IQ 02. Sapu-Sapu Kotoran Hati: Ciri Manusia Terbaik di Sisi Allah

Setiap rumah butuh disapu. Seindah apa pun bangunannya, kalau pintu dan jendelanya terbuka, angin akan membawa debu masuk. Ada hewan yang menyelinap, ada aroma tak sedap yang terbawa, dan semua itu menumpuk bila dibiarkan. Karena itulah rumah dirawat setiap hari.

Hati manusia ternyata mirip dengan rumah itu. Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita baca lewat media sosial, semuanya terproyeksi ke dalam hati. Sebagian membawa kebaikan, tetapi tidak sedikit yang meninggalkan kotoran. Lalu pertanyaan yang lebih besar menyusul: bagaimana ukuran manusia terbaik di sisi Allah? Bukan mobilnya, bukan pengawalnya, dan bukan jumlah pengikutnya.

Kajian kedua dari kitab Ahadits Ishlahil Qulub karya Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Beliau memilih bab kesepuluh yang berjudul Makhmumul Qalb, yaitu hati yang senantiasa disapu bersih dari kotoran. Hadits inilah yang menjawab pertanyaan tentang manusia terbaik tadi.

Hadits Ibnu Majah: Siapa Manusia Terbaik?

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, serta dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah. Beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ ditanya:

"Siapakah manusia yang paling utama (afdhalun nas)?" Beliau ﷺ menjawab, "Setiap orang yang makhmumul qalb dan shaduqul lisan." Para sahabat berkata, "Shaduqul lisan kami mengerti. Lalu apakah makhmumul qalb itu?" Beliau menjawab, "Dia adalah hati yang bertakwa lagi bersih, tidak ada dosa padanya, tidak ada kezaliman (baghyu), tidak ada dengki dan dendam (ghill), dan tidak ada hasad." (HR. Ibnu Majah)

Dua hal pokok disebut dalam hadits ini: hati dan lisan. Sebuah pepatah Arab mengatakan bahwa nilai seseorang bergantung pada dua anggota tubuhnya yang kecil, yaitu hati dan lisannya. Syaikh 'Abdurrazzaq juga menukil sebuah syair tentang hal ini yang intinya sama: hakikat seseorang terletak pada hati dan lisannya.

Sang ustadz juga menyoroti satu hal kecil yang menunjukkan adabnya para sahabat: ketika mereka tidak paham, mereka bertanya. Mereka tidak berpura-pura mengerti dan tidak pula membiarkan sebuah istilah berlalu begitu saja.

Mengapa Pertanyaan Itu Penting: Manusia Bertingkat di Sisi Allah

Pertanyaan "siapa manusia yang paling utama" tidak diajukan dengan ukuran manusia, melainkan ukuran di sisi Allah. Ini penting karena kedudukan seseorang di sisi Allah ketika di dunia akan menentukan kedudukannya di akhirat. Setiap orang semestinya berjuang menjadi yang terbaik di sisi-Nya, baik ia seorang ibu rumah tangga, penuntut ilmu, maupun siapa saja.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah penting. Keselamatan dari neraka hanya karena ampunan Allah, masuk ke surga hanya karena rahmat-Nya, sedangkan pembagian tingkatan dan derajat di surga sesuai dengan amal. Kita tidak mungkin masuk surga dengan amal kita sendiri, tetapi ketika Allah membagi derajat, Dia Maha Adil dan tidak akan menyamakan dua orang yang amalnya berbeda. Allah berfirman, "Dan masing-masing orang memperoleh derajat sesuai dengan apa yang dikerjakannya" (QS. Al-Ahqaf: 19). Dan kepada penghuni surga dikatakan, "Masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan" (QS. An-Nahl: 32).

