Kajian keenam dari kitab Ahadits Ishlahil Qulub karya Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Beliau membahas bagaimana merasa malu kepada Allah, bagaimana menumbuhkannya, dan bagaimana menerapkannya dalam keseharian.
Malu adalah Bagian dari Iman
Nabi ﷺ bersabda bahwa iman memiliki tujuh puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah ucapan lā ilāha illallāh, yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang iman (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rasa malu secara umum terbagi dua: malu kepada makhluk dan malu kepada Allah. Keduanya dituntut. Yang sering dibahas biasanya malu kepada makhluk, seperti dalam sabda Nabi ﷺ bahwa di antara ajaran para nabi terdahulu yang sampai kepada manusia adalah, "Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu" (HR. al-Bukhari). Hadits ini biasanya ditafsirkan terkait rasa malu kepada sesama manusia.
Fungsi rasa malu ada dua: mengantarkan kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang tidak pantas. Ustadz Firanda mencontohkan seorang istri yang punya rasa malu. Ia malu bila suaminya pulang tetapi makanan belum siap, bila baju suami belum disetrika, bila tidak menyambut suami dengan baik, atau bila terlihat mengobrol dengan lelaki lain. Ia malu membangkang atau tidak bersyukur kepada suaminya. Begitu pula malu kepada orang tua bila tidak berbakti, malu kepada tetangga bila acara tidak mengundang mereka, dan malu memamerkan privasi di media sosial hingga menjadi bahan gunjingan.
Orang yang paling pemalu adalah Nabi ﷺ. Beliau lebih pemalu daripada seorang gadis yang berada dalam pingitan, dan bila membenci sesuatu, hal itu terlihat dari wajah beliau (HR. al-Bukhari dan Muslim). Ketika seseorang menasihati saudaranya agar jangan terlalu malu, Nabi ﷺ menegurnya, "Biarkan dia, karena malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan" (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Namun yang menjadi pokok kajian ini adalah jenis malu yang lebih utama: malu kepada Allah. Fungsinya sama, yaitu mengantarkan kepada ketaatan dan mencegah maksiat.
Hadits-Hadits tentang Malu kepada Allah
Hadits Ibnu Mas'ud: Malu dengan Sebenar-benarnya
Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda, "Malulah kepada Allah dengan sebenar-benar malu." Para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah, kami sudah malu, alhamdulillah." Beliau menjelaskan bahwa bukan itu yang dimaksud, tetapi:
"Engkau menjaga kepala dan apa yang dikandungnya, menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan engkau mengingat kematian dan hancurnya jasad. Dan siapa yang menginginkan akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukan itu, maka ia telah benar-benar malu kepada Allah." (HR. at-Tirmidzi)
Hadits Abu Waqid al-Laitsi: Tiga Orang di Majelis
Dalam riwayat al-Bukhari, Nabi ﷺ sedang duduk di masjid bersama para sahabat ketika tiga orang datang. Dua menuju majelis beliau, satu pergi. Salah satunya melihat ada celah dalam lingkaran lalu duduk di sana. Yang kedua duduk di belakang. Yang ketiga berpaling dan pergi. Selesai majelis, Nabi ﷺ bersabda bahwa yang pertama berlindung kepada Allah lalu Allah melindunginya. Yang kedua malu, maka Allah pun malu kepadanya. Yang ketiga berpaling, maka Allah berpaling darinya.
Hadits wasiat: Malu seperti kepada orang saleh
Seseorang meminta wasiat kepada Nabi ﷺ, dan beliau bersabda, "Aku wasiatkan engkau untuk malu kepada Allah sebagaimana engkau malu kepada seorang lelaki saleh dari kaummu." Kalau kita berada di depan orang saleh, kita malu bicara seenaknya, makan seenaknya, atau duduk sembarangan. Maka malulah kepada Allah seperti itu. (Ustadz Firanda menyebut hadits ini dari seorang sahabat bernama Sa'id bin Zaid; nama perawi pada rekaman kurang jelas.)
Hadits Bahz bin Hakim: Menjaga aurat
Bahz bin Hakim meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya bahwa ia bertanya, "Wahai Rasulullah, aurat mana yang harus kami tutupi dan mana yang boleh kami buka?" Beliau menjawab, "Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang halal bagimu." Ia bertanya lagi, "Bagaimana bila seseorang sedang sendirian?" Beliau menjawab, "Allah lebih berhak untuk dimalui" (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Jadi sendirian pun jangan membuka aurat tanpa keperluan.
Dari sini para ulama mengambil pelajaran bahwa Allah mengawasi apa yang dilakukan semua hamba. Allah berfirman, "Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat (segala perbuatannya)?" (QS. Al-'Alaq: 14) dan "Sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasi kamu" (QS. An-Nisa': 1).
