Setidaknya tujuh belas kali sehari kita membaca Al-Fatihah dalam shalat fardhu. Karena begitu akrab, surah ini mudah dibaca tanpa benar-benar direnungkan. Padahal jika kaum Muslimin sungguh menyelaminya, pintu menuju seluruh isi Al-Qur'an akan terbuka. Jika diremehkan, sisa Al-Qur'an pun akan ikut diremehkan. Itulah sebabnya ia bernama Al-Fatihah, sang pembuka.
Mari menelusurinya perlahan, kata demi kata: mengapa Allah memilih kata ini dan bukan kata lain, dan apa yang hilang bila diganti. Tujuh ayat ini adalah perkenalan paling lengkap antara seorang hamba dengan Tuhannya.
"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 2-7)
Dari Mana Al-Fatihah Dimulai?
Al-Fatihah termasuk surah yang pertama kali diturunkan secara utuh kepada Nabi ï·º. Para ulama berbeda pendapat tentang ayat pertamanya. Sebagian menghitung basmalah sebagai ayat pertama, sebagian lain memulai hitungan dari alhamdulillah. Keduanya patut dihormati, tetapi pendapat kedua memiliki banyak indikasi yang kuat. Para ahli tafsir sering membawakan hadits qudsi bahwa Allah membagi shalat antara diri-Nya dan hamba-Nya menjadi dua bagian. Riwayat itu berjalan ayat demi ayat dan dimulai saat hamba mengucapkan alhamdulillahi rabbil 'alamin (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).
Hamd: Lebih dari Sekadar Pujian atau Terima Kasih
Alhamdulillah biasa diterjemahkan "segala puji bagi Allah". Padahal kata hamd mencakup dua hal sekaligus, yaitu pujian dan syukur, dan keduanya tidak sama. Kita memuji mobil yang bagus, bayi yang menggemaskan, atau atlet yang hebat, tetapi tidak berterima kasih kepada mereka. Terima kasih hanya diucapkan kepada orang yang berbuat baik kepada kita.
Keduanya juga bisa berdiri sendiri. Orang tua yang mengajak kepada syirik tidak boleh ditaati, tetapi anak tetap diperintahkan bersyukur kepada mereka dan menggauli mereka dengan baik (QS. Luqman: 14-15). Nabi Ibrahim 'alaihissalam tidak membenarkan perbuatan ayahnya, tetapi beliau tetap bertutur santun. Pujian tidak ada, tetapi rasa terima kasih tetap ada.
Hamd menggabungkan keduanya, dan keunggulannya banyak. Pujian bisa palsu, seperti memuji topi polisi agar tidak ditilang, atau memuji masakan ibu agar kabar rapor jelek terlupakan. Hamd hanya bisa tulus. Syukur adalah reaksi atas kebaikan yang disadari, sedangkan hamd tidak harus menunggu sebab. Ia juga ringkas, dan sebaik-baik ucapan adalah yang singkat tetapi padat. Seandainya Allah memisahkan dua kata, "pujian" dan "syukur", orang bisa merasa memuji tanpa bersyukur, atau sebaliknya. Dengan satu kata, tidak ada pilihan untuk memisahkannya.
Karena itu alhamdulillah adalah sikap hati, bukan sekadar ucapan. Saat terjebak macet lalu mengucapkannya, seorang hamba sebenarnya sedang berkata, "Ya Allah, pasti ada hikmah di balik ini. Aku bersyukur masih punya kendaraan, pekerjaan, dan keselamatan." Kalimat ini melatih seorang Muslim berpikir positif.
Kata Benda yang Tidak Bergantung pada Kita
Ada pelajaran lain dari tata bahasanya. Allah tidak memakai kata kerja ("aku memuji") tetapi kata benda. Kata kerja terikat waktu dan membutuhkan pelaku. Kalimat "aku memuji Allah" hanya berlaku untuk saat ini dan untuk si pembicara. Kata benda tidak terikat waktu dan tidak membutuhkan pelaku. Artinya, pujian dan syukur kepada Allah sudah ada sebelum kita ada dan akan tetap ada setelah kita tiada. Allah tidak membutuhkan ucapan kita. Kitalah yang membutuhkan-Nya.
