Sabar Ketika Hidup Terasa Sulit: Ujian adalah Tabiat Kehidupan, dan Surga adalah Tujuannya

Adakah di antara kita yang tidak pernah diuji? Hampir mustahil. Ada yang baru saja tertawa, tetapi tawa itu hanya jeda singkat setelah ujian yang lalu dan sebelum ujian yang menanti di depan. Ada yang ekonominya tiba-tiba runtuh, ada yang ditinggal orang tercinta, ada yang sedang berjuang menghadapi sakit, retaknya rumah tangga, atau kegagalan yang tak pernah dibayangkan.

Dalam kajiannya, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengajak kita merenungkan satu ibadah agung yang Allah perintahkan agar kita saling mengingatkan di dalamnya, yaitu sabar. Beliau mengawali dengan firman Allah dalam surah Al-'Ashr:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1-3)

Saling berwasiat untuk bersabar saja diperintahkan, dan itu menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan menyebut bahwa iman terbelah menjadi dua: separuh berupa syukur dan separuh berupa sabar. Siapa yang mampu bersyukur ketika diberi nikmat dan bersabar ketika diuji, imannya telah sempurna. Allah pun menggabungkan keduanya dalam satu ayat bahwa pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur (QS. Ibrahim: 5).

Ujian Adalah Tabiat Kehidupan

Imam Ahmad rahimahullah menyebutkan bahwa sabar disebut dalam Al-Qur'an lebih dari sembilan puluh kali. Ustadz Firanda mengingatkan, satu ibadah yang hanya disebut dalam satu ayat saja sudah merupakan perkara besar di sisi Allah. Maka bayangkan betapa agungnya ibadah yang disebut berkali-kali, baik berupa pujian bagi orang yang sabar, cinta Allah kepada mereka, pahala mereka, maupun surga yang menanti mereka.

Semua penyebutan itu mengingatkan kita agar mempersiapkan diri untuk diuji. Kita semua ingin hidup santai tanpa ujian, tetapi kenyataan hidup tidak demikian. Tidak ada seorang pun yang luput dari ujian, entah raja atau rakyat jelata, kaya atau miskin, terkenal atau tidak dikenal, laki-laki atau perempuan. Setiap orang diuji dengan ujian yang Allah pilihkan untuknya. Yang berbeda hanyalah tingkatannya. Dan sebagian orang kuat menahannya, sebagian lainnya tidak.

Allah telah menegaskan hal ini dalam banyak ayat. Manusia diciptakan dalam kepayahan:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. Al-Balad: 4)

Tentu ada tawa dan kegembiraan dalam hidup, tetapi semuanya diselingi kesedihan dan tangisan. Hilangnya kesulitan secara total hanya ada di surga. Bahkan tujuan penciptaan kita memang untuk diuji:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا "Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)

Alam semesta pun diciptakan sebagai sarana untuk menguji kita (QS. Hud: 7). Keindahan di muka bumi dijadikan sebagai perhiasan, juga untuk menguji manusia mana yang terbaik amalnya (QS. Al-Kahfi: 7). Allah juga bersumpah akan menguji kita dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, lalu memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 155).

Khusus bagi orang beriman, ujian adalah janji Allah. Orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa diuji (QS. Al-'Ankabut: 2-3). Ujian pasti datang agar Allah menampakkan siapa yang imannya benar dan siapa yang berdusta. Bahkan orang-orang sebelum kita ditimpa kesengsaraan dan penderitaan hingga mereka diguncang dengan hebat (QS. Al-Baqarah: 214). Kita yang pernah melalui masa pandemi tentu mengerti: ada yang ekonominya hancur, ada yang kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Jika ujian tak mungkin dihindari, maka pertanyaannya bukan lagi "bagaimana agar tidak diuji?", melainkan "bagaimana agar kita bisa bersabar?".

Hakikat Sabar: Menahan Diri dari Protes terhadap Ketetapan Allah

Secara bahasa, sabar bermakna al-habs, yaitu menahan. Yang dimaksud adalah menahan diri dari perbuatan atau ucapan yang menunjukkan protes terhadap keputusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka segala ucapan dan perbuatan yang bernada memprotes ketetapan-Nya berarti belum bersabar.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa bukan termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan jahiliah ketika ditimpa musibah (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu). Beliau juga mengabarkan bahwa wanita yang meratap, jika ia tidak bertobat sebelum wafat, akan dikenakan pada hari kiamat pakaian dari cairan tembaga dan mantel dari penyakit gatal (HR. Muslim, dari Abu Malik Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu). Semua ini adalah contoh ketidaksabaran: seseorang meluapkan protes lewat tangan dan lisannya.

