Mengapa Allah Memberi Ujian kepada Kita? Hikmah di Balik Musibah

Pendahuluan: Hidup Memang untuk Diuji

Tak seorang pun dari kita yang luput dari ujian. Itu kepastian, bukan kemungkinan. Sebelum membahas hikmahnya, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengajak kita memahami "filosofi kehidupan": Allah menciptakan kita, bahkan menciptakan alam semesta dan seluruh keindahannya, untuk menguji kita.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al-Anbiya': 35)

Allah juga berfirman bahwa Dia menciptakan mati dan hidup "untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya" (QS. Al-Mulk: 2). Langit dan bumi diciptakan sebagai sarana ujian (QS. Hud: 7), dan segala perhiasan di bumi dijadikan untuk menguji siapa yang terbaik amalnya (QS. Al-Kahfi: 7). Karena itu dunia disebut darul ibtila', tempat ujian. Allah juga menegaskan bahwa Dia menciptakan manusia dalam kepayahan (QS. Al-Balad: 4).

Dari bayi yang menangis, anak yang dipaksa belajar, hingga orang dewasa yang menghadapi kehilangan, semua melalui ujian. Raja, presiden, dan pangeran pun pernah menangis, pernah sakit, dan pernah khawatir. Ujian baru berakhir ketika kaki seseorang menginjak surga. Yang membedakan hanyalah sikap: ada yang sabar dan tenang, ada yang meronta-ronta.

Filosofi Kedua: Yang Menguji Adalah Al-Hakim, Al-Khabir, dan Al-Lathif

Pertanyaan berikutnya: untuk apa ada ujian? Ustadz Firanda mengingatkan bahwa Tuhan kita adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana), Al-Khabir (Maha Mengetahui secara mendalam), dan Al-Lathif (Maha Lembut). Tidak ada keputusan Allah tanpa hikmah, meskipun sebagian hikmah Dia bukakan dan sebagian lagi Dia tutup.

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

"Tidakkah Allah yang menciptakan itu mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)? Dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Mulk: 14)

Pencipta suatu mesin paling mengetahui onderdilnya, apa yang rusak, dan bagaimana memperbaikinya. Demikian pula Allah, Pencipta kita, mengetahui ukuran ujian yang pantas bagi masing-masing, berapa lama, dan bentuknya. Sifat Al-Lathif berarti Allah menggiring kenikmatan kepada hamba-Nya dengan sangat halus, kadang dalam bentuk yang tampak seperti musibah. Sebaliknya, Allah bisa pula menggiring seseorang menuju kebinasaan secara halus, hingga ia tidak sadar dan menganggapnya kejadian biasa.

Ustadz Firanda memberikan beberapa perumpamaan tentang terbatasnya akal kita:

  • Seorang penguasa kadang mengambil keputusan yang tidak dipahami rakyatnya, karena ia mempertimbangkan banyak aspek yang tidak bisa dibuka kepada publik. Belakangan baru tampak bahwa keputusan itu tepat.
  • Seorang anak kecil yang menolak disunat meskipun dokter menyarankan. Orang tua tidak bisa menjelaskan manfaat medisnya, karena akalnya belum sampai.
  • Seorang penuntut ilmu yang semasa muda heran mengapa para ulama senior tidak bersikap sekeras yang ia harapkan. Seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman, ia memahami bahwa mereka telah melewati banyak fitnah dan memandang dari banyak sisi.

Jika kita bisa berbaik sangka kepada raja, ulama, atau orang tua yang keputusannya tidak kita pahami, mengapa kita sulit berbaik sangka kepada Allah yang Maha Mengetahui? Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr menjadi contohnya. Khidr berkata kepada Musa, "Bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (QS. Al-Kahfi: 68). Bahkan seorang nabi sekaliber Musa tidak sanggup menahan diri ketika melihat perahu dilubangi, anak dibunuh, dan dinding diperbaiki tanpa upah, karena ilmunya belum sampai pada hikmahnya.