Perhatikan juga bahwa ayat ini bukan kalimat perintah. Kalau Allah berfirman "pujilah Allah", bola ada di tangan kita: sebagian akan menaati dan sebagian tidak. Tetapi Allah menyatakan kenyataan yang berlaku, entah kita mengucapkannya atau tidak.
Allah juga tidak memakai kata penegas inna ("sesungguhnya"). Menurut para ahli balaghah, kalimat dengan inna bersifat informatif semata, sedangkan tanpa inna ia bisa informatif sekaligus ungkapan perasaan. Maka alhamdulillah bisa diucapkan untuk memberi tahu orang lain, dan bisa juga diucapkan kepada diri sendiri, misalnya ketika mendapati kursi di barisan depan masih kosong.
Dalam bahasa Arab, membalik susunan kalimat memberi makna pembatasan. Dalam bahasa Indonesia, bandingkan "Hanya sekolah yang mereka datangi." Bentuk lillahil hamd berarti pujian hanya milik Allah. Bentuk ini muncul di ayat penutup Surah Al-Jatsiyah, setelah perdebatan panjang dengan kaum musyrik (lihat QS. Al-Jatsiyah: 36). Pembatasan itu ditujukan kepada orang yang menyekutukan-Nya.
Susunan terbalik seperti ini juga dikenal dalam takbir hari raya, walillahil hamd, dan muncul di beberapa tempat lain dalam Al-Qur'an. Terjemahannya sama dengan alhamdulillah, tetapi maknanya berbeda. Alhamdulillah adalah pernyataan yang sudah kita yakini bersama, sehingga di antara sesama Muslim cukup diucapkan tanpa nada berdebat. Sedangkan lillahil hamd menegaskan pembatasan bahwa pujian hanya milik Allah.
Memperkenalkan Diri dengan Nama
Allah memulai perkenalan dengan nama-Nya, bukan dengan sifat. Manusia pun tidak memperkenalkan diri dengan "aku seorang guru", melainkan dengan nama. Seandainya kata "Allah" dibuang, ungkapan "pujian bagi Tuhan semesta alam" bisa dipahami berbeda oleh orang yang berbeda. Seorang Muslim yang ditanya dengan nada curiga oleh orang asing lalu menjawab "puji Tuhan" mungkin akan diterima dengan anggukan, karena ucapan itu bisa dimaknai siapa saja.
Kisah para penyihir Fir'aun serupa. Ketika mereka berkata beriman kepada Tuhan semesta alam, Fir'aun tidak keberatan, sebab ia menganggap dirinyalah tuhan. Mereka harus menegaskan, "Tuhan Musa dan Harun" (QS. Asy-Syu'ara: 47-48). Jadi menyebut nama Allah itu penting.
Menyebut satu sifat saja pun tidak cukup. Jika dikatakan "puji bagi Sang Pencipta", yang disyukuri hanya penciptaan. Jika dikatakan "puji bagi Yang Maha Bijaksana", yang dihargai hanya hikmah-Nya. Dengan alhamdulillah, seseorang memuji dan bersyukur atas segalanya, termasuk yang tidak terpikirkan.
Rabb: Pemilik, Pemelihara, Pemberi, Penjaga, dan Penguasa
Sifat pertama yang Allah kenalkan adalah Rabb, dan maknanya berlapis lima. Rabb adalah pemilik, berarti kita sama sekali bukan pemilik. Rabb adalah pemelihara yang menumbuhkan, sebab memiliki belum tentu merawat. Orang bisa punya mobil yang tak pernah diservis atau halaman yang tak pernah dirawat. Rabb juga pemberi hadiah di luar hak kita. Siapa yang mau menjual tangannya, matanya, atau jantungnya? Semua itu anugerah. Rabb adalah penjaga keberlangsungan, sebab bila Allah berhenti merawat kita walau sedetik, semuanya runtuh. Ada pemuda dua puluh sembilan tahun, sehat, rajin berolahraga, tanpa riwayat penyakit jantung, yang wafat mendadak di dapur saat menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Terakhir, Rabb adalah penguasa penuh. Orang bisa memiliki mobil tetapi tidak bebas memperlakukannya sesuka hati, sebab ada aturan lalu lintas. Allah memiliki dan menguasai tanpa batas.
