Pendahuluan
Setelah pada dua pertemuan sebelumnya kita mengenal pengarang kitab, memahami siapa Ahlusunnah wal Jamaah, dan apa itu Ushuluddin — kini kita memasuki bagian pertama dari matan At-Tahawiyah yang sesungguhnya. Imam Abu Ja'far At-Tahawi membuka kitabnya dengan kalimat:
"Naqūlu fī Tauhīdillāhi mu'taqidīna bitaufīqillāhi..."
"Kami berkata tentang mentauhidkan Allah, disertai keyakinan, dengan Taufik dari Allah..."
Perhatikan: bukan sekadar "kami berkata," melainkan "mu'taqidīna" — dalam kondisi meyakini. Tauhid bukan sekadar pernyataan lisan. Ia adalah akidah yang menghujam dalam dada, yang hidup dalam setiap gerak dan diamnya seorang Muslim.
Apa saja yang kemudian beliau tegaskan dalam matan ini? Bahwa Allah Wahid — Esa, tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, tidak ada yang mampu melemahkan-Nya, dan tidak ada yang berhak disembah selain-Nya. Inilah tauhid yang ingin kita pahami secara utuh dalam kajian bagian ketiga ini.
Istilah "Tauhid" Bukan Baru — Ia Sudah Ada Sejak Zaman Nabi ﷺ
Sebelum membahas pembagian tauhid, Ustadz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah menegaskan satu hal penting: istilah "tauhid" bukanlah istilah yang diada-adakan oleh para ulama belakangan. Ia sudah digunakan sejak zaman Nabi ﷺ dan para sahabat radhiyallahu 'anhum.
Beberapa buktinya:
Pertama, ketika Nabi ﷺ mengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ke Yaman untuk berdakwah kepada Ahlul Kitab, beliau berwasiat: "Hendaklah yang pertama kali kau dakwahkan kepada mereka adalah Tauhidullah" — mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kedua, ketika Amr bin Ash radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah menyembelih sisa nazar ayahnya (Al-'Ash bin Wa'il, yang meninggal dalam keadaan musyrik) bermanfaat baginya, Nabi ﷺ menjawab: "Seandainya ayahmu dahulu mengakui tauhid, tentu bermanfaat — namun ayahmu tidak bertauhid."
Ketiga, Nabi ﷺ pernah menceritakan seorang dari umat terdahulu yang tidak memiliki amal apapun kecuali tauhid — yang kisah akhirnya ia meminta anak-anaknya membakar jasadnya dan menebarkan abunya ke laut dan udara, karena ia takut kepada Allah — namun Allah selamatkan dan ampuni dia karena tauhidnya.
Keempat, Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu menyebut talbiyah Nabi ﷺ — "Labbaik Allahuma labbaik, labbaik la syarika laka labbaik..." — sebagai "tauhid". Artinya para sahabat sendiri memahami dan menggunakan istilah ini.
Maka istilah "tauhid" telah ada, dikenal, dan digunakan sejak masa Nabi ﷺ. Ini bukan inovasi ulama abad kemudian.
Mengapa Tauhid Dibagi Tiga? Membantah Syubhat
Para ulama Ahlusunnah wal Jamaah membagi tauhid menjadi tiga klasifikasi. Pembagian ini berdasarkan al-istiqra' — yaitu penelitian dan pengamatan terhadap dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah, kemudian diklasifikasikan agar mudah dipahami.
Namun sebagian orang memprotes: "Mengapa tauhid dibagi tiga? Bukankah itu seperti taslis (trinitas) kaum Nasrani yang mengenal Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruhul Kudus?"
Bantahan yang Tegas
Bantahan pertama: Pembagian dalam keilmuan Islam adalah hal yang lumrah dan tidak mengandung makna syirik. Para ulama bahasa Arab membagi kalimah menjadi tiga: ism, fi'l, dan harf. Para fuqaha membagi hukum taklifi menjadi lima: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Tidak ada seorang pun yang mengatakan pembagian-pembagian ini sebagai taslis atau pengakuan keberadaan tuhan yang banyak. Yang masalah adalah konten pembagian, bukan jumlahnya.
