Sabar dan Berbaik Sangka kepada Allah: Ketika yang Tak Kita Sukai Ternyata Baik bagi Kita

Rencana kita sering tidak berjalan sesuai harapan. Ada yang sudah mendaftar umrah, membayar biaya, mengikuti manasik, tinggal menunggu berangkat, lalu keberangkatan dibatalkan karena keadaan yang tak bisa dihindari. Dalam kajian ini, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengambil pengalaman semacam itu sebagai pintu masuk: kita boleh berencana, tetapi yang memutuskan adalah Allah. Beliau berharap, karena kita sudah berusaha dan mengikuti prosedur, semoga Allah tetap mencatat pahala niat dan usaha tersebut.

Beliau mengawali dengan surah Al-'Ashr. Allah tidak sekadar berfirman bahwa manusia merugi, tetapi bahwa manusia seluruhnya berada dalam kerugian, seakan-akan kerugian mengepung dari segala sisi, kecuali orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dalam kebenaran, dan saling berwasiat dalam kesabaran (QS. Al-'Ashr: 1-3). Maka saling mengingatkan tentang sabar bukan sekadar nasihat, melainkan bagian dari jalan selamat.

Ketika ditimpa sesuatu yang tidak kita sukai atau di luar rencana, yang diajarkan adalah shabrun jamil, sabar yang indah. Itulah sabar Nabi Ya'qub 'alaihissalam, yaitu sabar tanpa keluh kesah kepada manusia (QS. Yusuf: 18).

Kaidah Agung dalam Al-Baqarah: 216

Ustadz Firanda lalu menyebut satu ayat yang menjadi kaidah besar:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini turun dalam konteks kewajiban jihad. Tidak ada orang yang suka membunuh, apalagi dibunuh, sehingga ada rasa tidak suka dalam jiwa para sahabat. Namun mereka harus melakukannya karena diserang oleh kaum musyrikin dan pihak-pihak yang memusuhi mereka. Allah mengingatkan bahwa apa yang dibenci bisa jadi baik, karena hanya Allah yang mengetahui masa depan dan apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Dengan meyakini ayat ini, kita lebih mudah berbaik sangka kepada Allah. Ustadz Firanda menekankan satu syarat: ikuti prosedur dan bersabarlah. Jika kita sudah berusaha dan taat, lalu Allah menakdirkan sesuatu yang lain, hati lebih mudah tenang. Berbeda bila kita keluar jalur, bermaksiat dan membangkang, maka sulit bagi kita berbaik sangka ketika musibah datang. Beliau lalu membawakan beberapa kisah dari Al-Qur'an sebagai bukti bahwa ayat ini nyata.

Kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam: Dari Sumur Menuju Singgasana

Allah menguji Yusuf dengan rangkaian peristiwa yang tampak pahit, dan ujian itu bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk ayahnya, Nabi Ya'qub 'alaihissalam. Saudara-saudaranya dengki, mengajak Yusuf "bermain" ke tanah lapang, lalu memasukkannya ke dalam sumur. Mereka pulang dengan sandiwara bahwa Yusuf dimakan serigala. Ya'qub tidak membenarkan cerita itu. Beliau melihat baju Yusuf berlumuran darah, tetapi tidak robek, padahal serigala yang menerkam mangsa pasti merobek pakaian. Ya'qub berkata, "Bahkan hawa nafsu kalianlah yang memandang baik urusan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang indah itulah (kesabaranku)" (QS. Yusuf: 18). Selama bertahun-tahun, beliau menangis karena kehilangan putranya.

Yusuf kemudian dijual sebagai budak kepada rombongan musafir, lalu dibeli seorang pembesar Mesir. Ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Istri sang pembesar (yang menurut sebagian riwayat bernama Zulaikha) merayunya dalam ruangan tertutup. Yusuf lari karena takut kepada Allah, hingga bajunya tertarik dari belakang. Akibatnya, ia justru dipenjara. Ujian demi ujian, dan semuanya adalah perkara yang tidak disukai.

Namun lihat ujungnya. Raja bermimpi dan hanya Yusuf yang mampu menafsirkannya. Ia diangkat menjadi bendaharawan negara, menjadi orang yang dimuliakan, lalu memanggil ayah dan saudara-saudaranya untuk tinggal bersamanya di Mesir. Seandainya Yusuf hanya tinggal manja di rumah ayahnya, ia tidak akan menjadi pembesar di Mesir. Untuk sampai ke sana, ia melewati tahapan-tahapan yang semuanya dibenci: sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara. Di akhir kisah, Yusuf berkata:

إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

"Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 90)

Perhatikan syaratnya, yaitu sabar. Allah menegaskan bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Hud: 49). Jika ujian dihadapi tanpa sabar, kesudahannya belum tentu baik.

