AM 81. Bukan Mengeluh, Hanya Menceritakan: Pelajaran dari Demam Nabi ﷺ, Jabir yang Pingsan, dan Cucu Beliau yang Sakit

Al-Adab Al-Mufrad, Sesi 81, disarikan dari kajian Ustadz Firanda Andirja

Kita sering berada di persimpangan kecil ketika sakit. Ada orang yang bertanya "bagaimana kabarmu?", lalu kita ragu. Kalau menjawab jujur, jangan-jangan itu keluhan. Kalau menjawab "baik-baik saja" padahal sedang demam, apakah itu tepat? Kajian kali ini melanjutkan bab Imam Bukhari rahimahullah tentang apakah ucapan orang sakit "aku sakit" termasuk mengeluh. Dari sebuah riwayat tentang demam Nabi ﷺ, pembahasan melebar ke hakikat Nabi sebagai hamba sekaligus rasul, makna ujian bagi orang saleh, adab menjenguk orang pingsan dan anak kecil, serta pelajaran dari seorang Arab Badui yang salah menimpali doa.

Demam Nabi ﷺ yang Menembus Selimut

Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu menjenguk Nabi ﷺ yang sedang demam dan berselimut kain bermotif. Ia meletakkan tangannya di atas tubuh beliau dan mendapati panasnya menembus kain itu. Ia berkata, "Betapa kerasnya demam ini wahai Rasulullah!" Beliau ﷺ menjawab:

إِنَّا كَذَلِكَ يُشَدَّدُ عَلَيْنَا الْبَلَاءُ، وَيُضَاعَفُ لَنَا الْأَجْرُ

"Demikianlah kami, ujian ditimpakan lebih berat kepada kami, dan pahala dilipatgandakan bagi kami." (Al-Adab Al-Mufrad)

Abu Sa'id bertanya siapa manusia yang paling berat ujiannya. Beliau menjawab, "Para nabi, kemudian orang-orang saleh." Di antara mereka ada yang diuji dengan kemiskinan hingga tak punya pakaian selain selembar kain yang digunting tengahnya untuk dimasukkan kepala sekadar menutup aurat. Ada pula yang diuji dengan kutu yang membunuhnya. Lalu beliau bersabda:

وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

"Sungguh salah seorang dari mereka benar-benar bergembira dengan ujian sebagaimana salah seorang dari kalian bergembira dengan kelapangan."

Ustadz menarik beberapa faedah. Pertama, menjenguk orang sakit adalah sunnah. Kedua, orang yang menjenguk boleh menyentuh si sakit, karena sentuhan menunjukkan kedekatan. Ketiga, ucapan Abu Sa'id "betapa beratnya demammu" menunjukkan turut merasakan penderitaan orang sakit sehingga ia terhibur. Keempat, jawaban Nabi ﷺ "demikianlah kami" adalah pengabaran tentang kondisi, bukan keluhan. Karena itu, orang yang menyebutkan sakitnya kepada dokter atau kepada yang bertanya, seperti "ini sakit, ini bengkak," tidak sedang mengeluh. Yang tercela adalah mengeluh sambil memprotes, seperti "aduh, mengapa begini" tanpa henti.

Nabi Sebagai Hamba yang Merasakan Sakit

Dari demam Nabi ﷺ, Ustadz melebar ke persoalan akidah. Karena sakit, lapar, makan, tidur, menikah, dan wafat adalah sifat manusia, para nabi pun mengalaminya. Orang-orang kafir dahulu mengingkari kenabian Nabi Hud 'alaihissalam karena mengira rasul mestinya bukan manusia:

وَلَئِنْ أَطَعْتُم بَشَرًا مِّثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَّخَاسِرُونَ

"Dan sungguh, jika kamu menaati manusia yang seperti kamu, niscaya kamu pasti menjadi orang-orang yang rugi." (QS. Al-Mu'minun: 34)

Padahal Allah sengaja mengutus rasul dari kalangan manusia agar bisa diteladani. Kalau rasul itu malaikat, tentu tak bisa ditiru. Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

"Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan." (QS. Ar-Ra'd: 38)

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

"Dan Kami tidak menjadikan seorang manusia pun sebelum engkau (Muhammad) hidup abadi. Maka jika engkau wafat, apakah mereka akan abadi?" (QS. Al-Anbiya': 34)

Ustadz menegaskan bahwa orang yang mengangkat Nabi ke derajat ketuhanan sebenarnya sedang merendahkan kedudukannya. Para rasul dimuliakan Allah dengan dua sifat, yaitu sebagai rasul dan sebagai hamba. Sebagai rasul, mereka amanah dalam menyampaikan wahyu. Allah memuji Jibril dan Nabi Muhammad ﷺ dalam Surat At-Takwir:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝ ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ ۝ مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ ۝ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ ۝ وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ ۝ وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ

"Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) pemilik 'Arsy, yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) bukanlah orang gila. Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (menyembunyikan) yang gaib." (QS. At-Takwir: 19–24)

Nabi ﷺ tidak menyembunyikan satu ayat pun, bahkan ayat-ayat yang menegur beliau. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, seandainya beliau menyembunyikan sesuatu, tentu ayat teguran itulah yang disembunyikan. Pada haji wada' beliau bertanya, "Sudahkah aku sampaikan?" dan para sahabat bersaksi bahwa beliau telah menyampaikan, lalu beliau berkata, "Ya Allah, saksikanlah."

Sebagai hamba, Nabi ﷺ dipuji karena ibadahnya yang tak tertandingi, mulai dari shalat hingga kaki beliau bengkak, sedekah, istighfar, puasa, sampai tugasnya sebagai suami, ayah, sahabat, dan guru. Di saat genting, Allah menyebut beliau dengan sifat hamba, seperti ketika Isra' dan ketika menantang kaum kafir:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha." (QS. Al-Isra': 1)

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ

"Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah yang semisal dengannya." (QS. Al-Baqarah: 23)

Hal yang sama berlaku bagi Nabi Isa 'alaihissalam. Beliau dipuji sebagai hamba yang bershalat, berzakat, dan berbakti kepada ibunya:

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ۝ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۝ وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

"Dia (Isa) berkata, 'Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana pun aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka.'" (QS. Maryam: 30–32)

Jika Isa dijadikan Tuhan, hilanglah sisi pujian beliau sebagai hamba. Ustadz juga menyebut hadits Ubadah bin Ash-Shamit yang menegaskan bahwa Isa adalah hamba dan rasul Allah serta kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam. Beliau juga mengingatkan bahwa hadits tentang cahaya Nabi yang ada sebelum Adam adalah hadits palsu. Di padang mahsyar, para nabi semuanya menolak memberi syafaat dengan menyebut uzur masing-masing. Hanya Nabi Muhammad ﷺ yang diterima, karena beliau hamba yang diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

Kezuhudan beliau juga luar biasa. Padahal para sahabatnya banyak yang kaya, beliau tidak pernah foya-foya. Beliau bersabda bahwa seandainya memiliki emas sebesar Gunung Uhud, tak sampai tiga hari tentu sudah habis dibagikan. Allah menegur beliau agar tidak memanjangkan pandangan kepada kenikmatan dunia:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengan (kenikmatan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaha: 131)

Ujian Sebanding dengan Iman, dan Pahala Berbanding Lurus dengan Ujian

Sabda Nabi ﷺ tentang orang yang paling berat ujiannya kembali kepada satu kaidah:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian, dan apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka." (HR. At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, seseorang diuji sesuai tingkat agamanya. Jika imannya kokoh, ujiannya ditambah, dan jika lemah, ujiannya dikurangi. Maka ujian bagi mukmin yang tegar adalah tangga naik level. Ustadz mencontohkan Ka'ab bin Ujrah radhiyallahu 'anhu yang kutu di kepalanya begitu banyak saat berihram bersama Nabi ﷺ dalam peristiwa Hudaibiyah, sampai Nabi ﷺ memerintahkannya mencukur kepala dan membayar fidyah.

Orang-orang saleh itu bergembira karena mereka tahu hikmahnya. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa penyakit yang paling disukainya adalah demam karena menjalar ke seluruh tubuh. Nabi ﷺ bersabda tentang kelak di hari kiamat:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ فِي الدُّنْيَا

"Pada hari kiamat, orang-orang yang selamat dari ujian berangan-angan seandainya kulit mereka dahulu di dunia digunting dengan gunting, ketika melihat pahala yang diberikan kepada orang yang tertimpa ujian." (HR. At-Tirmidzi)

Kita biasanya baru jengkel ketika sakit, kata Ustadz. Sudah ke dokter ke sana kemari tak kunjung sembuh, lalu mengomel. Padahal sabar mendapat pahala, dan di atasnya ada tingkatan rida. Ibnul Qayyim berkata bahwa ini membutuhkan perenungan. Orang yang pertama kali tertimpa musibah mungkin melawan, lalu bersabar, kemudian merenung dan akhirnya rida, bahkan senang. Ustadz mengenang rekannya yang cuci darah ketika berhaji, yang berkata bahwa ia tak ingin sembuh karena dengan sakitnya ia selalu mengingat Allah dan kematian. Beliau mengakui bahwa itu sulit. Teorinya mudah, praktiknya berat, apalagi bila baru diuji sedikit sudah marah-marah dan membuat status di media sosial. Sedangkan generasi saleh itu hanya punya sehelai kain yang digunting menjadi pakaian dan tak pernah mengeluh di muka umum.

