Pendahuluan
Kita kini memasuki bab baru dalam Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: "Bab Ma Jaa fi Khatamin Nubuwwah" — bab tentang stempel atau cap kenabian yang terletak di antara dua belikat Rasulullah ﷺ.
Mukjizat Nabi ﷺ sangatlah banyak. Ibnu Katsir rahimahullah membaginya menjadi dua kategori besar: maknawiyyah (yang bersifat abstrak dan intelektual) seperti Al-Qur'anul Karim, akhlak beliau yang sempurna, dan sirah perjalanan hidupnya; serta hisiyyah (yang bisa ditangkap oleh indera) seperti terbelahnya rembulan, air yang memancar dari jari-jari beliau, makanan yang bertasbih, batu yang memberi salam, serta dadanya yang pernah dibuka, dibersihkan, dan dikembalikan.
Khatam an-nubuwwah — cap kenabian — adalah termasuk mukjizat hisiyyah. Ia bisa dilihat, diraba, dan dirasakan. Dan yang membuatnya semakin istimewa: ia bukan sekadar tanda fisik biasa, melainkan sebuah tanda yang telah diramalkan dalam kitab-kitab suci sebelumnya — dan diketahui oleh para pendeta dari berbagai tradisi yang menantikan kedatangan nabi terakhir.
Tanda yang Sudah Diramalkan: Salman al-Farisi dan Perjalanannya
Tidak ada kisah yang lebih dramatis untuk mengawali pembahasan khatam an-nubuwwah selain kisah Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu — seorang lelaki dari Persia yang menempuh perjalanan panjang dan berliku selama bertahun-tahun demi satu tujuan: menemukan nabi terakhir.
Dalam perjalanannya, Salman bertemu dengan seorang pendeta yang menceritakan ciri-ciri nabi yang dinantikan itu. Salah satu cirinya adalah tanda kenabian fisik yang terletak di antara dua belikatnya — berupa daging yang tumbuh menyerupai telur puyuh atau telur merpati, dengan rambut-rambut yang tumbuh di sekitarnya.
Ketika Salman akhirnya sampai di Hijaz dan bertemu dengan Nabi ﷺ, ia memverifikasi tanda itu. Nabi ﷺ membiarkannya melihat punggung beliau — dan apa yang diceritakan pendeta itu benar-benar ada. Saat itulah Salman al-Farisi masuk Islam dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan.
Ini adalah salah satu bukti bahwa khatam an-nubuwwah bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba — ia adalah bagian dari rencana Allah yang tercatat dalam kitab-kitab terdahulu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman bahwa Ahlul Kitab mengenal Nabi ﷺ seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri (QS. Al-Baqarah: 146) — mengetahui sifat-sifat fisiknya, tempat hijrahnya, dan tanda-tanda yang membedakannya dari manusia biasa.
Empat Kesaksian Para Sahabat tentang Khatam
Imam At-Tirmidzi membawakan beberapa hadits dari para sahabat yang langsung menyaksikan cap kenabian ini.
Hadits pertama: Sa'id bin Yazid radhiyallahu 'anhu. Ketika masih kecil, Sa'id sakit — kakinya cedera karena jatuh. Bibinya (khalah, saudara perempuan ibunya) membawanya menemui Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ mengusap kepala Sa'id dan mendoakan keberkahan untuknya. Kemudian Nabi ﷺ berwudu — dan Sa'id meminum sisa air wudunya. Setelah itu, Sa'id berdiri di belakang Nabi ﷺ dan matanya tertuju pada khatam di antara kedua belikat beliau.
Ia menggambarkannya: "Seperti bulatan telur burung hajalah" — seukuran telur merpati atau telur puyuh. Sebuah tonjolan daging yang nyata, bisa dilihat, bisa diraba.
Kisah Sa'id bin Yazid radhiyallahu 'anhu ini memiliki epilog yang sangat mengesankan. Bertahun-tahun kemudian, ketika Sa'id sudah berusia 94 tahun, seseorang yang bertemu dengannya menyaksikan ia masih berdiri tegak dan kuat. Sa'id berkata: "Aku tahu penglihatanku dan pendengaranku tidak berkurang kecuali karena doa berkah Nabi ﷺ yang mendoakanku waktu kecil itu." Sa'id wafat pada usia 96 tahun — dan ia tercatat sebagai sahabat terakhir yang wafat di kota Madinah. Satu doa Nabi ﷺ untuk keberkahan, dirasakan sampai puluhan tahun kemudian.
Hadits kedua: Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu. Jabir menyaksikan khatam itu dan menggambarkannya sebagai "ghudda hamra" — tonjolan daging berwarna merah, seukuran telur merpati. Warna merah ini konsisten dengan gambaran kulit Nabi ﷺ yang putih kemerahan — cap itu menyerupai warna kulitnya, hanya dengan sedikit tambahan kemerahan.