Allah Memiliki Sifat Malu
Syaikh 'Abdurrazzaq kemudian menyebut nama Allah Al-Hayiyy, Yang Maha Pemalu. Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Menutupi aib, Dia mencintai sifat malu dan menutup aib. Maka bila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup diri" (HR. Abu Dawud dan an-Nasa'i). Dalam hadits Salman al-Farisi, "Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangan kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong" (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa sifat malu Allah tidak sama dengan malu makhluk, sebab "tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya" (QS. Asy-Syura: 11). Maknanya sederhana: karena Allah begitu baik, dermawan, dan agung, Dia seakan malu bila tidak memberi kebaikan kepada hamba yang meminta. Kalau doa kadang tidak dikabulkan, biasanya karena tidak maslahat atau Allah ingin menguji agar lebih baik.
Beda dengan manusia yang malu karena kekurangan, minder, atau tidak mampu, Allah malu karena kesempurnaan-Nya. Seperti orang kaya yang didatangi peminta lalu menolak, tentu ia malu. Padahal milik Allah sifat yang Maha Tinggi.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa rasa malu Allah adalah malu karena kemuliaan, kedermawanan, dan keagungan, dan hakikatnya tidak terjangkau oleh pemahaman maupun akal manusia. Kita hanya menetapkan sifat itu tanpa membayangkan bagaimananya.
Dalam satu riwayat, Nabi ﷺ juga bersabda bahwa Allah tidak malu dari kebenaran. Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha bertanya tentang sesuatu yang sensitif terkait hubungan intim, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran," dan Nabi ﷺ membenarkan (HR. al-Bukhari dan Muslim). Artinya, urusan kebenaran tidak perlu dimalui, sedangkan maksiat itulah yang seharusnya membuat kita malu.
Karena itu, siapa yang malu kepada Allah, Allah pun akan "malu" kepadanya, yakni Dia akan memberinya kebaikan. Balasan sesuai jenis amal. Syaikh 'Abdurrazzaq menyimpulkan bahwa setiap mukmin wajib malu kepada Allah sesuai kadar kedekatannya, sebab ia tahu Allah mengawasinya, mengagungkan-Nya, dan mendahulukan apa yang Allah cintai atas segala hal. Rasa malu yang paling mulia adalah malu kepada Dzat yang menciptakan dan memberi kita banyak nikmat.
Tiga Sebab Tumbuhnya Rasa Malu kepada Allah
1. Mengingat nikmat-nikmat Allah
Allah berfirman, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya" (QS. An-Nahl: 18). Nikmat jasmani, rohani, keluarga, kemampuan mengaji dan beribadah, rasa aman, semuanya dari Allah. Bahkan Allah juga memberi apa yang tidak kita minta (QS. Ibrahim: 34). Ada yang kita minta, ada yang Allah beri, ada yang tidak Allah beri karena tidak maslahat, tetapi banyak sekali yang tidak kita minta namun Allah berikan, seperti petunjuk dan hidayah.
Ibnu Rajab rahimahullah menyebut bahwa rasa malu kepada Allah muncul dengan mengingat nikmat-nikmat-Nya. Seseorang malu bila nikmat itu ia gunakan untuk membangkang. Ustadz Firanda memberi permisalan: seseorang bekerja pada orang baik yang menggajinya tiap bulan, lalu ia justru mengkhianatinya. Tentu ia malu. Apalagi Rabbul 'alamin yang menjaga kita sejak kecil. Dikaruniai penglihatan lalu dipakai melihat maksiat, dikaruniai uang lalu dipakai berfoya-foya, itu memalukan.
Nabi Yusuf 'alaihissalam pun terlindungi oleh rasa ini ketika dirayu. Beliau berkata, "Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku, dia telah memperlakukan aku dengan baik" (QS. Yusuf: 23). Sebagian ulama menafsirkan "tuanku" juga bermakna Rabb-ku, yaitu Allah telah berbuat baik kepadaku, bagaimana mungkin aku berzina?
2. Mengingat kekurangan kita dalam menunaikan hak Allah
Kita diperintah beribadah dan meninggalkan maksiat, tetapi banyak kurangnya. Salat tidak serius, membaca Al-Qur'an sambil memikirkan ke sana kemari, masih sering ghibah, melihat yang tidak pantas, membuang waktu, kurang berbakti kepada orang tua. Bahkan Ustadz Firanda mengakui, bagi pendakwah, dakwahnya terkadang kurang semangat atau kurang ikhlas. Maka kita malu kepada Allah. Karena itulah setelah salat kita beristighfar. Allah menggambarkan orang saleh: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka" (QS. Al-Mu'minun: 60). Mereka beramal banyak tetapi takut amalnya tidak diterima.
3. Menyadari bahwa Allah mengawasi
Nabi ﷺ bersabda, "Malulah kepada Allah sebagaimana engkau malu kepada lelaki saleh dari kaummu." Di depan orang saleh kita tidak berani macam-macam. Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi (Ar-Raqib, yang melihat terus dengan seksama dan menilai). Salaf berpesan, "Jangan menjadikan Allah sebagai yang paling remeh dari orang-orang yang mengawasimu." Kita malu bila ada anak kecil melihat maksiat kita, tetapi ketika Allah yang melihat, kita cuek.