Nama ini melahirkan hubungan, seperti guru dengan murid atau majikan dengan karyawan. Kita punya banyak hubungan dengan Allah: Pencipta dengan makhluk, Pemberi dengan penerima, Pengajar dengan pelajar. Namun Allah menempatkan hubungan Rabb dan hamba paling depan karena itulah hubungan yang tidak pernah terputus walau sedetik. Dikisahkan seorang guru pernah meminta muridnya merangkum seluruh Al-Qur'an dalam satu kalimat. Jawabannya: "Terimalah Allah sebagai Rabb, dan terimalah dirimu sebagai hamba." Sang guru membenarkannya.
Hamba adalah orang yang tidak memiliki keputusan sendiri. Ia hamba ketika bekerja, tidur, dan di akhir pekan, di dalam masjid maupun di luarnya. Tetapi ia tidak bisa mengabdi sebelum tuannya memberi tahu apa yang diinginkan. Karena itu setelah mengakui Allah sebagai Rabb, kita langsung meminta bimbingan: ihdinash shirathal mustaqim. Antara Rabb dan petunjuk ada kaitan logis. Selama petunjuk-Nya belum diterima, Allah belum benar-benar diterima sebagai Rabb. Orang bisa mengakui-Nya sebagai Pencipta tanpa mengakui-Nya sebagai Tuan.
Kata 'alamin sering diterjemahkan "seluruh alam". Dalam bahasa Arab, makna yang lebih dekat adalah dunia-dunia manusia: bangsa, generasi, dan budaya. Ketika orang tua berkata "dulu zamannya lain", itulah 'alam yang lain. Orang yang berpindah dari New York ke Atlanta lalu ke California pun merasakannya: yang pertama orang tak saling menyapa, yang kedua semua orang menyapa, yang ketiga jalanan bersih dan orang-orangnya tersenyum. Semuanya terasa seperti dunia yang berbeda. Allah adalah Rabb bagi semuanya. Maka Islam tidak meminta siapa pun menjadi Arab. Islam menghormati setiap budaya selama petunjuk-Nya dijalankan. Karena semua manusia hamba-Nya, tidak ada bangsa yang lebih mulia dari yang lain kecuali dengan takwa (lihat QS. Al-Hujurat: 13). Jika dunia memahami hal ini, politik internasional pasti akan berbeda.
Ar-Rahman Ar-Rahim: Tuan yang Berbeda
Menerjemahkan kedua nama ini memang tidak mudah. Terjemahan yang baik dekat dengan teks sekaligus dekat dengan pembacanya, sebab kata yang tidak pernah dipakai dalam percakapan justru menjauhkan makna.
Ketika mendengar kata "tuan", orang membayangkan kekuasaan, perintah, dan hukuman, bukan cinta. Tetapi Allah langsung menyandingkan Rabb dengan dua nama rahmat. Akar kata rahmah mencakup cinta, kepedulian, perhatian, dan baru di urutan terakhir belas kasihan. Tidak ada tuan lain yang memperkenalkan diri dengan cinta.
Lalu apa bedanya Ar-Rahman dan Ar-Rahim? Pola kata Ar-Rahman mengandung tiga makna: meluap-luap melebihi dugaan, sedang berlangsung sekarang, dan bersifat situasional seperti kata ghadhban (sangat marah) atau 'athsyan (sangat haus). Rasa haus akan hilang setelah minum. Orang yang menyalahgunakan rahmat Allah bisa kehilangan kelayakan menerimanya. Tentu rahmat Allah sendiri tidak pernah berkurang. Yang dibicarakan di sini adalah nuansa bahasanya. Adapun Ar-Rahim menunjukkan sifat yang melekat dan permanen, meskipun belum tentu sedang berlangsung.
