Pendahuluan
Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma — cucu Nabi ﷺ yang lahir setelah masa kenabian, yang tumbuh tanpa bisa langsung menatap wajah sang kakek — menyimpan rasa ingin tahu yang sangat dalam. Ia mendatangi ayahnya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik: "Bagaimana perihal Nabi ﷺ dalam majelis-majelisnya? Bagaimana beliau ketika duduk bersama orang-orang?"
Pertanyaan itu menghasilkan sebuah gambaran yang sangat kaya — bukan sekadar daftar sifat, melainkan portrait yang hidup tentang bagaimana suasana ketika seseorang duduk bersama Rasulullah ﷺ. Dan dari gambaran itu, kita bisa belajar tidak hanya tentang Nabi ﷺ, tetapi tentang seperti apa seharusnya sebuah majelis yang baik — di rumah, di tempat kerja, di mana pun kita duduk bersama orang lain.
Selalu Tersenyum: Daimul Bisyr
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu memulai jawabannya dengan satu gambaran yang sangat kuat: "Kana Rasulullah ﷺ daimul bisyr." Rasulullah ﷺ senantiasa tersenyum. Akhlaknya mudah — sahul khulq. Sisinya lembut — layin al-janib. Orang tidak merasa berat duduk di sampingnya, tidak merasa kaku atau segan berlebihan, tidak merasa ada jarak yang tidak bisa dijembatani.
Namun ada nuansa penting di sini yang perlu kita pahami. Daimul bisyr tidak berarti Nabi ﷺ tidak pernah sedih, tidak pernah marah, tidak pernah menangis. Beliau adalah manusia — merasakan semua itu. Beliau pernah berduka atas kematian putra-putranya, atas kepergian Khadijah, atas berbagai cobaan yang menimpa. Tetapi karena kemuliaan akhlaknya, beliau selalu berusaha untuk tetap tersenyum kepada orang-orang yang duduk bersamanya — apapun yang bergejolak di dalam hatinya.
Inilah yang membedakan orang berakhlak mulia dari yang lain. Bukan bahwa ia tidak merasakan beban — melainkan ia tidak menjadikan bebannya sebagai beban orang lain.
Apa yang Tidak Pernah Ada di Majelis Nabi ﷺ
Ali radhiyallahu 'anhu kemudian menggambarkan apa yang tidak pernah ada pada Nabi ﷺ dalam pergaulannya:
Beliau tidak faddh — tidak pernah berkata-kata kasar. Tidak ghalidhul qalb — tidak pernah keras hati. Tidak sakkhab — tidak pernah berteriak-teriak dalam berbicara. Tidak fahhash — tidak pernah menggunakan kata-kata yang keji dan menyakitkan. Tidak ayyab — tidak pernah suka mencela atau nyinyir. Tidak mushah — tidak pelit dalam memberi, dan tidak pula memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
Satu per satu sifat ini, jika kita renungkan, adalah sumber ketidaknyamanan dalam pergaulan manusia. Orang yang kasar dalam berbicara membuat orang tidak betah. Orang yang keras hati tidak bisa ditembus dengan kata-kata. Orang yang suka berteriak membuat suasana tegang. Orang yang suka mencela membuat orang merasa tidak aman. Orang yang nyinyir membuat semua orang waspada.
Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri menegaskan hal ini dalam firman-Nya kepada Nabi ﷺ:
"...Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran: 159)
Allah memberi anugerah kepada Nabi ﷺ berupa bebas dari semua sifat yang mengusir orang. Dan hasilnya? Para sahabat betah. Mereka senang duduk bersama Nabi ﷺ, selalu ingin kembali, tidak pernah kenyang dari kehadiran beliau.
