Hidup Hanya Sebentar, Maka Cintailah Sedekah

Dalam surah Al-Munafiqun, Allah mengingatkan kita dengan tiga ayat penutup yang sarat makna:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ۝ وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ ۝ وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?' Allah tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Munafiqun: 9-11)

Dalam kajian ini, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah menyoroti betapa jelasnya Allah mengaitkan singkatnya umur dengan pentingnya bersedekah. Dari sekian banyak amal saleh, mengapa orang yang sedang sakaratul maut justru berangan-angan bisa bersedekah? Boleh jadi ia memiliki harta yang banyak, dan ia menyadari betapa besar nilai sedekah, tetapi waktunya telah habis. Ayat ini menjadi peringatan agar kita tidak terpedaya oleh kesehatan dan kekayaan, karena tidak ada satu pun yang mampu menunda ajal walau sedetik.

Dunia Hanya Persinggahan Sebentar

Allah juga menyebutkan watak sebagian manusia yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, seolah-olah hartanya akan mengekalkannya. Allah menegaskan, sekali-kali tidak (QS. Al-Humazah: 2-4). Uang, emas, mobil, dan rumah tidak menambah umur kita sedetik pun, dan tidak pula mampu menundanya ketika ajal tiba.

Ustadz Firanda mengingatkan bahwa kita semua sedang mengantre menuju satu titik yang sama. Tak seorang pun keluar dari antrean itu. Allah berfirman, "Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh" (QS. An-Nisa': 78). Jenderal, presiden, atau panglima yang dikawal pasukan sekalipun tidak terkecuali.

Allah dengan rahmat-Nya memberikan peringatan berupa perubahan kondisi tubuh kita. Kita diciptakan dari keadaan lemah, lalu menjadi kuat, kemudian kembali lemah dan beruban (QS. Ar-Rum: 54). Usia 40, 50, dan seterusnya mengubah wajah dan tenaga, sebanyak apa pun kita merawat diri. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa usia umatku antara enam puluh dan tujuh puluh tahun, dan sedikit yang melampauinya (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Yang lebih muda belum tentu lebih lama hidupnya, tetapi biasanya yang lebih tua lebih dahulu tiba.

Karena itu Rasulullah ﷺ menyebut orang beriman yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian (HR. Ibnu Majah). Kehidupan dunia yang hanya enam puluh atau tujuh puluh tahun hanyalah sebentar jika dibandingkan dengan alam barzakh, padang mahsyar, dan kehidupan abadi di surga atau neraka. Rasulullah ﷺ bersabda, "Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya" (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad, dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu).

Allah menggambarkan kehidupan dunia sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba memperbanyak harta dan anak. Ibaratnya hujan yang menumbuhkan tanaman yang mengagumkan para petani, lalu mengering menguning dan hancur (QS. Al-Hadid: 20). Anak-anak bermain, remaja berhias, dewasa membanggakan usaha dan harta, lalu semua berlalu. Tanpa terasa kita yang dulu merasa masih muda kini sudah beranak banyak, pandangan dan pendengaran mulai menurun, dan badan mudah pegal. Sesungguhnya kehidupan akhiratlah kehidupan yang sebenarnya (QS. Al-'Ankabut: 64).

Para salaf menyebutkan bahwa orang yang jarang mengingat kematian akan ditimpa tiga hal: malas beribadah, menunda tobat, dan tidak qana'ah. Sebaliknya, orang yang sering mengingat kematian rajin beribadah, segera bertobat, dan tidak rakus terhadap harta, sebab ia tahu bahwa semakin banyak yang dimiliki semakin panjang hisabnya. Salah satu persiapan terbaik menyambut hari akhir adalah banyak bersedekah.

Sedekah dan Lingkungan Keluarga

Ustadz Firanda menyampaikan kajian ini di hadapan jamaah majelis taklim ibu-ibu. Beliau mengingatkan bahwa pasangan hidup sangat berpengaruh terhadap kedermawanan keluarga. Ada suami yang dermawan karena istrinya selalu memotivasi bersedekah. Sebaliknya, ada suami yang menjadi pelit, bahkan kepada orang tua dan saudaranya, karena pasangannya selalu menghalangi dengan alasan banyaknya kebutuhan. Keluarga yang tumbuh dalam kecintaan pada sedekah biasanya melahirkan anak-anak yang dermawan pula, sedangkan orang tua yang kikir cenderung menurunkan kekikiran kepada anaknya.

Keutamaan sedekah, kata beliau, dapat dibagi menjadi keutamaan di dunia dan di akhirat.