Mengapa Ar-Rahman disebut lebih dulu? Bayangkan seseorang menunggu gaji pada pukul 4.45 sore dan atasannya belum datang. Rekan kerjanya menenangkan bahwa sang atasan orang yang bisa dipercaya. Tetapi yang dibutuhkan bukan keterangan bahwa ia bisa dipercaya, melainkan gaji yang cair sekarang. Saat lapar, orang hanya memikirkan makan malam ini, dan baru memikirkan menu minggu depan setelah kenyang. Allah memahami tabiat kita. Ia memenuhi kebutuhan saat ini dengan Ar-Rahman, lalu menjamin masa depan dengan Ar-Rahim. Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Ar-Rahman untuk dunia dan Ar-Rahim bagi kaum beriman di akhirat. Para sahabat langsung memahaminya, sedangkan kita butuh penjelasan panjang.
Maliki Yaumid-Din: Rahmat yang Tidak Boleh Dimanfaatkan
Kalau hanya ada rahmat, orang akan mengambil kesempatan. Seorang guru baru yang terlalu bersahabat dengan murid mungkin disukai di hari pertama, tetapi beberapa hari kemudian kelasnya kacau. Seorang murid menulis di dinding sambil menatap gurunya, dan ketika temannya mengingatkan, "Dia lihat kamu," ia menjawab, "Tidak apa-apa, dia kan baik."
Bayangkan pula seorang tuan yang menggaris kapur di tanah dan hanya meminta budaknya tidak melewati garis itu. Suatu hari si budak terpeleset keluar garis dan melirik tuannya, yang diam saja. Beberapa hari kemudian ia berpura-pura terpeleset, lalu berjalan satu kaki di luar garis, hingga akhirnya menghabiskan hampir seluruh waktunya di luar. Suatu hari tuannya memanggil dan memperlihatkan catatan yang selama ini ia simpan: lima ribu enam ratus delapan puluh pelanggaran. Inilah orang yang menyalahgunakan kelembutan tuannya.
Karena itu Allah menegaskan bahwa Dia adalah Pemilik hari pembalasan. Kata din di sini berarti perhitungan yang tepat. Pada hari itu hanya ada dua kemungkinan: rahmat atau keadilan. Buku amal diterima dengan tangan kanan atau dari belakang punggung (QS. Al-Haqqah: 19-25; QS. Al-Insyiqaq: 7-12). Orang yang catatannya hanya diperlihatkan lalu dilewatkan ibarat penumpang yang lolos pemeriksaan di bandara. Itulah hisab yang ringan, sebagaimana dijelaskan Nabi ï·º bahwa siapa yang dihisab secara terperinci akan diadzab (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha). Ibarat murid yang menyerahkan hasil ujian lalu gurunya berkata, "Berdiri di sini, akan diperiksa sekarang," itulah momen yang paling menegangkan. Siapa yang sengaja bermaksiat sambil berkata "Allah kan Maha Penyayang" sedang mempermainkan rahmat-Nya.
Tiga ayat ini adalah perkenalan paling lengkap tentang Allah. Dia berhak atas pujian dan syukur, Dia adalah Tuan kita, Dia penuh cinta, dan cinta-Nya tidak untuk dipermainkan. Jika ada yang bertanya seperti apa Tuhan dalam Islam, tiga ayat ini sudah cukup menjawabnya.
Iyyaka Na'budu: Perbudakan yang Dipilih Sendiri
Sekarang tibalah ayat tengah. Perbudakan biasanya terpaksa, dan budak jarang tulus memuji tuannya. Tetapi dengan Tuan yang penuh cinta, hamba memilih sendiri. Allah tidak berfirman "jadilah hamba-Ku", tetapi mengajari kita berkata, "Kami mengabdikan diri kepada-Mu." Islam adalah keputusan pribadi, dan tidak seorang pun bisa dipaksa.
Tetapi ucapan ini adalah klaim yang diuji. Bayangkan anak yang melanggar semua pesan ibunya, memasukkan teman ke rumah, menyalakan musik keras-keras, lalu berkata, "Aku sayang Ibu." Ibu pasti terluka. Begitu pula kita ketika berikrar di dalam shalat, lalu melanggarnya begitu salam diucapkan. Ucapan harus sampai ke hati.
