Amal saleh adalah bekal kita menghadapi sakaratul maut, alam barzakh, dan kesulitan di hari kebangkitan. Dalam hadits tentang alam kubur, seorang mukmin didatangi sosok yang tampan dan harum. Ketika ditanya siapa dia, ia menjawab, "Aku adalah amalmu yang baik." Sebaliknya, orang yang durhaka didatangi sosok buruk rupa dan berbau busuk, yang mengaku sebagai amal buruknya (HR. Ahmad, dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu).
Karena itu Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengingatkan bahwa ada hal yang lebih penting daripada sekadar beramal: menjaga amal agar tidak gugur dan tidak berkurang. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Wabil Ash-Shayyib berkata bahwa yang terpenting bukan hanya mengerjakan amal, tetapi menjaganya, yaitu mengenali apa yang dapat merusaknya, baik ketika amal itu sedang dikerjakan maupun setelahnya. Jangan sampai kita bersemangat beramal, tetapi ternyata amal itu bermasalah: tidak diterima sejak awal, atau diterima lalu digugurkan.
Ada tiga kemungkinan: amal batal sejak awal, batal belakangan, atau berkurang pahalanya. Setan menginginkan yang pertama. Jika gagal, yang kedua. Jika gagal juga, paling tidak yang ketiga.
Peringatan: Orang yang Bekerja Keras tetapi Masuk Neraka
Allah berfirman tentang wajah-wajah pada hari kiamat yang "bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas" (QS. Al-Ghasyiyah: 3-4). Ibnu Katsir menyebutkan riwayat bahwa 'Umar radhiyallahu 'anhu pernah menemui seorang rahib, lalu menangis melihatnya. Ketika ditanya sebabnya, beliau teringat ayat ini. Rahib itu bersusah payah puluhan tahun, bahkan menolak menikah demi mencapai derajat tinggi, tetapi tanpa ilmu dan tuntunan sehingga ibadahnya tak bernilai.
Sebagian salaf menafsirkan ayat ini mencakup orang-orang yang tekun beribadah tetapi sesat. Al-Qurthubi menyebut contoh ahli bid'ah, seperti Khawarij. Rasulullah ï·º bersabda bahwa para sahabat akan merasa minder membandingkan salat dan puasa mereka dengan salat dan puasa kaum itu, tetapi mereka keluar dari agama seperti anak panah yang menembus buruannya (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu). Dalam hadits lain, beliau menyebut mereka sebagai anjing-anjing penghuni neraka (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Menurut pendapat yang dipilih Ustadz, mereka tidak sampai kafir, tetapi melakukan bid'ah, di antaranya mudah mengafirkan kaum muslimin.
Pelajarannya: semangat beribadah belum cukup. Kita perlu ilmu agar amal kita sah dan terjaga.
1. Kekufuran
Kekufuran membatalkan amal secara total, sebagaimana wudu, salat, puasa, dan haji bisa batal, begitu pula keislaman seseorang. Para ulama empat mazhab menjelaskan pembatal keislaman dalam kitab-kitab fikih mereka, di antaranya:
- Syirik besar.
- Mengejek agama, syiar-syiar Allah, ayat-ayat-Nya, atau Nabi ï·º (QS. At-Taubah: 65-66).
- Membenci syariat, yaitu tidak suka dengan apa yang Allah turunkan (QS. Muhammad: 9).
- Mendustakan sebagian ayat Allah.
- Menganggap hukum buatan manusia setara atau lebih baik daripada hukum Allah.
Allah berfirman, "Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat" (QS. Al-Baqarah: 217). Para ulama berbeda pendapat tentang apakah amal seorang yang murtad kembali jika ia kemudian masuk Islam. Imam Malik berpendapat amalnya gugur seluruhnya sehingga ia harus memulai dari nol, termasuk mengulang haji. Imam Asy-Syafi'i berpendapat lebih ringan: amal hanya gugur bila ia mati dalam kekafiran, adapun bila ia bertobat, amalnya tidak gugur, mengambil pemahaman dari ujung ayat tersebut. Namun yang terpenting, kita berhati-hati agar tidak terjerumus dalam kekufuran.
2. Riya dan Sum'ah
Riya adalah beramal agar diperlihatkan kepada orang lain dan dipuji. Sum'ah adalah memperdengarkan amal saleh dengan bercerita agar dihormati dan disanjung. Keduanya membuat amal tidak diterima. Di zaman media sosial, godaan memamerkan amal sangat besar. Ikutilah kebiasaan salaf yang menyembunyikan amal: berbakti kepada orang tua, kebaikan terhadap suami atau istri, kepada tetangga, dan sedekah. Bercerita boleh jika memang ada maslahat, tetapi tidak boleh untuk mencari pujian.