Ada satu tambahan dari riwayat lain: beliau juga bukan tipe yang suka memuji-muji orang berlebihan untuk mencari muka. Namun bukan berarti beliau tidak pernah memuji sama sekali. Ketika situasi memang mengharuskan, beliau memuji dengan tepat dan tulus — seperti ketika beliau berkata kepada Asyaj Abdul Qais: "Sungguh pada dirimu ada dua perangai yang dicintai oleh Allah: sikap bijak dan tidak tergesa-gesa."
Seni Tidak Mencampuri yang Bukan Urusan
Di antara sifat Nabi ﷺ dalam pergaulannya: yataghaful amma la yashtahi — beliau bersikap seolah tidak tahu, tidak memberi perhatian, terhadap perkara-perkara yang bukan urusannya dan tidak ada manfaatnya untuk diurus.
Ini konsisten dengan wasiat Nabi ﷺ yang masyhur: "Di antara keindahan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak menjadi urusannya."
Kita sering membalikkan prioritas ini. Urusan privasi kita sendiri — keluarga, ibadah, pekerjaan, perkembangan diri — sering terbengkalai. Sementara urusan orang lain yang tidak ada kaitannya dengan kita, kita ikuti dengan sangat serius, kita baca berulang-ulang, kita komentari panjang lebar. Nabi ﷺ menunjukkan yang sebaliknya: selesaikan urusanmu sendiri terlebih dahulu, dan tinggalkan yang bukan urusanmu.
Tidak Ada yang Pulang dengan Tangan Kosong
Satu sifat Nabi ﷺ dalam majelisnya yang sangat menyentuh: siapa pun yang datang kepadanya dengan harapan, tidak pernah pulang dalam keadaan kecewa.
Jika orang itu butuh bantuan dan Nabi ﷺ bisa membantunya saat itu, beliau langsung memberi. Jika tidak bisa saat itu, beliau menjanjikan untuk lain waktu. Jika pun tidak bisa berjanji karena tidak ada kemampuan, beliau meminta kepada para sahabat yang hadir: "Siapa yang bisa membantu saudaramu ini?" Dan jika semua jalan itu tidak ada, maka Nabi ﷺ masih punya satu hal yang selalu bisa diberikan: kata-kata yang indah — fabikalimatin tayyibah — sehingga orang itu tidak pulang dengan hati yang pecah.
Ini adalah tingkat kepedulian yang sangat tinggi. Beliau tidak sekadar "tidak mengecewakan" dalam arti pasif — melainkan secara aktif memastikan bahwa siapa pun yang duduk bersamanya mendapatkan sesuatu, sekecil apapun.
Tiga Hal yang Dijauhi Nabi ﷺ dalam Dirinya Sendiri
Ali radhiyallahu 'anhu menyebutkan tiga hal yang secara konsisten dijauhi Nabi ﷺ dalam perilaku pribadinya:
Pertama, perdebatan (al-mira'). Nabi ﷺ tidak suka berdebat — apalagi debat kusir yang tidak menghasilkan apapun kecuali kekerasan hati dan ego yang membengkak. Beliau bahkan memberikan jaminan yang luar biasa: "Aku menjamin sebuah istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di atas kebenaran."
Bayangkan: seseorang tahu ia benar. Ia bisa menang dalam debat itu. Tapi ia memilih untuk tidak berdebat. Dan untuk pilihan itu, ia mendapat istana di pinggiran surga. Bukan karena ia pengecut atau tidak berani menegakkan kebenaran — melainkan karena ia tahu bahwa tidak semua kebenaran perlu dibela dengan jalan debat.
Kedua, berlebihan (al-ikthsar). Nabi ﷺ tidak suka mengulang-ulang hal yang sama secara berlebihan, tidak suka memperpanjang sesuatu tanpa perlu. Secukupnya.
Ketiga, hal yang tidak bermanfaat (ma la ya'nihi). Apapun yang tidak ada hubungannya dengan urusannya dan tidak membawa manfaat — Nabi ﷺ meninggalkannya.
