Dalam pertemuan kali ini, Ustadz Firanda Andirja mengajak kita membaca bab tentang tercelanya kesombongan dari kitab Syaikh 'Abdurrazzaq al-Badr. Sebagaimana seluruh seri Hadits Perbaikan Hati, tujuannya bukan sekadar menambah pengetahuan tentang sebuah penyakit, melainkan menyuruh kita memeriksa diri: adakah sesuatu dari penyakit ini yang diam-diam menetap di dada kita? Sebab, sebagaimana akan kita lihat, sebesar apa pun ia, bahkan seringan apa pun, ia cukup untuk menghalangi seseorang dari surga.
Bermula dari Hati, Tampak pada Tubuh, Lisan, dan Tulisan
Asal kesombongan adalah penyakit hati. Namun penyakit ini tidak berhenti di dada; ia mencari jalan untuk tampak. Ustadz Firanda menyebut tiga jalur ekspresinya.
Pertama, gerak tubuh. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh" (QS. Al-Isra': 37). Kesombongan itu sendiri ada di hati, tetapi ia bisa terbaca dari langkah kaki. Dalam wasiat Luqman kepada putranya, Allah juga mengabadikan larangan, "Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong)" (QS. Luqman: 18). Memalingkan wajah ketika bertemu seseorang adalah bentuk kesombongan yang bersumber dari hati.
Kedua, lisan. Allah memerintahkan, "Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" (QS. Al-Baqarah: 83), yakni tidak berbicara dengan kata-kata yang menyakitkan dan merendahkan. Ketiga, tulisan. Di zaman ketika begitu banyak orang berbicara melalui layar, kesombongan pun dapat dengan mudah terbaca dari nada tulisan seseorang. Lisan dan tulisan hanyalah alat ekspresi; sumbernya tetap penyakit hati.
Dua Wujud Kesombongan
Apa sebenarnya kesombongan itu? Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kesombongan ada dua tingkatan.
Pertama, sombong terhadap kebenaran, sehingga ia menolak kebenaran itu. Inilah yang paling berbahaya, karena yang ia tolak adalah dalil, berarti ia menyombongkan diri di hadapan Allah dan Rasul-Nya ï·º. Kedua, sombong terhadap manusia, yaitu dengan merendahkan mereka. Ini pun dosa besar, tetapi tingkatannya di bawah yang pertama.
Rumusan ini bersumber dari hadits 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Nabi ï·º bersabda,
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat dzarrah."
Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus. (Apakah itu termasuk sombong?)" Beliau ï·º menjawab,
"Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (HR. Muslim)
Jadi, berpakaian rapi dan bagus bukan kesombongan. Yang tercela adalah bathrul haqq, menolak kebenaran, dan ghamthun nas, memandang rendah manusia. Menurut Ustadz Firanda, banyak orang tidak menyadari bahwa menolak kebenaran justru tingkat kesombongan yang tertinggi.
Tujuh Bahaya Kesombongan
Syaikh 'Abdurrazzaq menyebutkan sejumlah bahaya kesombongan berdasarkan dalil, dan Ustadz Firanda menambahkan satu bahaya lagi dari beliau sendiri.
1. Penghalang Masuk Surga
Lafaz hadits di atas sangat keras: "tidak akan masuk surga". Dan ukuran yang disebut Nabi ï·º adalah dzarrah, sesuatu yang paling ringan menurut bahasa Arab. Para ulama berbeda pendapat tentang makna dzarrah: ada yang mengatakan semut kecil yang tak akan terdeteksi bila ditimbang, ada yang mengatakan sebutir tanah, ada yang mengatakan partikel debu yang baru tampak ketika sinar matahari masuk lewat jendela, dan ada pula yang mengatakan kepala semut. Semuanya menunjukkan hal yang sama: sangat kecil. Bila kesombongan sekecil itu saja sudah membahayakan, bagaimana dengan orang yang di dadanya ada kesombongan setinggi gunung? Maka kita wajib memeriksa diri agar tidak terjebak tanpa disadari.
