yang lebih indah daripada Rasulullah ﷺ."
Memahami Tiga Istilah Panjang Rambut dalam Tradisi Arab
Pada titik ini, Ustadz Firanda menjelaskan tiga istilah yang digunakan dalam tradisi Arab untuk menyebut panjang rambut seseorang — dan ini penting untuk memahami gambaran rambut Nabi ﷺ secara tepat:
- Wafrah — rambut yang panjangnya hanya sampai ujung daun telinga.
- Jummah — rambut yang panjang hingga menyentuh bahu.
- Limmah — rambut yang panjangnya berada di antara daun telinga dan bahu; lebih panjang dari wafrah, namun belum mencapai bahu seperti jummah.
Dari berbagai riwayat yang ada, rambut Nabi ﷺ bisa termasuk dalam kategori jummah maupun limmah — tergantung waktu dan kondisi. Yang pasti, rambut beliau tebal, bervolume, tidak keriting, dan tidak pula lurus terurai sepenuhnya. Dalam satu riwayat, Anas bin Malik menyebutkan bahwa ia tidak pernah melihat seseorang yang memiliki limmah (rambut sepundak) — mengenakan pakaian merah — yang lebih indah dari Rasulullah ﷺ.
Hadits Keempat: Kesaksian Ali bin Abi Thalib — Saksi yang Paling Intim
Hadits keempat adalah salah satu yang paling berharga — karena ia datang dari seseorang yang hubungannya dengan Nabi ﷺ begitu dekat dan berlapis: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Keistimewaan Kedekatan Ali dengan Nabi ﷺ
Untuk memahami mengapa kesaksian Ali begitu berharga, kita perlu mengenal kedekatan mereka yang luar biasa. Abdullah — ayah Nabi ﷺ — dan Abu Thalib — ayah Ali — adalah dua bersaudara kandung, satu ayah satu ibu. Artinya, Nabi ﷺ dan Ali adalah sepupu dekat yang hubungannya lebih erat dari kebanyakan sepupu biasa.
Ketika Abu Thalib hidup dalam kesempitan ekonomi, Nabi ﷺ bersama pamannya Al-Abbas berinisiatif untuk membantu meringankan beban keluarga Abu Thalib. Salah satu anak Abu Thalib yang kemudian diambil dan dibesarkan langsung di rumah Nabi ﷺ adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika itu, Ali masih sangat kecil — sekitar 8 atau 10 tahun. Dan Nabi ﷺ sendiri baru saja diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun.
Maka Ali tumbuh bersama Nabi ﷺ, tinggal satu atap, bersama setiap hari — dan ia menjadi anak pertama yang masuk Islam. Ia melihat Nabi ﷺ dalam keadaan paling privat, paling dekat, paling intim. Dan kemudian, setelah dewasa, Ali menikah dengan Fatimah radhiyallahu 'anha — putri Nabi ﷺ sendiri — sehingga statusnya bertambah menjadi menantu Nabi ﷺ.
Jika ada satu orang yang paling tahu seperti apa sosok Nabi ﷺ dari dekat, Ali adalah salah satunya.
Apa yang Ali Saksikan tentang Fisik Nabi ﷺ
Ali radhiyallahu 'anhu menggambarkan beberapa sifat fisik Nabi ﷺ yang tidak disebutkan dalam hadits-hadits sebelumnya:
Tangan dan kaki yang besar. Ali menyebutkan bahwa telapak tangan dan kaki Nabi ﷺ itu besar — sakhnul kaffayn wal qadamayn. Namun "besar" di sini bukan berarti kasar atau tidak sedap dipandang. Kita tahu dari riwayat Anas bin Malik bahwa tangan Nabi ﷺ sangat halus — Anas berkata: "Aku tidak pernah menyentuh kain sutra maupun beludru yang lebih lembut dari tangan Nabi ﷺ." Jadi tangannya besar, namun sekaligus lembut luar biasa. Besar di sini bermakna proporsional dengan tubuh beliau yang gagah — bukan besar yang aneh atau tidak seimbang.
Kepala yang besar. Ali juga menyebutkan bahwa kepala Nabi ﷺ berukuran besar — azimur ra's. Para ulama menyebut bahwa ini bukan besar yang tidak normal, melainkan besar yang menunjukkan kesempurnaan — dan dalam tradisi Arab, kepala yang besar diasosiasikan dengan kecerdasan dan kebijaksanaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugrahkan kepada Nabi ﷺ kecerdasan yang tiada tara, dan itu tercermin pula dalam proporsi fisik beliau.
