Dalam kajian ini, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengajak kita merenungkan satu kaidah: yang terbaik adalah apa yang dipilih Allah (al-khair fima ikhtarahullah). Kuncinya adalah berbaik sangka kepada Allah. Di antara nama-Nya adalah Al-'Alim (Maha Mengetahui) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana): Dia tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya dan tahu mana yang pas untuknya.
Itulah yang diucapkan Nabi Ya'qub 'alaihissalam ketika kehilangan Yusuf, lalu Bunyamin ditahan, dan putra tertuanya enggan pulang. Beliau berkata, "Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS. Yusuf: 83). Dalam kepiluan itu, beliau tahu bahwa segalanya terjadi dengan takdir Allah yang Maha Tahu dan Maha Bijak.
Tiga Ayat sebagai Pijakan
Ayat pertama: tentang syariat yang tidak disukai.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Manusiawi bila seseorang tidak suka berperang, tidak suka melukai, apalagi dilukai. Namun dengan kewajiban jihad yang Allah tetapkan kepada Nabi ﷺ dan para sahabat, Islam menjadi kekuatan yang menyebarkan keadilan, melawan kezaliman, dan menegakkan tauhid. Seandainya mereka tidak melakukannya, boleh jadi mereka terus dikepung dan menjadi bulan-bulanan orang-orang zalim. Kita bisa mengiaskannya pada syariat-syariat lain yang mungkin tidak sesuai hawa nafsu: jika dijalankan dengan ridha, dampak baiknya banyak.
Ayat kedua: tentang istri yang tidak disukai.
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah), karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa': 19)
Para ulama menjelaskan bahwa ketidaksukaan yang dimaksud adalah kekurangan dalam akhlak atau paras, bukan kemaksiatan yang jelas. Dalam penjelasan yang dinukil Ibnu Katsir, Al-Baghawi, dan Al-Qurthubi dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, boleh jadi Allah menganugerahkan anak yang sangat saleh dari istri yang tidak disukai itu. Dari anak saleh mengalir kebaikan dunia dan akhirat. Maka bersabarlah dengan pasangan yang barangkali cerewet atau banyak kekurangannya.
Ayat ketiga: tentang tuduhan terhadap 'Aisyah. Allah berfirman tentang kelompok yang menyebarkan berita bohong, "Janganlah kamu mengira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu" (QS. An-Nur: 11). Kisahnya akan kita bahas di bawah.
Ustadz Firanda menegaskan, dengan kesabaran, penghujung takdir Allah pasti indah. Berikut beberapa contoh dari Al-Qur'an.
Nabi Yusuf 'alaihissalam: Ujian Demi Ujian Menuju Kemuliaan
Yusuf dihasadi oleh sepuluh kakaknya, lalu dibawa "bermain", dilepas bajunya, dan dimasukkan ke sumur. Bajunya dilumuri darah agar tampak dimakan serigala. Ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya sendiri, tanpa upah. Kemudian ia dirayu oleh istri pembesar Mesir (yang menurut sebagian riwayat bernama Zulaikha), menolak, lalu justru dituduh dan dipenjara.
Di dalam penjara, dua orang meminta Yusuf menafsirkan mimpi mereka karena melihatnya sebagai orang yang berbuat baik. Salah satunya akan dibebaskan dan menjadi penuang minuman raja, yang lain akan dihukum. Yusuf berpesan kepada yang akan bebas agar menyebut namanya di hadapan raja. Namun setan membuat orang itu lupa (QS. Yusuf: 42), sehingga Yusuf tinggal di penjara beberapa tahun lagi. Sebagian ahli tafsir menyebutkan totalnya sekitar empat belas tahun.
Di balik lupanya orang itu, ada rencana Allah. Raja bermimpi tentang tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus dan tujuh bulir gandum hijau serta tujuh yang kering. Para pembesarnya yang dikenal ahli menafsirkan mimpi tidak mampu menjawab, dan mereka berkata bahwa itu mimpi kosong (QS. Yusuf: 43-44). Saat itulah si pelayan teringat Yusuf. Setelah Yusuf menafsirkan mimpi itu, raja mengangkatnya menjadi pejabat tinggi. Seandainya Yusuf tidak dibuang oleh kakak-kakaknya, tidak dipenjara, dan seandainya sang pelayan tidak lupa, boleh jadi Yusuf sudah pulang ke kampungnya tanpa pernah menjadi pembesar Mesir.