Sebaliknya, lihatlah teladan Rasulullah ﷺ ketika putra beliau, Ibrahim, wafat di pangkuan beliau saat masih kecil, belum genap dua tahun. Beliau menangis, dan beliau bersabda:

"Mata ini berlinang, hati ini bersedih, dan kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Rabb kami. Sungguh kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)

Perhatikan, sabar bukan berarti tidak boleh sedih atau menangis. Hati boleh pilu dan sakit, tetapi lisan dan anggota badan ditahan. Ini juga menjadi cermin untuk menimbang diri kita. Ketika diuji, apakah kita membanting pintu, melempar piring, mencak-mencak kepada istri, meninggikan suara di hadapan suami, atau menjadikan anak-anak sebagai korban pelampiasan? Jika demikian, kita belum lulus ujian, dan pahala besar yang Allah janjikan untuk orang-orang sabar pun terlewat.

Mengapa Sabar Begitu Agung?

Ustadz Firanda menyebutkan beberapa alasan yang menunjukkan kedudukan sabar.

Pertama, Allah mencintai orang-orang yang sabar (QS. Ali 'Imran: 146). Beliau mengutip ungkapan indah Ibnul Qayyim: yang terpenting bukanlah bahwa engkau mencintai Allah, tetapi bagaimana engkau dicintai oleh Allah. Kita mudah mengaku cinta, tetapi apakah Allah mencintai kita? Salah satu jalannya adalah bersabar ketika diuji. Saat diuji, boleh jadi Allah sedang hendak memberikan cinta-Nya.

Kedua, Allah bersama orang-orang yang sabar.

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)

Kebersamaan ini adalah ma'iyyah khashshah, kebersamaan yang khusus berupa pertolongan dan bimbingan. Ini berbeda dengan kebersamaan umum Allah dengan seluruh makhluk melalui ilmu, penglihatan, dan pendengaran-Nya. Itulah yang Rasulullah ﷺ ucapkan kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu di dalam gua ketika kaum musyrikin telah berada di mulut gua: "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita" (QS. At-Taubah: 40). Selama kita bersabar, Allah bersama kita, dan jika Allah bersama kita, kita pasti menang. Sebaliknya, ketika kita mulai tidak sabar dan ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, Allah seakan meninggalkan kita, dan solusi pun tak kunjung datang.

Lihatlah Bani Israil. Setelah menghadapi tekanan Firaun dan bala tentaranya, mereka bersabar, dan Allah berfirman bahwa telah sempurna kalimat Rabbmu yang baik bagi mereka disebabkan kesabaran mereka (QS. Al-A'raf: 137). Ustadz Firanda menukil penjelasan Al-Alusi rahimahullah dalam tafsirnya Ruhul Ma'ani bahwa mereka memperoleh akhir yang indah karena Allah bersama mereka, dan Allah bersama mereka karena mereka bersabar.

Beliau memberi contoh lain yang berat: perceraian. Mungkin tidak ada perkara yang lebih pelik bagi pasangan yang sudah menikah belasan atau puluhan tahun dan memiliki anak. Namun Allah berfirman dalam surah Ath-Thalaq bahwa barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar (QS. Ath-Thalaq: 2). Banyak anak menjadi korban broken home karena orang tuanya tidak bersabar dan tidak bertakwa dalam menghadapi masalah. Kita ingin mencari solusi dengan cara sendiri, padahal kuncinya adalah sabar dan takwa.

Ketiga, sabar adalah sebab utama masuk surga. Para malaikat menyambut penghuni surga dengan ucapan:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ "Salam sejahtera atasmu, karena kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS. Ar-Ra'd: 24)

Allah juga berfirman bahwa Dia membalas mereka dengan surga dan sutra karena kesabaran mereka (QS. Al-Insan: 12), dan menyebut para hamba Ar-Rahman yang akan dibalas dengan tempat yang tinggi di surga karena kesabaran mereka (QS. Al-Furqan: 75).

Keempat, pahala sabar tanpa batas.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Ustadz Firanda menyampaikan sebuah renungan: boleh jadi satu hari kita bersabar ketika ditimpa musibah, itu mengimbangi nilai ibadah kita selama setahun. Wallahu a'lam, karena pahala orang yang sabar benar-benar tidak terhitung.

Kelima, sabar adalah anugerah terluas. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu). Maka orang yang mendapati dirinya mampu bersabar sesungguhnya telah menerima karunia luar biasa, hanya saja sering tidak menyadarinya.

Kunci agar sabar terasa ringan adalah menghadirkan rasa bahwa kita sedang beribadah. Ketika salat, membaca Al-Qur'an, berpuasa, atau bersedekah, kita merasa sedang beribadah. Namun ketika menahan perih di hati, menghadapi ekonomi yang menurun, problem rumah tangga, atau tingkah anak dan teman, kita sering lupa bahwa itu pun ibadah dengan pahala yang sangat besar. Jika kesadaran ini hadir, sabar akan lebih mudah.