Ustadz bercerita tentang seorang panglima yang kakinya patah jatuh dari kuda. Beberapa waktu kemudian datang perintah penguasa agar ia menghadang rombongan Al-Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma. Karena cedera, ia tak jadi berangkat, dan baru menyadari bahwa musibah itulah yang menyelamatkannya dari dosa besar membunuh cucu Nabi ﷺ. Sabar, kata Ustadz, pahalanya tanpa hisab:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Orang yang tak pernah sakit sama sekali, ingat Ustadz, adalah ciri yang dikhawatirkan, sebagaimana kisah Badui yang tak pernah demam dan pusing. Tetapi tentu kita tetap diperintahkan memohon 'afiyah. Kita memohon sehat, sambil menerima apa pun yang Allah pilihkan.

Menjenguk Orang Pingsan: Kisah Jabir radhiyallahu 'anhu

Bab berikutnya membahas menjenguk orang yang pingsan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa ia sakit, lalu Nabi ﷺ dan Abu Bakar datang berjalan kaki menjenguknya. Mereka mendapatinya pingsan. Nabi ﷺ berwudhu lalu menuangkan sisa air wudhunya kepada Jabir hingga ia siuman. Ia bertanya bagaimana sebaiknya ia mengurus hartanya, tetapi Nabi ﷺ tidak menjawab sampai turun ayat tentang warisan:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنثَيَيْنِ

"Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan." (QS. An-Nisa': 11)

Mengapa orang pingsan perlu dijenguk padahal ia tidak tahu? Ustadz menjawab bahwa keluarganya tahu dan bahagia, dan kalaupun ia sendirian, Allah mengetahui langkah kita dari rumah ke rumah sakit hingga pulang, semuanya dicatat sebagai pahala. Kita juga bisa mendoakannya meski ia tidak sadar.

Dari kisah ini beliau membahas dua persoalan penting. Pertama, soal berkah. Tubuh Nabi ﷺ, keringat, rambut, air wudhu, dan sisa makan beliau memang berkah, sehingga para sahabat berebut sisa wudhu dan rambut beliau. Namun hal itu tidak dilakukan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, padahal mereka dijamin surga. Maka mengiaskan orang-orang belakangan, siapa pun, kepada Nabi ﷺ tidak tepat. Kata Umar, seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan iman seluruh umat, iman Abu Bakar lebih berat. Itu pun tidak bisa dibandingkan dengan Nabi ﷺ. Keberkahan para ulama ada pada ilmu dan akhlak mereka, bukan pada sisa minum atau makan mereka. Ustadz menceritakan seseorang di Masjid Nabawi yang meminta bekas minumnya, dan beliau menolak. Kedua, soal diam ketika tidak tahu. Nabi ﷺ tidak menjawab karena belum turun wahyu. Allah berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

"Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. An-Najm: 3–4)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak ada pengetahuan tentangnya. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 36)

Kalau Nabi ﷺ saja diam bila belum tahu, kita tidak patut sok tahu. Ustadz mengingatkan tentang orang yang menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada ustadz. Mungkin karena niat baik, tetapi boleh jadi karena ingin tampak berilmu. Ustadz yang diam belum tentu tidak tahu. Mungkin ia melihat maslahat tertentu. Jabir pun, yang pertama kali ditanyakannya setelah sadar adalah tentang pengelolaan hartanya, agar ketika bertemu Allah semuanya telah sesuai syariat.

Menjenguk Anak Kecil yang Sakit

Imam Bukhari juga membuat bab tentang menjenguk anak-anak. Dalam riwayat Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, putri Nabi ﷺ, Zainab, mengirim utusan agar beliau datang karena putranya sedang sekarat. Beliau tidak segera datang, tetapi mengirim pesan:

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

"Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang ditentukan. Maka hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala." (Muttafaq 'alaih)

Zainab mengirim utusan lagi dan bersumpah agar beliau datang. Akhirnya beliau datang bersama beberapa sahabat, termasuk Sa'ad bin Ubadah. Anak itu diletakkan di pangkuan beliau, dengan napas yang bergemeretak seperti tempat air tua tertiup angin, lalu wafat, dan air mata beliau mengalir. Sa'ad bertanya, "Engkau menangis, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:

هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

"Ini adalah rahmat yang Allah jadikan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang." (Muttafaq 'alaih)

Ustadz menarik pelajaran bahwa menangis karena kasih sayang tidak bertentangan dengan sabar. Kita pun dianjurkan menjenguk anak yang sakit, termasuk anak tetangga, dengan membawa hadiah kecil dan kata-kata penyemangat. Paling tidak keluarganya merasa senang.