Di setiap keadaan, Yusuf tetap berbaik sangka dan berbuat ihsan. Ketika bertemu saudara-saudaranya, ia berkata, "Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS. Yusuf: 90).
Nabi Ibrahim 'alaihissalam: Doa yang Tertunda demi Rencana yang Lebih Besar
Ibrahim 'alaihissalam masih muda ketika berdakwah dan menghancurkan berhala, hingga dibakar dan diusir. Beliau pergi seraya berkata, "Sesungguhnya aku pergi menuju Rabb-ku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku," lalu berdoa, "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh" (QS. Ash-Shaffat: 99-100).
Doa itu tidak segera terwujud. Bertahun-tahun beliau menikah dengan Sarah tanpa anak. Dalam perjalanan melewati Mesir, raja negeri itu ingin berbuat jahat kepada Sarah, tetapi Allah menghalanginya, lalu sang raja menghadiahkan Hajar kepada Sarah (HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Sarah kemudian merelakan Hajar menjadi istri Ibrahim. Dari Hajar lahirlah Isma'il.
Ustadz Firanda mengajak kita berpikir: seandainya Ibrahim langsung memperoleh anak dari Sarah, apakah beliau akan menikah lagi? Dan seandainya tidak ada peristiwa-peristiwa itu, akankah Hajar dan Isma'il tinggal di Makkah, hingga kelak lahir dari keturunannya Rasulullah ﷺ? Ternyata tertundanya anak itu menyimpan rencana besar. Hikmah itu hanya tampak setelah waktu berlalu.
Ibunda Musa dan Nabi Musa 'alaihimassalam
Kisah ibunda Musa melepas bayinya ke sungai Nil atas ilham Allah, lalu bayi itu justru diambil oleh keluarga Firaun, dibuat dicintai, dan dikembalikan kepada ibunya sendiri, dikisahkan dalam (QS. Al-Qashash: 7-13). Ia nyaris berteriak karena takut, dan Allah meneguhkan hatinya (QS. Al-Qashash: 10). Dalam ketaatan kepada perintah Allah, pasti ada kebahagiaan di ujungnya. Yang dikhawatirkan justru menjadi sebab keselamatan.
Ketika dewasa, Musa tanpa sengaja memukul seorang lelaki Qibti hingga tewas (QS. Al-Qashash: 15). Ia lari dalam ketakutan (QS. Al-Qashash: 21). Dari kehidupan di istana, ia kini menempuh gurun tanpa bekal. Sebagian riwayat menyebut ia hanya memakan dedaunan. Di Madyan, ia menolong dua wanita yang menunggu giliran dan tidak mau bercampur dengan para lelaki di sumur. Setelah itu ia berdoa, "Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku" (QS. Al-Qashash: 24).
Allah menjawabnya. Salah satu dari dua wanita itu datang menemuinya dengan berjalan malu-malu (QS. Al-Qashash: 25). Dalam sebagian riwayat tafsir disebutkan bahwa wanita itu berjalan di belakang dan menunjukkan arah dengan melempar kerikil, agar Musa tidak melihatnya. Wanita itu pula yang berkata, "Wahai ayahku, ambillah dia sebagai pekerja, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah yang kuat lagi dapat dipercaya" (QS. Al-Qashash: 26). Maka Musa dinikahkan dengannya dan bekerja bertahun-tahun, sebelum akhirnya diangkat menjadi rasul. Pelarian yang menakutkan menjadi jalan menuju istri yang saleh dan kerasulan.
Hijrah Rasulullah ﷺ: Meninggalkan Negeri yang Dicintai
Allah berfirman tentang makar kaum Quraisy yang hendak menahan, membunuh, atau mengusir Nabi ﷺ (QS. Al-Anfal: 30). Beliau hijrah dengan kesedihan. Sejak awal wahyu, Waraqah bin Naufal telah mengingatkan bahwa beliau akan diusir kaumnya (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Saat meninggalkan Makkah, beliau bersabda, "Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan alangkah dicintainya engkau di sisiku. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di tempat lain" (HR. At-Tirmidzi). Di Madinah, beliau berdoa, "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau lebih" (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha).