Keutamaan Sedekah di Dunia

1. Melapangkan dada

Rasulullah ﷺ mengumpamakan orang yang bakhil dan orang yang dermawan seperti dua orang yang memakai baju besi. Setiap kali orang dermawan bersedekah, baju besinya melonggar dan terbentang. Sedangkan orang bakhil, setiap kali ia hendak berinfak, baju besinya justru semakin menjepit (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Maka orang yang pelit biasanya dadanya sempit: mudah marah, selalu berhitung, dan sulit menerima takdir. Orang yang dermawan lapang dadanya karena ia membagikan kebahagiaan, dan dalam kaidah Islam balasan itu sejenis dengan amal. Siapa yang membagikan kebahagiaan akan diberi kebahagiaan oleh Allah.

Ustadz Firanda mengenang guru beliau, almarhum Ustadz Abu Sa'ad rahimahullahu ta'ala. Ketika beliau menikah dengan bekal yang sangat terbatas, bahkan harus meminjam untuk menutup mahar, sang guru mengosongkan rumahnya selama beberapa hari agar murid yang menikah itu bisa tinggal di sana. Sang guru dikenal selalu hadir di tempat bencana, baik di dalam maupun luar negeri, mengumpulkan dana dan memberikan bantuan. Pernah ia membangunkan rumah tanpa menerima bayaran sepeser pun. Itu bukan karena ia tidak lelah, tetapi karena kebahagiaan membantu orang lain membuatnya seolah kecanduan berbuat baik.

Dalam hadits, seseorang mengadukan kerasnya hatinya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab, "Jika engkau ingin hatimu lembut, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim" (HR. Ahmad). Mengusap kepala anak yatim sambil membayangkan perasaannya yang tak punya sandaran ayah melembutkan hati.

Sedekah tidak harus dengan seluruh harta. Allah berfirman, "Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu" (QS. Al-Munafiqun: 10). Kita tidak seperti Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang menginfakkan seluruh hartanya, atau 'Umar radhiyallahu 'anhu yang menginfakkan setengahnya. Cukup bersedekah sesuai kemampuan yang masuk akal: sisakan untuk istri dan anak, lalu sedekahkan sebagian lainnya. Ustadz Firanda menyebut ada orang-orang di zaman ini yang mengeluarkan dana hingga puluhan miliar di jalan Allah tanpa ingin dikenal, dan mereka justru bahagia melakukannya. Bagi yang merasa dirinya pelit, mulailah dari yang kecil dan tingkatkan perlahan.

2. Menyembuhkan penyakit

Rasulullah ﷺ bersabda, "Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah" (HR. Al-Baihaqi, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Beliau menyebut pengalaman teman-temannya yang bersedekah ketika keluarganya sakit, lalu Allah menyembuhkan. Beliau berpesan agar niat tetap karena Allah, bukan mencari pengakuan atau like. Boleh ada niat duniawi yang menyertai, seperti berharap kesembuhan, selama bukan riya dan tidak diumbar untuk dipuji.

3. Mencegah akhir hidup yang buruk

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa perbuatan-perbuatan baik menjaga seseorang dari kematian yang buruk (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Orang yang terbiasa berbuat baik berharap wafat dalam keadaan taat, bukan dalam kemaksiatan.

4. Menambah harta

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sedekah tidak mengurangi harta" (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Secara kasatmata harta terlihat berkurang, tetapi kita meyakini janji Allah. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, "Berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Allah juga berfirman bahwa apa pun yang kita infakkan, Dia akan menggantinya (QS. Saba': 39), dan Allah menyebut sedekah sebagai pinjaman yang baik kepada-Nya (QS. Al-Baqarah: 245).

Ustadz Firanda mengajak kita berpikir: jika seorang miliarder meminjam uang kita, kita yakin akan dibayar. Maka bagaimana dengan Allah, Pemilik segala sesuatu, yang harta kita pun berasal dari-Nya? Beliau bersaksi bahwa teman-teman yang beliau kenal rajin bersedekah hartanya terus ditambah oleh Allah. Ini perkara gaib yang tidak selalu terlihat segera, sehingga butuh iman. Ada pula yang bercerita tentang seorang dermawan yang ditanya mengapa terus memberi. Jawabannya: aku punya kebiasaan memberi kepada orang, dan Allah punya kebiasaan memberi kepadaku, aku tidak ingin mengubah kebiasaanku agar Allah tidak mengubah kebiasaan-Nya kepadaku. Seorang ulama di Arab Saudi juga mengatakan bahwa ia belum pernah melihat orang yang rajin bersedekah dihinakan oleh Allah.

Beliau menambahkan sebuah syarat: ikhlas. Seorang kawan beliau bahkan malu ketika namanya disebut saat peresmian sebuah masjid yang ia danai, karena tidak ingin diketahui orang.