Musibah Punya Dua Fungsi: Menggugurkan Dosa dan Mengangkat Derajat

Ustadz Firanda mengingatkan bahwa jika kita bersabar, musibah memiliki dua fungsi besar.

Fungsi pertama adalah menggugurkan dosa-dosa. Rasulullah ﷺ melarang mencela demam, sebab demam menghilangkan dosa-dosa anak Adam sebagaimana alat pandai besi menghilangkan karat dari besi (HR. Muslim, dari Jabir radhiyallahu 'anhu). Tubuh kita ini penuh "karat" dosa: pandangan, pendengaran, ucapan, dan isi hati, apalagi bagi yang akrab dengan gawai dan media sosial. Jika ujian sederhana seperti demam saja mampu menghapus dosa, bagaimana dengan ujian yang jauh lebih berat?

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidaklah seorang muslim ditimpa rasa letih, sakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menggugurkan sebagian dosanya karenanya (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda bahwa ujian senantiasa menimpa seorang mukmin hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun (HR. At-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

Ustadz Firanda berbagi pengalaman ketika mengunjungi sebuah rumah sakit di Jawa Barat. Saat mengantre rontgen, beliau melihat hadits tentang gugurnya dosa karena sakit terpampang di dinding. Orang sakit tentu bercampur rasa sakit, sedih, dan gelisah, tetapi ketika membaca hadits itu, hati terasa sejuk. Itulah bedanya antara teori dan praktik: kini kita sedang diuji, dan hadits itu menjadi penenteram jiwa.

Fungsi kedua adalah mengangkat derajat. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa seorang hamba memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah yang tidak akan ia capai dengan amalnya. Maka Allah mengujinya pada badan, harta, atau anaknya, lalu ia bersabar hingga Allah mengantarkannya pada kedudukan itu (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Barangkali salat kita kurang, sedekah kita kurang, bakti kepada orang tua dan bacaan Al-Qur'an kita pun kurang. Namun Allah ingin mengangkat derajat kita, dan ujian menjadi jalan pintas, asalkan disertai kesabaran.

Musibah sebagai Obat bagi Penyakit Hati

Sabar juga dapat mengobati dan mencegah penyakit hati seperti ujub, sombong, dan lalai. Ustadz Firanda menyebut bahwa Firaun menjadi sombong dan angkuh antara lain karena Allah memberinya usia dan kekuasaan yang panjang tanpa musibah. Sedangkan kita, ketika pernah gagal, tertimpa musibah, atau usaha merosot, menjadi sadar bahwa kita tidak bisa apa-apa. Selama ini kita terlalu bersandar pada kecerdasan, modal, dan relasi, padahal kita bisa gagal kapan saja. Teguran ini menyelamatkan kita dari kesombongan yang sebelumnya mungkin sudah hampir tumbuh di hati.

Ujian juga menyembuhkan kelalaian. Banyak orang lupa beribadah saat diberi kenikmatan, tetapi ketika diuji ia salat malam, menangis, dan mengangkat kedua tangan kepada Allah ketika semua pintu dunia seakan tertutup. Boleh jadi seseorang berdoa agar utangnya lunas, tetapi Allah belum juga melunasinya, agar ia terus berharap dan tidak lalai kepada-Nya. Bahkan, kata beliau, orang yang merasa aman di satu sisi justru bisa celaka di sisi itu. Beliau menceritakan seseorang yang bersepatu mahal dan aman untuk olahraga, tetapi justru cedera karena sepatu itu, sebab ia lupa diri dan merasa aman.

Kesudahan yang Indah bagi yang Bersabar

Ketika diuji, kita tahu bahwa Allah lebih mengetahui kemaslahatan kita:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Rencana kita bisa gagal, tetapi di baliknya pasti ada hikmah dan kesudahan yang indah yang Allah siapkan, dengan syarat kita bersabar. Allah berfirman, "Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. Hud: 49).

Nabi Yusuf 'alaihissalam adalah contohnya. Beliau dilempar ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, menjadi pembantu, lalu diuji dengan ajakan berzina. Dalam semua itu beliau bersabar dan berihsan, merasa bahwa Allah sedang melihat dan menilainya. Hasilnya, Allah memuliakannya sebagai bendaharawan yang dihormati seluruh negeri Mesir. Di akhir kisah, Yusuf berkata:

إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ "Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 90)

Kesabaran semacam ini sering panjang. Semakin kita ingin segera melihat hasil dan semakin tidak sabar, hasil terasa semakin jauh. Semakin kita bersabar, hasil justru semakin dekat. Karena itu, serahkanlah pilihan kepada Allah dan yakinlah bahwa yang terbaik adalah pilihan-Nya.

Bekal Praktis Agar Mudah Bersabar

Ustadz Firanda lalu menyebut beberapa perkara yang membantu kita bersabar ketika ujian datang.