Beliau meninggalkan kenangan, keluarga, dan harta. Tetapi dari Madinah, Islam berkembang, Makkah dibebaskan, dan dakwah meluas hingga ke Persia dan Romawi.
Perang Badar: Yang Diinginkan Tidak Selalu Terbaik
Allah berfirman, "Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan itu adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak memiliki kekuatan senjatalah yang untukmu" (QS. Al-Anfal: 7). Awalnya Nabi ﷺ dan para sahabat keluar untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan, yang dikawal sedikit orang dan membawa harta yang banyak. Itu pilihan yang menyenangkan. Tetapi Abu Sufyan lolos, dan yang mereka hadapi adalah pasukan Quraisy yang jauh lebih besar yang dipimpin Abu Jahal, sekitar seribu orang.
Kaum muslimin yang berangkat sekitar tiga ratus orang. Kalau disuruh memilih, tentu mereka lebih suka melawan yang sedikit. Namun Allah menghendaki yang terbaik. Badar menjadi Yaumul Furqan, hari pembeda antara yang hak dan batil (QS. Al-Anfal: 41). Kaum Quraisy kalah, kaum muslimin memperoleh kemuliaan dan wibawa, dan Badar menjadi pintu kejayaan berikutnya. Seandainya mereka hanya menangkap kafilah Abu Sufyan, tentu tidak ada Badar.
'Aisyah radhiyallahu 'anha: Dibela Langsung oleh Allah
Kisah tuduhan terhadap 'Aisyah telah dikenal (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha). Penyebar utamanya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi sebagian kaum muslimin ikut terseret, di antaranya Mistah, Hamnah binti Jahsy, dan Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhum. Dalam sebagian riwayat, mereka kemudian dijatuhi hukuman cambuk.
Ada sisi yang sering terlewat. 'Aisyah tidak tahu isu itu menyebar. Ia hanya heran Rasulullah ﷺ berubah sikap, sekadar bertanya, "Bagaimana keadaan kalian?" tanpa kemesraan seperti biasa, selama hampir sebulan. Ketika akhirnya ia tahu, ia menangis dan meminta izin tinggal di rumah orang tuanya. Rasulullah ﷺ bertanya kepada banyak orang tentang 'Aisyah. Semuanya memujinya. Bahkan Zainab binti Jahsy, istri Nabi ﷺ yang menyaingi kedudukan 'Aisyah, berkata bahwa ia tidak mengetahui apa pun kecuali kebaikan. 'Aisyah sendiri menyebut bahwa Allah menjaga Zainab karena ketakwaannya, sementara saudari Zainab, Hamnah, ikut menyebarkan isu.
Lalu Rasulullah ﷺ mendatangi 'Aisyah dan bersabda, "Wahai 'Aisyah, jika engkau memang berbuat dosa, bertobatlah kepada Allah. Dan jika engkau bersih, Allah akan membelamu." 'Aisyah berharap Nabi ﷺ langsung menyatakan kesuciannya. Ucapan beliau yang berhati-hati karena tidak mengetahui perkara gaib itu membuatnya kecewa. Lalu turunlah belasan ayat dalam surah An-Nur yang membersihkan namanya, hingga firman-Nya bahwa wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik (QS. An-Nur: 26). 'Aisyah berkata bahwa ia hanya berharap Allah memperlihatkan mimpi kepada Rasulullah ﷺ, karena ia merasa dirinya terlalu hina untuk dibela dengan ayat Al-Qur'an yang dibaca hingga hari kiamat. Ketika ibunya menyuruhnya berdiri menghampiri Nabi ﷺ yang gembira, ia menolak, karena yang membelanya adalah Allah.
Dari peristiwa yang sangat menyakitkan itulah terbuka tabir orang-orang munafik dan terangkatlah kemuliaan 'Aisyah.
Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu
Zainab adalah sepupu Nabi ﷺ. Ia mengira dipinang untuk Rasulullah ﷺ, ternyata untuk Zaid, bekas budak yang telah dimerdekakan dan diangkat anak oleh beliau. Ia sempat menolak, hingga turun firman Allah bahwa tidak pantas bagi mukmin dan mukminah memiliki pilihan lain jika Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sesuatu (QS. Al-Ahzab: 36). Ia pun taat.
