Ayat-Ayat Pemberi Harapan bagi Para Pelaku Dosa

Pendahuluan: Tiga Rukun Ibadah Hati

Para ulama menjelaskan bahwa ibadah hati bertumpu pada tiga rukun: cinta kepada Allah (mahabbah), takut kepada-Nya (khauf), dan berharap kepada-Nya (raja'). Seorang hamba semestinya menghadirkan ketiganya sekaligus ketika beribadah. Para salaf menyebutkan bahwa siapa yang beribadah hanya dengan rasa takut, ia menyerupai Khawarij. Siapa yang hanya berharap, ia menyerupai Murji'ah. Dan siapa yang hanya mengedepankan cinta tanpa takut dan harap, ia menyerupai zindiq. Adapun Ahlus Sunnah wal Jama'ah menggabungkan ketiganya.

Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengingatkan bahwa ketiga rasa ini terkumpul sejak awal surah Al-Fatihah. Ucapan "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin" adalah pujian yang disertai cinta, berbeda dengan sekadar madh, yang bisa saja ditujukan kepada musuh. "Ar-Rahmanir-Rahim" menumbuhkan harapan, karena Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu). Dan "Maliki Yaumid-Din" menumbuhkan rasa takut, karena pada hari itu manusia dibangkitkan dalam keadaan telanjang kaki, tanpa pakaian, dan tanpa harta, serta semua jabatan ditanggalkan (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha).

Kajian kali ini difokuskan pada sisi harapan. Yang dimaksud bukan harapan yang membuat seseorang terus bermaksiat, tetapi harapan yang membuatnya segera kembali. Ibaratnya anak yang tahu bahwa orang tuanya baik: ketika berbuat salah, ia tidak ragu untuk minta maaf. Maka ketika kita tahu Allah lebih penyayang daripada orang tua kita, jangan ragu kembali kepada-Nya ketika terjerumus dalam dosa.

Para ulama berselisih tentang ayat manakah yang paling memberi harapan dalam Al-Qur'an. As-Suyuthi dalam Al-Itqan dan Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan menyebutkan belasan pendapat. Berikut sebagiannya.

1. QS. Az-Zumar: 53, Pendapat Ibnu 'Umar

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini disebut oleh Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma sebagai ayat yang paling memberi harapan. Ustadz Firanda menguraikan beberapa sisinya.

  • Perintah untuk menyampaikan ("Katakanlah"). Para nabi, pendakwah, dan khatib diperintahkan menyampaikan rahmat ini.
  • Sebutan "hamba-hamba-Ku". Para pelaku maksiat tetap diakui sebagai hamba Allah.
  • "Yang melampaui batas" (al-musrifin). Mereka bukan sekadar bermaksiat, tetapi tenggelam di dalamnya.
  • Larangan putus asa. Orang yang tenggelam dalam dosa kerap dibisiki iblis, "Buat apa kembali, dosamu terlalu besar."
  • "Mengampuni dosa-dosa semuanya." Pernyataan ini ditegaskan lagi dengan kata jami'an (seluruhnya), tanpa pengecualian.
  • Penutup dengan dua nama Allah: Al-Ghafur dan Ar-Rahim.

Allah dalam Al-Qur'an menyebut diri-Nya Al-Ghafir, Al-Ghaffar, dan Al-Ghafur. Ustadz menjelaskan bahwa ketiganya mengisyaratkan bahwa Allah mengampuni dosa yang berulang, yang besar, maupun yang banyak.

Contohnya adalah kisah seorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Hatinya terketuk untuk bertobat justru di puncak kejahatannya. Ia mendatangi seorang ahli ibadah yang tidak berilmu, lalu menjawab bahwa tobatnya tidak mungkin diterima. Orang itu pun membunuhnya sehingga genap seratus. Namun ia mencari lagi dan bertemu seorang yang berilmu, yang menyatakan bahwa tidak ada penghalang antara dia dan tobat (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu). Ustadz mengingatkan bahwa berfatwa dengan perasaan, tanpa ilmu, berbahaya.