2. Ciri Penghuni Neraka
Dari Haritsah bin Wahb al-Khuza'i radhiyallahu 'anhu, Nabi ï·º bersabda, "Maukah kalian kuberitahu tentang penghuni surga? Setiap orang yang lemah dan dianggap lemah; seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkan sumpahnya. Maukah kalian kuberitahu tentang penghuni neraka? Setiap orang yang kasar, tamak, dan sombong (mustakbir)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Orang yang disebut pertama adalah mereka yang tidak angkuh dan tidak sombong; Allah memuliakannya di dunia dan memasukkannya ke surga di akhirat. Yang kedua, sebaliknya, ditandai oleh kesombongan.
3. Sifat Iblis
Dosa pertama yang menyebabkan iblis masuk neraka adalah kesombongan. Allah berfirman, "Lalu mereka (para malaikat) bersujud, kecuali Iblis; ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir" (QS. Al-Baqarah: 34). Ia sombong kepada Allah karena tidak mau menaati perintah-Nya, dan sombong kepada Adam 'alaihissalam karena tidak mau bersujud kepadanya.
Dalam surah Al-A'raf, Allah bertanya kepadanya, "Apa yang mencegahmu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab, "Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan dia dari tanah." Allah lalu berfirman, "Turunlah engkau dari surga itu, karena tidak patut bagimu menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk makhluk yang hina." (QS. Al-A'raf: 11–13). Iblis meminta tangguh sampai hari kebangkitan, dan ia bersumpah akan menggoda anak cucu Adam dari depan, belakang, kanan, dan kiri. Allah menutup kisah itu dengan ancaman, "Keluarlah engkau dari sana dalam keadaan terhina dan terusir. Sesungguhnya siapa di antara mereka yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahanam dengan kamu semua." (QS. Al-A'raf: 18). Siapa yang menyandang sifat ini, ia sedang meniru Iblis.
4. Neraka Adalah Tempat Kembali Orang Sombong
Banyak ayat menegaskan hal ini. "Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahanam, kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu." (QS. An-Nahl: 29). Dan, "Bukankah di neraka Jahanam ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?" (QS. Az-Zumar: 60). Neraka tempat orang-orang sombong; surga tempat orang-orang yang tawadhu'.
5. Hati yang Terkunci
Orang yang sombong sangat mudah hatinya terkunci mati, sebab kebenaran tidak bisa masuk dari pintu mana pun ketika ada kesombongan. "Demikianlah Allah mengunci mati hati setiap orang yang sombong lagi sewenang-wenang." (QS. Ghafir: 35).
6. Dibangkitkan dalam Kehinaan
Nabi ï·º bersabda bahwa orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil yang berbentuk manusia, diliputi kehinaan dari segala arah. (HR. At-Tirmidzi) Ini adalah balasan yang setimpal dengan amalnya: ketika di dunia ia merasa besar, di akhirat Allah mengecilkannya. Ketika semua orang dibangkitkan dengan tubuh yang besar, mereka dibangkitkan dalam ukuran yang kerdil.
7. Pangkal Kezaliman (tambahan dari Ustadz)
Kesombongan adalah salah satu sebab terbesar seseorang berbuat zalim. Orang yang sombong cenderung arogan, dan orang yang arogan mudah menjatuhkan, merendahkan, bahkan menzalimi orang lain, sebagaimana Firaun. Padahal Nabi ï·º bersabda, "Kezaliman adalah kegelapan yang berlapis-lapis pada hari kiamat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Menolak Kebenaran: Wajah Kesombongan yang Paling Berbahaya
Setelah menyebut bahaya-bahayanya, Ustadz Firanda mengajak kita menengok bagaimana dua jenis kesombongan itu tampil dalam kehidupan. Contoh paling jelas dari menolak kebenaran tentu Iblis dan Firaun; hati Firaun pun terkunci karena kesombongannya.