Iyyaka Nasta'in: Meminta Tolong Setelah Berusaha
Komitmen sebesar ini jelas butuh pertolongan. Kata isti'anah berbeda dari kata-kata lain untuk "tolong". Ia adalah bantuan yang diminta setelah seseorang berusaha sendiri tetapi tidak sanggup menuntaskannya, seperti pengendara yang sudah mulai mengangkat mobilnya dengan dongkrak lalu meminta orang yang lewat membantu. Orang malas yang tetap duduk di mobil tidak berhak meminta pertolongan semacam itu.
Prinsip ini juga berlaku dalam sejarah. Malaikat membantu para sahabat di Badar, tetapi setelah mereka maju ke medan perang (lihat QS. Al-Anfal: 9). Api menjadi dingin bagi Ibrahim 'alaihissalam, tetapi setelah beliau dilemparkan ke dalamnya (QS. Al-Anbiya: 69). Maka ada dua kekeliruan: berharap pertolongan tanpa usaha, dan merasa semua keberhasilan lahir dari kecerdasan sendiri. Al-Fatihah mengajarkan keduanya sekaligus, yaitu berusaha lalu meminta pertolongan-Nya.
Permintaan tolong biasanya spesifik, tetapi di sini tidak disebutkan jenisnya. Urusan kita terlalu banyak untuk diurai, sehingga cukup dikatakan, "Ya Allah, tolonglah kami." Mengapa ibadah disebut sebelum pertolongan? Ibadah adalah hak Allah, sedangkan pertolongan adalah kebutuhan kita. Adab yang baik mendahulukan urusan-Nya sebelum urusan sendiri.
Ihdinash Shirathal Mustaqim: Petunjuk yang Terus Dibutuhkan
Permintaan pertama seorang hamba adalah petunjuk, dan ia berbentuk jamak: ihdina, tunjukilah kami. Perpindahan dari urusan pribadi ke urusan bersama ini penting, sebab jalan ini tidak bisa ditempuh sendirian. Seandainya yang diminta hanya untuk "kami saja", itu justru buruk. Maksudnya, tunjukilah kita semua.
Petunjuk lebih dari informasi. Penunjuk jalan di GPS memberi informasi, dan informasi cukup diminta sekali. Tetapi petunjuk Allah diminta berkali-kali setiap hari, seperti tubuh yang harus terus minum air. Orang bisa tahu sesuatu itu salah tetapi tetap melakukannya karena marah atau lemah. Karena itu yang diminta adalah informasi sekaligus kekuatan untuk memilih yang benar. Orang Arab padang pasir paham bahwa arah lebih berharga daripada makanan dan air.
Permintaan ini mengandung tiga tahap: ditunjukkan jalannya, ditemani selama menempuhnya, dan dibimbing sampai tujuan. Menariknya, yang diminta adalah jalannya, bukan tempat tujuannya, karena jalan ini hanya menuju satu tempat. Siapa yang berada di jalan itu pasti sedang menuju ke sana. Pada akhir perjalanan, seorang hamba akan mengucap, "Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami (ke surga) ini..." (QS. Al-A'raf: 43).
Shirath adalah jalan yang lebar sehingga banyak orang bisa melaluinya sekaligus, lurus tanpa belokan, dan panjang, yang berarti penuh tantangan. Kata mustaqim memberi isyarat lain: ia berasal dari akar yang berarti berdiri tegak, sehingga jalan ini menanjak. Semakin tinggi pendakian, semakin jauh jatuhnya. Itulah sebabnya orang yang rajin beribadah justru makin sering menangis dan berdoa. Mereka berada di ketinggian dan tahu betapa berbahayanya tergelincir. Al-Qur'an menceritakan orang yang telah diberi ayat-ayat Allah tetapi condong kepada dunia lalu jatuh (lihat QS. Al-A'raf: 175-176). Orang yang runtuh dari ketinggian biasanya runtuh dengan keras. Sebaliknya, pemandangan juga semakin jelas seiring ketinggian: makin banyak ayat yang dipahami, makin jauh pandangan.
Belajar dari Mereka yang Sudah "Lulus"
Siapa yang bisa diteladani? Nasihat terbaik datang dari alumni, bukan dari teman sekelas yang belum tentu bertahan. Allah memakai bentuk lampau, an'amta 'alaihim (yang telah Engkau beri nikmat), yaitu para nabi dan orang saleh yang sudah menyelesaikan perjalanan. Dari mereka kita belajar bagaimana Allah memudahkan jalan itu. Perhatikan pula bahwa Allah mengajari kita memuji Dia yang menolong mereka, bukan sekadar memuji mereka.