Tiga Hal yang Dijauhi Nabi ﷺ dalam Hubungannya dengan Orang Lain
Dalam berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya, ada tiga hal lagi yang secara konsisten dijauhi Nabi ﷺ:
Pertama, tidak pernah mencela siapa pun. Tidak pernah merendahkan, tidak pernah nyinyir, tidak pernah mengejek. Orang yang senang mencela menciptakan suasana yang tidak aman — di mana orang lain selalu merasa bisa menjadi target berikutnya. Nabi ﷺ tidak pernah menciptakan suasana seperti itu.
Kedua, tidak mencari-cari kesalahan orang. Nabi ﷺ bahkan pernah berpesan kepada para sahabatnya: "Jangan sampai ada seorang pun yang menyampaikan kepadaku keburukan sahabatku yang lain. Aku ingin keluar bertemu kalian dalam keadaan hatiku bersih."
Beliau menyikapi apa yang tampak di hadapannya dengan cara yang baik. Tapi beliau tidak pergi mencari-cari. Tidak menginvestigasi. Tidak menguping. Tidak mencari bahan untuk menghakimi. Ini adalah adab yang sangat tinggi — dan sekaligus refleksi dari hati yang bersih dan pikiran yang bebas dari kecurigaan yang tidak perlu.
Ketiga, tidak berbicara kecuali yang mengandung pahala. Ini adalah standar yang sangat tinggi — dan sekaligus sangat praktis. Sebelum berbicara, Nabi ﷺ mempertimbangkan: apakah ada pahalanya? Jika tidak ada, beliau diam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Tidaklah suatu lafal pun yang diucapkan, melainkan ada malaikat Raqib dan Atid yang selalu hadir mengawasinya." (QS. Qaf: 18)
Dan Nabi ﷺ sendiri bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berbicara yang baik atau ia diam."
Prinsip ini — jika benar-benar kita terapkan — akan secara otomatis mengurangi sebagian besar pembicaraan kita yang tidak perlu. Mau berkomentar? Tunggu dulu — ada pahalanya tidak? Tidak ada? Simpan saja. Dan inilah yang membuat perkataan para Salaf begitu berbobot: mereka sedikit berbicara, tapi setiap perkataan mereka mengandung faedah yang besar. Berbeda dengan kita yang banyak bicara tapi berkahnya sedikit.
Nabi ﷺ bahkan mengingatkan dengan sangat serius: "Bukankah yang menyebabkan manusia digeret atas wajah-wajah mereka ke dalam neraka tidak lain adalah hasil dari lisan mereka?" Dan di zaman digital ini, "lisan" mencakup juga tulisan — komentar, ketikan, postingan. Semua tercatat.
Tenangnya Majelis Nabi ﷺ: Seakan Ada Burung di Atas Kepala
Ali radhiyallahu 'anhu menggambarkan suasana ketika Nabi ﷺ mulai berbicara dalam majelisnya: para sahabat menundukkan kepala mereka dengan penuh perhatian — seakan-akan ada burung di atas kepala mereka. Ekspresi Arab ini menggambarkan ketenangan yang sangat dalam: siapa yang terlalu banyak bergerak, burung itu akan terbang.
Mereka tidak berani berbicara ketika Nabi ﷺ sedang berbicara — karena penghormatan yang tulus, bukan karena takut dihukum. Dan jika ada seseorang yang ingin berbicara kepada Nabi ﷺ, yang lain semua diam mendengarkan sampai orang pertama itu selesai. Tidak ada yang memotong di tengah jalan, tidak ada yang berbicara bersamaan, tidak ada yang ribut di pinggiran.
Inilah majelis yang sesungguhnya. Berbeda jauh dari banyak "majelis" kita hari ini — di mana orang berbicara bersamaan, saling potong, atau sibuk dengan ponsel masing-masing.
Ikut Tertawa, Ikut Takjub: Pemimpin yang Hadir Sepenuhnya
Satu hal yang sangat menyentuh dari gambaran Ali radhiyallahu 'anhu: Nabi ﷺ beradaptasi dengan suasana hati para sahabatnya. Jika ada hal yang membuat mereka tertawa, Nabi ﷺ ikut tertawa. Jika ada hal yang membuat mereka takjub, Nabi ﷺ ikut takjub.
