Sepuluh Kiat Meraih dan Menjaga Ikhlas

Ikhlas adalah perkara yang sangat penting, tetapi tidak mudah. Sebagian ulama bahkan berkata bahwa siapa yang mampu ikhlas sekali saja, ia akan selamat. Namun ikhlas itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan. Mengapa begitu sulit? Karena hati manusia berubah-rubah. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah mengatakan bahwa ia tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatnya, sebab niat itu terus berubah-rubah.

Yang lebih berat lagi bukan sekadar meraih ikhlas, tetapi mempertahankannya. Tabiat manusia suka dipuji dan disanjung, senang dengan senyum dan apresiasi orang lain. Riya pun datang dalam banyak bentuk, ada yang jelas, ada yang sangat samar.

Dalam kajian ini, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengajak kita menyadari bahwa amal sebesar apa pun tidak akan diterima tanpa ikhlas. Jika kita wafat, yang menemani kita ke liang lahat hanya amal. Rasulullah ï·º bersabda bahwa jenazah diikuti tiga hal: keluarga, harta, dan amalnya. Dua kembali, satu tetap bersamanya. Keluarga dan harta kembali, sedangkan amal tinggal bersamanya (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu). Amal itu akan membahagiakan kita jika ikhlas, dan jika tidak, ia bisa menjadi bumerang sejak di alam barzakh.

Secara teori, setiap muslim tahu bahwa amal tanpa ikhlas tidak diterima. Tetapi dalam praktik, banyak di antara kita yang abai memperhatikan isi hati. Padahal Rasulullah ï·º bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian" (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Berbakti kepada orang tua, bersedekah, salat malam, haji, dan umrah, semuanya bisa tidak bernilai, bahkan menjadi beban, bila tidak ikhlas. Berikut sepuluh kiat yang beliau sampaikan.

Kiat 1: Hadirkan Rasa Diawasi Allah (Muraqabah)

Allah berfirman bahwa Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan di dalam dada (QS. Ghafir: 19). Ketika kita sadar bahwa Allah senantiasa melihat dan menilai kita, itulah derajat ihsan: engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, yakinlah Dia melihatmu (HR. Muslim, dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu).

Orang yang demikian mudah ikhlas karena perhatiannya tersita pada penilaian Allah, sehingga ia lalai dari penilaian manusia. Manusia menilai lewat like, komentar, pujian, hinaan, atau nyinyiran, sedangkan Allah menilai gerak-gerik hati kita setiap saat. Maka setiap kali hendak salat, bersedekah, atau melakukan apa pun, biasakan menanamkan dalam hati: Allah sedang melihatku.

Kiat 2: Saat Berinteraksi dengan Manusia, Hubungkan Hati kepada Allah

Ibadah ada yang langsung kepada Allah, seperti salat, doa, dan zikir. Tetapi ada pula yang berbentuk hubungan dengan sesama: berbakti kepada orang tua, menyayangi istri dan anak, membantu kerabat dan tetangga, bersedekah. Pintu riya juga bisa masuk lewat hubungan ini. Kita bisa berharap dipuji karena baik kepada istri, berbakti kepada orang tua, atau dermawan kepada karyawan.

Solusinya, saat memijat kaki orang tua, niatkan: ya Allah, Engkau yang memerintahkanku menyenangkan hati mereka. Saat memberi uang kepada fakir miskin, katakan: ya Allah, ini perintah-Mu, urusanku selesai. Dengan begitu kita tidak menunggu ucapan terima kasih atau balas budi. Inilah sifat penghuni surga:

Ø¥ِÙ†َّÙ…َا Ù†ُØ·ْعِÙ…ُÙƒُÙ…ْ Ù„ِÙˆَجْÙ‡ِ اللَّÙ‡ِ Ù„َا Ù†ُرِيدُ Ù…ِنكُÙ…ْ جَزَاءً ÙˆَÙ„َا Ø´ُÙƒُورًا

"Kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan terima kasih dari kamu." (QS. Al-Insan: 9)

Hakikatnya, kebaikan itu pun berasal dari Allah, yang membuka hati kita untuk berbuat baik dan memberi rezeki untuk dibagikan. Kita hanyalah perantara yang menyampaikan pemberian Allah, dan sebagai perantara pun kita mendapat pahala. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga, Rasulullah ï·º bersabda bahwa tidaklah engkau menafkahkan sesuatu karena mengharap wajah Allah kecuali engkau diberi pahala, hingga suapan yang engkau letakkan di mulut istrimu (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu). Bahkan saat bermesraan dengan istri, hati bisa tetap terhubung dengan Allah.