Contoh lain datang dari zaman Nabi ï·º. Dalam Shahih Muslim diceritakan seorang laki-laki makan di sisi Nabi ï·º dengan tangan kirinya. Beliau menegur, "Makanlah dengan tangan kananmu!" Ia menjawab, "Aku tidak bisa." Nabi ï·º berkata, "Engkau tidak akan bisa!" Perawi menjelaskan, tidak ada yang menghalanginya selain kesombongan. Setelah itu, ia tidak pernah lagi mampu mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. Ustadz Firanda mencatat, orang yang benar-benar tak mampu (karena lumpuh atau sakit) tentu tidak akan dikatakan Nabi ï·º demikian. Ia menolak nasihat Nabi ï·º, dan itu bukan kesombongan terhadap manusia, melainkan terhadap Allah.
Karena itu, setiap kali dalil yang jelas telah sampai, tidak ada pilihan selain tunduk. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Hujurat: 1). Mendahului saja tidak boleh, apalagi menentang. Imam Malik rahimahullah berkata bahwa setiap orang bisa diterima dan ditolak perkataannya, kecuali penghuni kubur ini, yakni Rasulullah ï·º. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata, bila perkataannya menyelisihi hadits Nabi ï·º, maka buanglah perkataannya ke tembok. Ketika seseorang bertanya kepada beliau, "Bagaimana pendapat Anda tentang sabda Nabi ini?", beliau menjawab, "Apakah engkau mengira aku orang Nasrani? Apakah engkau melihatku mengenakan pakaian mereka sehingga bertanya seperti itu? Aku seorang Muslim; apa gunanya engkau menanyakan pendapatku di hadapan sabda Nabi?" Inilah tawadhu' ulama di hadapan dalil.
Lawan dari sikap ini ditunjukkan Allah dalam firman-Nya, "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65).
Sayangnya, kata Ustadz Firanda, sebagian orang malah mengejek ketika dalil disampaikan. Ada yang mengaku lebih percaya pada dokter non-Muslim daripada sabda Nabi ï·º tentang kesehatan. Allah juga menceritakan kaum yang apabila diucapkan kepada mereka, "Laa ilaaha illallah", mereka menyombongkan diri (QS. Ash-Shaffat: 35). Termasuk wujud kesombongan terhadap dalil adalah anggapan bahwa teks Al-Qur'an dan hadits hanya relevan untuk zaman dulu (sudah "kadaluwarsa") dan harus digantikan dengan "tafsir kontekstual" serta ijtihad-ijtihad baru yang menyelisihi nash. Ustadz Firanda mengingatkan satu kaidah sederhana: bila dalil yang shahih tidak cocok dengan logika kita, yang bermasalah adalah logika kita, bukan dalilnya. Betapa banyak orang menolak dalil karena menganggapnya tidak logis, lalu ulama menjelaskan bahwa dalil itu sejalan dengan akal yang sehat.
Merendahkan Manusia: Sombong karena Harta, Pakaian, Jabatan, dan Ilmu
Wujud kesombongan yang kedua adalah merendahkan orang lain, biasanya karena kelebihan yang dimiliki. Kelebihan itu bisa berupa harta. "Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup." (QS. Al-'Alaq: 6–7). Bisa berupa pakaian dan kendaraan, seperti Qarun yang "keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya" (QS. Al-Qashash: 79). Bisa berupa jabatan dan kekuasaan, seperti Firaun dan Namrud.
Ilmu pun bisa menjadi sumber kesombongan, dan ini kesombongan yang paling ironis. Dalam sebuah hadits disebutkan ancaman bagi orang yang menuntut ilmu untuk menyaingi para ulama, untuk mendebat orang-orang bodoh, atau untuk menarik perhatian orang kepadanya, bahwa Allah akan memasukkannya ke neraka. (Hadits ini diriwayatkan antara lain oleh Ibnu Majah.) Ustadz Firanda menyebutkan beberapa wajahnya: pamer hafalan, merasa sebagai "perpustakaan berjalan", membanggakan sanad. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan bahwa di antara kesombongan yang paling buruk adalah sombong karena ilmu, padahal ilmu semestinya menjadikan pemiliknya semakin rendah hati.
