IQ 10. Saling Menyayangi: Rahmat sebagai Tanda Iman dan Sebab Turunnya Rahmat Allah

Ada amalan hati yang sering kita anggap sepele karena tidak tampak: rasa iba. Hati yang tidak tega melihat penjual keliling berputar dua kali tanpa seorang pun membeli, yang tersentuh melihat anak yatim, nenek yang berjalan sendirian, atau seekor kucing yang mendekat minta dielus. Rasa semacam itu tidak tercatat sebagai amal yang megah, tetapi dalam kajian kali ini Ustadz Firanda Andirja menunjukkan bahwa di sisi Allah ia sangat berharga: ia ukuran keimanan, sebab turunnya rahmat Allah, dan penyembuh bagi hati yang dihinggapi dengki.

Bab yang dibahas dalam kitab Syaikh 'Abdurrazzaq al-Badr ini membawa hadits-hadits yang menganjurkan kaum Muslimin untuk saling menyayangi (tarahum). Karena rahmat berasal dari hati lalu menjelma dalam perilaku sehari-hari, ia termasuk amalan hati yang memperbaiki hati.

Perumpamaan Satu Tubuh

Hadits pembuka bab ini diriwayatkan dari an-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma. Rasulullah ï·º bersabda,

"Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai (tawaddihim), saling menyayangi (tarahumihim), dan saling berlemah lembut (ta'athufihim) adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Menurut Ustadz Firanda, hadits ini menjadikan kasih sayang sebagai tolok ukur iman. Iman yang benar di dalam hati akan tampak dalam saling mencintai dan menyayangi. Maka ketika rasa itu hilang, yang bermasalah adalah imannya.

Rahmat adalah Perintah Allah dan Sifat yang Boleh Ditiru

Saling menyayangi bukan sekadar akhlak yang baik; ia perintah Allah. Dalam penutup surah Al-Balad, Allah menyebut jalan terjal yang mengantar manusia ke surga: memerdekakan budak, memberi makan pada hari kelaparan kepada anak yatim yang masih berkerabat dan orang miskin yang sangat papa, "kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang" (QS. Al-Balad: 13–17). Menurut Ustadz, ayat ini juga mengandung pelajaran agar kita saling mengingatkan. Bila bertemu kawan, tanyakan, "Sudahkah engkau menyayangi fakir miskin, kerabat, dan tetanggamu?"

Selain itu, sifat-sifat Allah terbagi dua: yang boleh ditiru dan yang tidak. Kesombongan dan keagungan adalah milik Allah semata. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa kesombongan adalah selendang-Nya dan keagungan adalah sarung-Nya, dan siapa yang menyaingi-Nya akan dilemparkan ke neraka (HR. Muslim). Sebaliknya, rahmat, pemaafan, dan ihsan adalah sifat yang Allah anjurkan untuk kita teladani. Allah berfirman, "Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22). Doa yang diajarkan Nabi ï·º pun berbunyi, "Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku."

Nabi ï·º, Sang Nabi Rahmat

Manusia yang paling kuat sifat rahmatnya adalah Nabi Muhammad ï·º. Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa beliau ï·º menyebut beberapa nama dirinya: Muhammad, Ahmad, al-Muqaffi, al-Hasyir, Nabiyyut Taubah, dan Nabiyyur Rahmah (HR. Muslim). Ustadz Firanda menjelaskan, Muhammad berarti yang senantiasa terpuji, Ahmad yang paling banyak memuji Allah, al-Muqaffi nabi terakhir, dan al-Hasyir yang manusia dikumpulkan di belakangnya pada hari kiamat. Adapun Nabiyyur Rahmah, itulah sifat dasar beliau, hampir tidak pernah lepas dari rahmat dalam segala perilakunya.

Al-Qur'an menegaskannya, "Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam" (QS. Al-Anbiya': 107). "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka" (QS. Ali 'Imran: 159). Dan di akhir surah At-Taubah, "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin" (QS. At-Taubah: 128).

Rahmat Nabi ï·º menjangkau siapa saja: para wanita, fakir miskin, anak yatim, orang Arab badui, bahkan musuh yang beliau maafkan, dan hewan. Dalam peperangan pun, beliau menetapkan batas-batas yang melindungi. Para sahabat yang bersama beliau digambarkan Allah sebagai "keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka" (QS. Al-Fath: 29), dan Allah menegaskan, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara" (QS. Al-Hujurat: 10).

Siapa yang Menyayangi akan Disayangi

Keutamaan terbesar rahmat ada pada kaidah al-jaza' min jinsil 'amal: balasan sejenis dengan amal. Nabi ï·º bersabda, "Para penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) Ustadz menekankan bahwa "yang di bumi" bersifat umum. Kita tidak boleh menzalimi orang kafir; kita justru mendakwahinya agar mendapat hidayah. Pelaku maksiat pun kita sayangi dengan mendakwahinya, dan bila ia melampaui batas, hukuman yang adil pun merupakan wujud rahmat, agar dosanya tidak semakin parah. Semakin tinggi rahmat seseorang kepada makhluk, semakin tinggi rahmat Allah kepadanya.