Persendian yang menonjol dan kokoh. Ali menyebutkan pula istilah dahhmul karadis — persendian yang besar dan menonjol, seperti siku dan lutut yang kokoh. Ini menggambarkan tubuh Nabi ﷺ yang bukan tubuh lemah atau kecil. Sendi-sendi yang menonjol mencerminkan struktur tubuh yang kuat dan bertenaga — jauh dari kesan ringkih atau rapuh.
Garis rambut di dada hingga pusar. Ali radhiyallahu 'anhu juga menyebut tawilul masrubah — garis rambut yang memanjang dari ujung atas dada hingga ke pusar. Rambut Nabi ﷺ di bagian tubuh tidak tersebar di mana-mana seperti sebagian orang Arab yang berambut tebal di sekujur dada dan perut. Rambut beliau terpusat pada satu garis yang memanjang dari dada ke bawah — rapi dan teratur, sebagaimana seluruh penampilan beliau ﷺ.
Cara berjalan yang gagah. Senada dengan hadits-hadits sebelumnya, Ali pun menggambarkan cara berjalan Nabi ﷺ: kaki diangkat dengan bersih ketika melangkah, tubuh sedikit condong ke depan seolah menuruni lereng — menunjukkan seseorang yang berjalan dengan penuh semangat dan tujuan.
Lebih Indah dari Rembulan: Satu Kesaksian yang Merangkum Segalanya
Ali menutup penggambarannya dengan kalimat yang sangat kuat: "Aku tidak pernah melihat seseorang — baik sebelum beliau maupun sesudah beliau — yang seperti Rasulullah ﷺ."
Perhatikan bobot kalimat ini. Ali hidup lama setelah Nabi ﷺ wafat. Ia menjadi khalifah keempat, bertemu dengan ribuan orang dari berbagai penjuru dunia Islam yang semakin meluas. Ia melihat para pemimpin, para ulama, para pejuang. Namun semua yang pernah ia lihat itu tidak ada yang mampu menandingi sosok Nabi ﷺ — tidak sebelumnya, tidak sesudahnya.
Dan satu kesaksian dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu mungkin paling puitis dalam mengungkapkan keindahan fisik Nabi ﷺ. Suatu malam, ia memandang Nabi ﷺ yang sedang mengenakan pakaian merah. Kemudian ia mengangkat pandangannya ke langit, menatap rembulan yang bersinar terang. Lalu ia membandingkan keduanya — dan berkata:
"Maka menurutku, Rasulullah ﷺ lebih indah daripada rembulan."
Orang Arab sangat terbiasa menggunakan rembulan sebagai simbol keindahan tertinggi. Ketika mereka memuji seseorang, mereka berkata: "Wajahmu seperti rembulan." Rembulan adalah puncak perumpamaan keindahan dalam budaya mereka. Namun Jabir bin Samurah, setelah memandang keduanya secara langsung, tidak ragu untuk menyatakan: Rasulullah ﷺ lebih indah dari itu.
Kesimpulan
Tiga hadits dalam episode ini — dari Anas bin Malik, Al-Bara' bin 'Azib, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum — melukiskan gambaran yang semakin lengkap tentang sosok Nabi ﷺ: tubuh yang proporsional dan seimbang, warna kulit yang cerah kemerahan, rambut yang tebal dan panjang hingga bahu, dada yang bidang, tangan dan kaki yang besar namun lembut, serta cara berjalan yang gagah, energik, dan penuh semangat.
Yang paling mengesankan bukanlah detail-detail fisik itu sendiri — melainkan reaksi yang selalu sama dari setiap sahabat yang menyaksikannya. Mereka semua, tanpa terkecuali, bersaksi: "Aku tidak pernah melihat ada yang lebih indah daripada Rasulullah ﷺ."
Keindahan fisik yang Allah Subhanahu wa Ta'ala anugerahkan kepada Nabi ﷺ bukan untuk ia banggakan — melainkan agar hati manusia lebih mudah tertarik dan dekat kepada beliau. Dan keindahan akhlaknya, sebagaimana kita pelajari sebelumnya, bahkan melampaui keindahan fisiknya. Dua keindahan itu berpadu dalam satu sosok yang tidak pernah dunia menyaksikan yang semisal dengannya — sebelum maupun sesudah.
Semoga semakin kita mengenal fisik beliau ﷺ, semakin rindu hati kita kepadanya. Dan semoga kerinduan itu menjadi bahan bakar untuk semakin giat mengikuti sunnahnya.
Wallahu ta'ala a'lam.
Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.
Sumber video: Kitab As-Syamail Al-Muhammadiah #2: Hadist-Hadist Tentang Fisik Rasulullah ﷺ
0 Komentar