Rahmat Allah juga terlihat dari para pembakar kaum mukminin dalam kisah Ashabul Ukhdud. Allah mengancam mereka dengan azab, tetapi dengan syarat: "kemudian mereka tidak bertobat" (QS. Al-Buruj: 10). Artinya, seandainya mereka bertobat, Allah menerimanya. Demikian pula Firaun yang mengaku Tuhan. Allah tetap mengutus Musa dan Harun 'alaihimassalam kepadanya, "Mudah-mudahan ia ingat atau takut" (QS. Thaha: 44). Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah yang melampaui nalar kita.

Karena itu pula, jangan pernah mendahului Allah dengan menyatakan bahwa seseorang tidak akan diampuni, sebagaimana dalam hadits dua orang bersaudara yang telah kita bahas dalam kajian-kajian sebelumnya (HR. Abu Dawud).

2. QS. Adh-Dhuha: 5, Pendapat 'Ali bin Abi Thalib

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas." (QS. Adh-Dhuha: 5)

Diriwayatkan bahwa 'Ali radhiyallahu 'anhu bertanya kepada penduduk Irak tentang ayat yang paling memberi harapan. Mereka menjawab, ayat Az-Zumar tadi. 'Ali berkata bahwa menurut kami, Ahlul Bait, ayat itu adalah firman Allah, "Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas." Allah tidak akan mengecewakan Nabi ﷺ di akhirat, sedangkan beliau sangat menyayangi umatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau menyimpan doa yang mustajab sebagai syafaat bagi umatnya pada hari kiamat, dan syafaat itu insya Allah akan didapat oleh siapa pun dari umatnya yang wafat tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Ketika Abu Hurairah bertanya siapa yang paling berbahagia dengan syafaat beliau, jawabannya adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan tulus dari hatinya (HR. Al-Bukhari). Semakin ikhlas seseorang, tidak mengharap pujian atau pengakuan manusia, semakin besar peluangnya mendapat syafaat. Beliau juga bersabda, "Syafaatku untuk pelaku dosa besar dari umatku" (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).

Syaratnya adalah wafat tanpa syirik. Karena itu kita perlu belajar apa itu syirik dan jenis-jenisnya, agar mampu menjauhinya. Dikatakan oleh sebagian salaf, mengenal keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjauhinya.

3. QS. An-Nisa': 48 dan 116, Pendapat 'Ali bin Al-Husain Zainal 'Abidin

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. An-Nisa': 48)

Zainal 'Abidin rahimahullah, cicit Rasulullah ﷺ, menyebut ayat ini sebagai ayat yang paling memberi harapan bagi ahli tauhid. Selama seseorang tidak berbuat syirik, dosa apa pun di bawahnya berada dalam kehendak Allah: bisa diampuni, bisa diazab, tetapi tidak kekal di neraka. Ustadz Firanda menyebut contoh orang yang wafat dalam keadaan mencuri, berzina, atau bunuh diri. Itu semua su'ul khatimah, tetapi kita tidak boleh memvonisnya pasti masuk neraka, karena bukan syirik.

Dari ayat ini terlihat perbedaan Ahlus Sunnah dengan kelompok-kelompok lain dalam menyikapi pelaku dosa besar:

  • Khawarij menganggapnya kafir di dunia dan kekal di neraka. Mereka muncul sejak zaman 'Ali bin Abi Thalib dengan semboyan "tidak ada hukum kecuali hukum Allah", lalu mengafirkan 'Ali, Mu'awiyah, dan orang-orang yang menerima tahkim.
  • Mu'tazilah menganggapnya berada di antara dua posisi (bukan mukmin dan bukan kafir) di dunia, tetapi kekal di neraka di akhirat. Para ulama menilai sikap ini tidak konsisten.
  • Murji'ah yang ekstrem menganggapnya mukmin yang sempurna imannya.
  • Ahlus Sunnah berpendapat ia mukmin yang kurang imannya, nasibnya di bawah kehendak Allah.

Khawarij dan Mu'tazilah hanya melihat dalil-dalil ancaman (wa'id), sedangkan Murji'ah hanya melihat dalil-dalil janji. Ahlus Sunnah menggabungkan keduanya.

