Karena itu pembahasan tentang perbaikan hati kian mendesak. Perhatikan keadaan kita. Salat terasa tidak khusyuk, bangun malam terasa berat, hari akhirat jarang terlintas apalagi menimbulkan rasa takut. Pikiran dipenuhi dunia, dan obrolan pun berputar di soal barang bermerek dan tempat-tempat wisata. Bahkan orang yang sudah lama mengaji pun kadang terbawa arus itu. Semua ini tanda bahwa hati sedang bermasalah.
Kajian ini adalah pertemuan perdana dari pembahasan kitab Ahadits Ishlahil Qulub (Hadits-Hadits Perbaikan Hati) karya Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah, yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Kitab ini memuat bab-bab yang indah: hati adalah asal, sifat-sifat hati, hati sebagai bejana, penggerak hati, perbaikan niat, hingga amalan-amalan hati seperti cinta kepada Allah, berbaik sangka kepada-Nya, muraqabah (merasa selalu diawasi Allah), malu kepada-Nya, serta keyakinan, tawakkul, khusyuk, dan ridha. Sang ustadz menegaskan bahwa kebutuhan ini bukan hanya milik para pendengar. Beliau sendiri pun membutuhkannya. Bagaimana tidak, Nabi ﷺ saja sering berdoa:
Yā muqallibal qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik. "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."
Hati adalah Pokok, Amal adalah Cabang
Bab pertama kitab ini berjudul "Hati adalah Asal". Asal bisa dipahami sebagai pokok, akar, atau landasan. Yang lain, yakni perkataan dan perbuatan, hanyalah cabang dari isi hati.
Pepatah Arab mengatakan bahwa bejana hanya mengeluarkan isinya. Kalau sebuah ceret kita tumpahkan, yang keluar pastilah apa yang ada di dalamnya. Begitu pula manusia. Apa yang ia utarakan, apa yang ia bicarakan, dan apa yang ia sibukkan sesungguhnya adalah ekspresi isi hatinya. Orang yang sibuk dengan dunia dan harta, itulah isi hatinya. Orang yang memikirkan akhirat, belajar tahsin dan tajwid, mendengarkan kajian, lalu mencatatnya, berarti hatinya berorientasi pada akhirat.
Hadits Nu'man bin Basyir: Halal, Haram, dan Syubhat
Hadits pertama yang dibawakan Syaikh 'Abdurrazzaq adalah hadits an-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma. Beliau berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda," sambil mengarahkan dua jarinya ke telinga, tanda bahwa beliau mendengarnya langsung dari Nabi ﷺ (HR. al-Bukhari dan Muslim):
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ، لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjaga diri dari syubhat, ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barang siapa jatuh dalam syubhat, ia jatuh dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir ia menggembala di dalamnya. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerah terlarang, dan daerah terlarang Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati."
Sang ustadz memberi gambaran sederhana tentang pembagian dalam hadits ini. Pertama, perkara yang halalnya jelas, baik berupa makanan seperti tempe, roti, gandum, dan ikan, maupun muamalah seperti akad nikah dan jual beli yang sah. Kedua, perkara yang haramnya jelas, seperti khamar, babi, anjing, akad riba, dan judi. Ketiga, yang berada di antara keduanya, yaitu syubhat, perkara yang halal-haramnya tidak jelas bagi banyak orang. Para ulama mengetahui hakikat hukumnya, tetapi kebanyakan orang tidak.
Lalu bagaimana bersikap terhadap syubhat? Siapa yang menghindarinya, selamatlah agama dan kehormatannya. Siapa yang nekat menerjangnya, lambat laun ia terjerumus ke dalam yang haram. Menurut beliau, ada dua sebab.
Sebab pertama: syubhat yang diterjang pasti suatu saat mengenai yang haram. Misalkan ada dua puluh perkara. Lima jelas halal, lima jelas haram, dan sepuluh sisanya syubhat. Di antara yang sepuluh itu pasti ada yang halal dan ada yang haram, hanya saja kita tidak tahu mana yang mana. Kalau kita embat sepuluhnya, hampir pasti kita memakan yang haram. Yang lima halal kita kerjakan, yang lima haram kita tinggalkan, dan yang syubhat kita jauhi demi keselamatan.