Perlu dicatat: ada riwayat-riwayat yang menyebut warnanya hitam atau hijau — namun para ahli hadits menyatakan semua riwayat itu lemah. Yang benar, berdasarkan hadits yang kuat, adalah warna merah.
Hadits ketiga: Rumaitah radhiyallahu 'anha. Rumaitah adalah seorang sahabiyah yang berada sangat dekat dengan Nabi ﷺ pada suatu kesempatan — saat beliau berbicara tentang Sa'd bin Mu'adh yang baru wafat. Dalam kedekatannya itu, ia melihat khatam di antara dua belikat Nabi ﷺ dan berkata: "Kalau aku mau, aku bisa menciumnya." Ini menggambarkan betapa dekatnya ia dengan Nabi ﷺ saat itu — dan sekaligus menegaskan bahwa keberadaan khatam itu nyata dan bisa dilihat oleh siapa pun yang berada cukup dekat dengan beliau.
Hadits keempat: Abu Zaid 'Amr bin Akhtab al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Nabi ﷺ sendiri yang memanggilnya: "Wahai Abu Zaid, mendekatlah kepadaku dan usaplah tanganmu di punggungku." Abu Zaid pun mengusap punggung Nabi ﷺ — dan jari-jarinya menyentuh langsung khatam an-nubuwwah. Ia menggambarkan apa yang dirasakannya: "Syaaratun mujtami'ah" — rambut-rambut yang berkumpul di satu titik. Sebuah tonjolan daging, dengan rambut-rambut yang tumbuh di sekitarnya.
Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, ada tambahan yang sangat indah: setelah Abu Zaid mengusap punggung Nabi ﷺ, Nabi ﷺ balik mengusap kepala dan jenggot Abu Zaid seraya berdoa: "Allahumma jammilhu wa adim jamalahu" — "Ya Allah, indahkanlah ia dan abadikanlah keindahannya."
Kekhususan Tabarruk: Hanya untuk Nabi ﷺ
Dalam hadits Sa'id bin Yazid, kita melihat para sahabat meminum sisa air wudu Nabi ﷺ dan mengambil berkah dari sentuhan tangan beliau. Ini adalah hal yang nyata terjadi di zaman para sahabat. Namun ada prinsip penting yang perlu dipahami:
Tabarruk dari sisa-sisa fisik seperti ini adalah kekhususan Nabi ﷺ semata — bukan untuk siapapun yang lain, meskipun ia adalah sahabat yang sudah dijamin masuk surga sekalipun.
Tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan para sahabat mengambil sisa air wudu Abu Bakar, mengumpulkan rambut Umar, atau meminum sisa minuman Utsman. Tidak ada. Padahal mereka adalah manusia-manusia terbaik yang dijamin surga. Para tabiin pun tidak melakukan hal itu kepada para sahabat. Ini bukan kelalaian — ini adalah pemahaman yang benar bahwa tabarruk seperti ini hanya berlaku untuk Rasulullah ﷺ, karena seluruh tubuh beliau diberkahi Allah secara khusus sebagai nabi dan rasul.
Justru Nabi ﷺ sendiri yang menganjurkan hal itu — membagikan rambutnya secara sengaja, mengizinkan sahabat mengambil sisa wudunya. Ini bukan inisiatif sahabat yang lantas boleh diikuti untuk orang lain — ini adalah izin khusus dari beliau ﷺ untuk dirinya sendiri.
Di Balik Hadits Rumaitah: Sa'd bin Mu'adh dan Arsy yang Bergetar
Rumaitah radhiyallahu 'anha menyebutkan bahwa ia berada sangat dekat dengan Nabi ﷺ ketika beliau mengucapkan kalimat tentang Sa'd bin Mu'adh radhiyallahu 'anhu: "Ihtazza lahu arsyurrahman" — Arsy Allah bergetar karena kematian Sa'd bin Mu'adh.
Ini adalah penghormatan yang luar biasa. Bahkan Malaikat Jibril 'alaihissalam datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya: "Siapa hamba yang saleh yang wafat hari ini di antara kalian?" — seolah mengisyaratkan ada sesuatu yang besar telah terjadi.
Siapakah Sa'd bin Mu'adh, hingga Arsy Allah pun bergetar atas kepergiannya?
Sa'd adalah pemimpin suku Aus di kota Madinah — pemimpin yang kata-katanya dipatuhi oleh kaumnya tanpa perlu alasan panjang. Ia masuk Islam pada usia 30 tahun dan wafat pada usia 36 — hanya 6 tahun sebagai seorang Muslim.
