يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun: 14)
Yang dimaksud "musuh" di sini adalah yang mengajak kepada keburukan dan menjauhkan dari Allah. Namun Allah tidak menyuruh kita menyerang balik, melainkan memaafkan, berlapang dada, dan mengampuni. Dalam kajian ini, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengajak kita memahami dua akhlak yang saling bergandengan: sabar dan memaafkan. Seseorang tidak mungkin memaafkan tanpa sabar, dan sabar adalah pintu untuk bisa memaafkan.
Gangguan dari Orang Terdekat: Pelajaran dari 'Aisyah dan Abu Bakar
Kisah tuduhan terhadap 'Aisyah radhiyallahu 'anha menjadi contoh nyata. Sepulang dari sebuah perjalanan, 'Aisyah tertinggal rombongan karena mencari kalungnya, lalu diantar oleh Shafwan bin Al-Mu'aththal radhiyallahu 'anhu masuk ke Madinah di siang hari. Kaum munafik memanfaatkan peristiwa itu untuk menyebarkan fitnah, dan sebagian kaum muslimin ikut terpengaruh, di antaranya Mistah, kerabat Abu Bakar yang selama ini dinafkahi beliau (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha).
Setelah Allah membersihkan nama 'Aisyah dengan ayat-ayat dalam surah An-Nur, Abu Bakar marah dan bersumpah tidak akan lagi menafkahi Mistah. Kemarahan itu wajar, karena yang seharusnya paling membela justru ikut menuduh. Namun Allah menurunkan firman-Nya agar orang yang memiliki kelebihan tidak bersumpah memutus bantuan kepada kerabat dan orang-orang miskin, "Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22). Abu Bakar pun memaafkan dan kembali memberi nafkah kepada Mistah.
Pelajarannya: gangguan bisa datang dari orang yang kita harapkan menopang kita. Maka jangan merasa kehidupan kita pasti steril dari sakit hati.
Nabi Yusuf 'alaihissalam: Memaafkan Tanpa Mencela
Yusuf 'alaihissalam diganggu oleh kakak-kakaknya sendiri, dibuka bajunya, dimasukkan ke sumur, lalu dijual sebagai budak. Bertahun-tahun kemudian, ia menjadi pembesar Mesir, dan kakak-kakaknya datang dalam keadaan susah. Ia mampu membalas, tetapi memilih memaafkan. Ia berkata, "Tidak ada cercaan terhadap kamu pada hari ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang" (QS. Yusuf: 92).
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa memaafkan itu bertingkat. Ada yang memaafkan sambil mencela, "Ternyata kamu memang begitu, tetapi aku maafkan." Itu pun terpuji. Namun yang lebih tinggi adalah ash-shafhul jamil, memaafkan dengan berpaling tanpa celaan sama sekali (QS. Al-Hijr: 85). Kebanyakan kita memaafkan saja sulit, apalagi memaafkan tanpa mencela. Tetapi jiwa yang besar, bukan tubuh yang besar, itulah yang membuat hidup lebih lapang dan mudah bahagia. Allah tidak memilih para nabi kecuali orang-orang yang berjiwa besar, karena ujian mereka bertubi-tubi. Rasulullah ﷺ sendiri sejak diperintahkan memberi peringatan (QS. Al-Muddatstsir: 1-2) tidak pernah lepas dari gangguan hingga wafatnya. Beliau bersabda bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, dan seterusnya (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Kaidah Akhlak dalam QS. Al-A'raf: 199
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)
Para ulama menyebut ayat ini sebagai ayat yang paling mencakup akhlak mulia. Tiga pesannya: ambil sikap memaafkan, perintahkan kebaikan, dan berpaling dari orang-orang jahil. Di zaman ini, orang-orang yang memamerkan kejahilannya di media sosial banyak sekali. Jika kita terlalu sering menoleh kepada mereka, kita ikut terseret.
