Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengingatkan bahwa seorang mukmin harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Betapa banyak nikmat yang telah kita terima: kemudahan bertahun-tahun, hidayah, dan pilihan Allah atas kita di antara miliaran manusia yang masih kafir. Maka sungguh tidak patut, ketika ujian datang sebentar, kita lupa pada seluruh kebaikan itu lalu berburuk sangka.
Buruk Sangka kepada Allah adalah Ciri Munafik dan Musyrik
Allah menggambarkan kaum munafik pada Perang Uhud: "Mereka berprasangka terhadap Allah dengan prasangka yang tidak benar, seperti prasangka jahiliah" (QS. Ali 'Imran: 154). Mereka mengira kaum muslimin akan binasa dan tidak akan bangkit lagi. Dalam ayat lain, Allah menyebut azab bagi laki-laki dan perempuan munafik serta laki-laki dan perempuan musyrik, yaitu "orang-orang yang berprasangka buruk terhadap Allah" (QS. Al-Fath: 6).
Perhatikan, Allah menyebut buruk sangka itu dengan tiga sebutan: prasangka yang tidak benar (zhannal haqq yang diingkari), prasangka jahiliah, dan prasangka buruk (zhannas saw'). Maka buruk sangka kepada Allah bukan persoalan sepele, melainkan sifat orang-orang munafik dan musyrik. Padahal dalam hadits qudsi, Allah berfirman, "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sekehendaknya. Jika ia berprasangka baik, baginya kebaikan, dan jika berprasangka buruk, baginya keburukan" (HR. Ahmad).
Kita diajari berbaik sangka kepada sesama manusia: kepada teman, istri, suami, saudara, dan anak. Maka kepada Allah, yang tidak pernah berhenti memberi kebaikan, tentu lebih utama. Ujian pun sering kali adalah obat. Allah memberi sebagian penderitaan dan kekhawatiran untuk mengobati penyakit hati: kesombongan, keangkuhan, lupa diri, dan enggan tunduk kepada-Nya.
Contoh Pertama: Nabi ï·º dan Abu Bakar di Gua
Ketika hijrah, kaum Quraisy mengumumkan sayembara: siapa yang menghadirkan Muhammad dan Abu Bakar, hidup atau mati, mendapat seratus unta. Para pemuda pilihan siap berburu. Nabi ï·º dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari, setelah menempuh berbagai langkah untuk mengelabui para pengejar. Walau demikian, para pengejar sampai di mulut gua. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, pasti ia melihat kita." Beliau menjawab:
"Wahai Abu Bakar, bagaimana prasangkamu terhadap dua orang, sedangkan Allah adalah yang ketiga bagi mereka?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Allah mengabadikannya dalam Al-Qur'an: "Ketika dia berkata kepada sahabatnya, 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita'" (QS. At-Taubah: 40). Perhatikan konteksnya. Nabi ï·º tidak mengucapkannya sambil minum kopi di rumah, tetapi di saat paling genting, ketika para pemuda bersenjata berdiri di mulut gua. Menurut hitungan sebab-akibat, mereka nyaris pasti ketahuan. Namun Nabi ï·º mengajarkan Abu Bakar untuk berbaik sangka.
Ustadz Firanda menyebut bahwa riwayat-riwayat yang menceritakan merpati bersarang, laba-laba menjalin sarang, atau pohon tumbuh menutup mulut gua tidak shahih. Yang shahih adalah dialog tadi. Pelajarannya jelas: di saat semua pintu dunia tertutup, pintu langit tetap terbuka.
Contoh Kedua: Nabi Musa di Tepi Laut
Ketika Firaun dan pasukannya mengejar Musa dan Bani Israil, kedua pasukan hampir saling melihat. Para pengikut Musa berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." Musa menjawab:
ÙƒَÙ„َّا ۖ Ø¥ِÙ†َّ Ù…َعِÙŠَ رَبِّÙŠ سَÙŠَÙ‡ْدِينِ
"Sekali-kali tidak (akan tersusul). Sesungguhnya Tuhanku besertaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'ara': 61-62)
Bayangkan keadaannya: di depan terbentang laut, di belakang pasukan ratusan ribu yang bernafsu membalas. Orang-orang di sekitarnya mengendurkan semangat. Namun justru di sana iman Musa tampak. Ia tidak mengucapkannya ketika musuh masih jauh. Ia mengucapkannya ketika kematian terasa di depan dan di belakang. Allah lalu memerintahkannya memukul laut dengan tongkat, sehingga terbelah dan menjadi jalan (menurut Ibnu Katsir, dua belas jalan, sesuai jumlah suku Bani Israil).