Ini bukan kepura-puraan. Ini adalah kehadiran yang nyata — seorang pemimpin yang tidak membuat jarak antara dirinya dan orang-orang yang bersamanya, yang tidak berlindung di balik protokol atau formalitas berlebihan. Meskipun kedudukan beliau jauh di atas para sahabat dalam segala hal, beliau hadir sepenuhnya — tertawa bersama ketika ada yang lucu, terdiam bersama ketika ada yang mengagumkan.
Hasilnya: pergaulan itu hidup. Ada kehangatan, ada kedekatan hati, ada rasa bahwa mereka benar-benar bersama seorang yang peduli dan hadir — bukan sekadar seorang pemimpin yang jauh dan formal.
Bersabar dengan Orang Asing: Hikmah di Balik Kekasaran Badui
Ali radhiyallahu 'anhu juga menyebut bahwa Nabi ﷺ bersabar dengan kekasaran orang-orang asing yang datang dari luar kota Madinah — khususnya para Arab Badui yang belum terbiasa dengan adab-adab kota dan tidak tahu tata cara berhadapan dengan orang terhormat.
Nabi ﷺ memberi mereka uzur — alasan yang memadai untuk dimaklumi. Mereka tidak tahu, mereka baru, mereka datang dari lingkungan yang berbeda. Maka beliau sabar mendengarkan pertanyaan mereka yang mungkin kasar atau tidak sopan, dan menjawab dengan penuh ketenangan.
Dan yang menarik: para sahabat Madinah yang sudah lama bersama Nabi ﷺ justru menyukai kedatangan orang-orang Badui ini. Mengapa? Karena para sahabat itu sebenarnya juga punya banyak pertanyaan — tapi mereka terlalu segan untuk bertanya langsung kepada Nabi ﷺ karena begitu agungnya wibawa beliau. Ketika orang Badui datang dan bertanya tanpa malu-malu, Nabi ﷺ menjawab — dan para sahabat pun mendapat ilmu yang mereka butuhkan.
Riwayat bahkan menyebut bahwa sebagian sahabat memberi hadiah kepada orang-orang Badui ini — untuk mendorong mereka datang dan bertanya kepada Nabi ﷺ. Sebuah cara yang cerdas dan mulia untuk mendapatkan ilmu sambil menghormati keterbatasan diri sendiri di hadapan sang guru.
Kesimpulan
Majelis Nabi ﷺ adalah majelis yang tidak pernah membuat orang ingin pergi. Setiap yang hadir merasa: diterima, dihargai, tidak dihakimi. Setiap yang berbicara merasa didengar. Setiap yang butuh bantuan tidak pulang dengan tangan kosong. Dan setiap yang mendengar Nabi ﷺ berbicara mendapatkan sesuatu yang mengubah hidupnya.
Apa yang membuat majelis seperti itu mungkin? Bukan kharisma semata, bukan pula kepandaian. Melainkan karakter yang dibangun dari dalam: tidak kasar, tidak mencela, tidak mencari kesalahan orang, tidak berbicara kecuali yang membawa manfaat, tidak berdebat tanpa keperluan, dan selalu hadir sepenuhnya — ikut tertawa, ikut takjub, sabar dengan yang belum paham.
Semua itu bisa kita usahakan. Tidak sempurna seperti Nabi ﷺ — tapi kita bisa berusaha ke arah sana. Dan setiap langkah ke arah akhlak Nabi ﷺ adalah langkah mendekati beliau — dan semoga, langkah mendekati surga yang beliau janjikan.
Wallahu ta'ala a'lam.
Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.
Sumber video: Kitab As-Syamail Al-Muhammadiah #7: Bagaimana Nabi Dalam Bermajelis
0 Komentar