Filosofi Ketiga: Ada Sunnatullah, Sebab dan Akibat

Kehidupan ini berjalan dengan hukum sebab-akibat. Allah menetapkan sebab, lalu akibat mengikuti. Misalnya, Allah telah menetapkan Adam sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30), tetapi Adam diciptakan di surga. Agar ia turun ke bumi, ada sebab: godaan iblis, kesalahan, tobat, lalu turun. Dalam kaitannya dengan musibah, dosa dan kesalahan adalah salah satu sebabnya. Mungkin hikmah Adam singgah di surga adalah agar kita merindukan kampung asal kita, yaitu surga.

Setelah tiga landasan ini, berikut hikmah-hikmah ujian yang disebutkan Ustadz Firanda.

Hikmah 1: Membinasakan Orang-Orang yang Durhaka

Allah membinasakan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, Luth, dan Firaun dengan cara yang berbeda: ada yang ditenggelamkan, ada yang dihancurkan angin, ada yang dibinasakan suara keras, ada yang dijungkirbalikkan. Allah berfirman, "Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya" (QS. Al-'Ankabut: 40). Menurut para ulama, bentuk kebinasaan menyeluruh terhadap satu umat seperti ini tidak lagi berlaku sejak Firaun dibinasakan pada masa Nabi Musa.

Hikmah 2: Mengangkat Derajat

Ini khusus bagi para nabi dan orang-orang saleh. Ujian mereka bukan karena banyaknya dosa, melainkan untuk meninggikan kedudukan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, dan seseorang diuji menurut kadar agamanya (HR. At-Tirmidzi). Jika imannya kuat, ujiannya ditambah. Ustadz Firanda mengingatkan agar kita tahu diri: tidak mudah bagi kita memosisikan diri seperti para nabi dan orang saleh.

Hikmah 3: Membedakan Iman yang Benar dari yang Dusta

Banyak orang mengaku beriman. Ujianlah yang menampakkan kebenaran pengakuan itu.

الم ۝ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

"Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-'Ankabut: 1-3)

Allah juga berfirman, "Allah tidak akan membiarkan orang-orang mukmin dalam keadaan kamu sekarang ini, hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik" (QS. Ali 'Imran: 179), dan, "Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu" (QS. Muhammad: 31). Ilmu Allah sudah ada sebelum ujian, tetapi ujian menyingkap kenyataan sehingga terlihat oleh manusia.

Di masa Nabi ﷺ, kemunafikan tersingkap pada Perang Uhud, ketika sebagian berkata, "Seandainya kami punya urusan, tentu kami tidak akan terbunuh di sini" (QS. Ali 'Imran: 154). Pada Perang Khandaq, ketika Nabi ﷺ memecah batu dan menjanjikan kemenangan atas Persia dan Romawi, orang-orang munafik mencemooh, "Allah dan Rasul-Nya hanya menjanjikan tipu daya" (QS. Al-Ahzab: 12). Sama seperti pertemanan: teman sejati terlihat ketika kita dalam kesulitan, bukan ketika kita senang.

Hikmah 4: Menggugurkan Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila dosa seorang hamba telah banyak, sedangkan ia tidak memiliki amal yang dapat menghapusnya, Allah menimpakan kepadanya kesedihan untuk menghapus dosa-dosanya" (HR. Ahmad, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dinilai hasan oleh Al-Haitsami). Kita semua bermaksiat: dengan mata, telinga, dan lisan. Kadang amal, istigfar, dan tobat kita tidak cukup untuk menghapusnya. Maka Allah punya cara lain: kesedihan, kehilangan orang tercinta, kekecewaan, atau sakit.

Beliau ﷺ juga bersabda bahwa tidaklah seorang muslim ditimpa letih, sakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapus sebagian dosanya karenanya (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Seorang mukmin terus diuji hingga ia berjalan tanpa dosa.