Beliau juga menyinggung pesan Jibril kepada Nabi ﷺ:

عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ

"Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah siapa yang engkau suka, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya." (HR. Al-Hakim dan lainnya)

Semakin besar cinta, semakin berat perpisahan. Orang yang terlalu mencintai dunia, dengan rumah terlalu mewah, kendaraan terlalu bagus, dan harta terlalu banyak, akan sulit meninggalkannya. Allah berfirman tentang orang sabar:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

"Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata 'Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn'. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 155–157)

Ustadz mengingatkan bahwa Nabi ﷺ kehilangan anak-anaknya, cucunya, dan putra beliau Ibrahim di pangkuannya, dan beliau bersabar.

Membantu Keluarga yang Ditimpa Musibah

Imam Bukhari membawakan atsar dari Ummu Darda. Seseorang bernama Ibrahim bin Abi Ablah bercerita bahwa ketika istrinya sakit, ia datang ke rumah Ummu Darda. Ummu Darda bertanya kabar istrinya, lalu memberinya makan. Ketika istrinya sudah sembuh dan ia datang lagi, tidak ada makanan. Kata Ummu Darda, kami memberimu makan karena istrimu sakit sehingga tak ada yang memasak. Kalau sudah sembuh, pulanglah, istrimu yang memasak.

Dari sini Ustadz menyimpulkan bahwa kebiasaan salaf adalah menanyakan kabar keluarga, dan jika ada yang kesusahan mereka membantu sesuai kekurangannya. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ ketika Ja'far bin Abi Thalib wafat:

اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَقَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

"Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkan mereka." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Makanan itu diperuntukkan bagi keluarga yang berduka, bukan untuk jamuan para tamu yang justru menghabiskan harta mereka.

Pelajaran dari Seorang Arab Badui

Bab terakhir membahas menjenguk orang Arab Badui. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Nabi ﷺ menjenguk seorang Badui yang sedang sakit, lalu bersabda:

لَا بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

"Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih (dosa), insya Allah." (HR. Al-Bukhari)

Si Badui menjawab, "Tidak, ini demam yang bergejolak pada orang tua renta, yang akan mengantarkannya ke kubur." Nabi ﷺ berkata, "Kalau begitu, memang demikian." Tak lama kemudian ia wafat. Ustadz menjelaskan bahwa orang Badui hidup di pedalaman dan kebiasaannya agak keras. Para sahabat senang bila ada Badui yang bertanya kepada Nabi ﷺ, karena pertanyaan mereka lugas sehingga mendatangkan faedah. Pernah seorang Badui menanyakan kapan kiamat, dan beliau balik bertanya apa yang telah disiapkan. Namun dalam kisah ini ia menjawab dengan sikap su'uzhan. Mestinya ketika dikatakan "semoga menjadi pembersih dosa," kita menyambut dengan doa, "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku." Pelajarannya, orang sakit hendaknya menyambut kata-kata baik dengan prasangka baik. Nabi ﷺ pun menjenguk beragam orang, anak kecil, orang tua, orang pingsan, penduduk kota, hingga orang Badui.

Penutup

Dari kajian ini kita belajar bahwa menyebutkan kondisi sakit bukanlah keluhan selama tidak disertai protes atas takdir. Kita juga belajar bahwa Nabi ﷺ pun demam, bahkan lebih berat, dan di situlah kemuliaan beliau sebagai hamba yang paling sabar. Kita belajar bahwa kemuliaan itu hanya milik para nabi, sementara kita cukup meneladani sabarnya, menjenguk setiap orang sakit termasuk yang pingsan dan anak kecil, membantu keluarga yang ditimpa musibah, dan menjaga lisan agar tidak berbicara tanpa ilmu.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang sabar ketika ditimpa sakit dan musibah. Anugerahkan kepada kami husnuzan kepada-Mu dan rida atas ketetapan-Mu. Lindungi kami dari mengeluh dan memprotes takdir, ampunilah dosa-dosa kami dengan setiap sakit dan letih yang kami rasakan, serta kumpulkan kami bersama Nabi-Mu ﷺ di surga. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar