Kajian kelima dari kitab Ahadits Ishlahil Qulub karya Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah dan membahas derajat ihsan. Ihsan bukan sekadar konsep untuk orang-orang istimewa. Ia adalah derajat yang bisa dilatih, dan buahnya terasa sejak di dunia sampai ke surga.
Tingkatan dalam Agama: Islam, Iman, Ihsan
Dalam hadits Jibril, malaikat Jibril bertanya kepada Nabi ï·º tiga hal. Pertama tentang Islam, dan beliau menjawab dengan rukun Islam: dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa Ramadan, dan haji bagi yang mampu. Kedua tentang iman, dan beliau menjawab dengan enam rukun iman: beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari kiamat, dan takdir baik maupun buruk. Ketiga tentang ihsan, dan beliau menjawab:
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka (ketahuilah) sesungguhnya Dia melihatmu."
Para ulama menyebutnya maratibud din, tingkatan-tingkatan dalam agama. Ustadz Firanda menggambarkannya dengan himpunan: di dalam himpunan Islam (orangnya disebut muslim) ada himpunan yang lebih kecil dan lebih tinggi, yaitu iman (mukmin), dan di dalamnya lagi ada himpunan yang lebih khusus, yaitu ihsan (muhsin). Jadi tidak semua muslim adalah mukmin, dan tidak semua mukmin adalah muhsin. Allah berfirman tentang orang-orang Arab badui yang mengatakan "Kami telah beriman": "Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, kami telah tunduk (Islam), karena iman belum masuk ke dalam hatimu'" (QS. Al-Hujurat: 14).
Orang yang berislam mengamalkan amalan lahir. Orang yang beriman selain itu juga memperhatikan amalan batin sehingga rukun-rukun imannya kokoh. Adapun muhsin, ia berada di tingkat tertinggi.
Dua Derajat Ihsan
Dalam hadits tadi, Nabi ï·º menjelaskan dua derajat ihsan.
Derajat pertama: beribadah seakan-akan melihat Allah. Kata "seakan-akan" dipakai karena memang tidak mungkin melihat Allah di dunia. Tubuh kita tidak kuat. Kita tidak bisa melihat virus, malaikat, atau bentuk asli jin, dan tidak kuat memandang matahari. Ketika Nabi Musa 'alaihissalam memohon, "Ya Tuhanku, perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu," Allah menjawab, "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku. Tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya, niscaya engkau dapat melihat-Ku." Ketika Allah menampakkan kebesaran-Nya kepada gunung, gunung itu hancur dan Musa pun pingsan (QS. Al-A'raf: 143). Batu yang kokoh saja hancur, apalagi manusia yang tubuhnya lemah.
Dalam peristiwa Isra' Mi'raj, ketika Abu Dzar radhiyallahu 'anhu bertanya apakah beliau melihat Rabb-nya, Nabi ï·º menjawab bahwa ada cahaya yang menghalangi, bagaimana mungkin aku melihat-Nya (HR. Muslim). Beliau juga bersabda bahwa kalian tidak akan melihat Rabb kalian sampai kalian meninggal (HR. Muslim).
Setelah wafat, kondisi manusia berubah. Allah berfirman, "Maka pandanganmu pada hari ini sangat tajam" (QS. Qaf: 22). Ia bisa melihat malaikat maut dan malaikat rahmat, atau bagi pelaku maksiat, malaikat azab. Pada hari kebangkitan, fisik manusia pun diubah sehingga kuat bertahan menghadapi matahari yang sangat dekat. Penghuni neraka tidak mati meski disiksa dan bisa bertemu dengan iblis. Penghuni surga diubah tinggi tubuh mereka seperti Nabi Adam, yakni enam puluh hasta, sehingga siap menikmati kelezatan surga. Di antara kelezatan itu mereka bisa melihat Allah. Nabi ï·º pun berdoa memohon kelezatan memandang wajah-Nya dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya.
Maka maksud "seakan-akan melihat Allah" adalah menghadirkan dalam hati bahwa kita sedang berdiri di hadapan Dzat Yang Maha Kuasa yang sedang memperhatikan kita ibadah. Kita tidak membayangkan bentuk-Nya, sebab tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dengan itu hati langsung terfokus, khusyuk, penuh harap, takut, dan cinta.
Derajat kedua: yakin bahwa Allah melihatmu. Jika derajat pertama sulit, naiklah ke derajat kedua. Siapa yang mampu mencapai ini sudah luar biasa. Sang ustadz bertanya, siapa di antara kita yang ketika bersedekah, berbakti kepada orang tua, membaca Al-Qur'an, melayani suami, atau menyusui anak, menghadirkan perasaan bahwa Allah sedang melihat dan menilainya? Kebanyakan kita beramal tanpa menghadirkan hal itu. Kita tidak berdosa karena ini derajat yang tinggi, tetapi karena tinggi pula pahalanya.
Dalil-Dalil Bahwa Allah Melihat dan Mengetahui
Ustadz Firanda membagi dalilnya menjadi dalil umum dan khusus (rujukan dalam buku halaman 408–409, atau halaman 416–417 pada edisi Bekal Islam).
Dalil umum adalah ayat-ayat yang menyebut ilmu Allah, misalnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan, dan Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa. Lebih khusus lagi, Allah mengetahui isi hati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati ('alimun bidzatis shudur), dan Maha Khabir (mengetahui secara detail) apa yang kalian kerjakan. Allah mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan dada. Allah mengetahui apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian sembunyikan. Kata 'alim menunjukkan bahwa Allah senantiasa mengawasi dan senantiasa mengetahui isi hati kita.
Dalil khusus antara lain firman Allah, "Kamu tidak berada dalam suatu keadaan, tidak membaca suatu ayat Al-Qur'an, dan tidak pula melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya" (QS. Yunus: 61). Maknanya, dalam keadaan apa pun, ayat Al-Qur'an apa pun yang kita baca, amal apa pun yang kita kerjakan, Allah menyaksikannya.
Allah juga berfirman, "Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud" (QS. Asy-Syu'ara': 217–219). Ketika kita salat, Allah melihat dari awal sampai akhir. Bahkan tidak ada sehelai daun pun yang gugur kecuali Allah mengetahuinya (QS. Al-An'am: 59). Jangankan manusia, daun yang benda mati pun diketahui-Nya.
Dua Model Ihsan
Selain dua derajat, ihsan juga memiliki dua model.
1. Ihsan dalam beribadah kepada Allah, yaitu ketika salat, membaca Al-Qur'an, dan berzikir, dengan menghadirkan bahwa Allah sedang melihat kita.
2. Ihsan kepada sesama makhluk, yaitu kepada orang tua, kerabat, anak yatim, fakir miskin, ibnu sabil, dan orang-orang lemah, bahkan kepada hewan. Allah berfirman, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin..." (QS. An-Nisa': 36).
Model kedua ini pun dikerjakan dengan menghadirkan kesadaran bahwa Allah sedang menilai kita. Ketika kita membantu tetangga atau orang yang kesusahan, sebenarnya kita sedang bermuamalah dengan Allah. Kalau Allah sudah mengetahuinya, urusan selesai. Inilah yang membuat kita mudah ikhlas, sebab yang kita butuhkan hanya validasi dari Allah. Kita tidak lagi bergantung pada pengakuan manusia, "jempol" netizen, atau pujian orang. Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menyebut dua pilar kebahagiaan: ikhlas kepada Allah dan ihsan kepada makhluk. Siapa yang menggabungkan keduanya, ia orang yang bahagia. Kita merasa tidak bahagia saat ihsan hilang, ikhlas hilang, dan berbuat baik sambil mengharap balasan dari manusia.
Sembilan Keutamaan Ihsan
Ustadz Firanda merinci keutamaan ihsan sebagai berikut.
1. Melihat wajah Allah di surga. Allah berfirman, "Bagi orang-orang yang berbuat baik (ihsan), ada balasan yang terbaik (surga) dan tambahannya" (QS. Yunus: 26). Para ahli tafsir menjelaskan bahwa "tambahan" itu adalah memandang wajah Allah. Ganjaran sesuai amal: selama di dunia ia beribadah seakan-akan melihat Allah, maka di akhirat ia benar-benar memandang wajah-Nya. Kenikmatan ini berbeda dengan kenikmatan surga lainnya yang mirip kenikmatan dunia seperti makanan, minuman, dan pasangan. Dalam hadits disebutkan bahwa Allah bertanya kepada penghuni surga, "Maukah Aku tambahkan sesuatu untuk kalian?" Mereka menjawab, "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami dan menyelamatkan kami dari neraka?" Lalu Allah menyingkap hijab, dan mereka memandang wajah-Nya sampai melupakan kenikmatan surga yang lain.
2. Bahagia di dunia sebelum di akhirat. Karena orang yang ihsan pasti ikhlas, ia tidak membutuhkan pengakuan netizen. Allah berfirman, "Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya" (QS. Al-Baqarah: 215). Allah tahu, selesai. Selain itu, ihsan juga membuat seseorang membahagiakan orang lain, dan siapa yang membahagiakan orang lain akan dibahagiakan oleh Allah.
3. Keturunan yang baik. Setelah menyebut Ishak, Ya'qub, dan keturunan para nabi, Allah berfirman, "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-An'am: 84). Bila ingin memiliki anak yang saleh, berbuat baiklah kepada orang lain dan rasakan selalu diawasi Allah.