Keutamaan Sedekah di Akhirat

1. Memadamkan murka Allah

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sedekah secara diam-diam memadamkan kemurkaan Rabb (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Beliau juga mengabarkan bahwa di antara tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Contoh teladan adalah 'Ali bin Al-Husain Zainal 'Abidin rahimahullah, yang setiap malam memanggul gandum untuk fakir miskin tanpa diketahui siapa pun. Setelah beliau wafat, barulah orang-orang tahu dari bekas hitam di punggungnya dan berhentinya kiriman itu.

Sedekah diam-diam dapat diwujudkan dengan sederhana. Jika kita membeli dagangan seorang kawan yang sedang kesulitan, jangan ditawar, supaya harga dirinya terjaga, dan cukup Allah yang tahu bahwa itu sedekah.

2. Menjadi naungan di padang mahsyar

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya hingga perkara antara manusia diselesaikan (HR. Ahmad). Pada hari ketika matahari didekatkan dan manusia bercucuran keringat, orang yang bersedekah dinaungi oleh sedekahnya. Semakin banyak sedekahnya, semakin luas naungannya.

3. Menjadi aset di akhirat

Suatu kali Rasulullah ﷺ menyuruh 'Aisyah radhiyallahu 'anha membagikan daging seekor kambing yang disembelih. Beliau bertanya apakah ada yang tersisa. 'Aisyah menjawab bahwa tidak ada yang tersisa kecuali bahunya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Bahkan seluruhnya tersisa, kecuali bahunya" (HR. At-Tirmidzi). Artinya, yang disedekahkan itulah yang kekal, sedangkan yang disimpan itulah yang hilang.

Syariat tidak melarang kita berhias, membeli barang bagus, atau menikmati rezeki. Tetapi jangan sampai kita punya banyak aset di dunia dan tidak punya aset di akhirat. Menabung di sisi Allah adalah yang paling aman, tidak terkena inflasi atau likuidasi, dan keuntungannya pasti: sepuluh kali, bahkan tujuh ratus kali lipat atau lebih (QS. Al-Baqarah: 261).

4. Melindungi dari neraka

Rasulullah ﷺ bersabda, "Jagalah dirimu dari neraka walaupun dengan sebelah butir kurma" (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu). Dalam hadits yang sama, beliau mengabarkan bahwa setiap orang akan berbicara langsung dengan Rabb-nya tanpa penerjemah. Di sebelah kanan dan kirinya hanya ada amalnya, dan di hadapannya neraka. Maka siapa yang tidak punya apa-apa selain dua butir kurma, bersedekahlah dengannya. Siapa yang hanya punya uang seribu rupiah pun, jangan meremehkan bersedekah.

Ustadz Firanda menyampaikan juga hadits yang berkaitan dengan kaum wanita. Pada suatu hari raya, Rasulullah ﷺ mendatangi barisan wanita dan bersabda, "Wahai para wanita, bersedekahlah, karena aku melihat kalian paling banyak menjadi penghuni neraka" (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu). Ketika ditanya sebabnya, beliau menjawab karena sering melaknat dan mengingkari kebaikan suami. Para sahabiyat segera melemparkan perhiasan mereka, cincin, kalung, dan anting, sebagai sedekah. Hadits ini menjadi pengingat bahwa sedekah adalah jalan paling mudah untuk menjaga diri dari neraka.

Yang Untung Adalah Kita

Ustadz Firanda menutup dengan satu kesadaran penting. Ketika kita bersedekah, yang paling beruntung bukan penerimanya, tetapi diri kita sendiri. Penerima mungkin sekadar terbebas dari lapar atau utang. Sedangkan kita memperoleh tambahan harta, ampunan dosa, balasan berlipat ganda, dan naungan di hari kiamat. Allah berfirman bahwa siapa yang kikir sesungguhnya kikir terhadap dirinya sendiri (QS. Muhammad: 38), dan "Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri" (QS. Al-Isra': 7).

Kesimpulan

Hidup ini singkat dan ajal tak bisa ditunda. Ketika sakaratul maut tiba, orang yang menyesal mengangankan sisa waktu hanya untuk bersedekah, padahal waktunya telah lewat. Maka selagi masih sehat dan lapang, jadikan sedekah bagian dari hidup kita.

Mulailah dari yang kecil, seribu, dua ribu, lalu tingkatkan perlahan. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, dan jangan merasa harus menghabiskan seluruh harta. Latih diri dan keluarga, karena pasangan dan anak sangat berpengaruh. Jaga keikhlasan dan sembunyikan amal. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mencintai sedekah, melapangkan dada kita, menambah rezeki kita, dan menjadikan sedekah kita naungan serta penyelamat di hari kiamat. Amin ya Rabbal 'alamin.


Artikel ini disusun dari kajian "Hidup Hanya Sebentar & Cintailah Sedekah" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.



Posting Komentar

0 Komentar