Kata an'amta seakar dengan an'am, sebutan untuk hewan ternak yang berjalan dengan lembut. Seolah Allah mengabarkan bahwa jalan itu sebenarnya berat, tetapi Ia melembutkannya bagi orang-orang sebelum kita.
Kita juga memohon agar mengenal mereka yang gagal di tengah jalan supaya tidak mengulanginya, sebab hanya mengenal teladan baik bisa membuat orang lengah.
Maghdhub dan Dhallin: Karakter, Bukan Sekadar Label
Para ahli tafsir menjelaskan, dengan merujuk hadits Nabi ï·º, bahwa yang dimurkai adalah sebagian Yahudi dan yang sesat adalah sebagian Nasrani. Ini sering disalahpahami. Maksudnya bukan membenci tetangga yang kebetulan Yahudi atau Nasrani. Yang dikritik adalah karakter perilaku: sebagian punya ilmu tetapi tidak mengamalkannya, dan sebagian lain beramal tetapi tanpa ilmu. Karakter itu bisa menjangkiti siapa saja, termasuk kita. Jadi ayat ini sebenarnya tentang kita.
Bayangkan seorang ayah melarang dua anaknya memakan kue di toples. Satu mendengar larangan itu langsung, yang satu lagi sedang di lantai atas dan hanya diberi tahu kakaknya. Ketika sang ayah pulang, keduanya sedang menikmati kue. Ia akan lebih marah kepada yang sudah tahu. Begitu pula guru yang memberikan soal ujian beserta jawabannya, lalu murid yang hadir tetap gagal. Itulah maghdhub, orang yang tahu lalu menyimpang. Perhatikan bahwa Allah tidak berfirman "yang Engkau murkai", seperti ketika menyebut nikmat dengan "yang Engkau beri nikmat". Bentuk pasif tanpa pelaku ini mengisyaratkan murka dari segala arah, dari Allah, malaikat, dan orang-orang beriman. Bentuknya yang berupa kata benda juga menunjukkan bahwa penyakit ini terus ada, dulu, kini, dan nanti.
Dhallin adalah orang yang tersesat karena tidak mendapat petunjuk. Kesalahannya lebih ringan daripada yang pertama, tetapi tetap bukan alasan, sebab setiap Muslim diperintahkan terus mencari ilmu. Sebagian orang berkata, "Lebih baik tidak tahu supaya tidak bertanggung jawab." Al-Fatihah menutup jalan itu: jangan menjadi maghdhub, dan jangan pula menjadi dhallin. Orang yang memilih tidak tahu sebenarnya sedang memilih kategori kedua.
Keseimbangan yang Menakjubkan
Inilah bagian yang paling mengagumkan. Al-Fatihah menyeimbangkan dua tema, ilmu dan amal. Tiga ayat pertama berisi pengetahuan tentang Allah, sedangkan tiga ayat terakhir berisi amal. Surah ini lalu menutup dengan tiga keadaan: ilmu yang melahirkan amal, ilmu tanpa amal, dan amal tanpa ilmu. Susunannya sempurna.
Nuansa kebahasaannya pun seimbang. Kalimat nominal (kata benda) menunjukkan kekekalan, dan bagian pertama tentang Allah memakainya. Kalimat verbal menunjukkan keterbatasan, dan bagian terakhir tentang kita memakainya. Bagian tengah adalah campuran, sebab sebagian untuk Allah dan sebagian untuk kita. Ayat tengahnya, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, adalah poros. Bagian pertama adalah kesimpulan dari perkenalan dengan Allah ("aku ingin menjadi hamba-Mu"), bagian kedua pengantar bagi permintaan petunjuk. Harapan diimbangi tanggung jawab: Ar-Rahman Ar-Rahim menumbuhkan harapan, dan Maliki Yaumid-Din menumbuhkan rasa tanggung jawab. Pujian diimbangi syukur dalam satu kata, hamd. Surah ini dibuka dengan urusan pribadi dan ditutup dengan urusan jamaah. Pada akhirnya seluruh umat manusia hanya jatuh ke salah satu dari tiga golongan: yang diberi nikmat, yang dimurkai, atau yang sesat.