4. Diberi ilmu dan hikmah. Allah berfirman tentang Nabi Yusuf 'alaihissalam, "Dan ketika dia telah dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. Yusuf: 22). Ayat serupa disebut untuk Nabi Musa (QS. Al-Qashash: 14). Penuntut ilmu yang berbuat ihsan akan ditambah ilmu, hikmah, dan kesantunannya.
5. Mendapat tambahan nikmat. "Dan Kami akan menambah (karunia) kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-Baqarah: 58).
6. Dicintai Allah. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik" disebut berulang kali dalam Al-Qur'an, antara lain (QS. Ali 'Imran: 134) dan (QS. Al-Ma'idah: 13). Bila Allah mencintai kita, Dia menghendaki kebaikan bagi kita.
7. Dirahmati Allah. "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-A'raf: 56). Siapa yang merahmati akan dirahmati. Nabi ï·º bersabda, "Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang di langit" (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud).
8. Allah tidak menyia-nyiakan kebaikannya. Nabi Yusuf 'alaihissalam berkata, "Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS. Yusuf: 90). Ihsan dibalas di dunia dan di akhirat. Di dalam penjara pun Yusuf tetap berbuat ihsan: menjenguk orang sakit, menasihati, dan membantu orang lain. Dikisahkan dalam kitab tafsir bahwa ada orang yang keluar dari penjara tetapi ingin dipenjara kembali agar bisa bersama Yusuf. Dua orang yang meminta tafsir mimpi pun berkata, "Sungguh kami memandang engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik" (QS. Yusuf: 36). Akhirnya Allah mengangkat Yusuf menjadi pembesar negeri.
9. Allah bersama mereka. "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS. An-Nahl: 128). Bila Allah bersamanya, ia pasti ditolong.
Bagaimana Menumbuhkan Ihsan?
Ustadz Firanda menyebut beberapa hal yang membantu.
Pertama, mengingat bahwa Allah telah berbuat ihsan kepada kita. Nasihat kepada Qarun berbunyi, "Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu" (QS. Al-Qashash: 77). Allah yang memberi kita harta, kemampuan, dan potensi. Maka tidak perlu ragu membantu orang. Semakin kita membantu, Allah terus berbuat ihsan kepada kita.
Kedua, menyadari bahwa kualitas ibadah akan naik dengan ihsan. Kita sudah salat setiap hari, membaca Al-Qur'an bila sempat, dan berbagi kepada sesama. Tinggal menghadirkan ihsan, kualitas ibadah naik karena kita pasti ikhlas dan fokus. Saat membaca Al-Qur'an dan Allah sedang menilai, kita akan membacanya dengan serius dan tidak mudah terganggu telepon. Bila salat dengan perasaan sedang berhadapan dengan Dzat yang menciptakan kita, yang kita harapkan kasih sayang dan ampunan-Nya, khusyuk akan lebih mudah.
Ketiga, menghadirkan ayat-ayat tentang ilmu dan pengawasan Allah: Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar.
Keempat, melatihnya setiap hari. Ilmu yang tidak dilatih tidak akan menjadi sajiyyah (watak) dan perangai. Sesekali cobalah hadirkan, "Saya sedang berhadapan dengan Allah" saat salat, atau "Allah sedang menilai saya" saat membaca Al-Qur'an, atau "interaksi saya bukan dengan orang tetapi dengan Allah" ketika membantu orang lain. Jika sering dilakukan, ia menjadi perangai.
Ihsan Membuat Orang Mampu Beramal Hebat
Di akhir kajian, Ustadz Firanda mengaitkan dengan ayat yang sudah dibahas pada kajian memaafkan: "Dan bersegeralah mencari ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan" (QS. Ali 'Imran: 133–134).
Siapa yang mampu berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit? Orang yang tahu bahwa Allah sedang menilainya, sehingga ia tidak berat mengeluarkan hartanya karena Allah. Siapa yang mampu menahan amarah yang sudah di puncak dan memaafkan orang lain? Orang yang ihsan. Ia tahu Allah sedang melihatnya, maka mudah baginya melakukan amalan-amalan luar biasa yang tidak bisa dilakukan orang lain.
Kesimpulan
Ihsan adalah derajat tertinggi dalam agama, di atas Islam dan iman. Intinya sederhana: menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dengan Allah, atau setidaknya bahwa Dia sedang melihat kita. Dari kesadaran itu lahir keikhlasan, kekhusyukan, kebaikan kepada sesama, dan ketenangan hati karena kita tidak lagi mengejar pengakuan manusia.
Latihlah hati setiap hari, di dalam salat, saat membaca Al-Qur'an, dan ketika membantu orang lain. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang muhsinin, mengampuni dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita, dan mengumpulkan kita semua di surga-Nya.
Sumber kajian: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A., "Derajat Ihsan – Hadits-Hadits Perbaikan Hati #5" (kitab Ahadits Ishlahil Qulub karya Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr). Tonton: https://www.youtube.com/watch?v=YztdLTmUjEo
0 Komentar