Kiat 3: Lupakan Penilaian Manusia

Berusahalah melupakan komentar manusia. Tidak perlu sering-sering melihatnya, kecuali jika ada manfaat nyata, misalnya untuk mengetahui apakah materi kajian dipahami atau ada syubhat yang perlu diluruskan. Tetapi bila motifnya ingin tahu apakah kita dipuji, itu pertanda riya.

Pujian manusia tidak mengubah hakikat kita di sisi Allah. Jika seluruh dunia memuji kita padahal kita rendah di sisi-Nya, tidak ada gunanya. Sebaliknya, jika seluruh dunia menghina kita padahal kita mulia di sisi Allah, hinaan itu tidak merugikan kita. Ustadz Firanda membawakan kisah dalam hadits tentang bayi yang sedang menyusu. Ketika sang ibu melihat seorang lelaki gagah berpenampilan menarik lewat, ia berdoa agar anaknya seperti dia. Sang bayi melepaskan puting dan berkata, "Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia." Lalu lewat seorang budak wanita yang dipukuli dan dituduh berbuat yang bukan-bukan. Sang ibu berdoa agar anaknya tidak seperti dia, tetapi bayi itu berkata, "Ya Allah, jadikan aku seperti dia" (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Orang yang direndahkan bisa jadi lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang dipuji.

Rasulullah ï·º mengabarkan tiga golongan yang diadili pertama kali pada hari kiamat dan dilemparkan ke neraka (HR. Muslim). Salah satunya adalah orang yang gugur di medan jihad, tetapi ketika Allah bertanya, ia menjawab bahwa ia berperang demi-Nya. Allah menjawab bahwa ia berdusta, karena ia berperang agar dikatakan pemberani. Dan memang telah dikatakan demikian. Ia mendapat pujian manusia, tetapi tidak sedikit pun bermanfaat baginya. Dua golongan lainnya dalam hadits itu adalah orang berilmu dan dermawan dengan niat serupa.

Para nabi pun menunjukkan bahwa kemuliaan tidak diukur dengan banyaknya pengikut. Nabi Nuh 'alaihissalam berdakwah sangat lama dengan pengikut yang sedikit (QS. Al-'Ankabut: 14), dan Rasulullah ï·º mengabarkan ada nabi yang datang bersama satu atau dua orang saja, bahkan ada nabi yang tidak seorang pun mengikutinya (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma). Namun mereka tetap mulia di sisi Allah. Maka lupakan pujian dan cercaan, dan cukup jaga hati.

Kiat 4: Sembunyikan Amal

Salah satu golongan yang dinaungi Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah orang yang bersedekah dengan menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Para salaf senang bila seseorang memiliki amal tersembunyi yang bahkan tidak diketahui istri dan temannya, karena itu jauh dari riya. Semakin tidak diketahui orang, semakin murni karena Allah.

Perhatikan keteladanan mereka. 'Ali bin Husain Zainal 'Abidin rahimahullah, cicit Rasulullah ï·º, diam-diam membawa gandum pada malam hari dan meletakkannya di depan rumah orang-orang miskin, bahkan tanpa memberi tahu budaknya. Setelah wafat, ketika jenazahnya dimandikan, tampak bekas hitam di pundaknya, bekas memanggul karung-karung itu. Bantuan pun berhenti datang. Ada yang menutup wajahnya saat berjihad agar tidak dikenal. Ada yang salat malam lalu pura-pura tidur dan menggeliat saat azan Subuh agar orang mengira ia tidur nyenyak. Ada yang menangis saat menyampaikan hadits lalu berpura-pura pilek agar tangisnya tidak diketahui. Dikisahkan dalam biografi Al-Mawardi, penulis banyak karya fikih, bahwa ia menyimpan karya-karyanya dan berpesan kepada muridnya: jika di akhir hayat aku menggenggam tanganmu, berarti aku ikhlas dan sebarkanlah buku itu. Ia pun menggenggamnya, dan buku-bukunya tersebar setelah wafatnya.