Rasa malu ini memerlukan kedekatan dan hubungan batin dengan Allah. Orang yang sering menikmati kesendiriannya bersama Allah dalam salat malam dan membaca Al-Qur'an, yang berinteraksi dengan-Nya, akan tumbuh rasa malunya. Nabi ﷺ bersabda bahwa orang yang salat sedang bermunajat kepada Rabb-nya (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa bila Islam seseorang baik, ia meninggalkan yang haram, syubhat, makruh, bahkan berlebihan dalam hal yang mubah yang tidak diperlukan, seperti terlalu banyak jalan-jalan, omong, hura-hura, atau kuliner. Bila sempurna Islamnya hingga mencapai ihsan, ia malu melakukan semua itu. Maka ihsan membuatnya malu menyia-nyiakan waktu. Syaikh 'Abdurrazzaq menyimpulkan bahwa inilah tiga hal yang menggerakkan hati: mengagungkan Allah, mencintai-Nya, dan mengetahui bahwa tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Hasilnya, hati malu kepada Allah, lalu muncul kebaikan, ditinggalkannya maksiat, dan lahirlah akhlak mulia.
Empat Penerapan Malu Kepada Allah
Kembali ke hadits Ibnu Mas'ud, Ustadz Firanda menguraikan empat penerapan.
1. Menjaga kepala dan apa yang dikandungnya. Yaitu mata, telinga, dan lisan. Mata tidak melihat yang haram, telinga tidak mendengar ghibah, namimah, dan musik, dan lisan tidak mengucapkan kata-kata haram. Kenapa kita berani menekan tombol film yang menampakkan aurat? Kenapa kita nekat mendengar hal haram dan berbicara semaunya? Karena kita kurang malu dan merasa tidak diawasi.
2. Menjaga perut dan apa yang dikandungnya. Yaitu tidak makan dari yang haram, menjaga hati dari akhlak buruk dan yang tidak benar, serta menjaga kemaluan. Rezeki sudah Allah berikan. Bagaimana kita nekat melanggar perintah-Nya dengan makan yang haram?
3. Mengingat kematian dan hancurnya jasad. Tubuh ini akan dimakan cacing, dan sekarang saja sudah mulai tua dan keriput. Kita akan berdiri di hadapan Allah untuk dihisab. Bila ingat itu, kita malu bertemu Allah dengan amal yang buruk. Beliau mengajak kita membayangkan catatan amal dibuka dan ternyata isinya film Korea, film India, ghibah, dan namimah, bukan bacaan Al-Qur'an dan zikir. Siapa yang ingat itu akan berusaha agar catatannya diisi malaikat dengan kebaikan.
4. Meninggalkan perhiasan dunia bagi yang menginginkan akhirat. Syaikh 'Abdurrazzaq mengatakan bahwa di antara realisasi rasa malu adalah tidak sibuk dengan fitnah dunia dan hal-hal yang menipu dan melalaikan. Kita akan meninggalkan dunia, dan suatu hari dimasukkan ke dalam kubur sendirian, tidak membawa apa pun selain amal saleh. Orang yang menginginkan akhirat akan malu bila hidup hanya mengejar dunia dan beramal saleh demi sanjungan dan like. Allah berfirman, "Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah mukmin, maka mereka itu usahanya dibalas dengan baik" (QS. Al-Isra': 19). Beliau menambahkan bahwa bukan berarti kita tidak boleh bersenang-senang, tetapi malulah bila berlebihan dalam urusan kesenangan dunia.
Bila Rasa Malu Dicabut
Syaikh 'Abdurrazzaq mengingatkan bahwa bila rasa malu dicabut dari seorang hamba, jangan tanya tentang kebinasaannya, sebab akan berkumpul pada dirinya banyak keburukan. Itu sejalan dengan sabda Nabi ﷺ, "Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu." Orang yang malunya hilang tidak peduli dengan maksiat dan dosanya, tenggelam dalam perbuatan nista, dan jiwanya menjadi hina. Maka wajib bagi kita memperbaiki jiwa: mengingat kematian, hisab, pengawasan Allah, dan nikmat-nikmat-Nya.
Kesimpulan
Rasa malu kepada Allah adalah ibadah hati yang membuat seseorang semangat beramal saleh sekaligus menjauhi maksiat. Ia tumbuh dari mengingat nikmat Allah yang tak terhitung, dari menyadari kekurangan kita dalam menunaikan hak-Nya, dan dari kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Dan ia diwujudkan dengan menjaga mata, telinga, lisan, perut, hati, dan kemaluan, mengingat kematian dan hisab, serta tidak tenggelam dalam dunia.
Ustadz Firanda mengutip ucapan Fudhail bin 'Iyadh yang intinya, "Aku malu kepada-Mu, ya Allah, meskipun Engkau telah mengampuni dosaku", sebab pada hari kiamat dosa-dosa itu akan dibuka. Siapa yang ingat hal ini, ia tidak ingin catatannya tercoreng dan akan berhenti dari maksiat. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita rasa malu yang benar.
Sumber kajian: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A., "Malu Kepada Allah – Hadits-Hadits Perbaikan Hati #6" (kitab Ahadits Ishlahil Qulub karya Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr). Tonton: https://www.youtube.com/watch?v=6SM9EaydeGY
0 Komentar