Tanda riya adalah menanti-nanti pujian setelah beramal. Ketika kita tersenyum karena dipuji, di situlah tampak niat sebenarnya. Cukuplah Allah yang mengetahui: "Apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya" (QS. Al-Baqarah: 270). Karena kita tidak tahu kapan kita mempublikasikan dengan ikhlas atau dengan riya, garis pemisahnya sangat tipis, sebaiknya tidak dipublikasikan.
3. Al-Mann dan Al-Adza: Menggugurkan Sedekah yang Sudah Ikhlas
Berbeda dengan riya yang merusak sejak awal, ada hal yang menggugurkan amal setelah ia ikhlas. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya (al-mann) dan menyakiti (perasaan penerima) (al-adza)" (QS. Al-Baqarah: 264).
Al-mann adalah perasaan berjasa dan merasa lebih tinggi daripada orang yang dibantu. Padahal tujuan sedekah adalah menyucikan hati kita, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka" (QS. At-Taubah: 103). Jika sedekah justru melahirkan kesombongan, ia mengotori hati. Rasulullah ï·º mengabarkan tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dipandang, tidak disucikan, dan mendapat azab pedih, salah satunya al-mannan, yang menyebut-nyebut pemberiannya (HR. Muslim, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu). Untuk mengobatinya, ingatlah bahwa justru kita yang diuntungkan: kita memperoleh pahala, tambahan harta, dan perlindungan dari kematian yang buruk, sedangkan penerima hanya memperoleh sedikit manfaat dunia.
Al-adza adalah menyakiti dengan kata-kata, misalnya, "Kalau bukan karena aku, kamu sudah mati." Kebaikan puluhan tahun bisa hilang oleh satu kalimat. Sebagian ulama membolehkan mengingatkan jasa dalam kondisi tertentu, seperti orang tua kepada anaknya atau suami kepada istrinya, bukan untuk menyakiti melainkan menasihati agar tidak lupa. Rasulullah ï·º mengingatkan bahwa sebagian istri jika melihat satu kekurangan suami setelah kebaikan setahun penuh, berkata, "Aku tidak pernah melihat satu kebaikan pun darimu" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
4. Mendustakan Takdir
Dalam hadits Muslim, ketika dilaporkan kepada 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa ada orang di Basrah, Ma'bad Al-Juhani, yang berpendapat bahwa segala perkara terjadi begitu saja tanpa ketetapan Allah sebelumnya, beliau berlepas diri dari mereka. Beliau berkata, jika salah seorang dari mereka berinfak emas sebesar Gunung Uhud, Allah tidak akan menerimanya sampai ia beriman kepada takdir (HR. Muslim). Iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman, dan seluruh yang terjadi telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Ustadz Firanda mengingatkan, sebagian orang menggunakan logika semata tanpa belajar Islam dengan benar sehingga terjerumus pada paham Qadariyah.
5. Meninggalkan Salat Ashar
Rasulullah ï·º bersabda, "Barang siapa meninggalkan salat Ashar, maka telah gugur amalnya" (HR. Al-Bukhari, dari Buraidah radhiyallahu 'anhu). Para ulama berbeda pendapat tentang maksudnya: ada yang mengatakan amalnya seluruhnya gugur, ada yang mengatakan amal hari itu, dan ada yang mengatakan amal hari itu yang akan diangkat oleh malaikat. Jangan sampai pulang kerja kelelahan lalu tertidur hingga Ashar terlewat. Nabi ï·º juga menyebut menunda-nunda salat Ashar hingga matahari hampir terbenam, lalu salat seperti mematuk-matuk, sebagai salat orang munafik (HR. Muslim, dari Anas radhiyallahu 'anhu).
6. Bersumpah Mendahului Allah
Rasulullah ï·º mengisahkan dua orang bersaudara, yang satu rajin ibadah, satunya rajin maksiat. Yang rajin ibadah selalu menegur saudaranya agar berhenti. Pada suatu hari, ketika ditegur dengan keras, si pelaku maksiat marah dan berkata, "Biarkan aku dengan Tuhanku. Apakah engkau diutus sebagai pengawasku?" Saudaranya bersumpah, "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu." Maka Allah berfirman, "Siapa yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si Fulan? Sungguh Aku telah mengampuninya dan Aku gugurkan amalmu" (HR. Abu Dawud, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Abu Hurairah berkomentar bahwa orang itu mengucapkan satu perkataan yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.