Kisah Nabi Musa 'alaihissalam dan Ibunya

Ketika Firaun mendengar ramalan bahwa akan lahir dari Bani Israil seorang anak yang kelak meruntuhkan singgasananya, ia mendata wanita-wanita hamil dan menugaskan penjaga untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir. Allah menakdirkan ibunda Musa mengandung tanpa perut yang terlalu besar sehingga lolos dari pendataan.

Namun bahaya belum usai. Tangisan bayi bisa terdengar dan membahayakan keduanya. Maka Allah mengilhamkan kepada ibunda Musa untuk menyusuinya, lalu jika khawatir, meletakkannya dalam peti dan menghanyutkannya di sungai Nil (QS. Al-Qashash: 7). Bayangkan perasaan seorang ibu yang baru menimang anak setelah sembilan bulan menanti, kini harus melepasnya ke arus sungai tanpa tahu nasibnya. Ia menyuruh kakak Musa mengikuti peti itu dari kejauhan.

Peti itu hanyut hingga ke istana Firaun, dan Allah menakdirkan istri Firaun, Asiyah binti Muzahim, yang tidak memiliki anak, jatuh cinta pada bayi itu. Allah berfirman, "Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku" (QS. Thaha: 39). Istri Firaun memohon agar bayi itu tidak dibunuh dan dijadikan anak, dan Firaun pun luluh (QS. Al-Qashash: 9). Bayi itu menolak semua wanita penyusu, sehingga kakaknya yang menyamar menawarkan keluarga yang bisa mengasuhnya. Maka Musa dikembalikan kepada ibunya, "agar senang hatinya dan tidak bersedih" (QS. Al-Qashash: 13). Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa sang ibu bahkan menyusui di istana dan dibayar oleh Firaun. Yang ditakuti justru menjadi sumber keselamatan, dan musuhnya menjadi pengasuh sekaligus pemberi nafkah.

Ketika dewasa, Musa tanpa sengaja membunuh seorang laki-laki dari kaum Firaun saat membela seseorang dari Bani Israil (QS. Al-Qashash: 15). Berita itu menyebar, dan seorang lelaki memperingatkan bahwa para pembesar sedang bermusyawarah untuk membunuhnya (QS. Al-Qashash: 20). Musa pun kabur dalam ketakutan, tanpa bekal, tanpa kendaraan, melintasi padang pasir. Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa ia hanya memakan dedaunan sehingga tubuhnya tampak kehijauan. Sampailah ia di Madyan, dan di sana ia menolong dua wanita yang tidak bisa menimba air karena banyaknya laki-laki di sumur, tanpa mengharap imbalan. Lalu, dalam keadaan lapar, ia berteduh dan berdoa:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24)

Doa itu dijawab. Salah satu dari dua wanita itu datang mengundangnya menemui ayahnya, seorang lelaki saleh. Musa dijamu, ditenangkan, lalu dinikahkan dengan salah satu putrinya dengan mahar bekerja selama delapan sampai sepuluh tahun (QS. Al-Qashash: 27). Setelah itu, dalam perjalanan membawa keluarga di malam yang dingin, ia melihat api dari kejauhan dan mendekatinya untuk mengambil bara bagi istrinya. Di sanalah Allah berbicara kepadanya dan mengangkatnya menjadi rasul (QS. Thaha: 9-14).

Lihatlah rangkaian itu: ketakutan, pelarian, kelaparan, kemudian pernikahan, mertua yang saleh, dan kerasulan. Semua bermula dari hal-hal yang tidak ia sukai.

Kisah 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan Peristiwa Fitnah

Dalam surah An-Nur, setelah Allah menyebut kelompok yang menyebarkan kedustaan, Allah berfirman agar mereka tidak menyangka peristiwa itu buruk bagi kalian, bahkan itu baik bagi kalian (QS. An-Nur: 11).

Kisahnya tercatat dalam hadits yang panjang (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha). Dalam sebuah perjalanan pulang bersama Rasulullah ﷺ, menjelang Madinah, 'Aisyah keluar buang hajat di malam hari. Kalungnya hilang, lalu ia kembali mencarinya. Para pengangkat tandu mengira beliau sudah berada di dalamnya, sebab tubuh beliau ringan, sehingga rombongan berangkat tanpa beliau. Seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu'aththal radhiyallahu 'anhu, yang bertugas memeriksa barang yang tertinggal, mendapati beliau dan mengantarkannya ke Madinah di siang hari.

Peristiwa ini dijadikan bahan fitnah oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh munafik. Berita bohong menyebar hingga menjadi buah bibir Madinah, bahkan sebagian sahabat ikut terprovokasi. 'Aisyah baru mengetahuinya setelah sakit, lalu menangis berhari-hari. Wahyu belum turun, dan Rasulullah ﷺ belum mengetahui hakikat sebenarnya. Beliau menasihati 'Aisyah agar bertobat bila memang melakukan dosa, dan jika tidak, Allah akan membelanya. Beliau sendiri sangat bersedih. Orang tua 'Aisyah pun tak mampu memberikan pembelaan yang meyakinkan.