Ukuran manusia di dunia biasanya materi. Kita lebih menghormati orang yang berkendara mobil mewah ketimbang yang berkendara mobil biasa, dan lebih terkesan pada orang yang dikelilingi pengawal. Hal itu wajar secara manusiawi. Namun tingkatan di akhirat jauh lebih rinci. Allah menjelaskan bahwa tingkat manusia di dunia saja sudah berlapis-lapis, dan akhirat lebih besar tingkatan dan keutamaannya (QS. Al-Isra': 21). Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa di surga ada seratus tingkatan yang disiapkan bagi para mujahid di jalan Allah, dan jarak antara dua tingkatan seperti jarak langit dan bumi. Bayangkan, hanya untuk para mujahid saja Allah membaginya serinci itu. Ada yang berjihad dengan harta, ada yang dengan raga, ada yang dengan keduanya, dan tingkat keikhlasan mereka pun berbeda-beda.

Sebab itulah para sahabat sering bertanya tentang amal yang paling utama, amal yang paling dicintai Allah, atau manusia yang paling baik. Tujuan mereka satu: meraih derajat yang tinggi.

Pertama: Lisan yang Selalu Jujur (Shaduqul Lisan)

Lisan yang jujur berarti lisan yang sesuai dengan isi hatinya. Ia bukan pembohong, bukan munafik, bukan penjilat, dan bukan orang bermuka dua.

Ustadz Firanda menjelaskan perbedaan kata dalam bahasa Arab. Shadiq berarti orang yang jujur, sedangkan shaduq berbentuk mubalaghah yang berarti orang yang senantiasa jujur. Jadi yang dimaksud adalah kejujuran yang menjadi kebiasaan, bukan kejujuran sesekali.

Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar" (QS. At-Taubah: 119). Syaikh 'Abdurrazzaq mengingatkan bahwa ketidakjujuran bisa menyelinap bahkan dalam kalimat tauhid. Ada orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh berulang-ulang, tetapi tidak jujur di dalamnya. Buktinya, ia masih bergantung pada selain Allah, masih memakai jimat, dan tidak sabar menghadapi ujian-Nya. Ucapannya kosong dan tidak sesuai dengan keyakinan hatinya. Padahal sabda Nabi ﷺ menegaskan bahwa kalimat itu diterima bagi siapa yang mengucapkannya dengan jujur dari hatinya.

Kejujuran adalah keselamatan. Dusta mungkin tampak menyelamatkan, tetapi pada akhirnya membinasakan, cepat atau lambat, di dunia atau di akhirat. Karena itu sang ustadz mengajak para ibu untuk melatih lisan sebelum bicara: benarkah yang akan saya katakan, dan apakah saya menambah-nambahkannya?

Contoh sehari-hari yang beliau sebutkan sangat dekat dengan kita. Ketika ada yang bertanya, "Tadi mereka ngobrol apa?" lalu kita menggambarkannya lebih dari kenyataan. Cerita diberi bumbu sehingga yang sampai kepada pendengar tidak sesuai fakta. Lebih parah lagi bila sudah menyangkut uang: testimoni yang dilebih-lebihkan, makanan tidak enak dibilang enak, produk kecantikan yang tidak berpengaruh diklaim mengubah banyak hal.

Bercanda pun tidak dikecualikan. Nabi ﷺ menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bercanda. Beliau ﷺ juga bersabda tentang celakanya orang yang berbicara dusta untuk membuat orang lain tertawa. Niatnya mungkin baik karena ingin menyenangkan, tetapi tidak boleh bagi yang menginginkan derajat tinggi.

Ketika setan membisikkan, "Kalau kamu jujur, tidak ada yang mau berteman, dan kamu tidak akan punya uang," itu semua bisikan setan. Selama kita bersama Allah, Dia tidak akan membiarkan kita.

Kedua: Hati yang Terus-Menerus Disapu (Makhmumul Qalb)

Kata makhmum berasal dari akar kata yang berarti sampah atau kotoran yang dibersihkan. Nabi ﷺ menggambarkan hati seperti rumah yang selalu kemasukan debu dan kotoran, sehingga harus terus disapu. Ustadz Firanda menambahkan bahwa bentuk isim maf'ul di sini menunjukkan kesinambungan, yaitu hati yang senantiasa disapu.