Bantahan kedua: Ahlul Bid'ah sendiri pun membagi tauhid! Kalangan Asy'ariyah dan Mu'tazilah dalam kitab-kitab mereka membagi tauhid menjadi: tauhid Allah dalam Zat-Nya, tauhid dalam Sifat-Nya, dan tauhid dalam Af'al-Nya — tiga juga. Bahkan sebagian kalangan Sufiah membagi tauhid menjadi tiga tingkatan: tauhidul 'ammah (tauhid orang awam), tauhidul khashshah (tauhid ahli hakikat), dan tauhid khashsatil khashshah (tauhid super-khusus) — yang jika ditelusuri, tingkatan ketiga inilah yang mengarah kepada paham wahdatul wujud yang sangat berbahaya. Maka jika pembagian saja yang dipermasalahkan, mengapa mereka yang memprotes juga membagi?
Bantahan ketiga: Pembagian tauhid menjadi tiga bukan inovasi Ibnu Taimiyah rahimahullah, apalagi Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Pembagian ini sudah ditemukan dalam perkataan ulama-ulama Salaf dari abad ketiga dan keempat Hijriah. Hal ini didokumentasikan dengan baik oleh Syekh Abdul Razzaq hafizhahullah dalam kitabnya Al-Qawl as-Sadid fi Radd 'ala Man Ankara Taqsim at-Tauhid.
Kesimpulan: Yang menjadi masalah bukanlah membagi atau tidak membagi — melainkan apakah konten dari pembagian itu benar atau salah. Dan konten pembagian yang kita bahas ini adalah kebenaran yang disepakati oleh Ahlusunnah wal Jamaah.
Mengapa Perlu Dibagi?
Pembagian ini dibuat bukan sekadar untuk sistematika keilmuan. Ia lahir dari kebutuhan dakwah yang nyata: untuk membenarkan kesalahan yang ada di masyarakat — karena banyak manusia yang mentauhidkan Allah secara parsial, bukan totalitas.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Yusuf ayat 106:
وَمَا يُؤْمِنُ اَكْثَرُهُمْ بِاللّٰهِ اِلَّا وَهُمْ مُّشْرِكُوْنَ
Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan menyekutukan Allah."
Perhatikan ayat yang luar biasa ini: Allah menetapkan sekaligus dua hal pada orang yang sama — mereka beriman, namun di saat yang bersamaan mereka musyrik. Bagaimana bisa? Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, dan para mufassir: iman yang dimaksud adalah keyakinan mereka bahwa hanya Allah yang menciptakan langit dan bumi (tauhid rububiyah yang benar), sementara syirik mereka adalah karena mereka menyembah selain Allah (tauhid uluhiyah yang rusak).
Maka pembagian tauhid ini ada untuk menunjukkan: "Di bagian mana kau sudah benar, dan di bagian mana kau masih salah?" — agar tauhid kepada Allah menjadi totalitas, bukan sebagian-sebagian.
Tauhid Rububiyah: Allah Esa dalam Perbuatan-Nya
Tauhid Rububiyah — disebut juga Tauhid Af'alillah — adalah mentauhidkan Allah dalam seluruh perbuatan-Nya. Rabb berasal dari makna yang mencakup tiga hal:
Pertama, Pencipta (Khāliq): Hanya Allah yang mencipta. Tidak ada makhluk mana pun yang bisa mencipta bahkan seekor lalat sekalipun — hewan yang tampak lemah dan hina. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 73, yang maknanya: "Jika seluruh yang mereka sembah selain Allah bersatu padu untuk menciptakan seekor lalat, niscaya mereka tidak akan mampu." Bahkan ketika lalat itu mencuri sedikit makanan dari hidangan kalian, kalian pun tidak mampu mengambilnya kembali. Sungguh lemah yang disembah, dan sungguh lemah yang menyembahnya.
Kedua, Pemilik (Mālik): Karena hanya Allah yang mencipta, maka seluruh alam semesta ini adalah milik-Nya. "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn" — kita semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Tidak ada satu pun di antara kita yang benar-benar pemilik dirinya sendiri.