Sebab kedua: meremehkan syubhat melatih diri meremehkan yang haram. Syubhat adalah tangga menuju yang haram. Orang yang setiap menemui syubhat berkata, "Rezeki saya masih banyak, ini saya tinggalkan," hatinya terjaga. Orang yang berkata, "Ah, syubhat saja, lakukan," lama-lama terbiasa dan mudah mengerjakan yang haram. Itulah gambaran penggembala yang menyerempet kawasan milik orang lain, lalu kambingnya lepas dan masuk ke wilayah terlarang.
Lantas apa hubungannya semua ini dengan hati? Di situlah kecerdasan hadits ini. Nabi ﷺ membuka hadits dengan halal dan haram, lalu menutupnya dengan hati. Isyaratnya jelas: orang yang sering bermain di wilayah syubhat dan haram akan rusak hatinya, dan orang yang menjauhinya akan baik hatinya. Hadits ini menunjukkan pengaruh makanan dan muamalah terhadap hati.
Dari sini kita diingatkan betapa seringnya kita menggampangkan perkara syubhat. "Ada haramnya sedikit, tidak apa-apa." Padahal tidak dalam keadaan darurat. Kalau darurat, ceritanya lain. Contoh lain yang beliau sebut adalah menggampangkan campur-baur laki-laki dan perempuan (ikhtilath), bahkan dalam kegiatan dakwah. Menggampangkan perkara-perkara seperti ini akan berpengaruh kepada hati.
Hati sebagai Raja bagi Seluruh Anggota Tubuh
Dalam kitabnya, Syaikh 'Abdurrazzaq menukil perkataan seorang ulama (nama beliau tidak terdengar jelas pada rekaman) bahwa hati adalah raja bagi anggota badan. Jika rajanya baik, baik pula seluruh pasukannya. Jika rajanya buruk, buruk pula anggota tubuh yang lain. Ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits tadi.
Sang ustadz menambahkan bahwa pengaruh hati tidak berhenti pada akhlak dan mental, tetapi sampai ke kesehatan. Kata al-qalb dalam bahasa Arab juga bermakna jantung. Orang yang batinnya gelisah dan mudah emosi biasanya kesehatannya terganggu. Metabolisme tubuhnya tidak teratur, tekanan darah dan kolesterol cepat naik, gula darah naik turun. Orang yang tenang dan bahagia cenderung lebih sehat. Beliau mengingatkan pengalaman pada masa pandemi. Ada orang yang fisiknya kuat tetapi mentalnya jatuh, lalu wafat. Ada pula yang fisiknya lemah tetapi mentalnya kuat, lalu sembuh. Hati yang kuat membantu tubuh menjadi kuat, sedangkan hati yang lemah dan putus asa menjatuhkan daya tahan tubuh.
Semua Perintah dan Larangan Allah Bermuara pada Hati
Selanjutnya, Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberi argumentasi bahwa hati adalah pusat segala amal. Perintah Allah terbagi dua. Pertama, perintah yang langsung tertuju kepada hati, seperti perintah bertakwa, berbaik sangka, bertawakal, dan meyakini, serta larangan yang langsung terkait hati seperti riya dan sombong. Kedua, perintah yang tampak pada perkataan dan perbuatan, tetapi sesungguhnya tetap kembali ke hati.
Ambil contoh salat, zakat, dan puasa. Kalau hati sudah menolak, orang tidak akan salat, tidak akan membayar zakat, dan tidak akan berpuasa. Baru ketika hatinya menerima, ia mengerjakannya. Demikian pula dengan jujur, membaca Al-Qur'an, dan berzikir. Bahkan untuk berwudu pun, kita baru bergerak jika hati menerima. Allah Ta'ala menggambarkan hal ini tentang orang yang menolak:
"Dan dia (orang itu) tidak mau membenarkan (rasul dan Al-Qur'an) dan tidak melaksanakan salat, tetapi justru dia mendustakan (rasul) dan berpaling (dari kebenaran)." (QS. Al-Qiyamah: 31–32)
Asal yang membuatnya tidak salat adalah pendustaan dan sikap berpaling, yang keduanya urusan hati.