Ustadz Firanda menukil penjelasan Syaikh Abdurrahman As-Sa'di tentang makna khudzil 'afwa: terimalah apa yang mudah dari akhlak orang lain, jangan membebani mereka di luar kemampuannya, hargai kebaikan mereka, dan maafkan kekurangan mereka. Artinya, jangan terlalu tinggi berharap. Jangan berharap tetangga kita sempurna, teman kita selalu membalas budi, atau murid-murid kita selalu menghormati dan hafal pelajaran. Jika harapan terlalu tinggi dan tidak terpenuhi, kita jadi sering mengeluh, dan hati kita sengsara.
Ini bukan berarti membiarkan kesalahan. Kita tetap menasihati, tetapi pelan-pelan. Ustadz mencontohkan seorang istri yang mengadukan suaminya yang hobi bermain gim, padahal sang suami salat, membaca Al-Qur'an, dan banyak berbuat baik. Terimalah dahulu apa yang ada, sambil memperbaiki sedikit demi sedikit. Jika kita menuntut kesempurnaan, kita tidak akan pernah bahagia. Kita pun punya kekurangan.
Lihatlah Nabi Musa dan Nabi Khidir 'alaihimassalam ketika tiba di suatu negeri dan meminta jamuan, tetapi penduduknya enggan menjamu mereka (QS. Al-Kahfi: 77). Mereka tidak marah dan tidak berkata, "Kalian tidak tahu siapa kami." Begitulah manusia. Kita hidup di zaman dengan berbagai kesibukan dan kekurangan, bukan di zaman para sahabat. Suami, istri, anak, murid, guru, dan lembaga, semuanya tidak sempurna.
Tujuh Motivasi untuk Memaafkan
1. Memaafkan adalah ibadah dan ciri penghuni surga
Kita terbiasa menganggap salat, sedekah, atau menghadiri kajian sebagai ibadah, tetapi lupa bahwa memaafkan pun ibadah. Allah menyebut ciri penghuni surga yang luasnya seluas langit dan bumi:
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134)
Niatkan karena Allah, bukan agar dipuji sebagai pemaaf. Jangan pula dipublikasikan.
2. Balasan sesuai dengan perbuatan
Siapa yang merahmati akan dirahmati, siapa yang menutup aib akan ditutup aibnya, dan siapa yang memaafkan akan dimaafkan oleh Allah. Kita sering berdoa memohon ampunan, tetapi siapa yang menjamin seluruh dosa kita terampuni? Kuantitas dosa kita sering lebih banyak daripada kuantitas istigfar kita. Allah memberi cara yang cepat dan tepat: ketika kita dizalimi, lalu memaafkan. Ibadah ini unik karena hanya bisa dilakukan saat kita disakiti: dikata-katai, dikhianati, direndahkan, atau difitnah. Semakin sulit, semakin besar pahalanya. Karena itu kita bisa bersyukur bahwa Allah memberi kesempatan beribadah dengan cara ini.
3. Pahalanya lebih besar daripada menuntut balas
Allah berfirman, "Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah" (QS. Asy-Syura: 40). Menurut Ustadz Firanda, ketika dizalimi kita punya beberapa pilihan:
- Membalas setimpal. Ini boleh dan tidak berdosa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dua orang yang saling mencaci, dosanya atas yang memulai selama yang dizalimi tidak melampaui batas (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).
- Diam dan tidak memaafkan, lalu menuntut balasan (kisas) pada hari kiamat. Itu hak kita, dan pahala pelaku diambil untuk kita.
- Memaafkan. Inilah yang terbaik, pahalanya di sisi Allah lebih besar daripada kisas.
- Membalas dengan berlebihan. Ini yang berbahaya, karena kita yang berubah menjadi pelaku kezaliman.
Memaafkan juga mendatangkan kebahagiaan dunia. Orang yang memaafkan selesai urusannya, tidak memikirkannya terus, dan pulang ke rumah dengan hati tenteram. Sebaliknya orang yang menyimpan dendam membawa gelisah dan marah ke rumah, kerja, dan keluarganya.