Ketiga, Pengatur (Mudabbir): Allah mengatur seluruh yang terjadi di alam semesta ini — takdir, rezeki, ajal, kenaikan dan kejatuhan, kekuasaan dan pencabutannya. "Yudabbirul amra minas-samā'i ilal-ardh" — Allah mengatur seluruh kejadian dari langit hingga ke bumi. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa izin dan pengaturan-Nya. Allah bersemayam di atas Arsy-Nya dan mengatur seluruh yang ada di bawahnya.
Inilah yang kita imani dalam tauhid rububiyah: Allah satu-satunya Pencipta, satu-satunya Pemilik, satu-satunya Pengatur — tanpa sekutu dan tanpa pembantu.
Tauhid Asma' was-Sifat: Allah Esa dalam Sifat-Nya
Tauhid Asma' was-Sifat — disebut juga Tauhid Sifat — adalah mentauhidkan Allah dalam seluruh nama dan sifat-Nya: bahwa semua sifat Allah adalah Maha — tidak ada satupun makhluk yang mampu menyamainya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kaidah yang sangat agung dalam QS. Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Perhatikan urutan ayat ini: Allah meletakkan mukadimah dulu — "Tidak ada yang serupa dengan-Nya" — baru kemudian menyebut "Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." Ini seperti Allah sedang berkata kepada kita: "Sebelum kamu memahami bahwa Aku mendengar dan melihat, pastikan kamu sudah memasang dulu dalam benakmu bahwa pendengaran dan penglihatan-Ku tidak sama dengan makhluk mana pun."
Mari kita renungkan perbedaannya secara sederhana:
Manusia mendengar dengan batasan frekuensi tertentu — di bawah batas bawah tidak terdengar, di atas batas atas pun tidak terdengar. Pendengaran kita pun dimulai dari ketidakmampuan, berkembang perlahan, mencapai puncaknya, lalu melemah seiring usia. Allah Maha Mendengar — Azali, tanpa proses perkembangan, tanpa batas frekuensi, tidak pernah melemah.
Manusia melihat dengan syarat: ada cahaya, jarak tidak terlalu jauh, tidak ada penghalang, objek tidak terlalu kecil. Penglihatan kita pun sama — dimulai dari kebutaan, berkembang, mencapai puncak, kemudian melemah: minus, plus, rabun. Allah Maha Melihat — tanpa syarat cahaya, tanpa batas jarak, tanpa penghalang, tanpa kelemahan.
Syirik dalam tauhid sifat terjadi ketika seseorang meyakini bahwa ada makhluk yang memiliki sifat seperti sifat Allah. Contoh nyata: meyakini bahwa seorang dukun atau peramal bisa mengetahui masa depan. Allah berfirman dalam QS. An-Naml ayat 65: "Qul lā ya'lamu man fis-samāwāti wal-ardhi al-ghaiba illallāh" — tidak ada yang mengetahui hal gaib di langit maupun di bumi kecuali Allah. Maka ketika seseorang meyakini dukun mengetahui gaib, ia telah melakukan syirik dalam tauhid sifat — menyamakan sifat dukun dengan sifat Allah dalam hal ilmu gaib.
Tauhid Uluhiyah: Inti Dakwah Para Nabi
Tauhid Uluhiyah — disebut juga Tauhid al-'Ibadah atau Tauhid Af'alil 'Ibad — adalah mentauhidkan perbuatan-perbuatan hamba: bahwa seluruh ibadah — shalat, doa, sembelihan, sujud, tawakkal, pengharapan, ketakutan, cinta — semuanya hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Inilah inti dari dakwah seluruh para nabi dan rasul, dari Nabi Adam 'alaihissalam hingga Nabi Muhammad ﷺ. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 36:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
"Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat: 'Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'"
Nabi Nuh 'alaihissalam berkata kepada kaumnya: "Tidak ada bagi kalian sesembahan selain Allah." Nabi Hud 'alaihissalam berkata kepada kaumnya: "Beribadahlah hanya kepada Allah." Semua rasul, satu pesan yang sama: tauhid uluhiyah.