Hasan Al-Bashri rahimahullah menyebutkan bahwa ada orang yang hafal Al-Qur'an tetapi tetangganya tidak tahu, ada yang ahli fikih tetapi tak dikenali, ada yang salat panjang di rumahnya sementara tamunya tidak menyadari. Beliau juga berkata bahwa mereka tidak menampakkan amal yang mampu mereka sembunyikan, dan bahwa doa mereka hanya berupa bisikan antara mereka dan Rabb-nya. Ustadz Firanda lalu mengajak kita membandingkan: kini justru kita sering sibuk mempublikasikan amal lewat berbagai sarana. Beliau menyarankan latihan menyembunyikan amal, bahkan dari istri bila memungkinkan.

Ada pengecualian, sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dari Al-'Izz bin 'Abdissalam: orang yang menampakkan amal agar diteladani, seperti ulama dan tokoh panutan. Itu pun hendaknya sebagian saja yang ditampakkan, tujuannya memancing orang lain berbuat baik, sedangkan sisanya tetap disembunyikan. Demikian pula ilmu yang bermanfaat bagi umat, seperti ceramah dan tulisan, tidak mengapa ditampakkan. Yang penting, latih diri agar tidak terpedaya oleh pujian.

Kiat 5: Jauhi Tempat-Tempat yang Membuat Kita Populer

Rasulullah ï·º bersabda bahwa Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tersembunyi (HR. Muslim, dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu). Para salaf tidak suka menjadi pusat perhatian. Sebagian ulama dikenal lewat karya tulisnya, tetapi orangnya hampir tidak pernah tampil. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata bahwa ia berharap seluruh manusia mengambil manfaat dari ilmunya tanpa harus dinisbatkan kepadanya.

Jika kita tahu hati kita lemah, mudah senang dengan pujian dan mudah tersinggung dengan kritik, jangan sengaja mencari ketenaran. Rasulullah ï·º memuji hamba yang memegang tali kuda di jalan Allah, rambutnya kusut dan kakinya berdebu. Jika ditugaskan di barisan penjaga, ia berada di barisan penjaga. Jika ditugaskan di barisan belakang, ia berada di belakang. Jika meminta izin, tidak diizinkan, dan jika memberi syafaat, tidak diterima (HR. Al-Bukhari). Ia tidak peduli di mana pun diletakkan, asalkan karena Allah. Kecuali jika memang tidak ada yang mampu mengemban suatu tanggung jawab, jangan berebut tampil. Dan jika sudah terlanjur dikenal, tinggal menjaga hati. Salah seorang ulama mengatakan bahwa ikhlas tidak mungkin berkumpul dengan senang dipuji, seperti api dan air.

Kiat 6: Pandang Amal Kita Penuh Kekurangan

Allah memuji orang-orang yang sabar, jujur, taat, berinfak, dan beristigfar di waktu sahur (QS. Ali 'Imran: 17). Perhatikan, setelah sepanjang hari bersedekah, bersabar, dan salat, di akhir malam mereka beristigfar. Mereka beristigfar bukan hanya dari dosa, tetapi juga dari ketaatan yang mereka rasa belum sempurna. Rasulullah ï·º sendiri beristigfar tiga kali setelah salat (HR. Muslim, dari Tsauban radhiyallahu 'anhu).

Allah berfirman, "Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki" (QS. An-Nur: 21). Dua orang bisa sama-sama berhaji. Yang pertama merasa amalnya kurang, lalu beristigfar dan bersyukur kepada Allah yang memudahkannya. Yang kedua merasa telah menyempurnakan amal dan merasa berjasa kepada Allah. Orang pertama lebih diharapkan diterima amalnya dan diberi taufik untuk amal saleh berikutnya, sedangkan yang kedua terancam ujub dan tertolak amalnya.