Lalu Allah menurunkan belasan ayat (QS. An-Nur: 11-26) yang menyatakan kesucian 'Aisyah, dan ayat-ayat itu dibaca hingga hari kiamat. Dari peristiwa yang amat menyakitkan lahirlah pembelaan langsung dari Allah, dari atas langit yang tujuh. Yang tampak buruk menjadi kemuliaan dan peninggian derajat bagi 'Aisyah.

Kisah Zainab bintu Jahsy dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhuma

Zainab bintu Jahsy adalah wanita Quraisy yang berkedudukan, sepupu Nabi ﷺ. Ia mengira Nabi ﷺ meminangnya untuk diri beliau sendiri, tetapi ternyata untuk Zaid bin Haritsah, bekas budak yang telah dimerdekakan dan diangkat anak oleh beliau. Zainab menolak karena merasa tidak sepadan, hingga turun firman Allah bahwa tidak pantas bagi mukmin dan mukminah memiliki pilihan lain ketika Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sesuatu (QS. Al-Ahzab: 36). Ia pun taat dan menikah dengan Zaid.

Pernikahan itu tidak berjalan harmonis. Zaid beberapa kali mengeluh kepada Nabi ﷺ, dan beliau menasihati, "Pertahankan istrimu." Namun akhirnya Zaid menceraikan Zainab. Setelah selesai masa iddahnya, Allah menikahkan Nabi ﷺ dengan Zainab (QS. Al-Ahzab: 37). Zainab kemudian dikenal membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi ﷺ yang lain: kalian dinikahkan oleh wali kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh lapis langit (HR. Al-Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).

Lihat pula kebaikan yang diterima Zaid. Ia menjalani perpisahan dari istrinya dan tidak lagi dipanggil "Zaid bin Muhammad", karena Allah memerintahkan agar anak angkat dinisbatkan kepada ayah kandungnya (QS. Al-Ahzab: 5). Namun Allah memuliakannya dengan menyebut namanya secara langsung dalam Al-Qur'an (QS. Al-Ahzab: 37). Tidak ada sahabat lain yang disebut namanya dalam Al-Qur'an selain Zaid. Ustadz Firanda mengaitkannya dengan Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, yang menangis haru ketika Rasulullah ﷺ memberi tahu bahwa Allah memerintahkan beliau membacakan Al-Qur'an kepadanya dan Ubay bertanya, "Apakah Allah menyebut namaku?" Beliau menjawab, "Ya" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Betapa bahagianya orang yang namanya disebut oleh Rabbul 'Alamin.

Dalam Kehidupan Kita

Ustadz Firanda mengingatkan bahwa kaidah ini juga berlaku dalam keseharian kita. Ada kisah kawan yang terjebak macet dan tertinggal pesawat, lalu mendapati pesawat itu kemudian mengalami kecelakaan. Kita sering tidak tahu mana yang baik, dan sering pula tidak mampu menalar hikmahnya. Karena itu, serahkanlah kepada Allah dan yakinlah bahwa di balik apa yang menimpa kita ada kebaikan. Syaratnya tetap satu, yaitu bersabar dalam menghadapi ujian.

Tidak seorang pun luput dari ujian, entah tertundanya umrah dan haji, atau ujian lain yang masing-masing berbeda. Tetapi kita senantiasa berbaik sangka, karena di balik setiap ujian ada kebaikan bagi yang bersabar.

Berbaik Sangka adalah Kunci

Allah berfirman dalam hadits qudsi, "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku" (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Dalam riwayat lain disebutkan, jika ia berprasangka baik, ia mendapat kebaikan, dan jika berprasangka buruk, ia mendapat keburukan. Maka, ketika diuji, pilihlah sangka yang baik kepada Allah.

Kesimpulan

Dari kisah Yusuf, Musa dan ibunya, 'Aisyah, serta Zainab dan Zaid, kita belajar bahwa banyak nikmat Allah datang melalui hal-hal yang awalnya tidak kita sukai. Sumur, ketakutan, fitnah, dan perpisahan berubah menjadi kekuasaan, kerasulan, pembelaan dari langit, dan pernikahan dengan Nabi ﷺ.

Kunci yang diajarkan adalah sabar disertai takwa dan berbaik sangka kepada Allah. Kita memang tidak selalu mampu menyingkap hikmah, tetapi kita meyakini bahwa Allah mengetahui yang terbaik dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang bertakwa. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kemampuan bersabar dan senantiasa berprasangka baik kepada-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.


Artikel ini disusun dari kajian "Sabar dan Berbaik Sangka kepada Allah" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.



Posting Komentar

0 Komentar