Allah Melihat Hati, Bukan Rupa
Dalil berikutnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian" (HR. Muslim). Dalam riwayat Muslim, redaksinya menyebut rupa dan harta kalian, serta hati dan amal kalian. Intinya sama: yang menjadi penilaian Allah adalah hati.
Dua orang bisa sama-sama membayar zakat, tetapi yang satu membayarnya dengan lapang dada dan yang lain dengan menggerutu seakan-akan dipajaki. Dua orang bisa sama-sama berangkat salat, yang satu bersemangat memenuhi panggilan Allah dan yang lain merasa berat. Gerakan lahirnya sama, pahalanya berbeda. Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa dua orang yang salat berdampingan di tempat yang sama, pahala mereka bisa berbeda sejauh langit dan bumi.
Banyak kisah yang menguatkan hal ini.
Wanita berkulit hitam yang dijamin surga. Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah berkata kepada muridnya, "Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?" Ia adalah wanita berkulit hitam yang datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku terkena penyakit ayan, dan ketika kambuh auratku tersingkap. Doakanlah aku kepada Allah." Nabi ﷺ menjawab, "Jika engkau mau, bersabarlah dan bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkanmu." Ia memilih sabar. Namun ia meminta, "Doakan agar auratku tidak tersingkap ketika aku kambuh." Nabi ﷺ pun mendoakannya (HR. al-Bukhari dan Muslim). Penampilan lahirnya mungkin tidak dipandang orang, tetapi ia malu kepada Allah, hatinya bersih, dan ia sabar menerima ujian.
Orang tua yang bersabar atas wafatnya anak. Allah bertanya kepada para malaikat, "Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?" Mereka menjawab, "Ya." Allah bertanya lagi, "Kalian telah mengambil buah hatinya?" "Ya." "Apa yang dikatakan hamba-Ku?" Para malaikat menjawab, "Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja' (innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn)." Allah berfirman, "Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan namakanlah Baitul Hamd (Rumah Pujian)" (HR. at-Tirmidzi). Mengapa ia memuji Allah di saat tertimpa musibah? Jawabannya adalah hatinya.
Sahabat Anshar yang tidak pernah hasad. Suatu hari Nabi ﷺ duduk bersama para sahabat dan bersabda bahwa sebentar lagi akan lewat seorang penghuni surga. Muncullah seorang sahabat Anshar yang jenggotnya masih basah bekas wudu dan menenteng sandalnya. Hari kedua dan ketiga, Nabi ﷺ berkata hal yang sama, dan orang yang sama muncul lagi. 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma penasaran. Ia meminta izin menginap di rumah sahabat itu dengan alasan sedang berselisih dengan ayahnya, padahal ia ingin melihat amalnya. Ternyata ibadahnya biasa saja. Tidak tampak salat malam yang panjang, dan siangnya pun tidak banyak berpuasa sunnah. Hanya saja, bila terjaga di malam hari, ia berzikir mengingat Allah. Setelah tiga hari, 'Abdullah berterus terang, lalu bertanya amal apa yang membuatnya dijamin surga. Sahabat itu menjawab bahwa tidak ada amalnya selain yang telah dilihat. Namun ketika 'Abdullah berpamitan, ia memanggilnya kembali dan berkata, "Hanya saja, aku tidak pernah mendapati dalam hatiku rasa hasad kepada seorang pun atas nikmat yang Allah berikan kepadanya." 'Abdullah berkata, "Inilah yang tidak mampu kami lakukan" (HR. Ahmad).
Hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Allah memuji mereka sebagai orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati (QS. Al-Furqan: 63). Tidak ada kesombongan di hati, dan tidak ada gestur tubuh yang menunjukkan keangkuhan.
Dari semua contoh ini, penilaian pertama Allah adalah hati, bukan penampilan. Pelajaran ini terutama sangat relevan bagi kaum wanita. Betapa banyak dari kita yang rajin bercermin dan membersihkan wajah dengan berbagai produk perawatan, tetapi hati yang kotor oleh hasad, dengki, dan buruk sangka tidak pernah dibersihkan. Sang ustadz mengambil contoh Makkah. Kota itu isinya batu dan tidak ada keindahan alam. Kalau mencari keindahan, Puncak Bogor jauh lebih indah. Namun Allah memilih Makkah sebagai kota terbaik karena di sanalah tempat ibadah. Begitu pula manusia. Penampilan memang perlu diperhatikan dan beliau tidak meremehkannya, tetapi yang paling utama adalah kebersihan dan keindahan hati.