Pertama, berdoa dan berzikir sejak benturan pertama. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sabar itu pada benturan pertama (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maka apa pun musibahnya, entah mobil kecelakaan, orang tua wafat, atau anak meninggal, segeralah ucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Allah berfirman bahwa mereka yang mengucapkannya mendapatkan shalawat dan rahmat dari Rabb mereka (QS. Al-Baqarah: 156-157). Kemudian ucapkan juga alhamdulillah 'ala kulli hal, karena kita yakin ada hikmah di balik musibah yang tidak kita ketahui.

Beliau mengisahkan hadits tentang hamba yang anaknya diwafatkan. Allah bertanya kepada para malaikat, "Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?" Mereka menjawab, "Ya." Allah bertanya lagi, "Apa yang diucapkan hamba-Ku?" Mereka menjawab, "Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja'." Maka Allah berfirman, "Bangunkan untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan namailah Baitul Hamd (rumah pujian)." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad, dinilai hasan oleh para ulama hadits)

Ucapkan pula qadarullahu wa ma sya'a fa'ala (ini takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan), dan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:

"Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik darinya." (HR. Muslim, dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha)

Kedua, yakin bahwa takdir pasti terjadi. Apa yang telah Allah tetapkan menimpa kita tidak akan meleset, sebagaimana firman-Nya: "Katakanlah, tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami" (QS. At-Taubah: 51). Hal ini tercatat di Lauhul Mahfuzh. Mengamuk ke sana kemari tidak akan mengubahnya. Orang yang sudah berusaha dan waspada pun tidak akan bisa menghindar jika Allah menakdirkannya. Meyakini ini meringankan hati.

Ketiga, ingat nikmat yang telah Allah berikan. Betapa banyak kenikmatan yang telah kita terima dibanding musibah yang kita hadapi. Disebutkan dalam kisah Nabi Ayyub 'alaihissalam, beliau menerima kenikmatan selama puluhan tahun sebelum diuji sakit selama tujuh tahun. Manusia memang cenderung berkeluh kesah dan mudah lupa nikmat, hanya ingat musibah yang sedang menimpanya. Kita yang selama ini sehat dan nyaman bertahun-tahun, tentu patut bersabar ketika diuji dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Keempat, lihat orang yang ujiannya lebih berat. Rasulullah ﷺ bersabda agar kita melihat orang yang berada di bawah kita dan jangan melihat orang yang di atas kita, karena itu lebih layak agar kita tidak meremehkan nikmat Allah (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Pada masa pandemi, ada yang kehilangan satu orang tercinta, sementara ada satu keluarga yang semuanya wafat dan hanya tersisa satu orang. Ketika kita sadar bahwa kita tidak sendirian, beban terasa lebih ringan.

Kelima, rindu kepada surga. Seluruh ujian ini seharusnya membuat kita merindukan surga, tempat yang tidak ada kesedihan sedikit pun. Di dunia, siapa pun akan terkontaminasi oleh duka dan kekhawatiran. Karena itu, penghuni surga saat pertama kali masuk berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami" (QS. Fathir: 34).

Beliau menutup dengan renungan yang menyentuh dari hadits Jibril 'alaihissalam kepada Nabi ﷺ: hiduplah sebagaimana yang engkau kehendaki karena engkau akan meninggal, cintailah siapa yang engkau kehendaki karena engkau pasti berpisah darinya (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Kita mencintai istri dan anak-anak, tetapi kebahagiaan itu tergadaikan oleh kesedihan tatkala berpisah, baik kita yang pergi maupun mereka. Begitulah dunia. Maka bersabarlah, agar kelak kita meraih kenikmatan yang tidak tercampuri kesedihan apa pun di surga.

Kesimpulan

Pelajaran dari kajian ini sederhana tetapi dalam. Ujian bukan tamu asing dalam hidup, melainkan tabiat kehidupan itu sendiri, dan tak seorang pun lolos darinya. Karena itu, pertanyaan yang tepat bukanlah bagaimana menghindarinya, melainkan bagaimana menghadapinya dengan sabar.

Sabar adalah ibadah yang mendatangkan cinta Allah, kebersamaan-Nya, ampunan dosa, tingginya derajat, pahala tanpa batas, dan akhirnya surga. Ia lahir dari keyakinan bahwa pilihan Allah lebih baik dari pilihan kita, bahwa kesudahan indah menanti orang bertakwa, dan bahwa dunia memang bukan tempat ketenangan yang sempurna.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar ketika diuji dan bersyukur ketika diberi nikmat, menjadikan ujian yang sedang kita hadapi sebagai penggugur dosa dan peningkat derajat, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.


Artikel ini disusun dari kajian "Sabar Dikala Sulit" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.



Posting Komentar

0 Komentar