Mengapa tauhid uluhiyah menjadi inti dakwah? Karena inilah tujuan diciptakannya manusia dan jin. Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Ada cara yang indah untuk memahami ini. Bukti terkuat bahwa seseorang adalah makhluk adalah ia beribadah hanya kepada Penciptanya. Perumpamaan sederhananya: apa bukti bahwa seseorang adalah bawahan yang setia? Ia taat kepada atasan yang memiliki otoritas atasnya. Demikian pula — bukti terkuat bahwa kita adalah makhluk adalah kita beribadah hanya kepada Zat yang menciptakan kita. Ketika seseorang beribadah kepada selain Allah, ia seolah-olah menolak pengakuan bahwa dirinya adalah makhluk di hadapan sang Pencipta.
Kaitan Antara Tiga Tauhid
Ketiga tauhid ini tidak berdiri sendiri-sendiri — ia saling terkait:
Tauhid rububiyah dan tauhid sifat → mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah.
Jika hanya Allah yang mencipta, hanya Allah yang memiliki dan mengatur alam semesta, dan seluruh sifat Allah adalah Maha tanpa tandingan — maka hanya Allah yang berhak disembah. Logikanya sangat sederhana: yang berhak mendapatkan ibadah adalah yang telah menciptakan, memiliki, dan mengatur. Selain Allah tidak menciptakan apapun, tidak memiliki apapun dengan kemilikan yang hakiki, dan tidak mengatur apapun. Maka selain Allah tidak berhak mendapatkan ibadah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 21-22, yang maknanya: "Wahai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian... yang menjadikan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, menurunkan air dari langit lalu menumbuhkan buah-buahan sebagai rezeki kalian. Maka janganlah kalian mengambil tandingan-tandingan bagi Allah untuk kalian sembah, padahal kalian mengetahui."
Sebaliknya, tauhid uluhiyah mengandung (yatadhamman) tauhid rububiyah dan tauhid sifat. Ketika seseorang benar-benar menyembah Allah semata, ia pasti sudah mengakui bahwa hanya Allah yang mencipta dan mengatur, dan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang Maha agung.
Inilah kelemahan Ahlul Kalam (Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan semisalnya): mereka sangat bersemangat membahas tauhid rububiyah dan tauhid sifat, namun lalai dari tauhid uluhiyah. Padahal inilah inti — inilah yang paling dituntut dari setiap manusia.
Makna Lailahaillallah: Antara Tafsir Ahlusunnah dan Ahlul Kalam
Ini adalah pembahasan yang sangat penting — dan sangat menentukan. Karena bagaimana seseorang memahami kalimat Lailahaillallah akan menentukan bagaimana ia memahami syirik dan tauhid secara keseluruhan.
Tafsir Ahlusunnah: Tidak Ada yang Berhak Disembah Selain Allah
Ahlusunnah wal Jamaah menafsirkan Lailahaillallah sebagai: Lā ma'buda bihaqqin illallāh — tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.
Dasarnya dari bahasa Arab: kata ilah memiliki wazan fi'āl yang bermakna maf'ūl (objek). Seperti kitāb yang bermakna maktūb (yang ditulis), firāsy yang bermakna mafrūsy (yang dihamparkan) — maka ilāh bermakna ma'lūh atau ma'bud — yang diibadahi. Maka Lā ilāha berarti lā ma'buda bihaqqin — tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar — illallāh — kecuali Allah.
Dengan tafsir ini, dakwah Lailahaillallah bermakna: "Jangan sembah Lata, jangan sembah Uzza, jangan sembah Manat, jangan sembah malaikat, jangan sembah nabi, jangan sembah pohon, jangan sembah batu — hanya Allah semata yang berhak menerima ibadah."
Tafsir Ahlul Kalam: Tidak Ada Pencipta Selain Allah
Sebagian kalangan Ahlul Kalam menafsirkan ilah sebagai Qādirun 'alal ikhtirā' — yang mampu mencipta. Maka Lailahaillallah bagi mereka bermakna: "tidak ada yang mampu mencipta selain Allah."