Gambaran ini sangat tepat. Hati banyak menerima "tamu": apa yang kita lihat dan dengar, apa yang kita analisis. Ketika kita sering berinteraksi dengan media sosial, kita sering melihat dan mendengar, dan semuanya terproyeksi ke hati. Sesuatu yang haram yang terlihat akan terproyeksi, dan yang haram yang terdengar pun demikian. Maka mustahil hati selalu bersih tanpa perawatan. Rumah di tengah lapangan pasti kemasukan angin, dan angin pasti membawa debu.

Ketika para sahabat bertanya apa itu makhmumul qalb, Nabi ﷺ menjelaskan dua sifat: hati yang bertakwa (taqiy) dan bersih (naqiy).

Makna takwa. Takwa dalam arti umum adalah melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan, sedangkan dalam arti khusus adalah meninggalkan maksiat. Hati yang bertakwa adalah hati yang berusaha menjalankan amalan-amalan hati: beriman kepada Allah, malaikat, hari akhir, takdir, dan para rasul; ikhlas; inabah (kembali kepada Allah); bertobat; ridha dengan keputusan-Nya; dan selalu berbaik sangka kepada-Nya. Bersamaan dengan itu ia meninggalkan maksiat. Hati seperti ini otomatis menjadi bersih.

Kebersihan itu dirinci Nabi ﷺ dalam empat hal.

Empat Kotoran yang Harus Disapu

1. Tidak ada dosa (lā itsma fīh): hati yang tidak menginginkan maksiat

Maksudnya, tidak ada keinginan untuk bermaksiat. Hati sulit dikendalikan. Tiba-tiba ia merindukan musik, tiba-tiba ingin menonton sesuatu yang tidak boleh ditonton, atau tiba-tiba ingin mendengar ghibah, namimah, dan mengintip keburukan orang (tajassus). Ketika keinginan itu muncul, segera palingkan dan ucapkan a'ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.

Keinginan maksiat sering lahir dari salah bergaul. Banyak orang yang telah berhijrah dan meninggalkan masa lalunya, tetapi ketika kembali berhubungan dengan kawan lama, keinginan itu muncul lagi. Dulu mungkin teman bermain musik, teman minum, atau teman dunia malam. Sang ustadz menceritakan sebuah kasus di negeri lain tentang seorang pria yang telah bertobat dari penyimpangan masa lalunya, menikah, dan memiliki tiga anak. Setelah sekitar lima belas tahun, ia kembali bergaul dengan kawan-kawan lamanya lewat media sosial. Keinginan lama itu muncul kembali, dan akhirnya ia menceraikan istrinya. Sang istri mengaku sangat terkejut. Kasus ini menjadi pengingat bahwa salah bergaul dan salah berinteraksi bisa membangkitkan keinginan yang telah lama terkubur.

Allah Ta'ala menggambarkan bahwa orang yang bertakwa, bila disentuh godaan setan, segera sadar dan ingat Allah (QS. Al-A'raf: 201). Obatnya adalah mendekat kepada Allah dan memperbanyak amalan sunnah hingga hati dibimbing menuju kebaikan. Di antara doa yang paling utama untuk itu adalah:

Yā mushrrifal qulūb, shrrif qulūbanā 'alā thā'atik. "Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu."

Sebagian ulama menafsirkannya sebagai permohonan agar hati berpindah dari satu ketaatan ke ketaatan lainnya. Rindu membaca Al-Qur'an, rindu salat tahajud, rindu menghadiri kajian, rindu zikir, ingin umrah dan haji, ingin bersedekah dan menyambung silaturahmi. Hal ini sejalan dengan firman Allah, "Apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)" (QS. Al-Insyirah: 7). Manusia tidak sekuat malaikat yang tidak pernah bosan, sehingga hati perlu diarahkan berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan lain.