4. QS. An-Nur: 22, Pendapat Ibnul Mubarak

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

"...maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22)

Ibnul Mubarak rahimahullah, seorang ulama, ahli hadits, mujahid, dan dermawan yang mengumpulkan banyak kebaikan, menilai ayat ini sebagai yang paling memberi harapan. Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dalam kisah tuduhan terhadap 'Aisyah (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Mistah, kerabat Abu Bakar yang selama ini ia nafkahi, ikut menyebarkan tuduhan itu. Setelah 'Aisyah dibersihkan oleh Allah, Abu Bakar bersumpah tidak akan lagi menafkahi Mistah. Maka turunlah ayat ini, dan Abu Bakar pun kembali memberinya nafkah.

Ustadz Firanda menyoroti perubahan kata ganti di ujung ayat: dari "mereka" (orang ketiga) menjadi "kamu" (orang kedua). Seolah-olah pesan ini berlaku bagi seluruh kaum muslimin, bukan hanya Abu Bakar. Maka siapa yang memaafkan dan melapangkan dada, berharap dimaafkan oleh Allah. Memaafkan itu berat, dan melupakan lebih berat lagi, tetapi itulah jalan menuju ampunan.

Kita memang sering beristigfar, tetapi tidak ada yang menjamin seluruh dosa kita sudah diampuni. Istigfar berarti memohon maghfirah, yaitu Allah menutupi dosa kita dan melindungi kita dari dampaknya. Kata itu berakar dari mighfar, helm prajurit yang berfungsi menutupi kepala dan melindungi dari hantaman. Kegelisahan, kesedihan, dan kekhawatiran sering merupakan dampak dosa, sementara orang yang istiqamah tidak mengalami kekhawatiran dan kesedihan (QS. Fushshilat: 30). Jika masih ada dosa yang belum terhapus, cara lain mendapat ampunan adalah dengan memaafkan orang yang menzalimi kita.

5. QS. At-Taubah: 102, Pendapat Abu 'Utsman An-Nahdi

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taubah: 102)

Kebanyakan kita adalah orang yang mencampur amal baik dan buruk. Apalagi di zaman ini, ketika fitnah ada di genggaman, di Twitter, Facebook, Instagram, sulit menjaga pandangan, pendengaran, lisan, dan tangan dari komentar dan tulisan yang tidak benar. Selama kita mengakui dosa-dosa kita, harapan tobat dan ampunan terbuka.

6. QS. Ar-Ra'd: 6, Pendapat Abu Ja'far An-Nahhas

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلْمِهِمْ

"Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan bagi manusia, meskipun mereka zalim." (QS. Ar-Ra'd: 6)

Perhatikan, Allah tidak berkata bahwa Dia mengampuni karena kebaikan mereka, tetapi meskipun mereka zalim. Zalim terhadap diri sendiri pun masih mungkin diampuni.

7. QS. Asy-Syura: 30, Pendapat sebagian salaf

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura: 30)

Sekilas ayat ini menakutkan, tetapi sebagian salaf melihatnya sebagai ayat harapan dari dua sisi. Pertama, Allah "memaafkan banyak" dosa, artinya banyak yang tidak dihitung-Nya. Kedua, musibah itu sendiri menghapus dosa. Kita tahu bahwa satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat bahkan lebih, sedangkan satu keburukan dihitung satu (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma). Rasulullah ﷺ juga melarang mencela demam karena ia menghapus dosa anak Adam (HR. Muslim).

8. QS. Al-Baqarah: 282, Ayat Utang-Piutang

Ayat terpanjang dalam Al-Qur'an ini membahas utang dengan sangat rinci: pencatatan, saksi, dan jangka waktu. Menurut penjelasan yang disebutkan As-Suyuthi, ayat ini dipandang sebagai ayat harapan karena menunjukkan betapa besar perhatian Allah kepada hamba-Nya hingga urusan duniawi sedetail itu. Jika sampai urusan utang pun Allah perhatikan, kita berharap di akhirat Allah memperhatikan dan memaafkan kita.