Kesombongan jenis ini sering tampak dalam ejekan, baik lisan maupun tulisan. Nabi ï·º bersabda, "Cukuplah seseorang dikatakan buruk apabila ia menghina saudaranya sesama Muslim." (HR. Muslim) Dalam hadits yang sama, beliau menunjuk ke dadanya dan bersabda, "Takwa itu di sini", karena masalah orang yang merendahkan itu ada di hatinya. Merasa diri lebih hebat lalu meremehkan, "Dia bisa apa sih? Hartanya cuma segitu", itulah sombong. Allah melarangnya, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)..." (QS. Al-Hujurat: 11). Menurut para ahli tafsir, yang diejek biasanya lebih baik, karena orang yang mengejek umumnya sombong, dan kesombongan menjatuhkan nilainya di sisi Allah.
Pelajarannya: kelebihan dari Allah diberikan untuk disyukuri, bukan untuk merendahkan orang lain.
Lima Cara Melawan Kesombongan
Bagaimana kita mengobati penyakit ini? Ustadz Firanda menguraikan lima langkah.
1. Mengingat Bahaya Kesombongan
Kesombongan mengusik hak Allah. Hanya Allah yang berhak bersifat sombong dan agung, karena hanya Dia pemilik segala sesuatu. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, "Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa yang menyaingi-Ku pada salah satu dari keduanya, Aku lemparkan ia ke neraka." (HR. Muslim) Kesombongan, walau kecil, mengusik hak Allah sebagaimana syirik mengusik hak-Nya untuk disembah. Kita tidak punya apa-apa; semuanya pemberian Allah.
2. Menghindari 'Ujub
'Ujub adalah merasa hebat dan merasa sukses karena kemampuan sendiri. Seorang Muslim harus mengembalikan semuanya kepada Allah: kecerdasan, pengalaman, dan keberhasilan adalah "dari karunia Tuhanku". Ustadz Firanda menggambarkan 'ujub sebagai anak tangga menuju kesombongan: setelah merasa hebat, seseorang mulai meremehkan orang lain, dan ketika itu terjadi ia telah jatuh ke dalam kesombongan. Pembahasan khusus tentang 'ujub akan datang pada pertemuan berikutnya, insya Allah.
3. Mengingat Hakikat Diri yang Lemah
Allah mengajak manusia menengok asal-usulnya. "Celakalah manusia! Alangkah kafirnya dia. Dari apakah Dia menciptakannya? Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian jalannya Dia mudahkan. Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali." (QS. 'Abasa: 17–22). Allah juga menyebutnya sebagai "air yang terpancar" (QS. Ath-Thariq: 5–6) dan "air yang hina" (QS. Al-Mursalat: 20). Sebelum itu, manusia pernah berada pada masa ketika ia bukan sesuatu yang bisa disebut (QS. Al-Insan: 1–2). Lalu setelah tercipta pun ia lemah (QS. An-Nisa': 28): lemah di hadapan syahwat, mudah goyah emosinya, mudah mati oleh nyamuk malaria, oleh virus, bahkan oleh kegembiraan atau kesedihan yang berlebihan.
Allah juga berfirman, "Sungguh, engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." (QS. Al-Isra': 37). Kita melangkah, bumi tidak bergetar; tubuh kita setinggi satu setengah meter, jauh dari gunung. Penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia (QS. Ghafir: 57), dan langit serta bumi menjawab perintah Allah, "Kami datang dengan patuh" (QS. Fushshilat: 11), sedangkan manusia justru membangkang. Dan manusia pun melewati fase lemah, kuat, lalu kembali lemah dan beruban (QS. Ar-Rum: 54): pada usia empat puluhan mata mulai rabun, telinga mulai tuli, dan kegagahan itu hilang.