Menyayangi hewan pun berpahala

Rahmat bahkan berlaku terhadap hewan. Seorang sahabat berkata kepada Nabi ï·º bahwa ia menyembelih kambing dan merasa kasihan padanya. Beliau menjawab bahwa jika ia menyayanginya, Allah akan menyayanginya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa siapa yang menyayangi walau terhadap hewan sembelihan, Allah akan menyayanginya pada hari kiamat. (Pembicara tidak menyebutkan perawi kedua riwayat ini.) Ustadz menjelaskan bentuknya: tidak menajamkan pisau di depan hewan, menyembelih dengan cepat, tidak menyiksanya, dan tidak membiarkannya kelaparan.

Dua kisah dalam hadits shahih menggambarkan betapa besar nilainya. Pertama, seorang wanita pezina dari Bani Israil melihat anjing yang hampir mati kehausan di tepi sumur. Ia melepas sepatunya, mengambil air, lalu memberi minum anjing itu, maka Allah mengampuninya. Kedua, seorang laki-laki yang kehausan minum dari sumur, lalu mendapati seekor anjing menjilat-jilat tanah karena dahaga. Ia turun lagi, memenuhi sepatunya dengan air, menggigitnya agar bisa memanjat naik, lalu memberi minum anjing itu, maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya. Para sahabat bertanya, "Apakah kami mendapat pahala pada hewan-hewan?" Beliau menjawab, "Pada setiap makhluk yang berhati basah (hidup) ada pahala." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hal yang sama berlaku bagi seseorang yang menyingkirkan dahan dari jalan sambil berkata, "Jangan sampai ini mengganggu kaum Muslimin." Itu hanya cabang iman yang paling rendah, tetapi karena dilandasi rahmat, Allah mengampuni dosanya dan memasukkannya ke surga. Ustadz menambahkan, rahmat harus dihayati, bukan sekadar dijalankan: tenaga medis yang benar-benar iba kepada pasiennya, bukan memikirkan bagaimana mengeruk uang darinya, akan mendapat pahala yang luar biasa.

Rahmat yang Menyeluruh

Rasulullah ï·º bersabda bahwa kalian tidak akan beriman hingga saling menyayangi. Para sahabat berkata, "Kami semua menyayangi, wahai Rasulullah." Beliau menjawab, "Bukan menyayangi sahabatnya saja, tetapi rahmat yang menyeluruh (rahmatul 'ammah)." (Pembicara tidak menyebutkan perawi; hadits ini diriwayatkan antara lain oleh Ath-Thabrani.) Tentu kita lebih menyayangi teman dekat dan kerabat, tetapi itu tidak berarti kita tidak peduli kepada selain mereka.

Ustadz memberikan contoh yang dekat dengan keseharian: penjual es yang berputar di kompleks tanpa pembeli, penjual jagung rebus yang menghitung uang receh hasil jualannya, orang yang mendorong gerobak berisi anak-anaknya di tengah hujan, anak-anak yang mencari makanan di tumpukan sampah, nenek yang berjalan sendirian, janda tua, anak yatim, anak-anak yang sakit atau cacat, saudara-saudara kita di Gaza, bahkan kucing yang ingin dielus. Bila punya kelebihan harta, kita bantu. Bila tidak, rasa iba saja sudah berpahala. Rasa iba ini dicintai Allah dan Rasul-Nya. Orang yang hatinya tidak peka terhadap pemandangan seperti itu berarti rasa kasih sayangnya kurang.

Tiga golongan penghuni surga, sabda Nabi ï·º, adalah penguasa yang adil dan diberi taufik; orang yang penyayang dan lembut hatinya kepada setiap kerabat dan setiap Muslim; dan orang yang menjaga kehormatan diri dari meminta-minta meskipun menanggung keluarga (HR. Muslim). Golongan kedua inilah yang tampak dari kelembutan sehari-hari: kepada tante, om, dan sesama Muslim yang sakit atau kesusahan, tidak cepat marah.

Ukuran iman di tengah perselisihan

Ustadz Firanda menyayangkan kenyataan yang sering kita lihat: kaum Muslimin saling menjatuhkan dan saling mengolok dengan julukan-julukan karena perbedaan politik atau fanatisme golongan, tertawa ketika lawan jatuh. Padahal sabda Nabi ï·º, "Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan bangunan yang saling menguatkan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Bukan saling merubuhkan. Beliau juga bersabda, "Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Ia punya mobil, ingin saudaranya punya; ia bisa menghafal Al-Qur'an, ingin saudaranya pun bisa; ia sukses berdakwah dan berusaha, ingin saudaranya juga demikian. Bila kita justru dengki ketika orang lain berhasil dan ingin ia jatuh, itu tanda iman kita rendah. Dalam hadits lain, Nabi ï·º bersabda bahwa siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan memperlakukan orang lain sebagaimana ia suka diperlakukan (HR. Muslim). Kita suka disapa dan disenyumi; maka sapa dan senyumilah orang lain.