Pelajarannya: jangan memastikan nasib seseorang yang merupakan perkara gaib. Betapa pun bengisnya seseorang, selama ia bertobat, Allah menerima tobatnya. Para pembakar kaum mukminin dalam kisah Ashabul Ukhdud dikabarkan akan diazab "kemudian mereka tidak bertobat", artinya jika mereka bertobat, ada ampunan (QS. Al-Buruj: 10). Firaun yang sedemikian durhaka pun masih diberi kesempatan melalui dua nabi yang diperintahkan berkata lembut kepadanya (QS. Thaha: 43-44). Dan di antara orang-orang yang mengaku nabi setelah wafatnya Rasulullah ï·º, ada yang bertobat dan akhirnya gugur sebagai syahid.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh memastikan seseorang masuk surga kecuali yang telah dipastikan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Ketika Ummul 'Ala' radhiyallahu 'anha berkata kepada jenazah Utsman bin Mazh'un, "Semoga Allah memuliakanmu," Nabi ï·º menegur, "Dari mana engkau tahu bahwa Allah memuliakannya? Adapun aku, aku berharap kebaikan baginya, tetapi demi Allah, aku sendiri tidak tahu apa yang akan diperbuat kepadaku" (HR. Al-Bukhari). Ketika seseorang berkata bahwa jenazah fulan telah beristirahat, beliau bersabda bahwa yang beristirahat hanyalah orang yang telah diampuni (HR. Ahmad). Karena itu, hindari klaim berlebihan seperti kelompok tertentu pasti masuk surga atau seorang tokoh dapat memadamkan neraka. Rasulullah ï·º sendiri berdoa agar dijauhkan dari azab neraka.
7. Menentang dan Mendahului Allah dan Rasul-Nya
Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya... Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi... supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat: 1-2). Para sahabat sangat takut dengan ayat ini. Tsabit bin Qais radhiyallahu 'anhu, yang bersuara keras, mengurung diri karena mengira dirinya penghuni neraka, hingga Nabi ï·º menyampaikan bahwa ia termasuk penghuni surga (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Anas radhiyallahu 'anhu).
Para ulama menjelaskan makna "jangan mendahului" adalah jangan memutuskan sesuatu sebelum melihat dalil dari Allah dan Rasul-Nya, dan jangan "menyodorkan ide" terhadap syariat yang telah jelas. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengatur seluruh alam. Manusia yang kesulitan mengurus dirinya sendiri sepatutnya tidak merasa dapat membuat hukum yang lebih baik daripada hukum-Nya. Maka jika hukum Allah dan Rasul-Nya sudah jelas, jangan menjawab, "Kata ustaz ini, kata kiai itu." Kata Ibnul Qayyim, jika meninggikan suara di hadapan Nabi saja dapat menggugurkan amal, apalagi menentang hukumnya.
8. Bid'ah dalam Ibadah
Rasulullah ï·º bersabda, "Barang siapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak" (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha). Ustadz Firanda memberi contoh Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma ketika mendengar seseorang bersin lalu berkata, "Alhamdulillah, wassalamu 'ala Rasulillah." Beliau menegurnya dan berkata bahwa bukan begitu tuntunan Rasulullah ï·º, yang beliau ajarkan cukup "Alhamdulillah" (HR. At-Tirmidzi). Shalawat boleh dibaca kapan saja, tetapi jangan dijadikan ritual yang dilekatkan pada situasi tertentu.
Imam An-Nawawi rahimahullah pun mengingkari salat-salat yang tidak ada tuntunannya, seperti salat Raghaib dan salat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya'ban. Beliau juga mengingkari mengangkat jenazah sambil berzikir dengan suara keras. Bila setiap orang boleh membuat tata cara ibadah sendiri, agama menjadi kacau: ada yang beribadah sambil melompat, ada yang sambil menari. Dalam urusan dunia, silakan berkreasi. Dalam urusan agama, ikutilah sunnah. Ahlus Sunnah adalah yang mengikuti sunnah Nabi ï·º, dan sunnah adalah apa yang dilakukan dan diajarkan beliau. Ustadz Firanda juga menyebut akidah baru seperti wahdatul wujud sebagai contoh bid'ah yang bertentangan dengan tauhid.
9. Bermaksiat Ketika Bersendirian
Rasulullah ï·º mengabarkan bahwa akan ada kaum yang datang pada hari kiamat dengan pahala sebesar gunung-gunung Tihamah, tetapi Allah menjadikannya seperti debu yang beterbangan. Mereka adalah orang-orang yang apabila bersendirian, melanggar larangan Allah (HR. Ibnu Majah, dari Tsauban radhiyallahu 'anhu). Hadits ini membuat sebagian ulama bertanya-tanya, karena hampir tidak ada manusia yang tak pernah bermaksiat saat sendiri. Penjelasannya, yang dimaksud adalah orang yang menjadikannya kebiasaan tanpa tobat, seperti orang munafik. Seorang mukmin yang tergelincir segera bertobat. Rasulullah ï·º bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada" (HR. At-Tirmidzi). Di rumah bertakwa, di hotel pun bertakwa.