4. Mengingat bahwa Ukuran Kemuliaan Adalah Takwa
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13). Maka bila kita merendahkan orang lain, apakah kita yakin lebih mulia dan lebih bertakwa darinya? Mungkin kita sering ke masjid, tetapi ia punya amal batin dan amal tersembunyi yang tidak kita ketahui. Dalam sebuah hadits, Nabi ï·º bertanya kepada para sahabat tentang seorang laki-laki terpandang yang lewat; mereka menjawab bahwa jika ia melamar pasti diterima dan jika berbicara pasti didengar. Lalu lewat seorang Muslim yang miskin; mereka berkata jika ia melamar pasti ditolak dan jika berbicara tidak didengar. Nabi ï·º bersabda, orang yang kedua itu lebih baik daripada sepenuh bumi orang seperti yang pertama. (HR. Al-Bukhari) Demikian pula Uwais al-Qarani rahimahullah, yang oleh Nabi ï·º disebut sebagai sebaik-baik tabi'in (HR. Muslim), padahal ia sempat dijelek-jelekkan kaumnya. Juga kisah bayi yang dapat berbicara, yang ketika ibunya berdoa agar ia seperti orang kaya yang lewat, menolak, dan ketika ibunya berkata agar ia tidak seperti orang yang sedang dipukuli dan dituduh macam-macam, ia justru berdoa agar dijadikan seperti orang itu. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Orang saleh bisa tampak buruk di mata manusia.
Ustadz Firanda menambahkan renungan yang menyentuh: "Kalau saya mengajar, sementara ada orang yang kemampuannya hanya mengajarkan Al-Fatihah, siapa yang bisa menjamin saya lebih ikhlas atau lebih sabar daripadanya?" Begitu pula sedekah: Nabi ï·º bersabda bahwa satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham, yaitu sedekah orang yang hanya punya dua dirham lalu menyedekahkan yang terbaik dari separuh hartanya, padahal ia sangat membutuhkannya (HR. An-Nasa'i). Kita tidak tahu kedudukan kita dan dia di sisi Allah, bahkan di alam barzakh nanti. Maka "boleh jadi yang diremehkan lebih baik daripada yang meremehkan". Allah juga berfirman, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32).
5. Merenungkan Keagungan Allah
Segala urusan kita berada di tangan Allah; tidak ada satu pun makhluk melata kecuali Allah memegang ubun-ubunnya. Kaum 'Ad berkata, "Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?", maka Allah menjawab, "Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka itu lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka?" (QS. Fushshilat: 15). Allah membinasakan mereka dengan angin, dan kaum lain dengan teriakan yang keras. Nikmat yang kita sombongkan bisa dicabut-Nya kapan saja.
Tawadhu': Lawan dari Kesombongan
Lawan kesombongan adalah tawadhu'. Nabi ï·º bersabda, "Tidaklah seseorang tawadhu' karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim) Syaikh 'Abdurrazzaq, mengutip ulama, menjelaskan bahwa tawadhu' ada dua macam. Tawadhu' yang terpuji adalah yang dilakukan karena Allah dan mencari wajah-Nya, yaitu tawadhu' yang ikhlas. Tawadhu' yang tercela adalah yang dilakukan demi manfaat duniawi atau pencitraan, misalnya merendahkan diri kepada pemilik harta atau jabatan supaya mendapat keuntungan darinya. Bila tawadhu' lahir dari riya' atau urusan dunia, ia termasuk tawadhu' yang tercela.
Kesimpulan
Kesombongan adalah penyakit yang tampak sepele tetapi sangat berbahaya: menghalangi pelakunya dari surga, menjadi ciri penghuni neraka, mewarisi sifat Iblis, mengunci hati, merendahkan pemiliknya pada hari kiamat, dan melahirkan kezaliman. Wujud tertingginya adalah menolak kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya ï·º; di bawahnya adalah merendahkan sesama manusia karena harta, jabatan, pakaian, bahkan ilmu.
Obatnya ada di tangan kita: mengingat bahayanya, menjauhi 'ujub, mengingat asal-usul dan kelemahan diri, menyadari bahwa kemuliaan diukur dengan takwa yang tersembunyi dari pandangan kita, dan merenungkan keagungan Allah, lalu menghias diri dengan tawadhu' yang ikhlas karena-Nya. Semoga Allah melindungi kita dari penyakit ini dan menjadikan kita termasuk 'ibadurrahman, "orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati" (QS. Al-Furqan: 63), bukan orang-orang yang berjalan dengan angkuh dan arogan.
Sumber: Kajian "Hadits Perbaikan Hati #9: Tercelanya Kesombongan" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. — https://www.youtube.com/watch?v=JH9Rh67lXGw. Kitab: Ahadits Ishlahil Qulub, Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah.
0 Komentar