Kiat 7: Berhenti Sejenak untuk Memeriksa Niat

Seorang salaf ketika diajak menghadiri jenazah berkata, "Tunggu sebentar sampai aku menghadirkan niat" (dinukil Ibnu Rajab Al-Hanbali). Tidak ada salahnya kita berhenti sejenak sebelum beramal untuk memeriksa hati: apa yang aku cari? Ustadz Firanda mengibaratkan dengan pemeriksaan kesehatan. Kita tidak sadar kadar kolesterol atau gula darah kita naik sampai kita periksa. Demikian pula hati, bila tidak pernah dicek, penyakit riya bisa saja sudah menggerogoti.

Sebagian salaf berkata bahwa satu hadits yang ia sampaikan membutuhkan beberapa kali niat, sebab niatnya sering berubah di tengah jalan. Maka kita perlu memeriksa niat di awal, di tengah, dan di akhir amal. Jika di tengah ceramah timbul rasa bangga karena kekaguman pendengar, segeralah beristigfar dan luruskan niat kembali.

Kiat 8: Berteman dengan Orang-Orang Ikhlas

Kita mudah terpengaruh oleh orang di sekitar kita. Jika bergaul dengan orang yang gemar pamer, kita pun terpengaruh. Jika bergaul dengan orang ikhlas, kita meniru mereka. Ustadz Firanda bercerita tentang salah satu gurunya yang beliau dampingi cukup lama, tetapi hampir tidak pernah menceritakan kiprah dakwah dan jihadnya. Beliau justru mengetahuinya dari guru-guru yang lain. Orang ikhlas biasanya tidak nyaman bila dipuji, matanya tampak gelisah, dan ia takut dirinya terpengaruh. Bergaullah dengan orang-orang seperti itu agar hati kita terpengaruh oleh mereka.

Kiat 9: Ingat Kematian

Rasulullah ï·º bersabda, "Salatlah seperti orang yang hendak berpisah (meninggalkan dunia)" (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu). Jika kita merasa ini salat kita yang terakhir, kita akan fokus kepada Allah. Demikian pula ketika berdakwah, bersedekah, atau berumrah. Merasa ini kesempatan terakhir membuat kita sulit mengalihkan perhatian kepada penilaian manusia.

Kiat 10: Berdoa Memohon Keikhlasan

Hati kita lemah dan mudah terpengaruh, baik oleh kebaikan maupun keburukan. Maka perbanyaklah berdoa, di antaranya "Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu) (HR. At-Tirmidzi). Juga doa agar dijauhkan dari syirik kecil yang disadari maupun tidak: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedang aku mengetahuinya, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak aku ketahui" (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Orang yang sering berdoa seperti ini akan lebih sering mengamati gerak-gerik hatinya.

Para salaf pun berdoa demikian. Di antaranya doa yang diriwayatkan dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu: "Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku amal saleh, jadikanlah ia murni karena wajah-Mu, dan janganlah Engkau jadikan bagi seorang pun satu bagian pun di dalamnya."

Kesimpulan

Ikhlas bukan bakat, melainkan perjuangan yang terus-menerus. Kita berjuang meraihnya dengan merasa diawasi Allah, menghubungkan hati kepada-Nya dalam hubungan dengan sesama, melupakan penilaian manusia, menyembunyikan amal, menjauhi popularitas, merasa amal kita penuh kekurangan, memeriksa niat, bergaul dengan orang-orang ikhlas, mengingat kematian, dan memohon pertolongan Allah.

Para salaf berusaha keras menyembunyikan amal mereka, sedangkan sebagian kita justru mudah berbagi amal ke mana-mana. Sayangilah diri kita sendiri: ketika kita wafat, yang menemani di alam barzakh hanyalah amal saleh yang ikhlas. Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang ikhlas, menjauhkan kita dari riya dan ujub, meneguhkan kita dalam keikhlasan, dan mempertemukan kita dengan orang-orang saleh yang telah mendahului kita. Amin ya Rabbal 'alamin.


Artikel ini disusun dari kajian "Kiat-Kiat Ikhlas" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.



Posting Komentar

0 Komentar