Namun dalam 6 tahun itu, ia menorehkan jejak yang begitu dalam.
Kunci penyebaran Islam di Madinah. Ketika Nabi ﷺ mengutus Mus'ab bin Umayr radhiyallahu 'anhu ke Madinah untuk mengajarkan Islam, para pemimpin suku yang masih kafir merasa khawatir dan mengutus seseorang untuk menghentikannya. Mereka memilih As'ad bin Zurarah — sepupu Sa'd bin Mu'adh — untuk mengusir Mus'ab.
Yang terjadi justru sebaliknya: As'ad mendengar Mus'ab membacakan Al-Qur'an, dan hatinya tersentuh. Ia pun masuk Islam. Ketika ia kembali, Sa'd langsung mengenali perubahan di wajahnya — dan pergi sendiri untuk mendengar Mus'ab berbicara. Sa'd pun masuk Islam.
Lalu Sa'd memanggil seluruh kaumnya dan berkata dengan tegas: "Kalian tahu siapa aku — pemimpin yang kalian taati. Maka ketahuilah: aku tidak akan berbicara kepada seorang pun dari kalian, laki-laki atau perempuan, sampai kalian semua masuk Islam malam ini."
Malam itu, seluruh suku Aus masuk Islam.
Pernyataan bersejarah di Badar. Ketika Nabi ﷺ meminta pendapat para sahabat sebelum Perang Badar, beliau terus bertanya setelah para Muhajirin berbicara — seolah menunggu sesuatu dari kaum Anshar. Sa'd memahami isyarat itu dan berbicara: "Bawalah kami ke mana pun yang engkau kehendaki, ya Rasulullah. Kalau kau bawa kami masuk ke lautan ini, kami akan ikut. Kami adalah orang yang bersabar dalam peperangan. Kau akan mendapati kami sebagaimana yang kau harapkan." Nabi ﷺ gembira mendengar perkataan itu.
Hakim yang mendapat pujian dari langit. Setelah perang Ahzab, Bani Qurayzah yang telah mengkhianati perjanjian meminta agar hukum mereka diputuskan oleh Sa'd bin Mu'adh — karena secara historis mereka berafiliasi dengan suku Aus. Sa'd memutuskan: para lelaki yang berperang dibunuh, wanita dan anak-anak ditawan, harta mereka diambil. Nabi ﷺ berkata: "Sungguh kamu telah menghukumi mereka dengan hukum Allah dari atas tujuh langit."
Kemudian Sa'd wafat. Arsy Allah bergetar. Dan kita pun terdiam — merenung betapa 6 tahun yang diisi dengan kesungguhan bisa melampaui puluhan tahun yang diisi dengan kelalaian.
Ini adalah nasihat yang sangat personal. Jangan menjadikan usia, atau lamanya menjadi Muslim, sebagai alasan untuk berleha-leha. Sa'd bin Mu'adh berislam 6 tahun — dan Arsy Allah bergetar atas kepergiannya. Kita yang mungkin sudah puluhan tahun menjadi Muslim: apa yang akan bergetar atas kepergian kita?
Kesimpulan
Khatam an-nubuwwah bukan sekadar tanda fisik yang unik. Ia adalah saksi bisu atas kebenaran kenabian Muhammad ﷺ — sebuah bukti yang tertulis dalam kitab-kitab terdahulu, diverifikasi oleh Salman al-Farisi dalam perjalanan spiritualnya yang panjang, dan disaksikan langsung oleh puluhan sahabat dalam berbagai kesempatan.
Dari hadits-hadits ini, kita mendapat gambaran khatam yang konsisten: tonjolan daging seukuran telur merpati atau puyuh, berwarna merah, dengan rambut-rambut yang berkumpul di sekitarnya, terletak di antara dua belikat Nabi ﷺ.
Dan dari kisah-kisah di sekelilingnya — Sa'id bin Yazid yang sehat dan tajam indranya hingga usia 96 tahun, Sa'd bin Mu'adh yang membuat Arsy Allah bergetar setelah hanya 6 tahun berislam, Abu Zaid yang disentuh punggungnya lalu didoakan dengan keindahan yang abadi — kita melihat betapa setiap persentuhan dengan Nabi ﷺ, sekecil apapun, selalu meninggalkan bekas yang tak terhapus.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan kita bersama Nabi ﷺ di surga — dan semoga semakin mengenal beliau, semakin besar cinta kita kepadanya.
Wallahu ta'ala a'lam.
Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.
Sumber video: Kitab As-Syamail Al-Muhammadiah #8: Cap Kenabian di Pundak Nabi ﷺ
0 Komentar