Hikmah 5: Mengingatkan bahwa Dunia Hanyalah Sementara

Ketika sesuatu yang kita cintai direnggut, kita belajar bahwa dunia bukan tempat abadi. Seorang kaya bisa kehilangan hartanya, orang yang bahagia bisa kehilangan orang yang dicintainya. Jibril 'alaihissalam mengingatkan Nabi ﷺ agar mencintai siapa yang beliau kehendaki, karena pasti akan berpisah darinya (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Pada masa pandemi, banyak yang menyaksikan orang-orang kaya dan sehat tiba-tiba wafat, dan harta mereka tidak menolong. Semua ini mengingatkan kita untuk menuju tempat kembali yang sesungguhnya, yaitu surga, kenikmatan yang tidak tercampuri kesedihan.

Ustadz Firanda juga mengajak kita bersikap positif: ujian yang datang bertubi-tubi mungkin pertanda jatah ujian kita sedang "dirapel" oleh Allah, sehingga segera selesai, daripada dicicil sepanjang hidup.

Hikmah 6: Isyarat untuk Introspeksi dan Memperbaiki Diri

Ketika ditimpa musibah, kita perlu bertanya, "Apa yang perlu aku perbaiki?" Kaum muslimin pada Perang Uhud pun bertanya, "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Allah menjawab, "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri" (QS. Ali 'Imran: 165). Allah juga berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS. Ar-Rum: 41).

Sebagian orang tidak sadar bahwa ujiannya terkait dosa, karena saking terbiasanya. Ada yang terbiasa melihat yang haram atau mencela orang hingga tidak lagi menganggapnya dosa dan tidak beristigfar. Ketika ditimpa musibah, ia bingung mengapa. Ada pula yang baru sadar dan berhenti bermaksiat ketika ibunya wafat, padahal sebelumnya tidak berubah.

Ustadz Firanda mengingatkan satu keseimbangan: kalau ada orang lain yang ditimpa musibah, kita tidak berhak berkata, "Ini akibat dosamu." Dan bagi diri sendiri, kita lebih baik berintrospeksi daripada langsung mengaku bahwa ini ujian untuk mengangkat derajat seperti para nabi. Itu tidak pantas dan bahkan bisa menjadi kesombongan terselubung.

Hikmah 7: Meningkatkan Keimanan

Setelah introspeksi, kita meningkatkan level keimanan: lebih giat beribadah, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan meninggalkan kebiasaan buruk. Musibah menjadi titik balik.

Ujian sebagai Obat dan Nikmat

Sebagian ulama menyamakan musibah dengan obat. Dokter memberi obat dengan dosis tertentu, meskipun pahit, dan kita menjalaninya dengan sabar demi kesembuhan. Demikian pula musibah dari Allah, Al-Khabir yang mengetahui yang terbaik bagi kita. Jika dihadapi dengan sabar dan husnuzan, musibah itu sesungguhnya adalah nikmat yang datang dalam bentuk yang tidak kita sukai: dosa digugurkan, derajat diangkat, kita diingatkan tentang dunia, dan kita diarahkan memperbaiki diri.

Sebaliknya, jika dihadapi dengan keluh kesah dan buruk sangka, musibah bisa menjadi bencana bagi kita. Semakin banyak dosa seseorang, semakin banyak pula ujian yang ia perlukan untuk membersihkannya. Maka apa pun posisi kita, orang saleh atau pendosa, ujian tetap rahmat jika kita menyikapinya dengan benar.

Kesimpulan

Kita diuji karena memang diciptakan untuk diuji. Yang menguji adalah Allah Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, dan Maha Lembut, dengan hukum sebab-akibat yang berlaku. Di balik ujian ada banyak hikmah: membinasakan yang durhaka, mengangkat derajat orang-orang saleh, menyingkap kebenaran iman, menggugurkan dosa, mengingatkan bahwa dunia sementara, mendorong introspeksi, dan meningkatkan keimanan.

Tugas kita adalah bersabar dan berbaik sangka. Jika demikian, ujian itu menjadi kenikmatan, meskipun terasa pedih pada saat ia datang. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar dan husnuzan ketika diuji. Amin ya Rabbal 'alamin.


Artikel ini disusun dari kajian "Mengapa Allah ﷻ Memberi Ujian Kepada Kita?" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.



Posting Komentar

0 Komentar