Takwa Ada di Sini
Hadits berikutnya adalah sabda Nabi ﷺ, "Takwa itu di sini," sambil beliau menunjuk dadanya sebanyak tiga kali (HR. Muslim). Maknanya, takwa bertempat di hati. Jika hati baik, baik pula yang lain.
Ada pula hadits bahwa iman seorang hamba tidak akan lurus hingga hatinya lurus (HR. Ahmad). Hati yang tidak lurus akan menuntut macam-macam: ingin menonton ini dan itu, ingin bersenang-senang, ingin mendengar musik. Dan bila hati sudah menginginkan sesuatu, anggota badan tinggal mengikuti. Mata tinggal menunduk patuh kepada hati, telinga patuh, jari yang meng-klik pun patuh. Masalah sebenarnya ada di hati. Semua dalil ini menunjukkan bahwa hati adalah asal, sedangkan anggota tubuh lainnya hanya mengekor. Ketika hati seseorang sepenuhnya karena Allah, ia telah meraih kesempurnaan.
Tiga Model Hati
Sebagai pengantar, sang ustadz menyebut tiga model hati, dan rinciannya akan dibahas pada bab sifat-sifat hati.
Pertama, hati yang selamat (qalbun salīm). Allah berfirman, "(yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih" (QS. Asy-Syu'ara: 88–89). Di antara doa Nabi ﷺ adalah, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu lisan yang jujur dan hati yang selamat" (HR. Ahmad dan an-Nasa'i).
Kedua, hati yang mati, yaitu hati orang kafir dan munafik.
Ketiga, hati yang sakit, yaitu hati kebanyakan manusia. Tandanya jelas: hasad, dengki, buruk sangka, riya, ujub, bertawakal kepada selain Allah, kibr, dan merasa tinggi serta merendahkan orang lain. Penyakit-penyakit ini sedikit atau banyak berkumpul pada seseorang. Itulah sebabnya Allah memuji qalbun salīm.
Apa Makna Hati yang Selamat?
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ungkapan para ulama tentang hati yang selamat bervariasi, tetapi rujukannya sepakat: hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah, dan selamat dari setiap syubhat yang menentang kabar dari Allah dan Rasul-Nya.
Syahwat yang dimaksud misalnya Allah mengharamkan musik tetapi hati ingin mendengarkannya. Allah memerintahkan menundukkan pandangan tetapi hati ingin menonton tayangan yang mengumbar aurat, entah film Hollywood atau drama Korea. Allah menyuruh mendengar ayat-ayat-Nya tetapi hawa nafsu menarik ke arah lain. Sedangkan syubhat yang dimaksud adalah keraguan yang membuat seseorang menolak kabar Allah. Nabi berkata begini, tetapi ia berkata, "Saya tidak percaya."
Jika hati selamat dari keduanya, ia akan selamat dari peribadatan kepada selain Allah dan dari berhukum kepada selain Rasulullah ﷺ. Ia tunduk kepada Allah dalam cinta, takut, harap, tawakal, dan kembali kepada-Nya, serta tunduk kepada hukum Rasulullah ﷺ. Singkatnya, hati yang selamat adalah hati yang bersih dari syirik dan total dalam tauhid. Orang yang riya, misalnya, ingin dipuji dan dihormati, dan itu adalah bagian dari syirik kecil.
Hati yang bersih menyempurnakan dua hal: ikhlas kepada Allah dan mutaba'ah (mengikuti) Rasulullah ﷺ.
Dua Pertanyaan untuk Menguji Hati
Sebagian ulama salaf berkata bahwa tidak ada satu amal pun, sekecil apa pun, kecuali dibentangkan baginya dua catatan: mengapa dan bagaimana. Kita bisa menguji kebersihan hati dengan dua pertanyaan itu.
Mengapa aku melakukannya? Karena Allah, atau karena ingin dipuji, ingin populer, takut digunjing orang, atau ingin mencari muka di hadapan pejabat dan atasan? Bila karena Allah, ia ikhlas dan tidak mencari pujian sedikit pun.
Bagaimana aku melakukannya? Apakah dengan hawa nafsu dan kreasi sendiri, atau tunduk pada tuntunan Nabi ﷺ? Bila ia mengerjakan sesuai yang dikehendaki Nabi ﷺ, tanpa kritik dan protes terhadap keputusan beliau, maka hatinya bersih.
Ciri-Ciri Hati yang Selamat
Syaikh 'Abdurrazzaq menyebutkan beberapa ciri hati yang bersih, dan sang ustadz menambahkan satu.
1. Berorientasi pada akhirat dan zuhud terhadap dunia. Hati yang sakit selalu menginginkan ini dan itu tanpa henti, mengejar sesuatu yang akan sirna dan melupakan yang abadi. Hati yang sehat tertuju pada yang sempurna dan kekal, yaitu akhirat. Saat menggali parit Khandaq dalam kondisi lapar dan kedinginan, Nabi ﷺ bersenandung, "Ya Allah, tidak ada kehidupan (yang sesungguhnya) kecuali kehidupan akhirat, maka rahmatilah kaum Anshar dan Muhajirin" (HR. al-Bukhari dan Muslim). Maka cobalah periksa diri. Orang yang mencari nafkah dengan niat berbagi kepada orang tua, menyekolahkan anak di pondok, dan mendatangkan guru ngaji adalah orang yang berorientasi akhirat. Orang yang hatinya terus ingin membeli ini dan itu serta mengejar barang bermerek, itulah orientasi dunia.
2. Tujuannya satu: meraih ridha Allah. Ini berat, tetapi harus diupayakan. Setiap hendak berbuat, ia bertanya, "Allah ridha atau tidak?" Berlaku untuk urusan dengan suami, belanja, jalan-jalan, atau apa yang ditonton di media sosial. Jika Allah ridha, ia lanjutkan. Jika tidak, ia berhenti.
3. Lebih fokus memperbaiki amal daripada memperbanyak amal. Ia tidak hanya sibuk menambah jumlah ibadah, tetapi berusaha agar amalnya benar-benar baik. Caranya antara lain: (a) berusaha ikhlas ketika beramal; (b) menghadirkan kesadaran bahwa kemampuan beramal adalah nikmat dari Allah, sehingga ia tidak ujub. Ia berkata, "Alhamdulillah, Allah izinkan aku salat, umrah, haji, membaca Al-Qur'an, salat malam, dan bersedekah, padahal banyak orang yang tidak diberi taufik"; (c) menuduh diri masih kurang dalam menunaikan amal, "Salat malamku masih sering mengantuk"; dan (d) berjuang optimal dalam beramal. Orang seperti ini tahu bahwa yang penting bukan sekadar beramal, tetapi amal yang sebaik-baiknya.
4. Berjuang menjauhi maksiat (tambahan dari sang ustadz). Ia tidak menggampangkan maksiat dengan alasan, "Lihat ini bebas, lihat itu bebas, dengar ini bebas." Ia berkata, "Saya tidak mau main-main. Kalau saya bergaul begini, saya bisa jadi budak dunia. Kalau begini, saya bisa jadi hasad." Ia menjauh karena ingin menjaga kebersihan hatinya.
Kesimpulan
Kajian pertama ini menanamkan satu pesan besar: hati adalah asal, dan segala yang lain hanyalah cabang. Ia pusat penilaian Allah, pusat penggerak amal, pusat takwa, sekaligus pusat penyakit bila dibiarkan rusak. Halal dan haram yang kita konsumsi, tontonan dan ucapan yang kita biasakan, serta syubhat yang kita remehkan, semuanya meninggalkan bekas di dalamnya.
Maka marilah kita tidak hanya sibuk merawat penampilan, tetapi juga rajin memeriksa hati dengan dua pertanyaan, "Mengapa aku melakukannya?" dan "Bagaimana aku melakukannya?" Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita semua lisan yang jujur dan hati yang selamat. Pembahasan akan berlanjut pada bab berikutnya tentang sifat-sifat hati, insya Allah.
Sumber kajian: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A., "Hati adalah Asal – Hadits-Hadits Perbaikan Hati #1" (kitab Ahadits Ishlahil Qulub karya Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr). Tonton: https://www.youtube.com/watch?v=nKNPwzmKjsk
0 Komentar