Ustadz Firanda mengingatkan bahwa ujian seperti ini menyingkap kualitas iman. Teori mudah dihafal, praktiknya berat. Karena itu kita perlu melatih diri dengan ujian-ujian kecil, agar kokoh ketika diuji dengan yang besar.
Contoh Ketiga: Nabi Ya'qub 'alaihissalam
Ya'qub diuji dengan perpisahan dari Yusuf, putra yang paling dicintainya. Lalu Bunyamin tertahan di Mesir, dan putra tertuanya enggan pulang. Matanya memutih karena kesedihan. Ia berkata, "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya" (QS. Yusuf: 86), lalu, "Wahai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah" (QS. Yusuf: 87).
Ia tidak mengucapkannya ketika Yusuf baru hilang, tetapi ketika masalahnya bertumpuk-tumpuk. Kesedihan Ya'qub nyata, tetapi tidak membuatnya berburuk sangka. Menurut sebagian riwayat, 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah menangis ketika membaca ayat tentang Ya'qub dalam salat Subuh. Perhatikan, kesedihan tidak bertentangan dengan husnuzan. Tangisan bukan dosa, yang berbahaya adalah ketika kesedihan berubah menjadi protes terhadap Allah.
Pertolongan Sering Datang di Puncak Kesulitan
Allah berfirman, "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" (QS. Asy-Syarh: 5-6). Perhatikan kata "bersama", bukan "setelah". Allah juga berfirman:
Ø£َÙ…ْ ØَسِبْتُÙ…ْ Ø£َÙ† تَدْØ®ُÙ„ُوا الْجَÙ†َّØ©َ ÙˆَÙ„َÙ…َّا ÙŠَØ£ْتِÙƒُÙ… Ù…َّØ«َÙ„ُ الَّذِينَ Ø®َÙ„َÙˆْا Ù…ِÙ† Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ… ۖ Ù…َّسَّتْÙ‡ُÙ…ُ الْبَØ£ْسَاءُ Ùˆَالضَّرَّاءُ ÙˆَزُÙ„ْزِÙ„ُوا ØَتَّÙ‰ٰ ÙŠَÙ‚ُولَ الرَّسُولُ Ùˆَالَّذِينَ آمَÙ†ُوا Ù…َعَÙ‡ُ Ù…َتَÙ‰ٰ Ù†َصْرُ اللَّÙ‡ِ ۗ Ø£َÙ„َا Ø¥ِÙ†َّ Ù†َصْرَ اللَّÙ‡ِ Ù‚َرِيبٌ
"Atau apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, 'Kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. Al-Baqarah: 214)
Ustadz Firanda menukil penjelasan Al-Qurthubi bahwa ucapan "kapan datang pertolongan Allah" bukan keraguan, melainkan semakin yakinnya mereka bahwa pertolongan sudah dekat, karena sebab-sebab datangnya pertolongan telah sampai di puncak. Demikian pula pada Perang Ahzab. Ketika pasukan sekutu mengepung Madinah dan hati sampai terasa naik ke tenggorokan (QS. Al-Ahzab: 10), orang-orang beriman berkata, "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya," sehingga "yang demikian itu tidak menambah mereka kecuali iman dan ketundukan" (QS. Al-Ahzab: 22). Dan dalam surah Yusuf, "Sehingga apabila para rasul telah berputus asa (sehingga mereka mengira bahwa) mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami" (QS. Yusuf: 110). Pertolongan sering muncul di saat paling genting.
Cara Menata Hati: Takwa dan Istigfar
Hati kita lemah dan tidak sepenuhnya di bawah kendali kita. Rasulullah ï·º bersabda bahwa hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jemari Ar-Rahman, dibolak-balikkan sebagaimana Dia kehendaki (HR. Muslim, dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma). Kita kadang khusyuk dan kadang tidak. Kita tidak ingin riya, tetapi muncul juga. Kita ingin tegar, tetapi hati tak mau menipu. Karena itu Ustadz Firanda menekankan bahwa kunci husnuzan adalah takwa. Takwa bukan berarti tidak pernah berdosa, tetapi segera kembali kepada Allah setiap kali terpeleset.
Jika kita merasa hati sulit dikendalikan, selalu protes dan buruk sangka, perbanyaklah istigfar. Rasulullah ï·º bersabda, "Sesungguhnya hatiku kadang tertutup (kelalaian), dan sesungguhnya aku beristigfar kepada Allah seratus kali dalam sehari" (HR. Muslim, dari Al-Agharr Al-Muzani radhiyallahu 'anhu). Seakan-akan ada kotoran yang menutupi hati, dan istigfar membersihkannya hingga muncul husnuzan.