Konsekuensinya jelas. Kita tidak boleh sembarang melihat dan mendengar. Banyak keinginan lahir dari tontonan: cuplikan film yang memancing penasaran, lalu ingin menonton lebih jauh. Selama kita tidak mengontrol apa yang kita lihat dan dengar, kita tidak akan bisa mengontrol hati. Ini berat, tetapi harus diperjuangkan.

2. Tidak ada kezaliman (wa lā baghyu): hati yang tidak ingin mencelakai orang lain

Orang yang hatinya bersih tidak menginginkan orang lain celaka, hancur, atau tersakiti. Bahkan ia gelisah ketika tanpa sengaja menyinggung hati orang, lalu segera meminta maaf.

Sang ustadz menyayangkan fenomena sekarang, ketika sebagian orang senang menjahili orang lain demi hiburan. Ada yang membuat prank sehingga orang ketakutan, lalu ia gembira. Ada yang menaruh kaleng berisi batu di jalan, lalu tertawa ketika ada yang menendangnya dan kesakitan. Ia menunggu kapan ada orang yang celaka. Ini hati yang suka menzalimi.

Allah mengisahkan keadaan orang-orang kafir pelaku pembakaran Ashabul Ukhdud, yang menyaksikan orang-orang beriman dibakar sebagai tontonan (QS. Al-Buruj: 4–7). Allah juga menyebut Fir'aun sebagai pemilik "tonggak-tonggak" (QS. Shad: 12), yang menyiksa orang dengan mengikat anggota badan mereka lalu menjadikannya tontonan. Mereka bukan merasa kasihan, tetapi senang melihat orang menderita. Itu adalah hati setan. Seorang mukmin justru gelisah ketika berbuat zalim.

3. Tidak ada dengki dan dendam (wa lā ghill)

Ghill mencakup dengki, dendam, jengkel, dongkol, dan berat hati terhadap orang lain. Seorang muslim berusaha agar hatinya tidak memiliki ghill kepada kaum muslimin. Karena itu doa orang-orang beriman yang disebut Allah adalah: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman" (QS. Al-Hasyr: 10).

Coba kita renungkan: kepada siapa kita jengkel? Suami, anak, kerabat, tetangga? Sang ustadz mengingatkan bahwa ada orang yang menjengkelkan adalah tabiat kehidupan, sama seperti ada siang dan malam, panas dan dingin. Boleh jadi kita jengkel, tetapi lawanlah, apalagi sampai menyimpan dendam. Bila ada yang mencela kita, mungkin keburukan kita lebih banyak daripada yang ia sebutkan.

Memaafkan adalah ibadah yang istimewa. Kita hanya bisa melakukannya ketika sedang dizalimi. Allah berfirman bahwa membalas keburukan boleh setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berdamai, pahalanya atas tanggungan Allah (QS. Asy-Syura: 40). Dan, "Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin diampuni Allah?" (QS. An-Nur: 22). Rasa sakit hati wajar, karena kita manusia, bukan malaikat. Tetapi semakin kita melawannya dan memaafkan, semakin besar peluang dosa kita diampuni. Jika para nabi dan sahabat saja disakiti, dihina, dan dituduh, apalagi kita.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberi nasihat berharga. Ketika dizalimi, cara terbaik adalah introspeksi, beristighfar, dan memperbaiki diri, tanpa terlalu sibuk dengan kezaliman yang menimpa. Tetapi bila kita tidak mengevaluasi diri, sibuk membalas, dan merasa diri hebat, musibah itu lebih besar daripada kezaliman orang tersebut. Musibahnya bukan lagi pada apa yang dilakukan orang, melainkan pada hati kita yang lalai.

4. Tidak ada hasad (wa lā hasad)

Hasad adalah tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat. Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa tidak ada jasad yang selamat dari hasad. Hampir tidak ada di antara kita yang tidak pernah dihampirinya, kecuali orang yang benar-benar tinggi derajat kewaliannya. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya: kita sapu dan buang, jangan dibiarkan bercokol.