Ustadz Firanda menceritakan seorang syaikh yang diketuk oleh seorang wanita penjaja maksiat di kamar hotelnya di luar negeri. Ia mengunci pintu, lalu bersujud sepanjang malam memohon kekuatan kepada Allah hingga pagi. Setibanya di Jeddah, ia menerima telepon dari seseorang yang menawarkan putrinya untuk dinikahkan dengannya. Siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah menggantinya dengan yang lebih baik.
10. Mendatangi Dukun dan Membaca Ramalan
Rasulullah ï·º bersabda, "Barang siapa mendatangi tukang ramal lalu menanyakan sesuatu kepadanya, tidak diterima salatnya selama empat puluh hari" (HR. Muslim). Salatnya tetap wajib dan sah, tetapi pahalanya tidak diterima. Jika ia membenarkan kabar tentang masa depan itu, maka ia telah kafir, karena yang mengetahui perkara gaib hanya Allah. Termasuk dalam larangan ini membaca ramalan bintang untuk mengetahui nasib. Hatinya akan terikat dengannya. Rasulullah ï·º bersabda, "Siapa yang menggantungkan dirinya pada sesuatu, ia akan diserahkan kepadanya" (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad). Ustadz Firanda menyebut bantahan yang dikaitkan dengan Al-Qurthubi: jika ribuan penumpang kapal dengan bintang kelahiran yang berbeda tenggelam bersamaan, di mana letak pengaruh bintang?
11. Berdusta Ketika Berpuasa
Rasulullah ï·º bersabda, "Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya" (HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Puasanya sah, tetapi pahalanya tidak diterima. Ustadz Firanda mengisahkan para pegawai sebuah stasiun televisi yang berdalih dipaksa atasan membuat berita palsu. Beliau mengingatkan bahwa melemparkan kesalahan kepada atasan tidak menggugurkan tanggung jawab pribadi. Jangan mengorbankan pahala akhirat demi urusan dunia.
12. Memelihara Anjing Tanpa Keperluan yang Dibolehkan
Rasulullah ï·º bersabda bahwa barang siapa memelihara anjing, pahalanya berkurang satu qirath setiap hari, kecuali anjing untuk berburu atau menjaga ternak (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dua qirath, yang masing-masing seperti Gunung Uhud. Sebagian ulama mengqiyaskan anjing penjaga kebun atau anjing pelacak. Adapun anjing yang dipelihara tanpa keperluan itu dan mengganggu orang yang lewat, selain mengurangi pahala, juga berpotensi menzalimi orang lain.
13. Istri yang Membangkang kepada Suami dan Imam yang Dibenci Jamaah
Rasulullah ï·º mengabarkan bahwa salat dua orang tidak naik melewati kepala mereka: budak yang kabur dari tuannya hingga kembali, dan istri yang membangkang kepada suaminya hingga ia kembali taat. Dalam riwayat lain, disebut pula istri yang bermalam sementara suaminya marah kepadanya, dan imam yang dibenci oleh makmumnya. Karena itu, ustadz menasihati para istri agar tidak membangkang, dan para imam agar tidak memaksakan diri.
Menjadi imam bukan soal gengsi, tetapi kedudukan syar'i dengan syarat tertentu. Rasulullah ï·º bersabda, "Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling mahir membaca Kitabullah" (HR. Muslim, dari Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu). Ustadz Firanda mengingatkan, jika bacaannya keliru, ditegur tidak mau menerima, dan jamaah tidak suka, sebaiknya mundur. Sebaliknya, jika ada yang lebih berilmu, jangan "tawadu" dengan menolak maju. Tawaduk yang keliru justru menyalahi petunjuk Nabi ï·º.
Kesimpulan
Amal saleh adalah bekal kita di dunia dan akhirat, tetapi bekal itu bisa gugur atau berkurang tanpa kita sadari. Ada penggugur total seperti kekufuran dan mendustakan takdir, ada perusak sejak awal seperti riya dan bid'ah, ada yang menggugurkan setelah ikhlas seperti al-mann dan al-adza, dan ada yang mengurangi atau menolak pahala seperti dusta saat puasa, mendatangi dukun, dan membangkang.
Pesan Ibnul Qayyim patut kita pegang: yang terpenting bukan hanya beramal, tetapi menjaga amal. Belajarlah agar amal kita sah, ikhlaskan, sembunyikan, jauhi perusaknya, dan segera bertobat jika terpeleset. Semoga Allah menerima amal kita dan menjaganya dari kerusakan hingga kita bertemu dengan-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.
Artikel ini disusun dari kajian "Lelah Beribadah tapi Sia-Sia" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.
0 Komentar