Husnuzan Saat Kehilangan Orang yang Dicintai
Bagi seorang ibu yang kehilangan anaknya, kesedihannya sangat besar dan wajar. Namun jika hati tidak ditata, kesedihan itu bisa berubah menjadi protes: "Mengapa Engkau cabut anakku justru ketika ia sedang lucu-lucunya?" Ada yang memperpanjang duka dengan memajang pakaian atau mainan anaknya dan terus meratapinya. Itu menyulitkan penerimaan takdir. Yang kita perlukan adalah menata hati dengan mengingat hadits tentang hamba yang anaknya dicabut nyawanya. Allah bertanya kepada para malaikat, "Apakah kalian mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?" Mereka menjawab, "Ya." Allah bertanya, "Apa yang diucapkan hamba-Ku?" Mereka menjawab, "Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja'." Allah berfirman, "Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah Baitul Hamd" (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).
Husnuzan di sini berarti berpikir, "Boleh jadi Allah ingin kebaikan bagiku." Boleh jadi anak itu terjaga dari fitnah zaman dan kelak memberi syafaat. Boleh jadi orang tua yang wafat itu dipindahkan Allah ke tempat yang lebih baik, daripada terus sakit-sakitan di dunia. Ada hikmah yang Allah bukakan, dan ada yang tidak, tetapi kita tetap berbaik sangka.
Ustadz Firanda memberi perumpamaan: kita rela menjalankan resep dokter yang kita percaya tanpa bertanya-tanya, meski obatnya mahal dan tidak enak. Dokter pun manusia yang penuh kekurangan. Maka kepada Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, dan Dia mengetahui isi dada, bukankah lebih patut kita percaya?
Bentuk-Bentuk Buruk Sangka kepada Allah
Ustadz Firanda menyebut beberapa bentuknya, yang dinukil dari penjelasan kitab tauhid:
- Mengira Nabi ï·º atau Islam akan kalah dan sirna, atau kesyirikan akan menang selamanya, sebagaimana sangkaan orang munafik. Betapa banyak kaum muslimin yang dahulu hidup tertindas sebagai minoritas dan dikira akan habis, tetapi Islam justru bertahan dan berkembang.
- Mengira Allah membiarkan kezaliman tanpa pembalasan. Padahal Rasulullah ï·º bersabda bahwa hak-hak pasti dikembalikan kepada pemiliknya pada hari kiamat (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Kalau tidak dikembalikan di dunia, dikembalikan di akhirat.
- Memprotes keputusan Allah ketika ditimpa hal yang tidak disukai, seperti kemiskinan: "Mengapa Engkau jadikan aku miskin?" Mari introspeksi dan benahi hati dan takwa, karena pilihan Allah adalah yang terbaik bagi orang bertakwa.
- Mengira Allah tidak membalas kebaikan kecuali di akhirat. Betapa banyak bukti Allah membalas kebaikan di dunia sebelum di akhirat. Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.
- Mengira Allah tidak akan menggantikan apa yang kita tinggalkan karena-Nya. Rasulullah ï·º bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah menggantinya dengan yang lebih baik" (HR. Ahmad). Ini penting bagi mereka yang meninggalkan riba, pekerjaan haram, atau hiburan yang dilarang. Jangan sampai terlintas, "Bagaimana jalan keluarku?" Selama kita meninggalkannya dengan ikhlas karena Allah, bukan karena gengsi atau takut penilaian orang, Allah akan memberi solusi.
- Mengira Allah tidak akan menerima tobat karena dosa terlalu banyak. Itu adalah qunuth, putus asa dari rahmat Allah. Jika kita meminta maaf kepada manusia yang penuh kekurangan, ia sering memaafkan. Bagaimana dengan Rabbul 'alamin?
Kesimpulan
Berburuk sangka kepada Allah adalah sifat jahiliah, munafik, dan musyrik, sedangkan berbaik sangka adalah ciri para nabi dan orang saleh. Nabi Muhammad ï·º di gua, Musa di tepi laut, dan Ya'qub dalam duka yang panjang mengajarkan bahwa husnuzan paling berharga justru ketika segala sebab tampak habis.
Kunci menghadirkannya adalah takwa, memperbanyak istigfar, dan melatih diri dengan ujian-ujian kecil. Jika kita menemui kesulitan, ingatlah bahwa Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil, dan Dia melakukan yang terbaik bagi hamba yang bertakwa. Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit buruk sangka dan menjadikan kita selalu berbaik sangka kepada-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.
Artikel ini disusun dari kajian "Larangan Berburuk Sangka Kepada Allah ï·»" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.
0 Komentar