Bila Rahmat Dicabut

Kebalikan dari kaidah tadi juga berlaku. Nabi ï·º bersabda, "Rahmat tidak dicabut kecuali dari orang yang celaka (syaqi)." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) Dan, "Allah tidak merahmati orang yang tidak merahmati manusia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Beliau juga menceritakan seorang wanita yang masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung, tidak ia beri makan, dan tidak ia biarkan mencari makan sendiri sampai mati (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Bila terhadap hewan saja begitu, bagaimana dengan orang yang membentak-bentak pembantu, sopir, atau pegawainya tanpa belas kasih? Menurut Ustadz, orang seperti itu sebenarnya orang yang sengsara. Allah berfirman melalui sabda Nabi ï·º, "Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Menyayangi Anak-Anak sebagai Ibadah

Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan seorang Arab badui datang kepada Nabi ï·º dan berkata, "Kalian mencium anak-anak? Kami tidak pernah mencium mereka." Beliau bersabda, "Apakah aku dapat menguasai (hatimu) bila Allah telah mencabut rahmat dari hatimu?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, al-Aqra' bin Habis berkata bahwa ia punya sepuluh anak dan tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Rasulullah ï·º bersabda, "Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Menggendong, mencium, memeluk, dan bermain dengan anak adalah pahala, bukan kekurangan kejantanan.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih penyayang kepada keluarganya daripada Rasulullah ï·º." (HR. Muslim) Putra beliau, Ibrahim, dititipkan pada ibu susuan di pinggiran Madinah, suaminya seorang pandai besi sehingga rumahnya berasap. Beliau kerap menempuh jarak jauh hanya untuk mengambil, menciumnya, lalu kembali. Ketika Ibrahim wafat di pangkuan beliau, mata beliau berlinang, dan beliau bersabda, "Mata mengalirkan air mata, hati bersedih, dan kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Rabb kami. Sungguh kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ustadz menyebut perbandingan yang menarik: Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah tidak menangis, bahkan tampak gembira, ketika putranya wafat. Ibnu Taimiyyah rahimahullah, ketika ditanya mana yang lebih utama, menjawab bahwa ridha terhadap takdir Allah adalah ibadah, dan kasih sayang kepada anak juga ibadah. Pada Fudhail, ridha mendominasi sehingga ia tidak memperlihatkan kasih sayangnya; sedangkan Nabi ï·º menggabungkan keduanya, ridha kepada Allah sekaligus menyatakan kasih sayang kepada anaknya. Karena itu beliau lebih sempurna.

Dalam sabda lain, "Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil di antara kami dan tidak mengetahui hak yang tua di antara kami." (HR. At-Tirmidzi) Menyayangi anak adalah ibadah yang agung. Ustadz menyebut kisah Aisyah radhiyallahu 'anha dan seorang wanita miskin dengan dua anaknya. Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberikan satu butir kepada masing-masing anaknya, lalu ketika mereka masih menatap, ia membelah butir ketiga untuk keduanya. Nabi ï·º bersabda, "Apa yang membuatmu heran? Sungguh Allah telah merahmatinya karena rahmatnya kepada anak-anaknya." (HR. Muslim) Ibu yang baik memberi makan anaknya lebih dahulu.

Semakin Lemah, Semakin Perlu Disayangi

Kaidah yang Ustadz tarik dari semua ini: semakin lemah seseorang, semakin ia perlu disayangi. Anak kecil, janda, anak yatim, pembantu, sopir, orang miskin yang jauh dari keluarga dan bekerja keras, semuanya lebih membutuhkan rahmat kita. Menjelang wafat, Nabi ï·º berpesan, "Salat, salat, dan budak-budak yang kalian miliki," karena merekalah lapisan masyarakat paling rendah. Dalam surah Al-Balad pun, orang miskin yang "tidak punya apa-apa kecuali tanah" (dza matrabah) disebut secara khusus, karena makin parah kemiskinannya, makin utama ia untuk dirahmati. Kini ada banyak daerah kehabisan air; berbagi air minum pun wujud rahmat.

Kesimpulan

Kasih sayang bukan sekadar perasaan lembut; ia amalan hati yang menjadi parameter iman, kaidah balasan yang pasti, dan jalan paling dekat menuju rahmat Allah. Siapa menyayangi akan disayangi, bahkan jika yang ia sayangi hanya seekor hewan; siapa yang hatinya keras tanpa belas kasih, rahmat dicabut darinya.

Karena itu, Ustadz Firanda mengajak kita menumbuhkan dan melatih rasa iba: kepada keluarga, tetangga, anak-anak, orang lemah, dan sesama Muslim yang berselisih paham dengan kita. Bila hati penuh rahmat, rasa dengki, hasad, dan dongkol akan hilang, dan rahmat Allah dicurahkan kepada kita. Itulah sebabnya bab ini termasuk dalam kitab tentang perbaikan hati.


Sumber: Kajian "Hadits Perbaikan Hati #10: Saling Menyayangi" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. — https://www.youtube.com/watch?v=1Ziser4bQ_E. Kitab: Ahadits Ishlahil Qulub, Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah.


Posting Komentar

0 Komentar