4. Boleh jadi itu akibat dosa kita
Allah berfirman, "Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)" (QS. Asy-Syura: 30). Tidak ada di antara kita yang luput dari dosa, bahkan kebanyakan kita lupa memohon ampun atas sebagian besar dosa kita. Ketika ada yang menzalimi kita, bersangka baiklah: ini hukuman yang disegerakan agar tidak ditimpakan di akhirat. Boleh jadi ini balasan dosa lama, yang Allah timpakan sekarang karena Dia tahu hati kita sudah kuat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
5. Memaafkan karena Allah mengangkat derajat
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sedekah tidak mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan" (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Banyak orang mengira yang mengalah itu lemah. Padahal yang mengalah karena Allah akan diangkat. Ustadz Firanda menyebutkan bahwa dakwah yang mengalami tuduhan dan fitnah, tetapi dihadapi dengan sabar dan tanpa membalas, justru berkembang.
Lebih tinggi lagi, memaafkan ketika mampu membalas. Inilah sifat Allah: Dia Maha Pemaaf dan Maha Kuasa (QS. An-Nisa': 149). Allah memaafkan bukan karena lemah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang menahan marah padahal mampu melampiaskannya, Allah memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat dan menyuruhnya memilih bidadari mana pun yang ia sukai (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Mu'adz bin Anas radhiyallahu 'anhu).
Itulah yang dicontohkan Yusuf 'alaihissalam dan Rasulullah ﷺ. Setelah diusir dari Makkah, dikejar-kejar, dan diperangi di Badar, Uhud, dan Khandaq, beliau kembali delapan tahun kemudian bersama sepuluh ribu pasukan. Ketika kaum Quraisy berada dalam kekuasaan beliau, beliau bertanya apa yang menurut mereka akan beliau lakukan. Mereka menjawab bahwa beliau saudara yang mulia, putra dari saudara yang mulia. Beliau pun membebaskan mereka, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sirah. Ustadz Firanda mengingatkan, jika yang berselisih dengan kita adalah sesama muslim, jangan sampai kita menjatuhkannya hingga istrinya menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim. Serahkan kepada Allah.
6. Serahkan urusan kepada Allah
Ketika menghadapi masalah dan bingung mencari solusi, memaafkan adalah cara menyerahkan urusan kepada Allah. Kita bisa memilih cara kita atau cara Allah. Jika menyelesaikannya dengan cara kita, hasilnya sering tidak baik, atau tampak baik tetapi buruk di kemudian hari. Jika kita bersabar dan memaafkan, Allah punya cara-Nya sendiri.
7. Ibadah yang bisa dilakukan berulang-ulang
Anak kita sering membuat jengkel, begitu pula pasangan, rekan kerja, dan pembantu rumah tangga. Setiap kali itu terjadi, setiap kali pula kita bisa memaafkan dan memperoleh pahala. Ketika seorang sahabat bertanya berapa kali harus memaafkan pelayan, Rasulullah ﷺ menjawab, tujuh puluh kali setiap hari (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma). Orang yang belum paham, belum terdidik, atau berasal dari latar belakang yang berbeda wajar berbuat salah. Bimbing dengan sabar.
Kesimpulan
Memaafkan dan bersabar adalah dua sayap untuk menjalani hidup. Kita memaafkan agar diampuni, agar pahala kita besar, agar derajat kita terangkat, dan agar hati kita tenteram. Kita bersabar karena tahu setiap gangguan adalah bagian dari ujian dan penghapus dosa.
Ustadz Firanda mengakui bahwa teori ini mudah disampaikan dan sulit dipraktikkan. Karena itu kita perlu berjuang dan memohon pertolongan Allah agar dimudahkan menjadi orang-orang yang pemaaf, terutama kepada orang-orang terdekat. Jika kita bermusuhan dengan orang yang jauh, masalahnya tidak terasa. Tetapi bermusuhan dengan teman sekantor, pasangan, anak, mertua, atau saudara membuat hidup menjadi sempit. Jika kita memaafkan, hidup menjadi tenteram, pahala bertambah, dan derajat ditinggikan. Amin ya Rabbal 'alamin.
Artikel ini disusun dari kajian "Memaafkan dan Sabar" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.
0 Komentar