Ini kedengarannya benar — namun konsekuensinya sangat berbahaya. Dengan tafsir ini, seseorang yang meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta — namun kemudian berdoa kepada orang yang telah wafat, meminta pertolongan kepada roh-roh, memakai jimat, atau mendatangi dukun — tidak dianggap musyrik, selama ia tidak meyakini bahwa benda atau orang tersebut juga bisa mencipta. Tauhidnya dianggap masih utuh karena ia masih meyakini tidak ada pencipta selain Allah.
Sungguh ini adalah penafsiran yang keliru dan berbahaya. Para ulama Ahlusunnah wal Jamaah menulis banyak kitab untuk membantah tafsir ini, di antaranya dijelaskan Ustadz Firanda dalam Syarah Rukun Iman.
Bukti dari Reaksi Kaum Quraisy
Ada satu bukti yang paling kuat dan paling mudah dipahami bahwa tafsir Ahlusunnah-lah yang benar: reaksi kaum musyrikin Quraisy ketika Nabi ﷺ mendakwahkan kalimat Lailahaillallah.
Mereka protes dengan keras dan berteriak: "Aja'ala al-ālihata ilāhan wāhidā?!" — "Apakah ia menjadikan sesembahan-sesembahan yang banyak ini hanya menjadi satu saja?!"
Perhatikan dengan seksama: kaum Quraisy memahami dengan benar bahwa Lailahaillallah = "tidak boleh menyembah selain Allah." Mereka protes karena mereka ingin terus menyembah Lata, Uzza, Manat, dan sesembahan mereka yang lain. Mereka tidak rela jika semua sesembahan itu dilarang dan hanya Allah yang boleh disembah.
Sekarang, andaikan tafsir Ahlul Kalam benar — bahwa ilah = pencipta — maka kalimat protes itu akan bermakna: "Apakah Muhammad ingin menjadikan pencipta-pencipta yang banyak ini hanya menjadi satu pencipta saja?!" Harusnya mereka setuju, bukan protes! Karena mereka sendiri sudah meyakini bahwa pencipta hanya satu, yaitu Allah. Mengapa harus protes terhadap sesuatu yang sudah mereka yakini?
Fakta bahwa mereka protes dengan keras justru membuktikan bahwa mereka sangat paham: Lailahaillallah berarti tidak boleh menyembah selain Allah — dan itu yang tidak bisa mereka terima. Maka tafsir Ahlusunnah-lah yang sesuai dengan realita sejarah dakwah Nabi ﷺ.
Kesimpulan
Tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam. Ia bukan sekadar pengakuan bahwa Allah ada — kaum musyrikin Arab pun mengakui itu. Tauhid yang dituntut adalah tauhid yang totalitas: mentauhidkan Allah dalam seluruh perbuatan-Nya (rububiyah), mentauhidkan-Nya dalam seluruh sifat-Nya (asma' was-sifat), dan — yang paling penting dan yang menjadi inti dakwah para nabi — mentauhidkan-Nya dalam seluruh ibadah kita (uluhiyah).
Pembagian tiga ini bukan bid'ah, bukan taslis, dan bukan inovasi ulama kemarin. Ia adalah hasil penelitian terhadap dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah, yang tujuannya satu: agar kita bisa mengidentifikasi di bagian mana tauhid kita masih kurang, dan memperbaikinya menjadi tauhid yang benar dan sempurna.
Dan kalimat Lailahaillallah yang kita ucapkan setiap hari — yang menjadi tiket masuk Islam dan pintu surga — memiliki makna yang sangat dalam dan sangat menentukan: tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Bukan sekadar "tidak ada pencipta selain Allah" — karena tauhid yang parsial seperti itu sudah dimiliki oleh kaum musyrikin Arab, namun tidak menyelamatkan mereka.
Hidup hanya sekali. Bertauhidlah dengan benar, dengan totalitas, dengan pemahaman yang diwarisi dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya — agar kita berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala membawa tauhid yang sesungguhnya.
وَبِاللهِ التَّوْفِيق
Artikel ini merupakan bagian dari Seri Syarah Aqidah At-Tahawiyah berdasarkan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Sumber video: Syarah Kitab At-Thahawiyah (Bagian 3)
0 Komentar