Sang ustadz memberi cara mendeteksinya. Jika kita jengkel melihat orang membeli mobil baru atau tas baru, itu tanda hasad. Jika kita jengkel mendengar orang dipuji, "Masya Allah, semangat sekali mengaji, rajin jadi panitia," itu juga tanda hasad. Itu indikator kuat. Dan bila hati terdeteksi hasad, berarti keikhlasan yang selama ini kita rasa ada masih perlu dibersihkan.

Bagaimana menghadapinya? Ingatlah bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi kita dan bagi dia. Beliau memberi beberapa contoh. Seorang wanita hasad kepada wanita yang lebih cantik. Seandainya ia dikaruniai kecantikan itu, belum tentu ia mampu mensyukurinya dan menghadapi ujian di baliknya, seperti godaan banyak lelaki serta keinginan untuk pamer dan dipuji. Nabi Yusuf 'alaihissalam masuk penjara karena digoda, dan siapa yang mampu bertahan seperti beliau? Orang lain hasad pada rumah mewah, padahal semakin banyak nikmat semakin banyak hisabnya, dan belum tentu seseorang selamat dari kesombongan. Seorang dai pun bisa hasad kepada dai lain yang pengikutnya ribuan, padahal belum tentu ia ikhlas bila diberi audiens sebanyak itu. Mungkin justru orang yang audiensnya sedikit lebih ikhlas.

Perlu dibedakan dari rasa terpacu. Iri yang mendorong kita berkata, "Saya ingin hafal Al-Qur'an seperti dia," adalah kebaikan. Yang tercela adalah membenci orang itu karena nikmatnya. Solusinya adalah menyibukkan diri dengan ibadah, salat malam, dan membaca Al-Qur'an, serta berdoa:

"Ya Allah, keluarkan hasad dari diriku. Jadikan aku pemaaf. Jadikan aku ridha dengan pemberian-Mu. Berikan aku hati yang selamat dan sifat qana'ah. Cabutlah penyakit-penyakit hatiku."

Hati Perlu Disapu Setiap Hari

Hari ini hati kita bersih, belum tentu bulan depan. Orang yang tadinya rendah hati bisa menjadi sombong, yang tadinya ikhlas bisa menjadi riya, yang tadinya ridha bisa menjadi hasad, dan yang tadinya pemaaf bisa menjadi pendendam. Itulah sebabnya Nabi ﷺ memakai istilah makhmumul qalb, hati yang senantiasa disapu.

Ustadz Firanda mengingatkan agar kita tidak hanya memperhatikan amalan lahir. Amalan hati sama pentingnya. Beliau juga menyebut bahwa beliau sendiri harus menyapu hatinya. Ketika muncul keinginan buruk, segera berlindung kepada Allah, palingkan pikiran kepada yang baik, jaga pandangan, dan jaga pendengaran.

Kesimpulan

Hadits ini mengajarkan bahwa derajat manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh kekayaan, ketenaran, atau penampilan, melainkan oleh dua hal yang kecil namun menentukan: lisan yang jujur dan hati yang senantiasa disapu. Hati yang bertakwa dan bersih adalah hati yang tidak menginginkan maksiat, tidak ingin menzalimi, tidak menyimpan dendam, dan tidak hasad.

Perjuangan ini tidak sekali selesai. Debu akan terus datang, tetapi sapu ada di tangan kita: menjaga pandangan dan pendengaran, memperbaiki pergaulan, memaafkan, bersyukur, dan memohon kepada Allah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang selamat dan lisan yang jujur, serta mengangkat derajat kita di sisi-Nya.


Sumber kajian: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A., "Sapu-Sapu Kotoran Hati – Hadits-Hadits Perbaikan Hati #2" (kitab Ahadits Ishlahil Qulub karya Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr).



Posting Komentar

0 Komentar