Keseimbangan itu bahkan terlihat antara pembuka dan penutup Al-Qur'an. Al-Fatihah dimulai dengan kata positif alhamdulillah, sedangkan surah terakhir dimulai dengan a'udzu, memohon perlindungan. Yang pertama dibuka dengan kata benda, yang terakhir dengan kata kerja. Al-Fatihah berbicara dalam bentuk jamak, sedangkan An-Nas dalam bentuk tunggal ("aku berlindung"). Al-Fatihah mengingatkan pada dua kelompok yang harus dijauhi, sedangkan An-Nas pada dua sumber godaan, yaitu jinnah dan nas. Ini merupakan pengamatan kebahasaan, bukan penafsiran baku.
Jalan Tengah di Tengah Empat Pertentangan
Ada satu keseimbangan lagi yang paling dalam. Manusia selalu berhadapan dengan empat pertentangan abadi.
Pertama, antara jasad dan ruh. Ada yang terlalu materialistis, ada pula yang begitu "spiritual" sampai menelantarkan tubuhnya, dan itu bukan spiritualitas, itu hanya aneh. Kedua, antara laki-laki dan perempuan. Bila hak perempuan ditentukan perempuan semata, laki-laki bisa tertindas, dan sebaliknya. Seorang hakim perceraian yang baru bercerai pasti sulit bersikap adil. Ketiga, antara pemilik modal dan pekerja, yang satu ingin pekerja bekerja lebih banyak dengan upah lebih kecil, yang lain sebaliknya. Dari situlah lahir serikat pekerja dan upah minimum. Keempat, antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah ingin kontrol lebih banyak, rakyat ingin kebebasan lebih banyak. Bila diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, lahir kediktatoran. Bila diserahkan sepenuhnya kepada rakyat, lahir kekacauan.
Siapa yang berhak menentukan keadilannya? Setiap manusia hanya bisa memandang dari kedudukannya, apakah ia laki-laki atau perempuan, majikan atau pekerja, penguasa atau rakyat. Hanya Allah yang menciptakan semuanya dan mengasihi semuanya. Ketika seorang hamba memohon shirathal mustaqim, ia sedang meminta jalan tengah yang tidak condong kepada satu pihak.
Keseimbangan ini juga berlaku antara ilmu dan rasa. Sebagian ahli kitab, kata Al-Qur'an, mengeras hatinya karena terlalu intelektual, memandang agama hanya sebagai bahan kajian. Sebagian lain lembut hatinya tetapi kurang tradisi keilmuan, sehingga tidak bertanya dan tidak mendalami kitabnya. Umat ini pun bisa terkena keduanya: berilmu tetapi kosong ruhaninya, atau penuh perasaan tetapi miskin ilmu. Al-Qur'an menyatukan keduanya. Seorang sarjana bisa meneliti satu surah untuk disertasi dan tidak pernah selesai, sementara seorang petani menangis dalam shalat saat mendengar surah yang sama. Kitab mana lagi yang bisa melakukan itu?
Kesimpulan
Al-Fatihah bukan sekadar bacaan wajib. Ia adalah perkenalan sekaligus perjanjian. Kita mengenal Allah sebagai Yang berhak atas pujian dan syukur, Tuan yang penuh cinta, dan Hakim yang adil. Kemudian dengan sadar kita menyerahkan diri kepada-Nya, berusaha, lalu memohon pertolongan dan petunjuk-Nya.
Semoga Al-Fatihah tidak lagi dibaca sambil lalu. Setiap kali kita berkata iyyaka na'budu, mari periksa apakah perbuatan kita sesuai dengan ikrar itu. Setiap kali kita berkata ihdina, mari sadari bahwa kita sedang memohon ilmu sekaligus kekuatan untuk mengamalkannya.
Disarikan dari ceramah Ustadz Nouman Ali Khan tentang Surah Al-Fatihah.
0 Komentar