9. QS. An-Nisa': 31, Menjauhi Dosa Besar

إِن تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang untuk mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (QS. An-Nisa': 31)

Sebagian salaf menilai ayat ini sangat menenteramkan karena zahirnya tidak mensyaratkan permintaan maaf. Selama kita menjauhi dosa-dosa besar, Allah menghapus dosa-dosa kecil kita. Ini mendorong kita mempelajari apa saja dosa besar, misalnya dari kitab Al-Kaba'ir karya Adz-Dzahabi yang memuat tujuh puluh dosa besar. Tentu ini bukan alasan meremehkan dosa kecil. Ia adalah dorongan untuk menjaga diri dari yang besar.

10. QS. Fathir: 32-35, Tiga Golongan Penghuni Surga

Ayat penutup ini oleh Ustadz Firanda dikaitkan dengan penjelasan Asy-Syinqithi dalam Adhwa' Al-Bayan.

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ ۝ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang berlomba-lomba dalam kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (Mereka kekal dalam) surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya." (QS. Fathir: 32-33)

Para ulama menjelaskan ketiganya:

  1. Zhalimun linafsih adalah orang yang masih melakukan maksiat atau meninggalkan sebagian kewajiban.
  2. Muqtashid adalah orang yang menunaikan yang wajib dan meninggalkan yang haram, tetapi tidak banyak mengerjakan yang sunnah.
  3. Sabiqun bil khairat adalah orang yang mengerjakan yang wajib dan sunnah, serta meninggalkan yang haram dan makruh.

Yang menakjubkan, kata ganti "mereka masuk surga" mencakup ketiganya. Sebagian ulama menyebutnya wawul jama'ah, yaitu huruf wau yang mengumpulkan ketiga golongan itu dalam janji surga. Perhatikan pula urutan penyebutannya: orang yang menzalimi diri disebut lebih dahulu, karena kebanyakan manusia berada di golongan itu. Dan golongan terbaik diberi catatan "dengan izin Allah", agar ia tidak ujub. Ustadz Firanda mengingatkan, agar kita masuk golongan ini, jangan sampai kita menzalimi orang lain.

Ayat-ayat berikutnya menggambarkan kenikmatan penghuni surga. Mereka dihiasi gelang emas dan mutiara dan berpakaian sutra, dan menurut penjelasan Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir hal ini diterima begitu mereka masuk, tanpa tertunda. Mereka berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ ۝ الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya, di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu." (QS. Fathir: 34-35)

Perhatikan pengakuan mereka: "Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun." Mereka mengakui bahwa mereka masuk surga karena ampunan Allah, bukan semata amal. Tidak ada yang luput dari dosa. Dalam surga tidak ada rasa lelah dan tidak ada tidur, karena tidur adalah saudara kematian dan penghuni surga tidak pernah terputus dari kenikmatan (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani). Imam Ahmad rahimahullah ketika ditanya kapan seorang hamba beristirahat, menjawab bahwa istirahat itu ketika kaki pertama kali menginjak surga.

Kesimpulan

Beragam ayat yang disebutkan para ulama memberi satu pesan: rahmat Allah sangat luas. Dari Az-Zumar: 53 yang mengampuni seluruh dosa, janji kepuasan bagi Nabi ﷺ, ampunan bagi ahli tauhid, balasan bagi yang memaafkan, penerimaan tobat bagi yang mengakui dosa, ampunan atas kezaliman manusia, musibah yang menghapus dosa, perhatian Allah pada urusan hamba hingga detail, penghapusan dosa kecil bagi yang menjauhi dosa besar, sampai janji surga bagi tiga golongan, termasuk yang menzalimi diri sendiri.

Namun harapan ini adalah harapan yang menggerakkan, bukan yang membiarkan. Raja' yang benar membuat kita segera bertobat, menjauhi syirik, memperbanyak ikhlas, memaafkan sesama, dan menjauhi dosa besar. Ia harus disertai khauf dan mahabbah. Pada kesempatan lain, kita perlu membahas dua rukun lainnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.


Artikel ini disusun dari kajian "Ayat-Ayat Pemberi Harapan Para Pelaku Dosa" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.



Posting Komentar

0 Komentar