Di balik pernikahan itu ada tujuan besar: menghapus tradisi tabanni, yaitu menganggap anak angkat sebagai anak kandung, sehingga seolah-olah haram menikahi bekas istrinya. Setelah Zaid menceraikan Zainab dan masa iddahnya selesai, Allah menikahkan Zainab dengan Nabi ﷺ (QS. Al-Ahzab: 37), agar jelas bahwa tidak ada hukum yang mengikat mereka. Dengan demikian, Zainab menjadi Ummul Mukminin. Ia berkata kepada istri-istri Nabi ﷺ yang lain bahwa mereka dinikahkan oleh wali masing-masing, sedangkan ia dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh langit (HR. Al-Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir: Ketika Hikmah Tidak Tampak
Di akhir kajian, Ustadz Firanda menyebut kisah yang paling jelas tentang hikmah yang tersembunyi (QS. Al-Kahfi: 60-82). Nabi Khidir mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan sanggup bersabar, karena tidak mengetahui hakikat di balik peristiwa-peristiwa itu. Khidir melubangi perahu, dan Musa heran. Khidir membunuh seorang anak, dan Musa marah. Lalu Khidir menjelaskan hikmahnya. Perahu itu milik orang-orang miskin, dan di depan mereka ada raja yang merampas setiap perahu yang bagus. Sedangkan anak itu, orang tuanya mukmin, dan ia dikhawatirkan menjerumuskan keduanya kepada kekufuran dan kedurhakaan. Maka Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik (QS. Al-Kahfi: 79-81).
Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita pahami hikmahnya. Maka ingatlah kisah perahu dan anak itu: boleh jadi istri yang cerewet, anak yang cacat, atau kesulitan lainnya adalah "perahu" yang dilubangi untuk menyelamatkan kita. Yang diminta dari kita adalah iman bahwa Allah Maha Bijaksana. Kadang Allah membuka hikmahnya, kadang tidak.
Dan kalaupun ujungnya menurut kita bukan akhir yang "bahagia", misalnya sakit berkepanjangan hingga wafat, ingatlah sabda Rasulullah ﷺ, "Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan, Dia menimpakan musibah kepadanya" (HR. Al-Bukhari), dan "Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka" (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Beliau juga bersabda bahwa pada hari kiamat, ketika orang-orang yang tertimpa musibah di dunia diberi pahala, orang-orang yang hidup nyaman berangan-angan seandainya kulit mereka dahulu digunting dengan gunting-gunting (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).
Ridha: Surga Dunia
Ustadz Firanda mengutip Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah: ridha adalah pintu Allah yang paling besar, surga dunia, tempat istirahat orang-orang yang mengenal Allah, pelita para ahli ibadah, kehidupan bagi para pecinta Allah, nikmat bagi para ahli ibadah, dan penyejuk mata bagi orang-orang yang merindukan surga. Jika sabar masih terkadang disertai keluh kesah, ridha adalah tingkatan di atasnya.
Karena itu kita diajari zikir pagi dan petang, "Aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku" (HR. Abu Dawud). Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul akan merasakan manisnya iman (HR. Muslim, dari Al-'Abbas bin 'Abdil Muththalib radhiyallahu 'anhu). Setelah azan pun disunahkan membaca zikir ridha setelah syahadat (HR. Muslim, dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu). Dan di antara doa Nabi ﷺ adalah, "Aku memohon kepada-Mu keridhaan setelah keputusan-Mu" (HR. An-Nasa'i dan Ahmad).
Kesimpulan
Dari Yusuf, Ibrahim, Musa, hijrah Nabi ﷺ, Perang Badar, 'Aisyah, hingga Zainab, tampak pola yang sama: yang tidak kita sukai kerap menjadi pintu kebaikan yang jauh lebih besar. Sebagian hikmahnya Allah bukakan, sebagian lagi tidak. Tugas kita adalah bersabar, dan jika mampu, ridha, karena Allah adalah Al-'Alim dan Al-Hakim.
Setiap kita diuji, dan memang ujian pasti tidak kita sukai. Tetapi kita berbaik sangka bahwa di baliknya ada hikmah, dan yang terbaik adalah pilihan Allah bagi orang yang bersabar. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ridha dengan ketetapan-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.
Artikel ini disusun dari kajian "Yang Terbaik Pilihan Allah" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.
0 Komentar